Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Ngantuk


__ADS_3

"Sayang ... kamu di mana?" Fatma suara Fatma bergetar menahan tangisnya.


"Mungkin ke mobil," ucap Arya hendak berjalan ke area parkiran, baru mau tiga langkah.


"Papa? Mama? Rania di sini!" Suara anak itu seolah memompa kembali jantung yang hampir saja berhenti berdetak.


Mendengar dan melihat anak itu, Fatma langsung berlari sambil mengangkat bawahan mukena yang masih ia pakai. "Sayang ... kamu dari mana?"


Fatma memeluk anak itu sangat erat, dihujani dengan ciuman. Hatinya yang barusan teramat sesak, kini berasa lega. Kehilangan anak ini hampir membuatnya spot jantung seketika.


Tangan Arya mengusap pucuk kepala Rania yang masih memakai mukena. "Dari mana sayang? jangan buat kami cemas!"


Rania yang berada dalam pelukan sang bunda yang menangis bahagia. Mendongak pada Arya. "Rania gak kemana-mana kok, cuma duduk-duduk di situ sama dia!" jarinya menunjuk anak laki-laki yang berdiri dengan penampilan lusuh.


"Ooh," tangan Arya mengusap pipi anak laki-laki tersebut dengan menunjukan sebuah senyuman.


"Kenapa gak bilang? kalau mahu keluar? jadi mama dan papa gak cemas." Timpal Fatma sambil mendorong tubuh Anka itu agar ada jarak antara mereka.


Jemari kecil Rania mengusap pipi Fatma yang basah itu. Di manik matanya masih tergenang buliran air bening yang menghiasi sudut mata indahnya Fatma.


"Mama jangan menangis! orang ada kok." Rania menatap intens wajah sang bunda.


"Mama takut kamu hilang sayang," Fatma kembali memeluk gadis kecil tersebut.


"Syukurlah. Rania ada di sini juga. Jangan bikin kami kahawatir lagi ya?" Arya berjongkok di belakang Rania yang masih dalam pelukan mamanya.


"Huuh ..." Fatma membuang napasnya dari mulut lalu melepaskan pelukannya pada Rania.


"Mama, Papa. Anak laki-laki kayanya kelaparan deh Mam, Papa. Tapi Rania cuma bisa ngasih minum saja, kan makanannya di mobil." Rania menunjuk anak itu yang celingukan tidak mengerti dengan bahasa Rania.


Fatma menoleh pada anak laki-laki tersebut sembari mengulas senyumnya.


"Oya? makanan, ada di mobil nanti sama Papa. Kita ambil oke?" ucap Arya sembari mengusap kepala Rania.


"Yu, kita balik buka menanya dulu ?" Fatma berdiri dan hendak masuk kembali ke dalam masjid untuk membuka mukenanya.


Serta menuntun tangan Rania ke dalam masjid. Sementara Arya mendekati anak laki-laki dengan sebuah senyuman yang ramah.


Arya bertanya pada anak itu yang kalau di bahasa indo kan, siapa nama nya? dan dia menjawab kalau namanya itu Murad.


"Oke, Murad kamu di sini sama siapa?" tanya Arya yang dijawab dengan gelengan.


Arya menghela napas panjang. Lalu menoleh ke arah pintu masjid dimana Rania dan Fatma menghampiri.


"Oke. Kita ke taksi dulu. Mama mau berangkat sekarang pertemuannya?" Arya mengakhiri ucapannya dengan sebuah pertanyaan.


"Iya, Rania jangan bikin kami khawatir lagi ya?" pesan Fatma sambil menuntun tangan anak itu, Rania.


Arya menoleh lagi ke arah anak itu itu. "Kau ikut kami ke mobil, di sana ada makanan." Sambil memberi isyarat agar anak itu mengerti.


Anak laki-laki yang tampan itu mengangguk dan berjalan mengikuti Arya yang gegas menyusul Fatma dan Rania. Dan matanya sesekali menoleh pada Murad, apa anak itu mengikuti?


Mereka berjalan mendekati taksi. Rania langsung mengambil makanan dari paper bag yang berada di dalam taksi tersebut. Dan ia berikan pada anak itu.

__ADS_1


"Rania tau siapa anak ini hem?" tanya Arya pada Rania yang langsung menggeleng tanda tidak tahu.


"Namanya, Murad. Ayo kenalan?" titah Arya supaya Rania dan Murad berkenalan.


Rania mengulurkan tangan & menyebut namanya. "Rania!"


"Murad melihat ke arah Arya yang mengangguk serta memberi kode untuk menyebutkan namanya.


"Murad!" gumamnya Murad. "Thank you!"


Murad sangat berterima kasih atas di beri nya minuman dan makanan diri Rania.


Fatma dan Arya tersenyum, sementara anak itu berpamitan. Dan ketika Arya menanyakan tempat tinggalnya dimana?


Anak itu cuma menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat Rania heran.


"Pah, emang dia mengerti ya?omongan Papa?" tanya Rania menatap papanya.


"Where you live?" tanya Arya pada Murad.


"I live on the streets!" jawab anak itu menjelaskan kalau dirinya tinggal di jalanan.


"It's okay, let us take you!" tambah Fatma dengan lembut sambil menatap ke arah Arya .


Arya langsung mengangguk setuju. Dengan perkataan Fatma barusan.


"No!" anak itu malah bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Seolah tidak ingin di ketahui tempat tinggalnya.


"Hi ... Murad?" panggil Rania.


Fatma dan Rania menyusul, duduk samping Arya yang meminta supir mengantar ke suatu tempat, dimana pertemuan Fatma akan dilaksanakan.


Selang beberapa waktu. Taksi tiba di tempat tujuan Fatma yang langsung turun.


"Mau turun dan masuk gak?" tanya Fatma pada suami dan mengusap pipi Rania.


"Nggak, biar kami tunggu di taksi saja." Arya menggeleng sambil memegangi bahu Rania.


"Oh, baiklah. Sayang tunggu sama papa ya? Mama mau ada pertemuan dulu. Paling lama satu jam," ucap Fatma sambil melihat jarum jam yang berputar di tangannya.


"Oke Mama!" sahut Rania.


"Oya, kalian makan malam dulu ya? jangan tunggu aku. Oke! aku pergi dulu m ya? assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam." Jawab Arya dan Rania. Memandangi punggung Fatma yang memasuki gedung tersebut.


"Terus kita mau ke mana! Papa?" tanya Rania mendongak.


"Em ... kita cari makan aja yu? nanti kita balik lagi buat jemput mama." Jawabnya Arya dengan menuntun tangan Rania di ajaknya masuk kembali dalam mobil.


Keduanya mencari restoran indo yang sesuai dengan lidah mereka masing-masing yang terasa asing bila makan sesuatu yang lain dari yang lain. Mungkin karena belum terbiasa kali.


Setelah mendapatkan resto seperti yang di inginkan. Arya mengajak supir tuk makan bersama. Mulanya tidak mau, namun karena Arya kekeh mengajaknya.

__ADS_1


Pak supir pun mau ikut dengan Arya dan Rania, Arya memilih tempat yang lumayan nyaman. di pojokan dan langsung memesan apa aja yang ingin mereka makan.


"Pah, kenapa tadi Murad kabur ya? takut apa sama kita?" ungkap Rania yang tentang Murad sambil menunggu makanannya datang.


"Entah, Papa juga gak mengerti. Mungkin dia merasa takut atau gimana gitu, biar saja lah. Mungkin suatu saat nanti kita dapat bertemu lagi," ujar Arya sambil membelai rambut Rania.


"Iya sih." Rania mengangguk lalu menoleh pada makanan yang siap disajikan.


Lalu mereka bertiga makan bersama. Menikmati sajian makan malamnya.


Selesai makan. Arya dan Rania memilih nongkrong di depan gedung yang Fatma pakai buat pertemuan.


Rania mulutnya tidak berhenti mengunyah, makanan yang sengaja Arya sediakan untuknya.


"Pah, kok lama ya mama belum muncul juga sih?" keluh Rania sambil mengunyah dan netra nya tertuju pada pintu utama yang banyak orang masuk dan keluar, tapi bukan juga sang bunda.


"Belum sayang, kalau sudah selesai pasti keluar juga untuk pulang." Jawab Arya menoleh ke arah Rania.


"Pengen pulang. Ngantuk," ucap Rania sambil menyandarkan kepalnya ke tangan Arya.


"Ngantuk? bobo aja sini di pangkuan Papa kepalanya." Arya menarik kepala Rania supaya tiduran di pangkuannya.


Rania pun berbaring di pangkuan Arya dan langsung memejamkan kedua matanya.


"Pah?" panggil Rania sambil terpejam.


"Hem? kenapa?" tanya Arya dengan tutur lembut.


"Ngantuk," gumamnya Rania.


"Iya, bobo aja. Nggak pa-pa." Suara Arya pelan.


Dari pintu tampak Fatma muncul, berjalan dengan beberapa orang, pria dan wanita sepertinya mereka adalah rekan kerjanya. Terlihat dari penampilan dan bahasa tubuhnya.


Fatma berjalan menghampiri, Arya setelah berpisah dengan rekan-rekan kerjanya itu.


Bibir Fatma tersenyum sangat merekah melihat Arya yang berada menunggui di sana.


"Sayang, kok kalian menunggu di sini sih? bukannya di dalam taksi." Sapa Fatma setelah berada di hadapan Arya yang menyambutnya dengan senyuman.


"Ya ampun ... sayang kok bobo sih?" Fatma hendak menggendong Rania.


Namun Arya mencegahnya. "Biar aku aja yang membawanya sayang. Sayang capek."


"Tapi--"


"Sudah, sayang masuk saja ke dalam taksi. Rania biar, Aa. yang membawanya." Arya mengangkat tubuh gadis kecil itu yang terasa berat.


Fatma memandangi Arya yang mengangkat Rania, barulah dia berjalan di belakangnya Arya. Membukakan pintu untuknya.


Setelah keduanya masuk dan memasang sabuk pengaman. Barulah supir menjalankan taksinya, menuju hotel yang Fatma tumpangi, Roda empat tersebut terus meluncur dengan sangat cepat ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2