
"Mobil siapa tuh?" tanya Sultan yang baru saja mau menduakan dirinya di sofa ruang tamu.
"Entah, mana ku tahu," shut Arya sambil duduk bersandar. Lalu menoleh pada bi Ina sebagai kepala asisten, sementara yang lain sedang mengerumuni Rania. "Bi. Tolong buatkan minuman dingin ya? antar ke kamar."
"Baik, Tuan." Bi Ina mengangguk. Lantas membalikan tubuhnya ke arah dapur.
"Aa, itu mobil papanya Rania." suara Dewi pelan.
"Ha? oya gak tau aku!" kata Arya sambil menoleh ke luar.
"Iya, bener." Dewi meyakinkan.
"Ooh, mantannya kak Fatma?" tanya Sultan. Melirik ke arah Dewi.
"Iya, tuh orangnya datang." Dewi pelan.
"Permisi ... Rania, Papa datang! lihat membawa apa nih?" Aldian masuk membawa sebuah boneka.
"Hi ... apa kabar?" Arya berdiri lantas mengulurkan tangan. "Silakan duduk?"
Aldian pun duduk setelah berjabat tangan dengan Arya dan sultan. "Rania sayang?" panggil Aldian lagi pada Rania yang sedang asik mengobrol dengan para asisten.
"Rania? ada papa Aldian nih, kangen sama Rania! panggil Arya menoleh ke arah Rania.
Anak itu menoleh ke arah sumber suara dan melihat ada Aldian. "Papa Aldian?" gumamnya.
"Aunty semua. Rania ke sana dulu ya?" Rania berdiri dan membawa langkahnya menghampiri ruang tamu yang sedang ada papanya. Aldian.
"Salam sama papa sayang?" titah Arya pada Rania yang menghampiri.
Lantas Rania menuruti. mendekat dan mencium tangan Aldian. Aldian pun menangkupkan kedua tangannya di wajah Rania lantas di ciumnya beberapa kali pipi Rania. Setelah itu Rania duduk di dekatnya Aldian.
"Wah ... Rania lupa ya sama Papa, saking betahnya di luar Negeri? liburan ya?" ucap Aldian sembari mengusap bahu Rania.
"Em ... Rania di sana ..." Rania kebingungan untuk menjawab.
"Papa bawakan boneka nih, suka gak." Aldian memberikan sebuah boneka pada Rania.
"Makasih, Papa? em ... suka kok," ungkap Rania sambil menerima pemberian dari Aldian.
"Selamat ulang tahun ya sayang? semoga panjang umur, sehat selalu dan semakin cantik dan menjadi anak yang saleh." Tambah Aldian sambil mencium kening Rania.
"Makasih, Papa?" ucap Rania. Suaranya bergetar, seingat dia baru kali ini. Aldian mengingat momen itu.
"Sama-sama. Sayang." Balas Aldian.
__ADS_1
"Oya, Papa mau ajak Rania. Capek gak? kalau gak capek. Kita jalan ... atau ke rumah Papa, gimana?" seru Aldian berharap anak itu mau ikut bersamanya.
"Em ... Rania capek. Baru datang kan? pengen bobo."Jelas Rania sambil menggeleng. Bukan cuma capek saja. Tetapi malas.
"Atau ... kita main ke tempat sapari, tempat bermain dan taman binatang mungkin?" tawar Aldian. Berusaha membujuk agar mau ikut dengannya.
"Nggak akh. Lain kali saja, Rania kecapean." Tegas Rania sambil menggerakkan kepalanya.
"Sepertinya begitu, Rania capek. ini kami baru pulang." Tambah Arya dan kata-kata itu di tujukan pada Aldian.
"Saya tahu, kalian baru pulang. Saya sih cuma mengajak. Kali aja Rania mau, kalau gak mau sih. Saya tidak masalah, masih banyak waktu lain." Balas Aldian dingin.
"Ya, baguslah bila anda pengertian dan tolong berikan dia ruang, dekati dia secara pelan-pelan. Mengerti kan maksud ku." Arya mengangguk. pelan.
Aldian menatap ke arah Arya, dengan tatapan datar. "Tau apa kamu tentang anak saya?"
Arya menempelkan telunjuk di bibirnya. Melirik ke arah Rania juga, Memberi kode ini bukan saatnya berdebat di hadapan anak itu. Aldian hanya melirik ke arah Rania.
"Rania sudah lapar, pengen makan siang," ucapnya sambil berdiri dan ngeloyor ke ruang makan serta diikuti oleh Dewi.
Setelah Rania gak ada. Arya menoleh pada Aldian. "Jangan lupa, kalau saya ini papa sambungnya anak itu, setidaknya saya tahu kondisi hati anak itu. Setelah semua yang sudah dia terima dari and sebagai papa kandungnya."
"Karena saya papa kandungnya jadi saya berhak--"
Aldian terdiam sejenak. "Kamu merasa papa sambungnya, sehingga kau merasa tahu segalanya. Tentang ank saya."
"Saya rasa percuma. Bila harus menjelaskan sepanjang apapun, lebih hatimu tetap keras dan mengikuti ego sendiri. Yang jelas dengan lambat-laun, saya akan mengingatkan dia kalau anda ayahnya dan menyayangi nya. Dan tolong buktikan itu," ujar kembali Arya sambil menautkan jemarinya.
Hekingh!
Arya. Aldian dan sultan sejenak mematung dan tidak satupun yang bersuara, sesekali saling lirik dan suasana bagaikan tegang gitu.
Aldian terdiam, memilih sibuk dengan pikirannya yang berusaha mencerna maksud dari Arya barusan.
"Ehem, Aku gak di tawari makan nih? aku juga lapar lho sama." Sultan mencoba mencairkan suasana yang terasa menegang tersebut.
"Oya, baiklah. Saya pamit dulu. Lain kali saya datang lagi, boleh kan?" Aldian menatap tanpa ekspresi ke arah Arya.
"Oh, tentu. Kami pasti tidak keberatan dengan kedatangan anda untuk bertemu Rania," Arya mengangguk.
"Terima kasih?" Aldian beranjak, membawa langkahnya menghampiri Rania yang sedang makan siang di tempat tidur.
"Sayang, papa pergi dulu ya? Kapan mau menginap di rumah Papa? Papa kangen sama Rania." Aldian berkata demikian karena dia merasa lama sudah tidak bersama putrinya ini.
Rania terdiam sejenak. Dia mengingat kata-kata dari papa sambungnya. Kalau bagaimanapun Aldian. Dia tetap papa Rania, jadi Rania harus sayang dan menghormatinya.
__ADS_1
Rania menelan makanan yang sudah di mulut. "Lain kali saja ya, Pah. Sekarang Rania capek. Boleh kan, Pah?" ucap anak itu dengan gaya anak-anak nya.
"Ooh, boleh lain kali Papa jemput ya?" Aldian tersenyum lantas memeluk kepala Rania.
"Makan, Pah?" tawar Rania menunjuk hidangan di meja.
"Nggak akh, Papa harus pergi bekerja lagi. Nanti kabari Papa kalau mau ke tempat Papa ya?" cuph! mengecup keningnya Rania.
Kemudian Aldian pergi. Membawa langkahnya yang lebar menuju pintu utama. Meninggalkan Mension tersebut yang pernah dia tinggali.
Arya pun beranjak diikuti oleh Sultan, namun Arya naik ke lantai atas menaiki anak tangga menuju kamarnya. Meninggalkan Sultan yang berdiri dan menatap punggungnya.
"Lah, gue ditinggal? gue kira mau makan? kok dia malah pergi sih?" Sultan menggerutu sambil menggeleng.
"Ha ha ha ... kalau mau, makan saja. Aku capek, Pengan istirahat dan mau mandi juga badan berasa lengket banget nih!" pekik Arya seraya tertawa, terus mengayunkan langkahnya yang lebar ke lantas atas.
"Lengket? habis berendam di gua ya sebelum pulang gak di bersihkan dulu? jorok," pekik Sultan sambil mendongak.
"Enak saja, habis yang itu, dibersihkan lah. Masa nggak," Teriak Arya dari atas.
"Abang, mau makan gak?malah berdiri di sana," sapa Dewi dari meja makan. sambil mengambilkan piring buat Sultan.
"Oh iya." Sultan menoleh, lalu menghampiri meja makan dan menarik kursi untuknya.
"Om Tatan. Kata siapa papa habis berendam? kan habis perjalanan jauh, apalagi ke gua? kan sama Rania di pesawat." celoteh Rania sambil makan dan mulut penuh dengan makanan.
"Iih, gak usah di dengerin om Tatan mah. Ngelantur saja, orang jelas-jelas papa sama Rania ya? perjanan kuah di pesawat." timpal Dewi sambil mendelikkan matanya pada Sultan.
Sultan hanya nyengir, menoleh ke arah Dewi dan Rania. Menikmati makan siangnya. "Payah deh gue ... ini mulut gak ada remnya." Batinnya Sultan.
"Ayo, makannya sayang. Jangan sambil main-main ah, mau mandi kan? Rania sudah bau tuh." Dewi melihat ke arah Rania yang sedang makan sambil mainin boneka baru yang dari Aldian.
"Iya, aunty. Sebentar Rania masih mau nambah!" ucapnya Rania sambil memberikan piring pada Dewi dengan tujuan nambah lagi.
"Yah, Rania kecil-kecil makannya buanyak nian nih. Sudah berapa hari gak makan, Non?" goda Sultan pada Rania yang malah nyengir.
"Bukan gak makan, Om Tatan ... justru di sana. Rania makannya buanyaaak ... sekali. Jadi bobo nya selalu nyenyak lho." Rania langsung merespon pertanyaan sultan.
Sultan tertawa. "Ha ha ha ... enak dong, mama dan papa. Nggak ada yang ganggu, asik ...."
"Huus ..." Dewi menempelkan telunjuknya pada bibir supaya Sultan gak kebablasan bicaranya ....
.
Gimana reader ku semua, masih mengikuti kan? Fatma dan Arya juga Rania? jangan lupa "Gadis satu milyar ku"
__ADS_1