
Setibanya di bawah, Arya ke swalayan untuk mencari alas kaki buat Fatma. Sementara Fatma menunggu di lobby bersama Abah dan Umi. Tidak lama menunggu, Arya kembali membawa sendal yang seukuran dengan sepatu Fatma yang dia tenteng.
"Cuma ada ini, coba dulu. Cukup gak?" Arya berjongkok dan menyimpan sendal di lantai. Menyiapkan untuk kaki Fatma.
Fatma langsung mencobanya dan ternya pada di kaki Fatma. "Nyaman dan pas."
"Syukurlah." Arya menghela napas dalam-dalam.
"Alhamdulillah, pas ya?" suara umi dengan senyuman.
"AA, bisa pilihkan barang buat wanita. Berarti, AA. Sudah siap berumah tangga." Timpal Abah.
Fatma dan Arya yang masih berjongkok saling bersitatap yang sulit di artikan. Kemudian Arya menunduk begitupun Fatmala menoleh ke lain arah. Tampak malu.
"Em, makasih ya?" gumam Fatma pelan.
Arya berdiri dan menarik bibirnya tersenyum. "Sama-sama."
Meraka berjalan menuju mobil Fatma, Arya masih menenteng sepatu Fatma lalu di simpan ke dalam bagasi.
Dengan tidak membuang waktu. Mereka berempat masuk. Arya bersama Abah dan Fatma bersama umi paling belakang.
Arya duduk bersandar ke belakang jok kepalanya terasa lelah sangat. Sehingga ia memejamkan kedua matanya terasa berat. Manik mata Fatma menatap Arya yang berada tepat di depannya.
Kemudian mengalihkan tatapannya keluar jendela. "Kenapa sih, aku terus lihatin dia? malu kalua sampai ketahuan." Batin Fatma menggigit bibir bawahnya.
"Ya Allah indahnya suasana malam di kota ya, Bah? lampu di mana-mana terang benderang. Indah pokoknya mah lah." Kata umi pada suaminya yang berada di depan.
__ADS_1
"Iya atuh, Umi ... sing baranang nya di ditu-didie. Matak betah ningalina?"
"Artinya?" gumam Fatma kebingungan dengan bahasa yang digunakan oleh Abah dan umi.
"Bersinar di sana-sini. Bikin betah yang melihat." Balas Arya dari depan suaranya pelan namun dapat Fatma dengar dengan jelas.
"Ooh!"
Selang beberapa puluh menit, akhirnya mobil tiba di depan gerbang menunggu pintu terbuka.
Mobil merayap ke dalam gerbang. Disambut senyuman dan anggukan hormat oleh scurity di depan dan membukakan pintu mobil menyilakan yang berada di dalam keluar.
Meraka keluar, Fatma membawa tas nya yang langsung di bawakan oleh asisten rumah tangga dari pintu belakang. Ketika mereka sampai di teras, pintu utama terbuka dan Rania muncul. Anak kecil itu menatap ke arah Arya tajam, namun detik kemudian berlari menghambur ke dalam pelukan Arya yang langsung berjongkok agar sejajar dengan anak itu.
"Om, Rania kangen." Suara Rania di dekat telinga Arya, memeluk hangat.
"Om juga kangen sama anak gembul ini, pasti marah kalau om gak datang." Arya mengusap punggung Rania.
"Iya, Umi. Abah, dia Rania putriku satu-satunya," sahut Fatma seraya mengangguk.
"Dekat banget ya sama si AA, Umi." Abah menoleh sang istri.
"Iya Abah, bener." Umi membenarkan pendapat sang suami.
"Eeh ... ada tamu? kok gak di ajak masuk Fatma." Suara bu Wati dari balik pintu.
"Ibu, ini kenalkan sama Abah dan Umi nya si om ganteng nya Rania," ucap Fatma sambil tersenyum manis sembari melirik ke arah Arya yang masih berjongkok dan memeluk Rania erat.
__ADS_1
"Saya, Wijaya ayah dari Fatma dan ini istri saya, sebagai ibunya Fatma." Menunjuk pada bu Wati.
"Oh, iya ... senang bisa bertemu sekarang. Saya Abah Yadi dan dia istri saya, Umi Santi." Mereka saling berjabat tangan, kenalan saling menyebut nama masing-masing.
"Rania, sini sayang," panggil Fatma pada Rania yang di tuntun oleh Arya mendekati sang bunda.
"Rania ... kenalkan, ini abah nya Om, dan ini umi nya Om. Em papa dan mama nya Om." Arya yang akhirnya mengenalkan orang tua nya pada Rania. Si gadis kecil tersebut. "Salam dan cium tangan ya, oke?"
"Oke." Rania meraih tangan Abah dan Umi bergantian.
"Masya Allah ... cantiknya. Abah ternyata yang sebenarnya lebih cantik. Masya Allah ..." umi memeluk anak itu sangat gemas.
"Iya, Umi, cantik sekali. Kita ambil jadi cucu saja ya Umi?" tangan Abah mengusap pucuk kepala si gadis kecil tersebut.
"Emang, mau Non Rania jadi cucu kita atuh Abah tidak mungkin.
Netra mata Rania yang polos itu menatap ke arah Abah dan umi nya Arya begitu lekat.
"Kami kira gak jadi datang?" ucap bu Wati lalu menyilakan masuk.
"Huuh, tahu gak, Bu. Kalau gak jadi datang, bisa-bisa ngamuk." Fatma melirik Rania yang tidak jauh dari Arya.
"Tapi, kenapa kalian bisa bersama?" tanya Bu Wati pada Fatma namun Fatma malah melihat ke arah Arya yang juga melirik padanya.
Bu Wati menyenggol tangan pak Wijaya seolah mengerti dengan bahasa tubuh keduanya.
"Em, Fatma mau mandi dulu sebentar, kalau kalian mau makan duluan saja." Fatma segera melangkahkan kakinya ke atas ....
__ADS_1
****
Jangan lupa like komen serta vote nya🙏