Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Fitting


__ADS_3

"Awas ya? nanti ku balas kan!" ancam Fatma yang nyaris tidak terdengar oleh suara angin Ng berhembus apalagi sedang berada di motor seperti ini.


Jantung Fatma terus berdebar kencang seiring cepatnya laju motor Arya. Ingin rasanya teriak agar Arya memelankan motornya. Namun niat itu ia urung sampai akhirnya motor tersebut berhenti sendiri di depan sebuah butik besar dan pemiliknya ternama di kota ini.


Mereka disambut dengan sangat ramah oleh pekerjanya sebab sang desainer kebetulan sedang keluar.


Dengan tidak membuang waktu. Fatma langsung mencoba gaun pengantinnya yang berwarna dominan putih keemasan tersebut, setelah di coba gaun itu sangat pas di tubuh fatma dan tak ada yang perlu di rubah lagi.


Pemilik tubuh body gold itu begitu tampak anggun mengenakan gaun tersebut menambah kecantikannya keluar dan bercahaya meskipun belum di make up wajahnya masih natural dan rambut pun masih terurai biasa saja.


Netra mata Arya tidak berkedip melihat sosok wanita yang di hadapannya itu. Berasa pangling padahal perubahan yang terjadi cuma di gaun saja. Bibirnya pun menganga ingin berucap namun suaranya tak keluar.


Hanya bergumam dalam hati. "Masya Allah ... engkau telah titipkan bidadari dalam hidupku." Batin Arya seraya menarik bibirnya untuk tersenyum.


Lain lagi dengan para wanita yang berada di sana. Mereka mengagumi ketampanan Arya, sosok pria yang bersahaja bukan cuma tampan dan berbadan kekar. Tapi juga pemilik sedikit lesung pipi itu menambah ketampanannya, ditambah dengan setelan pengantin yang mewah warna senada dengan gaun pengantin sang mempelai wanitanya. Tampak sangat gagah.


Arya dan Fatma sesaat saling bertukar pandangan yang penuh arti dan juga saling melempar senyuman yang penuh kebahagiaan. Hati yang berbunga-bunga melengkapi betapa keduanya bahagia.


Setelah itu mereka pun gegas membuka pakaian yang mereka coba. Kemudian memilih pakaian buat prewed besok.


"Em, nanti kirimkan saja pesanan kami ke alamat ini," ucap Arya seraya memberi alamat pada asisten butik itu, seorang pria namun tampak gemulai.


"Baik, Tuan dan Nyonya. Akan kami kirim sesuai permintaan." Kata pria gemulai tersebut.


"Oya, untuk pakaian untuk prewed nya. Tolong di kirim besok pagi aja ya ke alamat yang sama, Sebab mau di pake besok siangnya," pinta Fatma menambahkan kalimat yang Arya berikan.


"Oke, siap! besok pagi siap meluncur ke alamat yang tertera. Terima kasih sudah mau menggunakan jasa kami." Pria gemulai nan cantik itu berkata sembari menggerakkan tangan yang gemulai tersebut.


"Sama-sama. Oke kami tunggu ya? dan kami pamit dulu, sampaikan salam kami buat pemilik butik ini?" Kata Arya lantas berjabat tangan dengan pria tersebut.


Fatma pun pamit pulang. Dan sangat berterima kasih atas kerjasamanya dengan butik ini.


Setelah berada di dekat motor besar Arya. Fatma merasa haus kebetulan di samping butik ada Indomaret dan mereka belanja minuman sebentar.


"Mau ikut jemput gak?" tanya Arya sambil melirik jarum jam yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Em mau jemput sekarang?" Fatma malah balik tanya sembari menyesap minumnya.


"Iya. Bentar lagi Rania keluar," sambung Arya kembali.


"Oke, ikut saja lah. Sesekali jalan-jalan, tapi bokong ku pegal nih," kata fatma dengan nada manja.


"Hem nanti, Aa pijit." Arya menoleh ke arah Arya.


"Tapi, kapan? Aa mau kerja lagi nanti sore." Fatma mengerucutkan bibirnya.


"Sayang ... kan nanti sebelum berangkat Aa pijit dulu." Tambah Arya lagi, tangannya mengusap pipi Fatma dengan lembut.


"Bener ya? jangan bohong!" Fatma naik dan memegang kedua bahu sang suami.


"Bener! kalau lupa, ingatkan saja. Oke?" Lantas Arya melajukan motornya dengan tujuan sekolahan Rania.


Fatma mengalihkan pegangannya ke perut Arya dan menempelkan pipinya ke punggung Arya yang terhalang helm itu.


"Rania pasti senang. Di jemput oleh mamanya, yang. Pasti heboh nanti, lihat saja." Suara Arya yang sedikit terbawa angin yang menyiur.


"Pasti. Bagaimana kalau kita bikin surprise buat Rania?" kata Fatma mengajukan saran.


Motor semakin melaju dengan cepat dan menerbangkan rambut Fatma yang bergelombang panjang.


Fatma terdiam, menikmati perjalanannya yang jarang-jarang ini apalagi pakai motor begini. Jarang-jarang bisa memeluk pinggangnya dari belakang sambil melihat pemandangan dengan terbuka.


Selang tidak lama motor pun kembali berhenti di area sekolah Rania. Sengaja Arya turunkan Fatma agak jauh dari sekolah.


"Sayang tunggu di sini saja?" Arya menyuruh sang istri untuk menunggu.


"Iya, Jangan lama-lama ya?" pinta Fatma sembari mengedarkan ke sekeliling.


"Kayanya sebentar lagi keluar, sekarang masih belajar." Arya turun dari motornya, berjalan mendekati area tersebut.


Arya membawa langkahnya mendekati gedung sekolahan, menunggu anak-anak keluar.

__ADS_1


Ting ....


Ting ....


Ting ....


Suara bell berbunyi tanda jam sekolah telah usai. Dan anak-anak berangsur keluar, begitupun Rania berlari keluar membawa tas nya.


Apalagi melihat kehadiran Arya yang sudah menunggu. "Papa ...Rania datang!" berhambur ke dalam pelukan Arya.


"Nona cantik, putri Papa yang manis dan pinter, gimana sekolahnya?" tanya Arya seraya mengusap pucuk kepala Rania.


"Hari ini aku belajar menggambar dan menulis." Jawab Rania seraya menyerahkan tas ke Arya.


"Oya. Menggambar apa tuh?" selidik Arya, berdiri dan menjinjing tas Rania.


Ibu guru Rania menghampiri. Untuk memastikan kalau Rania pulang dengan keluarganya. Atau orang yang tepat.


"Rania pulang sama papa? hati-hati ya?" kata ibu guru yang masih muda dan cantik itu.


"Iya, Bu. Rania pulang sama papa." Rania mendongak lantas mencium punggung tangan ibu gurunya.


Arya mengangguk hormat. "Apa kabar, Bu? makasih ya sudah menjaga Rania dan mendidiknya dengan sabar?"


"Baik, ah biasa saja. Itu sudah kewajiban saya sebagai guru memang sudah seharusnya. Seperti itu." Ibu guru menunjukan senyuman manisnya yang menggoda.


"Oh, ya sudah. Kami pamit dulu. Sampai berjumpa lagi, di lain hari dan kesempatan." Arya mengangguk dan pamit pulang.


Rania hanya mendongak melihat ibu guru dan papanya berbincang. Lalu menarik tangan Arya untuk segera pergi menjauhi gerbang.


Fatma yang berdiri agak jauh melihat ke arah Arya dan Rania yang selalu tampak dekat. Rania yang selalu manja dan bagai pada ayahnya sendiri.


Kemudian memperhatikan ibu guru yang kini berbincang dengan suaminya. Tampak sangat ramah terlebih pada pria seperti Arya masih muda, ramah dan tampan. Tak ayal mengundang rasa yang terpendam dan itu terlihat dari bahasa tubuhnya.


Fatma sedikit cemberut. Hari ini hatinya dibuat panas mulu dengan tingkah wanita-wanita yang memandang kagum pada sosok Arya. Pria yang sudah menjadi suaminya itu, yang tidak akan pernah ia biarkan siapapun mendekati Arya selain dirinya sendiri sebagai istri yang halal untuk Arya.

__ADS_1


Fatma ingin sekali segera menghampiri mereka. Namun ia biarkan saja dan pada akhirnya Arya dan Rania menjauhi tempat tersebut ....


****


__ADS_2