Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Rencana


__ADS_3

Setelah puas memperhatikan mereka berdua dibarengi hati yang terbakar, seseorang beranjak dan meninggalkan tempat tersebut, dengan membawa hati yang terluka.


Di meja lain di tempat yang sama, Doni dan Renata tengah makan malam berdua. Sekilas ekor mata Renata mendapati Arya dan Fatma yang juga sedang makan malam.


Mendadak dadanya terasa sesak, sakit dan perih. Renata menusukan kepalanya sang hembuskan napas yang kasar. Matanya terasa panas dan sedikit berembun.


"Kenapa bengong terus cinta? gak bahagia kah denganku?" tangan Doni meremas jamari Renata makannya bengong melihat ke arah Arya dan Fatma.


Netra mata Doni pun mendapati kalau ada Arya di sana. Namun ia cuek saja tidak perduli.


"Nggak, pulang yu? sudah kenyang." Ajak Renata yang langsung kurang selera untuk melanjutkan makannya.


"Lho, kan belum habis? tapi baiklah. Aku bayar dulu," Doni berusaha pengertian dengan suasana hati Renata yang mungkin mendadak terganggu.


Doni membayar bill terlebih dahulu, setelah itu mereka berjalan keluar dan kebetulan melintasi Arya dan Fatma.


Degh!


Arya yang melihat Renata melintas dan bertemu mata terdiam sesaat.


Begitupun dengan Fatma yang melirik ke arah Renata dan Doni. jelas Fatma mengulas senyuman pada Doni secara dia termasuk rekan bisnisnya merangkap dari orang tuanya.


"Anda di sini juga?" sapa doni hentikan langkahnya dan berdiri tidak jauh dari Fatma dan Arya.


Fatma berdiri. "Iya, kebutan sekali kita bertemu."


"Berdua saja?" tanya Doni melirik ke arah Arya yang bersikap dingin padanya.


"Em. Iya berdua saja, kalian. Sudah selesai makannya?" selidik Fatma seraya menggerak manik matanya.


"Kalian pasangan yang serasi. Oya, iya dan kami mau pulang." Doni mengangguk dan melihat lawan bicaranya bergantian dengan Renata.


"Ooh. Calon istri mu cantik sekali?" sambung Fatma melihat ke arah Renata yang memilih hanya diam.


"Tentu, dia sangat cantik. Apalagi di mataku sangat cantik luar dalam," akunya Doni sambil mengangguk.


Senyum Fatma mengembang mendengarnya. "Apa maksud luar dalam?" batin Fatma.


Sementara Arya memilih tetap diam dan melanjutkan makannya. Tak bergeming dan tak bersuara, sorot matanya terlalu fokus pada piring makanan yang sedang ia santap.


"Oya, jangan lupa kalian datang ya di hari pernikahan kami? kalian berdua sudah menerima dong undangannya?" ucap Doni dengan nada bertanya dan melihat Fatma, Arya bergantian.


Barulah Arya mendongak menoleh ke arah Doni dan Renata yang berpegangan tangan.

__ADS_1


"Tentu, sudah kami terima kok. terima kasih!" kata Arya dengan nada tetap sedikit acuh.


"Baguslah, saya tunggu kehadiran kalian berdua dan semoga segera menyusul." Tambah Doni.


"Aamiin ya Allah ... terima kasih doanya?" Arya mengangguk dengan senyuman manis seolah sangat berterima kasih atas doa dari Doni.


"Kalau tidak ada halangan, pasti kami akan datang," ucap Fatma seraya melirik ketiganya yang terlihat bersitegang. Apalagi antara Renata dan Arya sangat terlihat canggungnya.


"Oke, kami pergi dulu? permisi?" Doni kembali melukis senyuman seraya menarik tangan Renata.


"Iya. Silakan!" balas Fatma sembari mengangguk hormat.


Sambil berjalan kedua mata Renata memandangi ke arah Arya namun Arya sendiri begitu acuh dan melihat serta tersenyum mesra kepada Fatma.


Fatma terdiam dan melanjutkan makan tissert yang sempat tertunda.


Pandangan Arya tertuju pada kancing atasan Fatma yang tidak sengaja terbuka. Sampai belajarnya sedikit terekspos di baliknya.


Kepala Arya bergerak celingukan, lalu mendekat dan ke telinga Fatma. "Kancing depannya terbuka."


Wajah Fatma sontak memerah, merasa malu dan langsung memegang baju bagian depan yang Arya bilang terbuka. Lalu mengancingkan nya.


"Ngintip ya?" manik Fatma mendelik ke arah Arya yang menyunggingkan senyumnya.


Mata Fatma melotot dengan sempurna ke arah Arya ingin rasanya pelempar sesuatu pada Arya. Yang malah tertawa senang.


"Iih, malah ketawa? pulang yu?" tangan Fatma meraih tas nya.


"Huuh ..." Arya hembuskan napas yang sejenak lalu memanggil pelayan dan membayar makan malamnya.


"Jadi itu selingkuhan tunangan mu?" Fatma melirik ke arah Arya yang berjalan di sebelahnya.


"Mantan, bukan tunangan lagi. Lagian gak usah bahas masa lalu, kita bahas masa depan saja. Oke?" Arya enggan mendengar atau membahas Renata.


"Kenapa? mungkin kamu kurang perhatian kali sama Renata?" sambung Fatma.


"Apa harus, aku menodai seorang wanita?" langkah Arya terhenti sejenak.


Fatma menatap ke arah Arya sangat lekat menatap netra nya dalam-dalam mencoba mencerna maksudnya. "Aku kurang mengerti."


Arya menggeleng. "Sudah lah. lupakan saja."


"Kamu mau datang?" tanya Fatma sambil meraih helm dari tangan Arya.

__ADS_1


Sejenak Arya terdiam lalu menarik napasnya dalam-dalam. "Kebetulan bertepatan dengan acara di Bandung. Jadi aku gak bisa datang."


"Terus aku?"


"Maksudnya?" Arya tidak mengerti.


"Em, ma-maksud aku! aku di ajak gak ke Bandung nya?" tanya Fatma tidak segera naik.


"Maunya ikut atau nggak?" Arya malah balik tanya.


"Iih ... nggak serius amat sih? ya udah kalau nggak ngajak, nggak usah! nggak pengen juga kok." Fatma naik dan duduk di belakang Arya.


"Ikut dong sayang, Bila perlu berangkatnya bareng aja. Tapi terserah juga sih. Mau bareng atau belakangan, Aku ke sana hari Jumat dan acaranya hari Minggu."


Fatma berpikir sejenak. "Kalau bareng gimana? jadi aku sama Rania dan ibu, ayah. Pak Harlan. kamu bawa motor."


"Yah, gak bisa berduaan dong?" goda Arya sambil tergelak tawa.


"Apaan sihir?" sedikit mencubit pinggang Arya.


"Aw! sakit, iih. KDRT nih," ungkap Arya sambil nyengir.


"Biarin, kemarin aku jadi korban. Dan kini aku jadi pelakunya. Hi hi hi ..." Fatma tersenyum simpul.


"Emangnya, tega ya seperti itu Hem?"


"Em ... udah ah, pulang yu?" tangan Fatma menepuk pundak Arya.


Kemudian Arya melajukan motornya dengan cepat dan meninggalkan area restoran. Meluncur menuju pulang ke rumah Fatma.


Selang 30 menit perjalanan. Akhirnya tiba juga depan rumah Fatma. Setibanya di teras, Fatma turun dan membuka helmnya di bantu oleh Arya membukanya.


Langsung berpamitan setelah bertemu orang tua Fatma. Dan menyusun rencana untuk nanti pergi ke Bandung bersama-sama.


Arya berjalan keluar rumah di antar Fatma sampai ke teras.


Netra mata Arya melirik ke arah Fatma yang berada di sebelahnya. "Besok sore ada penerbangan. Dan selama beberapa hari aku akan sibuk, jadi kita bertemu lagi hari Jumat pagi atau siangnya. Aku kesini lagi untuk berangkat bareng."


Fatma tidak menjawab, di wajahnya tampak sedih. Muram rasanya berat sekali untuk di tinggal beberapa hari, baru saja hari ini ia mengenyam bahagia bersama Arya sudah mau di tinggal lagi.


Wajah Fatma yang murung tersorot cahaya lampu. Sehingga terlihat jelas tidak rela nya ....


****

__ADS_1


Mohon terus dukungannya ya agar aku tetap semangat dalam berkarya.


__ADS_2