Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Senyum simpul


__ADS_3

Arya memberi kode pada Sultan, agar membukakan pintunya. Sultan menurut lantas berjalan mendekati pintu, ternyata yang datang itu dua orang polisi.


"Boleh kami masuk?" ucapnya salah satu polisi tersebut.


Sebelum menjawab, Sultan menoleh pada Arya dengan rasa heran. Arya mengangguk menyetujui polisi masuk. "Silakan Pak."


"Siakan duduk?" Sutan menunjuk pada sofa yang cukup untuk mereka duduk berdua.


Kedua polisi tersebut duduk dan menoleh pada Arya yang masih berdiri menunggu Fatma keluar dari kamar mandi.


Kemudian Fatma menarik pintu dan langsung melihat ada dua polisi di sana. Ia tak heran dengan itu dan Fatma memberikan senyum terbaiknya. Arya segera membantu Fatma berjalan menuju ranjang Rumah Sakit. Setelah Fatma berada di ranjangnya. "Makasih?" gumam Fatma pada Arya pelan.


Arya mengangguk lalu mengambil sebuah kemeja dari atas meja dekat televisi dan bergegas memakainya. Sesudah itu menghampiri kedua polisi tersebut. Meraka berjabat tangan terlebih dahulu, lalu duduk kembali.


Arya duduk di sofa yang sama dengan Sutan, berhadapan dengan kedua tamunya.


"Anda bernama Arya? dan ibu itu Bu Fatma!" tanya salah satu polisi.


"Iya, benar!" sahut Arya sambil mengangguk.


"Begini maksud kedatangan kami kesini untuk membicarakan tentang kejadian tadi, penjahat yang katanya membuat onar di sini, benar?" ucap polisi dengan tegas pada Arya.


"Benar Pak. Dan ini luka bekas tadi ulah penjahat itu." Arya menunjuk luka di tangan bagian atas nya.


Dengan kepala mengangguk, pak polisi berkata lagi. "Setelah kami korek informasi dari orang tersebut. Dia mengaku suruhan--" tergantung bikin orang penasaran.


"Suruhan siapa Pak? saya tidak merasa mempunyai musuh." Arya menatap penuh rasa penasaran.


Begitupun Fatma pengen tahu siapa atau suruhan siapa? walau hatinya menaruh curiga pada Aldian. Meskipun dia berada di dalam penjara! kan pasti banyak kawannya atau bisa saja dengan mudah menyuruh orang untuk mencelakai orang lain yang dia kehendaki.


Sultan menatap Arya dan bapak polisi bergantian. "Iya bro. Perasaan kamu gak punya musuh! jangankan orang, nyamuk saja berkawan dengan mu bro. Apalagi musuh dalam selimut, dia belum punya Pak" Wajahnya tampak serius.


"Huus, ada-ada saja!" tangan Arya menyenggol lengan nya Sultan.


Kemudian semua masang mata memburu seorang polisi yang akan memberi jawaban.


"Dia ... mengaku suruhan Aldian yang kini juga mendekam di penjara akibat penganiayaan beliau." Menunjuk ke arah Fatma.


Arya dan Fatma bersitatap begitu dalam. Ternyata Aldian bukan cuma ingin menyakiti Fatma saja tapi juga berniat menyakiti dirinya. Kepala Arya menggeleng pelan.

__ADS_1


"Saya tidak habis pikir, kenapa saya juga kena dendam dia sehingga ingin menyakiti saya atau berniat menghilangkan nyawa saya?" Gumamnya Arya. Helaan napasnya begitu panjang.


"Itulah yang sedang kami terus tindak lanjuti kasus ini. Dikarenakan dendam kah? atau memang dia punya kelainan jiwa atau gimana!" tegasnya polisi yang satu lagi.


"Em, saya ... serahkan semua ini pada pihak yang berwajib. Dan kami ingin hasil yang terbaik dari kasus ini dan kami tidak perlu lagi memberikan klarifikasi apapun lagi, silakan pihak yang berwajib tindak lanjuti." Jelas Fatma.


Arya menatap ke arah Fatma, ia mengagumi ketegasan Fatma di saat ini. Senyum Arya begitu merekah membuat Fatma yang melihat senyuman itu dari ekor matanya, menunduk dalam menyembunyikan jantungnya yang berdegup lebih kencang.


"Baik, terima kasih atas kerja samanya?" Kedua polisi itu pamitan dan mengulurkan tangan pada Arya. Sultan dan yang terakhir pada Fatma.


Arya dan Sultan mengantar kedua orang itu ke luar kamar.


"Aldian itu siapa bro?" selidik Sutan setelah kedua polisi menghilang, yang ada cuma dua bodyguard yang berjaga itupun berada agak jauh dari tempatnya berdiri.


"Dia, suaminya Fatma--"


"What? serius?" tampak kaget sekali, matanya melotot tidak percaya.


"Apaan sih? biasa aja napa?" protes Arya dengan nada tidak suka.


"Jadi benar? kau melarikan istri orang?" Suaranya kali ini pelan.


"Ck. Apaan sih? kotor amat pikiran mu itu, sudah ku bilang ini kecelakaan. Jangan mikir yang nggak-nggak deh, jangan bikin kepala ku pusing." Arya menggeleng.


Arya panik takut ucapan Sultan terdengar oleh Fatma. Ia menempelkan telunjuknya di bibir. "Setttt. Kau ini bicara apa sih? jangan ngomong sembarangan nanti menjadi fitnah. Dan itu takutnya memperkeruh keadaan! dia sedang proses perceraian jangan sampai bertambah lagi masalahnya." Suara Arya pelan.


"Ooh. Aku mengerti, meskipun kurang mengerti juga sih tapi mencoba memahami sajalah." Sultan nyerah.


"Sudahlah. Cari makanan buat kita makan siang ya? lapar nih." Suruh Arya lantas memberikan uang pada Sultan.


"Oke, Bos siap laksanakan." Sultan memberi hormat dan bergegas membawa langkahnya.


Sementara Arya mengayunkan langkahnya ke dalam. Tangannya menghidupkan ponselnya yang mati. "Ah gak ada charger lagi."


"Pinjem sama perawat, pasti ngasih!" ucap Fatma yang memperhatikan ke arah Arya.


"Iya, ya. Lupa." Arya mengangguk dan tersenyum berasa ada angin segar.


"Kalau sudah nyala, aku pinjem mau telepon ke rumah! biar mengantarkan ponsel dan laptop, pakaian juga. Aku dah gak enak pengen mandi."

__ADS_1


"Tapi sebaiknya anda jangan mandi dulu, takut lukanya kena air. Sabar aja dulu," ucap Arya sambil berjalan mendekat.


"Temannya kemana?" Fatma mengalihkan pembicaraan dengan tanyakan Sultan.


"Em ... dia ku suruh beli makan siang." Balasnya selepas mendudukkan diri di kursi dekat Fatma.


Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu dan mendorongnya. Tampak suster membawa nampan berisi makan siang buat Fatma.


"Wah, kebetulan sekali deh. Suster cantik banget. Sudah ramah rajin juga," rayu Arya tak lupa menunjukan senyumnya yang memikat hati para lawan jenisnya.


"Mas, bisa aja. Jadi malu." Suster itu tersipu, senyum simpul.


"He he he bisa dong. Sus punya charger gak? ponsel saya mati. Pengen ngeces di sini biar ponsel saya bisa hidup lagi." Pada akhirnya Arya bilang juga mau pinjem charger.


Fatma merasa mulas mendengar rayuan Arya ke susternya, bikin mual dan jeles. Namun Fatma mengulas senyumnya dan mengawasi keduanya.


"Ooh, charger. Boleh, tapi di sana harus saya ambil dulu." Suster mengarahkan pandangannya pada nampan yang dia bawa.


"Oh, biar saya menyuapi pasien. Sini!" Arya mengambil alih nampannya.


"Saya ambil charger dulu ya Mas." Suster langsung berlalu.


Dan Arya menggeser kursi yang dia duduki. Agar lebih dekat dengan Fatma untuk menyuapinya.


"Aku bisa sendiri," ucap Fatma dan meminta mangkuknya.


"Tidak apa, aku saja. Biar Kak Fatma cepat sembuh kalau makan dari tangan ku," tuturnya sambil memainkan kedua matanya.


Fatma senyum simpul. "Bisa aja."


"Apa sih yang gak bisa buat Kak Fatma?" lanjut Arya sambil terus menyuapi Fatma hingga setengahnya.


"Ini Mas. charger nya." Suster kembali membawa barang yang ingin Arya pinjam.


"Aduh, makasih suster cantik! jangan khawatir pasti akan saya kembalikan secepatnya. Setidaknya akan tersimpan baik di ruangan ini." Arya meyakinkan.


Suster tersenyum merekah pada Arya, setiap kata-katanya membuat hati berbunga-bunga. Melihat wajahnya bikin hati terpesona.


Melihat itu, Fatma mengambil sendok dari mangkuk dan dengan sengaja menjatuhkannya ke lantai ....

__ADS_1


****


Jangan lupa dukung aku ya reader ku yang baik hati🙏


__ADS_2