Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Renovasi


__ADS_3

Arya berjalan menuju kamarnya. setelah menutup pintu kamar Rania. Matanya celingukan dan mematikan lampu ruang tengah. Lanjut membuka pintu kamar dan mendapati Fatma sedang membereskan pakaian ke dalam lemari Arya.


Klik! pintu Arya kunci, membawa langkahnya ke sofa dan duduk di sana.


Fatma menoleh ke arah Arya dengan memberikan senyuman. "Aku pengen mandi, tapi beres-beres ini dulu."


"Ooh, kalau gak suka dengan dekor nya kamar ini. Boleh di renovasi semau kamu." Balas Arya sembari memandangi ke arah Fatma.


Netra mata Fatma menyapu ke seluruh ruangan tersebut. Memang kamar itu dengan begkron khas laki-laki dengan gambar-gambar pesawat. Gambar langit, wallpaper tentang burung-burung.


"Kalau boleh, aku tambahkan atau ganti sebagian dengan wallpaper bunga dan laut. Boleh?" tanya Fatma dengan hati-hati.


"Boleh, terserah sayang aja. Aku gak keberatan kok walaupun semua di renovasi nya." Balas Arya memberi kebebasan kepada sang istri.


"Em ... makasih?" Fatma melukiskan senyuman yang ia tujukan pada Arya.


"Seluruh unit ini juga. Yang penting sayang suka aku pun suka." Tambah Arya sambil merebahkan tubuhnya di sofa tersebut.


Sunyi!


Fatma menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai Fatma menyimpan koper ke atas lemari. Meraih handuknya ia sampaikan di pundak, namun sebelum masuk ke kamar mandi. Fatma menghampiri Arya.


"Aa, kalau cucian di londry atau--"


"Aku nyuci sendiri biasanya. Seterika sendiri, kadang londry juga tapi lebih banyak di rumah sih nyuci sendiri, pake mesin juga."


"Ooh! aku kirim ke rumah ah. Tapi ngapain repot juga bawa ke Mension suruh aja asisten kesini, kalau banyak cucian. Toh alat-alat di sini juga lengkap," ujar Fatma mengangguk sendiri.


Tangan Arya meraih jemari Fatma di remasnya lembut. "Terserah sayang aja!" Arya bangun mendudukkan dirinya lalu tangan yang masih menggenggam tangan Fatma, menarik supaya duduk di pangkuan Arya.


"Ngomong-ngomong. Kapan selesainya nih?" selidik Arya setelah Fatma berada dalam pangkuannya.


"Nggak tau. Masih ada nih," suaranya pelan.


Arya mengenal napas lesu. "Lama nya ... tersiksa nih." Menempelkan bibir di pipi Fatma.

__ADS_1


"Lama apanya?" gumam Fatma, dalam hati kecilnya merasa kasihan pada Arya yang mendambakan dirinya.


Tangan Fatma membelai pipi Arya di tatapnya lembut dan penuh perasaan. "Sabar ya? mungkin besok selesai."


Kemudian kecupan mesra menghujani wajah Arya yang tampak kecewa.


Arya merasa bahagia bercampur dag-dig-dug, ia dapat bermesraan dengan wanita yang sudah halal untuknya, kemudian Arya mengecup bibir Fatma sangat mesra.


Belum juga bibir Arya mendarat di bibir Fatma, Fatma sudah memejamkan matanya menyambut wajah Arya yang kian mendekat.


Perlahan menyapu permukaannya dan lalu m*Lum** nya lembut. Tangan pun tak luput menjelajah kemana-mana. Me**m** buah yang tampak segar nan ranum tersebut.


Sentuhan bibirnya turun ke leher sementara waktu menjelajah dia sana lama-lama semakin turun ke area dada lawan jenisnya. Napasnya terasa memburu terdengar berat dan menuntut.


Fatma, Arya mencumbu terus dan dibawanya ke atas tempat tidur. Saking asyiknya kini mereka hampir polos bak baby yang baru lahir, mereka hanya menyisakan bagian dalam saja.


Begitupun Fatma terlalu terbawa arus gelora yang begitu besar. Tanda merah sudah banyak membekas di dadanya. Dan tak satupun menyisakan tanda merah di leher. Sebab itu permintaan Fatma sendiri yang tidak ingin ada tanda di leher.


Mereka terus bercumbu. Menikmati sentuhan satu sama lain, sesekali lolos lah suara mendesis dari keduanya.


Ketika hampir mendekati gerbang tersebut. Fatma mendorong dada Arya sambil berbisik. "Sabar ya?"


Seketika Arya menjatuhkan dirinya di sebelah Fatma berbaring menatap langit-langit dengan emosi yang berusaha ia kontrol. Napas yang terengah-engah. Hasrat yang hampir memuncak dan hampir tak kuasa ia kendalikan. Membuat ia menderita, tersiksa.


Manik mata Fatma menatap ke arah Arya dengan tatapan tak tega. Arya seolah tak ingin di pandangi. Dia membalikan badan menyamping lalu tengkurep tuk menyembunyikan sesuatu yang mengganjal di bawah sana.


Fatma menutupi bagian dadanya dengan selimut, tubuhnya yang hampir polos itu berhiaskan keringat yang menghiasi tubuhnya.


Kemudian Fatma bangun dan meraih pakaian lalu gegas ke kamar mandi, tak lupa menyambar handuk nya.


Tak terbayang betapa sesaknya dada Arya. Tangannya mengepal memukul kasur, saat ini dadanya merasa dongkol, marah sama dirinya sendiri yang sulit untuk bersabar. Menunggu sang istri bersuci.


"Sabar-sabar ... tahan ... Huuh ...."


"Sabar, nanti juga buat siapa kalau bukan untuk diriku juga. Anggap saja ini masih berpacaran, yang harus membuat jarak untuk kebaikan. berdua." Arya bermonolog sendiri.

__ADS_1


Dirinya yang cuma memakai dalaman tersebut, masih betah berbaring tengkurep. Tanpa menutupi tubuhnya dengan selimut, dia biarkan tubuhnya begitu saja.


Fatma masih di dalam kamar mandi, merasakan dadanya yang berdebar tidak karuan. Dadanya tampak naik turun dan Fatma berusaha mengontrolnya juga.


Fatma segera masuk ke dalam bathub yang sudah ia bubuhi dengan wewangian kesukaannya. Kemudian berpindah ke bawah shower yang hangat.


Meraih handuk dan baju membalut tubuhnya. Dengan ragu-ragu menarik pintu, jadi malu untuk keluar dan menemui Arya.


Namun apa yang ia dapati setelah pintu kamar mandi terbuka. Netra nya langsung mendapati Arya yang tak bergeming. Dengan posisi tidur tengkurep, mungkin sedari tadi Arya tidak merubah dirinya.


Fatma mendekat. Menarik selimut untuk menutupi tubuh Arya yang setengah polos itu.


Fatma sendiri menghampiri cermin untuk memberi wewangian ke seluruh tubuhnya. Menyisir dan mengenakan body lotion.


Sesaat menatap dirinya di cermin dengan seksama. Lalu Menyisir sebentar rambutnya. Kemudian melangkahkan kaki kembali ke tempat tidur.


Merangkak naik dan menggantikan lampu menjadi sinar yang temaram. Masuk ke dalam selimut yang sama dengan Arya.


Sesaat Fatma menatap ke arah sang suami yang tak bergeming. Tangan Fatma membelai rambut Arya dengan sangat lembut.


"Sayang, maaf ya? tunggu sebentar .... lagi," gumamnya Fatma, tanpa beban.


Terlihat pergerakan tubuh Arya dan berbalik terlentang. Rupanya Arya sudah tertidur sedari tadi walau dengan hati yang kesal dan kecewa.


Netra mata Fatma memperhatikan sang suami dengan intens dari ujung kepala sampai bawah yang tadinya ke ujung kaki, berhenti di tengah-tengah yang terlihat ada sesuatu yang menyeruak di balik selimut.


Bibir Fatma menyungging. Menunjukan sebuah senyuman dan tersipu malu. Namun rasa penasarannya begitu dalam, sehingga ia memberanikan diri untuk meraba dengan tangannya.


Walau perlahan tapi pasti, telapak tangannya mengarah pada sesuatu yang timbul tersebut, geph! tangan Fatma menyentuh sesuatu yang besar dan bergerak. Seperti benda hidup.


Beberapa kali Fatma menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan. Sejenak tangannya terdiam di sana, manik matanya Fatma merem melek ....


****


Jangan lupa like komen dan vote nya ya🙏

__ADS_1


__ADS_2