
Isak tangis mewarnai salah satu ruangan di rumah sakit tersebut. Kemudian jenazah di bawa ke ruang otopsi untuk di visum.
Doni mengajak keluarganya untuk pulang. "Yu? sayang kita pulang. Bun, pulang yu?"
Bunda Tita menoleh sambil mengusap pipinya yang basah. Dia tidak pernah menyangka kalau nasib Indah akan seperti ini. "Ayo. Kita pulang?"
Doni menggandeng tangan Renata yang tentunya masih dilanda kesedihan. "Beb. Kita pulang."
Renata mengangguk setuju. Dengan ajakan Doni, suaminya.
Kemudian mereka pulang dengan membawa kesedihan yang cukup mendalam. Sebelumnya pamitan terlebih dahulu pada keluarga yang berduka.
"Aku tidak menyangka kalau dia akan bernasib seperti ini. Kasian dia. Padahal dia bilang ke aku waktu itu kalau dia akan menikah!" suara Renata bergetar.
"Mau menikah apaan? kalau mau menikah! kenapa juga menggoda ku?" batin Doni, namun tidak berani bilang pada sang istri. Khawatir Renata gimana-gimana.
Setelah berada di dalam mobil. Mengenakan sabuk pengaman, lalu Doni melajukan dengan kecepatan sedang.
Hatinya Doni sedang merasakan yang antara dua perasaan terhadap Indah. Di sisi lain ada rasa lega, gak ada lagi yang akan mengganggu rumah tangganya, atau membongkar rahasia kalau dia pernah memakai dan mengedarkan obat di kalangan anak muda.
Namun di sisi lain. Bagaimana pun Indah adalah teman yang lumayan cukup lama mengenalnya. Semua yang berada dalam mobil tersebut memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
...---...
Arya mematung di tempat. Masih ragu apa benar yang dia lihat itu?
Wanita itu menoleh dan tersenyum ke arah Arya, Arya pun membalas senyuman wanita tersebut yang sangat manis, keduanya saling mendekat satu sama lain. Langkahnya yang perlahan Tidak perduli dengan banyaknya orang-orang di sana berlalu lalang.
"Aa?" sapa wanita tersebut sambil membuka kacamata hitamnya.
"Sayang? kau sudah pulang?" balas Arya kembali bertanya sambil membuka kacamata hitamnya.
"Sudah dong ... aku kan mau bikin surprise." Fatma langsung memeluk tubuh Arya sangat erat.
Begitupun dengan Arya langsung membalas pelukan sang istri yang katanya masih lama di LN tapi nyatanya sekarang ini pulang juga.
"Aku kangen banget sama kamu yang ..." ucap Fatma dengan lirih dalam pelukan sang suami.
"Aku juga. Kangen banget sayang," sahut Arya sambil mengeratkan pelukannya. Hatinya merasa senang, bahagia akhirnya akan berkumpul lagi dangan sang istri.
"Ya sudah, kangen-kangenan nya kita lanjutkan lagi di rumah ya? malu dilihatin orang-orang." Fatma memudarkan pelukan dan tengok kanan dan kiri.
Dimana banyak orang yang mengawasi mereka berdua yang berpelukan erat.
__ADS_1
Netra Arya pun mengitari sekitar itu. Lalu mengangguk sambil menebarkan senyuman ke arah mereka. Lalu kembali mengalihkan tatapan matanya ke arah sang istri. Fatma.
"Rania pasti akan bahagia dengan kedatangan mamanya. Dia pasti senang tuh!" Arya berucap lirih sambil menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi Fatma.
"Makanya. Kita cepat pulang? agar segera bertemu dia, yu?" ajak Fatma sambil menatap ke arah Arya yang penuh perasaan.
"Baiklah. Kita pulang sekarang, tapi tadinya Aa mau mampir dulu ke apartemen! Sebab, Aa besok mau dilihat pembelinya." Kata Arya sambil membalas menatap sang istri.
"Mau jadi, dijualnya?" tanya Fatma.
"Jadi, gimana? mau mampir dulu atau mau langsung ke mension?" punggung jari Arya mengusap lembut pipi sang istri.
"Em ... boleh lah, kita mampir di sana dulu, kebetulan aku gak minta di jemput sama mobil kok, Aa. Bawa motor kan?" Fatma menatap lekat sang suami yang tampak senang.
"Beneran? mau mampir dulu?" Arya ingin meyakinkan diri dengan jawaban sang istri.
"Iya, bener ... yu jalan?" Fatma menarik tangan Arya dan satunya menarik pegangan koper.
Bibir Arya tersenyum mengisyaratkan sebuah arti. Dengan bersedianya Fatma mampir ke apartemen. Kemudian mereka berjalan mendekati motor Arya yang di simpan di area parkiran bandara.
Dengan susah payah, motor besar Arya membawa dua orang penumpang dan koper-koper milik mereka berdua.
"Gimana, bisa gak?" mata Fatma menatap koper-koper tersebut.
"Jadi aku harus pegangin gitu? Ah ... malas, capek." keluh Fatma.
"Hem, ya sudah." Arya menurunkan bag dan koper Fatma yang bikin repot.
Kedua netra Fatma menatap heran pada Arya dan barang-barang itu bergantian. Mau Arya gimanakan lagi itu barang?
"Koper aku sini kan yang?" pinta Arya pada sang istri yang langsung Fatma berikan pada Arya.
Kemudian Arya membawanya. Setelah beberapa langkah, dia menoleh pada Fatma yang mematung. "Tunggu ya sebentar. Aku titipkan ini dulu ke kantor, nanti kita suruh supir untuk mengambilnya, bila kita Sudan perjalan ke Mension." Kata Arya sambil menaik turunkan alisnya.
Bibir Fatma tersenyum. Baru mengerti maksud sang suami yang sebenarnya, lalu Fatma mengangguk setuju.
Arya membawa langkahnya sambil menarik dua koper, dan bag miliknya ke kantor. Biar nanti supir yang mengambilnya.
Setelah beberapa saat Fatma menunggu, Sesekali menggerakkan kakinya untuk mengusir kejenuhan. Akhirnya Arya kembali dengan senyuman yang mengembang.
"Yu sayang, kita pulang?" Arya mengenakan helm nya, naik dan menyalakan staternya.
Fatma pun duduk manis di belakangnya nya dan memeluk pinggang sang suami. Arya juga sebelum menjalankan si roda dua nya mengeratkan dulu pelukan tangan Fatma di pinggangnya.
__ADS_1
Bikin senyuman di bibir Fatma begitu merekah. Menempelkan pipinya di punggung sang suami, menyembunyikan wajahnya dari angin yang akan menerpa.
Roda dua Arya meluncur begitu cepat. Membelah jalanan dan berpacu dengan roda-roda yang lainnya. Cuaca pun begitu mendukung, langit yang terlihat biru, awan yang putih namun terasa teduh. Panas sang matahari tidak terlalu menyengat atau membakar kulit di tubuh.
Selang beberapa puluh waktu kemudian, roda milik Arya pun memasuki area apartemen milik Arya.
Arya menuntun tangan sang istri dan dibawanya berjalan dengan santai memasuki unitnya. Sesekali Arya dan Fatma mengangguk hormat dan mengulas senyuman ketika bertemu orang-orang yang berpapasan dengannya.
Keduanya keluar dari lift saling bergandengan tangan terkadang tangan Fatma bergelayut mesra di tangan bagian atas Arya. Menampakan sebuah pasangan selalu mesra dan romantis.
"Sudah lama kita tidak berduaan di sini! kini saatnya kita menumpahkan rasa kangen di sini," ucap Arya setelah berada di dalam unitnya sambil mengedipkan mata genitnya.
Fatma tersenyum. Lalu mendekat mengalungkan kedua tangannya di pundak Arya dengan tatapan yang sangat intens pada sang suami yang ia rindukan. "Benarkah? kita akan menumpahkan kangen di sini?"
"Tentu sayang." Cuph Arya mendaratkan kecupan di pipi dan kening sang istri dengan sangat lembut dan berakhir di bibir yang merah tersebut.
Fatma memejamkan kedua matanya, ketika Arya mulai mencumbu wajahnya dengan intens. Arya tidak perduli dengan rasa capek yang merasuki tubuhnya.
Sesaat kemudian, Arya melepaskan istrinya. Menuntun tangannya ke dalam kamar, lantas Arya melepas pakaian formalnya, ia gantung di dekat lemari.
Fatma Mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur yang besar dan empuk tersebut. Kedua netranya mengitari ruangan tersebut lalu yang cukup lama tidak ia datangi.
"Mau mandi dulu? aku juga mau mandi ah gerah dan biar segar." Fatma membuka jas nya yang masih melekat di tubuhnya itu.
Langkah Fatma tertuju ke kamar mandi. Namun tangan Fatma, Arya tangkap dan di tariknya sampai tubuh Fatma kembali dan membentur tubuh Arya yang sudah bertelanjang dada itu.
Mulanya Fatma merasa kaget. Lalu bias saja. Jemarinya mengusap dada bidak Arya turun ke perut, naik lagi ke dada menari-nari di sana. Tatapan mata keduanya bertemu dengan sangat lekat dan mesra.
"Jangan mandi dulu." Bisik Arya sambil menyingkirkan rambutnya ke belakang, mengekspos leher dan bahunya yang terbuka.
Arya mendekatkan wajahnya pada leher dan bahu Fatma menyusuinya dengan sangat lembut dan penuh gairah. Membuat pemiliknya mendongak dan mulai terbakar sesuatu. Tubuhnya memanas seiring derasnya darah yang mengalir di tubuh keduanya.
Suara napas yang memburu dari keduanya memenuhi ruangnya yang kedap udara tersebut. Tangan Arya yang aktif berjalan ria kemana pun yang dia suka, terutama ke tempat-tempat yang menjadi favorit nya.
Sementara tangan Fatma pun tak ayal bermain di dada Arya memainkan titik kecil miliknya Arya yang menambah terbakarnya tubuh.
Arya kembali mencumbu wajah Fatma dengan lembut nan mesra. Lalu menikmati manisnya benda kenyal yang berwarna merah merona tersebut. Bikin gemas sehingga Arya memberikan gigitan-gigitan kecil yang penuh hasrat.
Tubuh Fatma meliuk-liuk kegelian dengan sentuhan-sentuhan sensual dari tangan dan bibir Arya yang terus menggoda ....
.
.
__ADS_1
Terima kasih ya reader ku yang baik hati semu🙏