
"Nggak, kenapa-napa! kangen aja," sahut Fatma dengan posisi yang sama.
"Hem ... jangan-jangan dari dulu ya suka? dan ingin peluk-peluk gini?" goda Arya sambil tertawa kecil.
"Enak aja. Nggak, ge'er amat sih." Elak Fatma sembari sedikit memberi kecupan di punggung Arya.
"Akh ... geli sayang." Punggung Arya sedikit menggeliat geli.
Fatma tidak perduli. Dia terus saja menjahili Arya dengan sentuhan nakalnya. Membuat Ary menggelinjang merubah posisi menjadi berhadapan.
"Jadi aku gak dibiarkan memakai baju nih hem?" sembari memegangi kedua bahunya Fatma.
"Boleh, sana pake baju nanti kedinginan?" Fatma memundurkan dirinya memberi ruang agar Arya mengenakan pakaiannya.
Bibir Arya mengulas senyumnya. Lalu gegas Arya mengenakan pakaiannya dengan lengkap.
Fatma membuka jubahnya. Ia simpan di bahu kursi, kemudian merangkak naik ke tempat tidur.
Sontak Arya melihat ke arah Fatma yang rupanya cuma mengenakan lingerie yang tipis. manik matanya ke arah Fatma menatapnya sangat lekat.
"Bisa gak? jangan menggoda ku dulu, takutnya hasrat ku naik dan Aa gak bisa nahan gimana?" ucap Arya sambil tersenyum nakal.
"Siapa yang menggoda? baju tidur lingerie memang seperti ini. Beda dengan daster dan piyama, piyama ku basah." Akunya Fatma.
"Tapi, kan seperti barusan memakai jubahnya bisa!" timpal Arya kembali sembari menggosok rambutnya.
"Kalau mau tidur, panas." Fatma juga merasa heran, Arya tidak memakai bajunya atau kaos. "Kamu sendiri kenapa telanjang dada gitu, apa tidak menggoda ku juga?"
"Nggak lah. Aku sudah terbiasa kalau tidur telanjang dada begini," sahutnya Arya santai.
"Sama ajalah," balas Fatma kembali sembari duduk bersimpuh di atas tempat tidur tersebut, melipat kakinya yang jenjang dan mulus terutama pahanya.
Kedua netra mata Arya menatap intens ke arah Fatma yang memakai pakaian kurang bahan tersebut mana tipis lagi. Seakan menerawang yang ada di dalamnya.
Membuat jiwa lelakinya semakin meronta, apalagi wanita yang berada di depannya ini sudah halal untuknya. Lalu dia ikut merangkak naik mendekati tubuh sang istri. Bergerak menangkupkan tangannya di wajah Fatma yang terus menatapnya begitu lekat.
Perasaan Fatma bergemuruh tak karuan bagai deburan ombak yang menerjang karang di lautan.
Tubuh Arya bergetar dan napas pun berubah memburu bagai habis maraton.
Tangan Fatma bergerak memegang kedua tangan Arya yang berada di pipinya. Keduanya saling tatap begitu dalam dan sendu, terlihat ada hasrat yang menggebu antara keduanya.
__ADS_1
Tatapan Arya bergerak dan tertuju pada bibir yang merah merona milik wanita cantik tersebut. Kemudian mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir keduanya dengan perlahan.
Suasana begitu hening. Yang ada hanya deru napas yang berhembus ke kulit wajah masing-masing, keduanya begitu menikmati sentuhannya itu, mereka terhanyut dalam suasana.
Namun seketika keduanya menggelinjang menjauh dan mengusap bibirnya masing-masing setelah terdengar suara Rania dari balik pintu.
"Mam ... Rania mau bobo sama Mama dan papa! Rania ngantuk," suara Rania yang mengagetkan suasana kamar yang syahdu tersebut.
"I-iya, sebentar sayang." Fatma buru-buru turun dan merapikan pakaiannya.
"Sayang?" panggil Arya sebelum merebahkan kepalanya di bantal.
"Ha?" Fatma menoleh.
"Pakai dulu jubahnya." Menunjuk jubah dengan dagunya.
Fatma pun menurut dan meraih jubah dan memakainya sambil berjalan mendekati pintu.
"Mama ... buruan? Rania ngantuk.
"Iya, sayang. Sebentar, sabar ..." balas Fatma.
Ceklek!
"Maaf, Nyonya. Rania kekeh mau tidur sama mama." Mia pura-pura menunduk padahal matanya jelalatan melihat Arya yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Oo! gak pa-pa kan emang selama di sini tidur sama saya." Fatma menuntun Rania ke dalam, lalu menutup kembali pintunya.
"Papa! boleh ya Rania bobo sama kalian?" Rania menghampiri Arya dengan cepat.
Arya terbangun dan menatap ke arah anak itu. "Boleh sayang. Bobo gih, sudah malam."
"Oke! Rania janji. Kalau pulang dari sini Rania bobo sendiri lagi kok." Rania naik ke atas tempat tidur.
Fatma kembali berlutut naik setelah membuka jubahnya yang menyisakan lingerie nya saja. "Rania mau bobo di tengah atau--"
"Aku ... di sebelah Mama aja deh." Anak itu menempelkan kepalanya di bantal.
Fatma menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Mengusap kepalanya dan mencium keningnya. Kemudian Fatma berbaring di tengah-tengah Arya dan Rania.
"Membaca doa dulu sayang! Jangan lupa lho," ucap Arya sambil berbaring terlentang menatap langit-langit dengan napas masih terengah-engah, belum bisa mengontrol na*sunya.
__ADS_1
"Iya, Pah ..." lantas Rania membacakan doa mau tidur.
"Aamiin ..." sahut Arya dan Fatma serempak.
Hening!
Arya memilih melamun, sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sementara Fatma membelai rambut Rania sampai dia tertidur nyenyak.
Setelah memastikan, kalau Rania sudah tidur nyenyak.Fatma merubah posisi baringnya, yang mulanya membelakangi Arya menjadi menghadap pada pria yang menatap langit-langit itu. Napasnya pun masih belum teratur.
Kedua netra mata Fatma menatap wajah tampan tersebut dan mengarahkan tangannya mengusap pipi Arya dengan sangat lembut.
Manik mata Arya bergerak melihat ke arah Fatma dengan tatapan yang berkabut. Menatap lekat, jarinya menyingkirkan anak rambut Fatma yang menghiasi pipinya.
"Rania sudah bobo kah?" suaranya pelan dan sedikit bergetar.
Fatma hanya mengangguk pelan, lantas menurunkan tangannya ke dada Arya yang tanpa penutup itu, jarinya Fatma bergerak dan menari-nari sana.
Arya memejamkan matanya, berusaha menahan sesuatu yang meronta. Hasrat yang hampir memuncak, siapa sih yang tahan di suguhi pemandangan yang indah dan sayang bila harus terlewatkan begitu saja. Apalagi sudah menjadi haknya.
Fatma tersenyum nakal melihat ekspresi Arya yang gusar dan menahan sesuatu. Lalu Fatma sedikit menggeser dan kian mendekati wajah Arya.
Untuk mengantisipasi Rania bangun dan tiba-tiba melihat mama dan papanya. Arya segera mematikan lampu untuk sementara waktu.
Sepi!
Hanya hembusan napas Fatma yang menyapu wajah Arya, napas yang kasar terdorong gairah yang menggebu. Bibir Fatma menulusuri pipi, kening dan berhenti di bibir yang haus akan sentuhan lembut dari seorang wanita.
Setelah sekian lama beradu wajah dan saling l*mat dan saling i*ap dengan sangat lembut. Arya beralih posisi tubuhnya menjadi di atas Fatma.
Dengan lembut tangannya menjelajah bukit-bukit putih nan bersih tersebut lalu ia mainkan dengan bibirnya. Men*isa* kuat sehingga pemiliknya tanpa sadar mengeluarkan suara keramatnya.
Fatma sangat menikmati permainan yang diberikan Arya terhadapnya, tanpa harus di tuntun. Dia begitu lembut memperlakukan Fatma yang pernah merasakan trauma.
"Mah? kok gelap, Mama-Mama?" gumamnya Rania terbangun dan mendapati suasana sangat gelap.
Dengan suara bergetar Fatma menjawab. "Kenapa sayang? bobo! Mama disini memeluk kamu sayang."
"Pengap, Mama. Gelap gini pengap, lampunya nyalakan Mam, pake lampu temaram saja." Rajuk Rania yang merasa sesak atau pengap ....
****
__ADS_1
Ayo, mana like komen dan vote nya? agar aku tambah semangat nih🙏