
"Hah!" dengus Zayn sembari berlalu pergi, meninggalkan Susi ke kamar mandi.
Sementara di kamar Arya dan Fatma. Selesai mandi mereka bersiap mencari makan malam, Tapi karena merasa yang lain belum siap. Arya duduk-duduk di sofa dengan merentangkan tangan menatap langit-langit seakan sedang berpikir.
Fatma menggosokkan tangan yang memakai wewangian. Menoleh ke arah Arya yang duduk santai di sofa dengan wajah mendongak, ia membawa langkahnya ke dekat Arya dan duduk di samping sang suami.
"Sepulang dari sini, aku harus ke luar Negeri beberapa Minggu lamanya. Maunya sih kita bisa pergi bersama!" ucap Fatma.
"Em ... pulang dari sini ... aku sibuk sayang, banyak jadwal penerbangan ku." Balas Arya sembari merangkul bahu Fatma ditariknya supaya mendekat.
"Padahal aku ingin pergi sama-sama juga sama Rania," harap Fatma sembari menempelkan pipinya di bahu Arya.
"Kalau sempat, mungkin aku bisa menyusul dengan Rania ke sana, mungkin. Kalau untuk pergi bareng! gak bisa," tambah Arya tangannya membelai rambut sang istri dengan mesra.
"Lama sekali sampai beberapa Minggu? urusan kerja atau pindah? he he he ...."
"Urusan kerja, banyak yang harus aku urus di sana. Dan ada beberapa seminar yang harus aku penuhi undangannya." Fatma berucap lirih dengan posisi yang sama.
"Sama Zayn gak?" selidik Arya kembali.
"Nggak, dia yang akan mengurus semuanya di sini. Dan aku ke sana paling sama asisten lain. Karena diperkirakan lama, makanya aku ingin kalian ikut biar ke urus juga," tuturnya kembali.
"Gimana kalau adik kecil ku pengen, siapa yang akan memanjakannya? kalau sayang lama di sana?" sambung Arya sedikit merajuk.
"Makanya, ikut." Bujuk Fatma sembari menggerakkan jemarinya di perut rata Arya.
Arya menghela napas kasar. "Nggak bisa sayang. Aku punya kesibukan sendiri, nanti lah kalau sempat aku ke sana membawa Rania dan adik kecilku ini yang minta di manjakan oleh dirimu." Cuph! Arya mendaratkan ciuman hangat di kening sang istri.
"Hem ..." Fatma mengeratkan pelukannya ke pinggang Arya.
"Ingat gak? sudah beberapa hari ini kita tidak melakukannya," jemari Arya membelai pipi Fatma dengan sangat lembut.
"Ingat, kan emang sudah menjadi kesepakatan kita bukan? biar di sini saja menumpahkan rasa rindunya." Fatma mendongak dan membalas mengusap pipi Arya lembut.
"Iya, jadi siap dong. Kalau aku minta setiap waktu?" ungkap Arya sembari menyeringai.
"Ya ampun ... kita ini bukan pengantin baru lho, sudah mau dua bulan. Ih, segitunya ya?" jemari Fatma mencubit rahang Arya gemas.
"Biarin, mau pengantin baru mau bukan kalau soal itu sana aja sayang ... tidak ada bedanya. Kecuali sudah bosan." Mengecup singkat bibir Fatma.
__ADS_1
"Akh, alasan. Seminggu itu tiga empat kali normalnya--"
"Kalau mau? gak terbatas sayang cuman ... gak mikir aja kalau sampai gak ada capeknya. He he he ...."
"Dasar," gumam Fatma seraya mencubit dada Arya yang kena titiknya.
"Aww ... sakit." Tangan Arya memegang dadanya sebelah kanan. "Sayang ... tuh kan ... ada yang bangun? harus tanggung jawab nih."
Fatma langsung beranjak dengan alasan lapar. "Ayo? makan! come on?"
Arya pun berdiri mengejar Fatma yang sudah sampai di dekat pintu. Meraih tangan sang istri. "Nggak bisa, tanggung jawab dulu."
"Apaan sih?" tanya Fatma sambil tersenyum puas, menyandarkan punggungnya ke dinding.
Tubuh Arya mengunci tubuh sang istri dengan tatapan sangat lekat. Tatapan mereka pun bertemu, saling bersitatap lama ... dengan penuh kasih dan sayang.
Jika mata dapat berkata rasanya bibir tak perlu banyak bicara. Kedua telapak tangan Arya menempel di dinding, sementara tangan Fatma merangkul pundak Arya.
Hening!
Yang ada hanya tatapan mata yang lekat nan mesra. Dengan jarak wajah yang begitu dekat sehingga deru napas pun terasa, menyapu kulit masing-masing.
Pertemuan pun terjadi, dengan lembut bibir Arya menyapu permukaan bibir Fatma yang tipis itu. Keduanya memejamkan matanya, saling menikmati manisnya sentuhan yang terasa hangat tersebut.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Mam, Papa ... ayo? katanya mau makan? kok lama sih?" suara Rania dari balik pintu.
Kedua pasang mata mereka berdua sontak terbuka dan memberi jarak dari wajah masing-masing, seiring suara ketukan pintu dari luar. Arya dan Fatma berbarengan melihat pintu yang tidak di kunci tersebut.
Untung anak itu gak langsung masuk, padahal pintu tidak dikunci sama sekali. Barusan Fatma sudah buka kuncinya dan lupa mengunci kembali.
Telunjuk Arya mengusap bibir Fatma yang lembab akibat bertukar saliva barusan. Lalu kecupan singkat kembali mendarat di bibir Fatma yang terdiam serta dada yang terus berdebar.
Arya mengusap kasar bibir miliknya. Lalu mundur mendekati pintu kamar tersebut.
__ADS_1
"Papa? Mama ... ayo makan? Rania lapar!" pekik Rania semakin nyaring.
"Iya sayang, iya ... sebentar?" Arya menarik handle pintu, blak ... dan tampak Rania berdiri, di belakangnya ada Dewi.
"Ayo kita makan?" Arya menyeret langkahnya meraih tangan Rania, di tuntun nya menjauhi kamar mereka.
Fatma yang masih merasakan senam jantung masih terdiam di tempat dengan tangan yang bergerak merapikan pakaiannya yang kusut tidak karuan.
Lalu kemudian mendekati nakas mengambil minyak wangi. untuk menyemprotkan ke tubuh nya baunya sudah bercampur dengan baunya tubuh Arya.
Setelah itu baru menyusul sang suami yang duluan keluar.
"Kak Fatma kemana, Aa?" tanya Dewi melirik sang kakak.
"Ada, nanti menyusul." Jawab Arya sembari menuntun pergelangan Rania.
"Iya, mama lagi apa sih?" Rania mendongak. Penasaran sebab ibunya tidak ia lihat tadi.
"Em ... tadi mama sedang senam jantung." Arya tersenyum menunjukan gigi putihnya.
"Oo!" Rania membulatkan bibirnya.
Kemudian terus berjalan menuju lift. Untuk menuju lantai dasar dan mau mencari makan di sana.
Arya memilih meja yang panjang agar semua bisa berkumpul di dalam satu meja yang sama.
Tidak lama kemudian. Zayn dan Susi datang, Sultan yang beriringan dengan Fatma lalu duduk di kursinya masing-masing.
Semuanya mengambil daftar menu dan memilih menu makanan sesuai kesukaan masing-masing dan minuman yang beragam pula.
Tidak lama menunggu, makanan pun siap di meja untuk disantap pemesannya. Dan tidak membuang waktu, merekapun langsung menyantap hidangan yang ada sambil menikmati deburan ombak yang tidak jauh dari sana dan terlihat dari dinding kaca yang tembus pandang itu.
Ketika sedang menyantap makannya, Fatma merasa pusing membuat acara makannya terhenti sesaat.
Arya melihat gelagat yang tidak baik dari istrinya lantas bertanya. "Kenapa sayang?"
Fatma menggeleng sambil memegangi keningnya. Lalu melanjutkan makannya itu. "Nggak pa-pa, kayanya aku telat makan aja."
Arya menatap cemas, tangannya mengusap bibir Fatma yang ada secuil makanan yang menempel. "Yakin?"
__ADS_1
Fatma pun mengangguk, meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja ....