
"Ya ... kali aja mau bajaj," sahut Arya asal. Tangannya menarik mengambil kacamata dari handbag.
Kemudian melirik jam yang sudah terpasang di tangan kirinya, melirik ke arah Sultan yang baru saja mendudukkan dirinya di sofa sambil meneguk teh hangat. "Oke, berangkat sekarang?"
"Ya, baru duduk. Baru satu teguk minum? ah kenapa kau tak membiarkan ku rehat sejenak? cek!" Sultan berdecak kesal.
"Salah mu yang datangnya kesiangan," lalu Arya kembali berpamitan dan menyalami kedua orang tuanya.
"Apa ada barang yang ketinggalan, AA?" tutur umi Santi menatap lekat putrnya.
"Tidak, Umi. Semua sudah ada di tempatnya." Arya menunjuk ke arah kopernya.
"Semoga Allah melindungi kalian dan diselamatkan, dijauhkan dari segala kendala apapun. Pulang dengan selamat." Abah menepuk pundak putra sulungnya lalu ke Sultan.
"Hik hik hik. Berasa punya bapak dua." Sultan nyeleneh.
"Jangan lupa juga berdoa dan menggantungkan semua harapan pada sang maha pencipta. Sebab dia yang maha segalanya," sambung Abah melepas putra dan Sultan berangkat melintasi pintu dengan gumaman basmalah.
Abah dan umi memandangi putranya sampai hilang di balik pintu lift. Setelah itu barulah mereka menutup pintu dan menguncinya.
"Ya Allah ... semoga engkau memberi keselamatan pada mereka dan juga orang yang akan mereka bawa. Allah lindungi senantiasa." Wajah umi mendongak ke langit lalu mengusap wajahnya yang sudah tidak sepuh itu.
"Aamiin, lapar nih. Masak apa Umi? Abah lapar," Abah berjalan menuju dapur. Diikuti oleh sang istri sambil merapikan kerudungnya.
__ADS_1
Arya dan Sultan mengenakan motornya masing-masing untuk menuju kantor bandara.
...****...
Pagi-pagi Fatma sudah menyibukkan dirinya di depan alat olah raganya. Sebelum mandi dan memandikan Rania untuk masuk sekolah.
Keringat bercucuran dari tubuh Fatma yang hanya mengenakan kaos tantop hitam. Celana pendek di atas lutut, mengekspos bentuk tubuh yang persis biola Spanyol itu. Siapa yang memandang pasti terpesona dan klepek-klpek. Tubuhnya bagai ditaburi berlian yang bercahaya dari keringat yang tersorot sinar lampu.
Setelah merasa cukup, tangannya mengambil handuk kecil dan mengelap wajahnya yang dibanjiri keringat tersebut. Berjalan membawa langkahnya ke kamar dan langsung memasuki kamar mandi untuk membersikan diri yang sebelum nya menyiapkan pakaian formal buat ngantor di hari ini.
Sekitar 15 menit kemudian. Fatma keluar dengan handuk melilit di tubuhnya lalu menggantinya dengan pakaian yang sudah ia siapkan sebelumnya. Selesai mengurus dirinya sendiri, Fatma langsung bergegas membangunkan Rania untuk sekolah.
Fatma naik ke tempat tidur ya dan mendekati Rania yang masih terlelap. "Sayang ... bangun? dah siang. Mau sekolah lho." Lirih Fatma. Mengusap kepala dan mencium pipi si gadis kecil itu.
"Eh ... bangun sayang ... nanti kesiangan, gak mau ah. Cepetan bangun! nanti Mama bilangan sama om ganteng ya? biar nanti malam gak jadi ke sini! apaan Rania nya juga gak mau sekolah, kan?" bujuk Fatma. Sekarang punya jurus yang siapa tau jitu.
Rania melonjak bangun membuka matanya lebar-lebar, menyibakkan selimutnya dengan cepat. "Apa Mam? Om ganteng mau ke sini?"
Mata polos anak itu begitu bercahaya menatap lekat sang bunda.
"Iya, kan semalam telepon tapi Rania nya dah bobo. Jadi ... cuma ngobrol sama Mama aja." Fatma mengangguk sembari mengulas senyuman yang tampak manis dari bibirnya.
"Horei hore! hore ... om mau datang, om mau datang. Rania mau main sama om nanti malam." Anak itu jingkrak-jingkrak di kasur yang empuk tersebut. Sangat bahagia mendengar Arya mau datang.
__ADS_1
Fatma menggeleng dengan senyuman yang mengembang dan tangannya meraih lengan Rania. "Makanya sayang mandi dulu Mama nanti kesiangan lho."
Kemudian Rania Fatma gendong ke kamar mandi dengan handuk di bahu.
"Aunty. Siapkan semua keperluan Rania di kamarnya saja." Fatma melirik ke arah Mia yang langsung mendapat anggukan dari Mia.
Rania mandi dengan sang bunda dengan riang dan bernyanyi ala anak-anak, Fatma tak berhenti mengulas senyum melihat putri kecilnya begitu tampak bahagia.
"Nanti malam bobo di kamar sendiri lagi ya? kan sudah sembuh dan Rania sudah besar lho. Masa mau bobo sama Mama terus kan gak lucu ya?"
"Oke Mam. Rania mau bobo sendiri lagi," sahut Rania di sela nyanyiannya.
Fatma menyudahi mandinya Rania dengan handukan di turunnya ke kamar Rania sendiri.
Setibanya di kamar yang mereka tuju. Rania langsung di dandani sang mama dengan penuh kasih sayang.
"Mam, beneran kan Om mau ke sini?" menatap lekat berharap jawaban.
Namun Fatma tidak segera menjawab melainkan fokus menguncir dua rambut Rania sangat rapi.
"Mama, kok Rania bicara gak didengar sih? ih bolot." Rania sekenanya. Ceplas-ceplos.
Fatma menoleh dan tampak heran. "Siapa yang ngajarin bicara gitu?" setelah itu melirik ke arah Mia yang dengan spontan.
__ADS_1
"Teman-teman suka bilang bolot sama teman-teman lain, apalagi sama teman yang bandel." Balas Rania ....