
Arya setengah berlari menuju ruangan Fatma, namun ruangan itu sudah kosong kata suster, pasien sudah pulang dari setengah jam yang lalu.
"Huuh telat, ck!" ada rasa kecewa yang memenuhi dada Arya. Kecewa kenapa bisa telat dan lupa kalau pagi ini Fatma pulang.
Ruang itu kosong, tak satupun barang yang tertinggal di sana. pandangan Arya yang mengedar cuma mendapat bayangan saja. Lalu Arya keluar dan berjalan dengan lunglai, sudah bela-belain datang namun telat. Jadinya tidak bertemu apalagi mengantar pulang.
Ketika Arya berjalan di area taman, ada anak kecil yang membelakangi sedang duduk memeluk lututnya. Dan terdengar menggerutu. "Om genteng bohong! katanya mau nemenin Mama tapi Mama ditinggal, mana katanya mau datang? mana? datang-datang."
Lalu terdengar suara wanita yang juga tak asing ditelinga nya Arya. "Sayang ... om nya sibuk kali. Kita gak bisa memaksakan dia tuk selalu ada buat kita. Kan om nya punya kerjaan dan punya keluarga juga."
Mata Arya terus mencari sumber suara yang tak terlihat, ternyata terhalang pohon bunga yang rimbun sehingga teduh dan nyaman.
"Tapi, kan. Sudah janji Mam. Mau jagain Mama, tapi om bohong, Rania marah sama om ganteng. Nggak mau bertemu lagi." Anak itu melipat tangan di dada.
"Beneran, Rania Marah sama Om? tidak apa-apa ah, yang penting Mama gak marah sama Om." Arya muncul dari belakang mereka.
Rania terkejut sehingga melonjak berdiri dan berbalik badan melihat ke arah Arya. "Om ganteng?"
Tak kalah dari Rania, Fatma pun sangat terkesiap dengan kedatangan Arya. Seakan jantungnya berhenti berdetak, tertegun melihat ke arah Arya yang juga menunjukan senyumnya.
Sejak kemarin dari bangun tidur Fatma tidak melihat Arya, sebab pamit pun melalui ponsel karena dirinya sedang tidur nyenyak. waktu ke waktu terasa sepi tanpa adanya Arya. Entah kenapa semalaman dirinya juga tak dapat tidur, kantuk pun hilang dari matanya. Yang ia rasakan hanya sepi, sunyi tanpa ada Arya yang menemani. Gelisah tak menentu, perasaan gusar tak karuan.
Tadi saatnya mau pulang. Semua sudah siap dan sudah berada di mobil tinggal jalan. Namun Rania malah merengek kekeh ingin menunggu Arya, dan gak mau di temani Mia. Pengen sama mama menunggu om nya sama mama, tak dapat dibujuk dengan rayuan apapun. Kekeh mau nunggu Arya sama Mama di taman, hampir saja Fatma tinggalkan anak itu di taman sendiri atau dipaksa pulang saja.
"Om ganteng datang juga? Rania marah sama om ganteng, yang ninggalin Mama sendirian." jelas Rania.
Netra mata Arya mengarah pada Fatma yang kebetulan melihat ke arah dirinya. "Om, kerja sayang. Kebetulan baru pulang pagi." Pandangan itu berlangsung lama. Kemudian Arya tersadar dan mengalihkan pandangan pada gadis kecil tersebut.
"Om pikir kalian sudah pulang. Om sudah ke ruangan namun kosong." Hati Arya yang sempat menciut kini mengembang kembali.
Fatma yang menunduk malu. berkata. "Rania kekeh ingin menunggu mu di sini. Sedari tadi aku bujuk untuk pulang. Atau menunggu di sini sama Mia saja. Gak mau. Padahal kepalaku pusing."
__ADS_1
"Ya, sudah ke mobil yu? panas, nanti kamu kepanasan dan pingsan." Berniat membantu Fatma berdiri. Namun tolak dengan alasan bisa sendiri.
"Rania gak sayang sama Mama y?" gumam Arya pada anak itu.
"Sayang. Rania sayang lah." Sahut Rania menatap ke arah Arya.
"Kalau Rania sayang sama Mama, kenapa mamanya di suruh menunggu om di sini? kan mama masih sakit! kepalanya saja masih diperban. Gimana kalau mama pingsan lagi? Om kecewa sama Rania. Om marah nih."
Anak itu menunduk sedih sesekali melihat wajah sang bunda. "Rania minta maaf Om, Rania gak lagi-lagi Rania sayang sama Mama. Gak lagi-lagi Om, Rania janji."
"Rania minta maafnya sama mama dong. Bukan sama Om." tegas Arya.
Rania menoleh pada sang bunda. "Mam, Rania minta maaf ya? Rania sudah egois dan bikin Mama susah." Anak itu memeluk kaki sang bunda.
Fatma menghela napas panjang. Lalu mengusap rambut Rania. "Mama maafkan kok. Pulang ya sekarang?"
Rania mengangguk setuju untuk pulang sekarang juga. Menoleh ke arah Arya dan menarik tangan Arya. Sehingga mereka seperti ayah, ibu dan anak tampak harmonis dan penuh kasih sayang.
Arya merogoh sakunya yang kosong, di setiap kantong pun kosong. "Ponselku ketinggalan di apartemen kali."
"Oya?" kepala Fatma menggeleng pelan. Rania berlari menuju mobil.
"Kenapa? gak percaya?" tanya Arya pelan.
"Ha! nggak. Maaf ya Rania terlalu berharap kamu ada," ucap Fatma tampak gugup.
"Nggak pa-pa, ibunya juga gak pa-pa, ha ha ha ... canda." Balas Arya sambil menyeringai. Memperlihatkan gigi putihnya.
Fatma senyum simpul dan berusaha menyembunyikan nya. "Apaan sih?" Lagi-lagi menggeleng.
Fatma jalan dengan mobilnya bersama supir dan Mia. Di belakang dibuntuti dua bodyguard nya dengan mengenakan motornya masing?masing.
__ADS_1
Sementara Rania minta naik motor bersama Arya, walau di bilang panas juga, anak itu tetap kekeh dengan pendiriannya.
Selang beberapa puluh menit kemudian. Motor Arya lebih dulu sampai di rumah mewah tersebut bersama Rania.
"Hore ... Rania menang ... sampai lebih dulu dan mama kalah ... sebab jalannya lelet. Belum sampai deh." Gadis kecil itu bersorak dan bertepuk sangat riang.
Dari Bu Wati dan pak Wijaya muncul menyambut siapa yang datang.
"Assalamu'alaikum ..." ucap Arya sambil meraih tangan Bu Wati dan suami.
"Wa'alaikum salam ..."Balas bu Wati dengan sangat ramahnya. "Rania, mamanya mana?"
"Mama masih di belakang, Oma ... lelet bagai keong." Balas Rania.
"Nak Arya, katanya tadi gak datang?" selidik Bu Wati dari Arya. Memang tadi ia sempat mendengar kalau Arya gak datang. Sehingga Rania kekeh ingin menunggu.
"Em, iya telat. Aku baru pulang tadi pagi dari tugas, Bu. Ini pun tadinya mau tidur kalau gak ingat sama Rania," sahut Arya seolah menjadikan Rania sebagai alasan.
Mobil Fatma akhirnya sampai juga di halaman rumahnya. Supir turun dan mengitari mobil tuk membukakan pintu buat sang majikan.
"Gimana. kabar ayah?" Arya mengalihkan pandangan pada pak Wijaya yang tampak masih tertatih jalannya.
"Oh, baik Alhamdulillah ... terima kasih juga, sudah banyak membantu kami. Terutama Fatma," ungkap pak Wijaya
"Iya, sama-sama Yah, itu pun tak seberapa bila dibandingkan dengan kebaikan kak Fatma pada ku selama ini," kenang Arya.
"Bicarakan apa sih?" tanya Fatma setelah berada di teras melintasi mereka berada.
"Ya sudah. Langsung masuk ke kamar saja ya? biar langsung istirahat,'' ucap bu Wati sambil menggandeng Fatma masuk
Diikuti oleh Arya dan Rania juga pak Wijaya yang berjalan dibelakang ....
__ADS_1