Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Ekstrim


__ADS_3

"Iya gak kapten?" Sultan menoleh ke arah Wisnu yang hanya tertawa.


"Yoi!" mengangkat jempolnya tanda setuju. "Lain lagi kalau sudah lama. Tentunya tidak terlalu nempel satu sama lainnya."


"Yaps! itu bener. Kalau masih baru itu ... otomatis sedang kangen-kangennya. Kata orang bohong mah. Tiap waktu ingin nembak terus ha ha ha ..." sambung Sultan sambil kembali tergelak.


"Ah, kaya sudah pengalaman saja kau ini." Arya menggeleng sembari tersenyum.


Sultan membalas senyumnya Arya. "Tau lah, biarpun aku belum pengalaman. Tapi tau lah ...."


"Jangan heran, Aa ... dia kan pawang nya, ha ha ha ..." ucap Wisnu sambil tertawa lepas.


"Pawang? pawang hujan. Enak saja. Tapi tau lah, gini-gini ikutan parenting, hu hu hu." Sultan berlalu sembari mengangkat sebelah tangannya.


Arya dan Wisnu mengikuti langkah Sultan, Namun setelah di luas pesawat kedua kapten itu mengurus sesuatu yang sudah menjadi tanggung jawabnya.


Sultan berbalik. "Aku duluan ya? mau cari makan sama yang ain, perut ku sudah keroncongan. Masing mending keroncongan yang bisa dinikmati. Ini malah menyiksa ku."


Arya dan Wisnu cuma merespon dengan gerakan tangan saja. Keduanya melanjutkan tugasnya, sementara Sultan setengah berlari untuk bergabung dengan para pramugara dan pramugari.


Saat ini Arya dan awak pesawat lainnya berada di sebuah mesjid. Dan tiba-tiba ada hujan badai yang lumayan besar.


"Allahuakbar-Allahuakbar, astagfirullah. Wallahaula walakuwata illabillah." Dengan sontak mereka semua berdzikir, memohon perlindungan.


Dengan kondisi seperti ini, jelas penerbangan di kencel demi keselamatan semuanya.


"Gimana nih? penerbangan bisa gak jalan nih!" ucap Sultan menoleh ke arah luar yang hujan begitu deras bersama angin yang begitu besar.


"Iya nih, gimana? pasti akan mengalami keterlambatan yang panjang nih!" timpal yang lainnya.


"Ya, terpaksa kita harus berteduh dulu di sini. Tapi gimana dengan para pramugari?" Dua menatap cemas ke arah Wisnu. Di kepikiran dengan pramugari.


"Kalau, ke hotel juga hujan dan tak memungkinkan. Apa boleh buat! kita semua berdiam diri di sini." Wisnu mengedarkan pandangannya ke arah beberapa pramugari yang berada di saf belakang.


Arya menjawab dengan anggukan dan bibir yang terus berdzikir. Ia jadi teringat orang-orang di rumah, jadi kangen sama istri dan anaknya.


Ketika hujan mulai reda mereka pun beranjak dari masjid menuju hotel yang akan mereka gunakan untuk menginap bila malam ini penerbangan terkencel sementara waktu.


Arya merebahkan tubuhnya di sofa. Sementara Sultan dan yang lainya di kasur empuk.


Arya perlahan memejamkan kedua matanya, untuk beristirahat sejenak sambil menunggu kondisi membaik. Sehingga memungkinkan untuk penerbangan kembali. Dan balik ke Jakarta membawa penumpang sekalian.


Namun sampai dini hari hujan masih juga deras yang disertai angin yang lumayan besar.


Dan kemungkinan sampai siang hari, setiap perusahaan penerbangan tak bisa melakukan pemberangkatan. Membuat semua awak menghela napas panjang dan dilepas dengan kasar.


Mereka terpaku di tempat. Tak bisa ke mana-mana, apalagi pulang ke Jakarta yang seharusnya saat ini sudah sampai di sana. Namun dengan keterlambatan jadwal, membuat mereka terdampar sementara di lokasi ini.


...---...


"Apa kabar? saya harap kau bisa menjaga sikap selama di sini. Agar pihak terkait dapat memberi keringanan akan hukuman yang tengah kau jalani," ucap Fatma sembari menatap tajam ke arah Aldian yang menunduk.


"Jangan sok ngingetin. Kalau mau, bantu saja keluarkan saya dari sini. Jangan cuma ngomong, cuma bau mulut tau gak?" suara Aldian dengan nada dingin dan raut wajah yang datar.


"Kau tidak perlu berharap bantuan dariku, sebab kau sendiri yang menginginkan seperti ini bukan?" sambung Fatma.


"Tapi ini semua, gara-gara kamu juga yang menjebloskan ku ke sini." Jelas Aldian yang tampak marah pada Fatma.


Aldian memang tersiksa dengan adanya di balik terali besi seperti ini. Kehidupan berbalik 99% membuat Aldian frustasi.


"Kamu buat apa ke sini ha? hanya untuk mengatakan itu? atau kamu mau bilang bahwa kau sudah menikah dengan anak peliharaan mu itu? cuih, mau-maunya sama janda bekas ku, tapi kami menang enak sih. Atau jangan-jangan kau ada main ya sedari dulu dengan anak peliharaan mu itu."


Tangan Aldian yang kanan mencengkram dagu Fatma dan satunya menunjuk-nunjuk ke arah wajah Fatma.


"Lepas-lepaskan aku? jangan ngomong sembarangan ya? aku tak sehina itu. Yang tidak pernah memikirkan hati pasangannya." Tangan Fatma menepis lengan Aldian kasar.


"Ingat ya? saya bukan siapa-siapa kamu lagi. Dan satu lagi yang harus kau ingat! kau punya anak, darah daging mu sendiri yang harus kau perhatikan." Fatma menatap tajam ke arah Aldian yang menatap kosong ke lain arah.


"Misalnya saja kasih kabar walau sekedar menanyakan kabarnya gimana, jangan sampai Rania merasa kamu itu tidak perdulikan dia. Kalau kamu seperti ini terus! bisa-bisa dia ilang poling sama bapaknya sendiri." Jelas Fatma.


Fatma beranjak sembari menatap tajam ke arah Aldian yang tak berkutik. Dalam hati kecilnya pun ingat sama anak itu. Tapi cuma sekedar ingat saja tidak lebih.

__ADS_1


Fatma membawa langkahnya yang gontai, berjalan keluar dari rutan tersebut. Mendekati mobilnya yang terparkir agak jauh.


Pak Harlan yang sudah berdiri dan sontak membukakan pintu buat sang majikan. Fatma, yang tampak sendu.


"Balik kantor, Pak?" gumam Fatma ketika punggungnya sudah bersandar di jok mobil yang empuk tersebut.


"Baik, Nyonya." Pak Harlan mengangguk.


"Oya, nanti jam makan siang. Antar saya ke bandara, ayah dan ibu mau berangkat ke luar Negeri lagi." Kata Fatma sembari melihat jam yang ada di tangannya.


"Terus, kalau nyonya dan tuan besar gak ada, Mension siapa yang huni, Nyonya?" tanya pak Harlan dengan fokus menjalan mobil tersebut.


"Kan Bapak juga di sana. Asisten dan scurity di sana! lagian saya juga akan bolak balik apartemen-Mension. Saya gak mau suami tinggal di mana? saya dimana? kecuali dalam keadaan tugas," sahut Fatma seraya menghela napas.


"Bagus-bagus kalau suami saya mau tinggal di mension." Tambah Fatma. Pandangannya lepas keluar jendela melihat kendaraan lain yang melaju berpacu dengan waktu.


"Maaf kalau saya dah lancang?" timpal pak Harlan. Menjadi tidak enak hati sudah bertanya.


"Tidak pa-pa, santai aja. Oya kabar keluarga Bapak gimana? lama saya gak bertemu dengan mereka." Tanya Fatma teringat dengan keluarga supirnya ini.


"Alhamdulilah baik. Dan istri saya juga sering menanyakan anda dan ingin bertemu." Jawab pak Harlan.


"Syukurlah, main aja lah ke Mension. Biar rame di sana dan malam ini sepertinya saya masih di mension." Lanjut Fatma yang menyuruh pak Harlan membawa keluarganya ke Mension.


"Insya Allah lain waktu saya ajak," sahut pak Harlan, matanya tetap waspada ke depan.


Setibanya di kantor. Fatma bergegas memasuki ruangannya dan ketika ingin mendorong pintu, sekretarisnya berkata.


"Di dalam ada tamu yang menunggu Ibu sedari tadi."


"Siapa? Sya gak ada janji." manik Fatma menatap penasaran ke arah wanita yang ber jas abu itu.


Namun Fatma tidak menunggu jawaban. Dengan perlahan mendorong daun pintu dan netra nya mendapati seseorang sedang duduk manis di atas sofa tamu.


Seorang pria dengan tubuh yang agak berisi. "Tuan Lie, apa apa dia menemui ku lagi?" batin Fatma.


Mendengar pintu terbuka, Tuan Lie menoleh dan menunjukan. senyumnya lalu berdiri menyambut kedatangan Fatma.


Dia sendiri duduk di depan Tuan Lie yang menatap datar ke arah Fatma.


"Selamat siang, Nyonya? apa kabar? lama kita tidak bertemu," ucap Tuan Lie sambil menunjukan senyumnya.


"Siang juga. Baik, oya ada keperluan apa sehingga menemui saya di sini?" balas Fatma yang diakhiri dengan pertanyaan.


"Em ... sudah lama saja saya tidak bertemu anda. Saya dengar anda sekarang ini sudah menjanda? tambah cantik dan seksi saja." Dengan tatapan yang bikin Fatma risih.


"Maksud kedatangan anda apa? saya tidak ada waktu untuk melayani hal-hal yang tidak penting. Dan saya sudah menikah lagi," ucap Fatma sembari menunjukan jarinya yang dilingkari cincin pernikahan.


"Masa sih secepat itu?" gumam Tuan Lie yang mengamati jari Fatma. "Jangan bercanda, saya tahu kau itu sudah menjadi janda!"


"Iya, tapi sudah seminggu ini saya dipersunting seorang pilot muda dan ini buktinya," ucap Fatma dengan jelas dan yakin, kekeh menunjukan jari manisnya.


"Saya tidak percaya. Buktinya tak ada median yang memberitakan anda menikah lagi--"


"Sebab, kami belum mengadakan resepsi. Namun semua rekan bisnis ku sudah tahu kok." Fatma dengan cepat memotong perkataan Tuan Lie.


"Masa sih?" sambung Tuan Lie dengan mengerutkan keningnya.


"Anda boleh percaya atau tidak, terserah. Tapi itulah kenyataannya, oke! kalau tak ada hal yang penting untuk kita perbincangkan, silakan pergi? saya banyak kerjaan." Jari Fatma menunjuk ke arah pintu dan berdiri.


Tuan Lie menatap tajam, dan hatinya masih meragukan ucapan dari Fatma yang mengaku sudah menikah lagi. Dalam hatinya berkata. "Nggak mungkin."


"Okay, I'll go. But one day it will come again." Ucap Tuan Lie seraya berdiri.


"It's best if you don't come again, if it's not important. Causes of autism We don't work together anymore. Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, bukan?" lagi-lagi jari telunjuk Fatma menunjuk pintu yang masih terbuka.


"Oke. Muach." Tuan Lie melepas kiss jauh, membuat Fatma merasa geli.


Fatma melihat punggung Tuan Lie dan segera menutup pintu. "Huuh ... akhirnya pergi juga. Ngapain juga datang? gak penting." Sedikit menggeleng.


Kemudian Fatma meneruskan kerjaannya yang lama tertunda. Menatap layar laptopnya, namun ponselnya berdering. Sejenak Fatma tatap layar ponsel yang tergeletak di meja.

__ADS_1


Tangannya mengarah dan mengambil benda pipih tersebut.


"Halo, Aa?" sapa Fatma ketika mengangkat telepon yang jelas terdengar suara pria dari ujung sana.


"Sayang. Aku terlambat pulang, di sini cuaca masih ekstrim dan gak ada penerbangan. Kami tak mau mengambil resiko," ucap Arya bikin Fatma rasakan sedih.


Baru saja menikah! harus terpisah begini. "Mau gimana lagi dong kalau gini? hati-hati ya? aku merindukan mu!" suaranya Fatma bergetar dan lirih.


"Sabar sayang ... Aa pasti akan pulang. Baik-baik ya di sana? oya kalau Rania nanyain! bilang aja masih kerja." Pesan Arya dan langsung berpamitan.


"Iya, hati-hati." Fatma mengusap sudut matanya yang mengeluarkan buliran air bening.


Ponsel kembali ia simpan di meja. Melamun sejenak hingga akhirnya melanjutkan kegiatannya kembali.


Namun tidak lama, Fatma hentikan aktifitas dan menutup laptop yang seharusnya masih ia gunakan. Pikirannya menjadi gusar, cemas. Was-was, khawatir pada sang suami yang terkurung di sebuah kota yang sedang mangalami cuaca sangat ekstrim.


"Ya Allah ... selamatkan suami ku dan yang lainnya. Aku gak sanggup berpisah dengan nya," doa Fatma seraya menengadahkan kedua tangan dan wajahnya ke langit-langit.


"Kerja pun aku gak konsen nih," gumam Fatma kemudian menundukkan wajahnya ke meja dengan bantal kedua tangannya.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Sontak Fatma mengangkat kepalanya menoleh ke arah pintu yang tiada lain adalah Zayn. Sepupunya.


"Lesu amat bu?" seraya berjalan menghampiri. Lalu duduk di kursi tepat di depan Fatma dan memberikan sebuah berkas.


Fatma membuka lembar per lembarnya. Ia amati dengan teliti, matanya sangat jeli untuk melihat sebuah keganjalan. "Ini ada yang kurang deh. Coba periksa lagi."


Zayn mengambil dan mengamati seperti yang Fatma bilang.


"Siapa yang buat laporan itu?" selidik Fatma, menatap lekat ke arah Zayn.


"He he he ... itu staf ku. Baiklah ... biar aku buat lagi yang baru. Ngomong-ngomong kenapa sih monyong gitu? gak di kecup suami apa?" celetuk Zayn sembari nyengir menunjukan gigi putihnya.


"Gusar gitu, kaya ada masalah besar saja?" selidik Zayn, tangannya mengibaskan berkas ke tubuhnya.


"Gimana gak gusar coba? suami ku terkurung di sebuah kota yang sedang mengalami cuaca ekstrim. Gak bisa pulang. Semua penerbangan di tutup." Suara Fatma bergetar dan mata pun berkaca-kaca.


Sejenak Zayn terdiam sambil menatap sangat haru. Ia seakan merasakan yang Fatma rasakan sekarang. Lalu menghela napas panjang terus ia hembuskan dengan perlahan.


"Kau doa kan saja semoga semau baik-baik saja dan cuaca di sana segera normal kembali, agar penerbangan dibuka dengan cepat. Dan suami mu cepat kembali," ujar Zayn dengan sangat lirih. Tidak ingin melihat sepupunya sedih.


Fatma mengusap pipinya yang basah. "Aku sangat khawatir, tapi. Aamiin. Makasih ya?"


"Senyum dong, jangan sedih lagi. Tugas masih banyak. Oya bukankah mau nganter om dan Tante ke bandara? ikutlah."


"Ooh. Iya," balas Fatma sambil melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya. "Oke berangkat sekarang?"


Zayn pun beranjak seiring Fatma yang berdiri menggeser kursinya. Meraih handphone dan tas nya.


"Aku ke ruangan ku dulu untuk menyimpan berkas ini," kata Zayn sembari ngeloyor ke ruangannya.


Fatma cuma melirik dan melanjutkan langkahnya menuju lift yang akan menghubungkan dengan lobby.


Setiap yang berpapasan pasti mengangguk hormat pada Fatma sebagai atasannya. Fatma berdiri dekat mobil setelah langkahnya dipercepat.


Dengan langkah yang lebar, Zayn bisa menyusul Fatma dan meminta satu mobil saja.


"Ayo, kamu di depan saja?" pinta Fatma seraya menunjuk kursi yang ada di depan bersama sang supir.


"Baiklah, Nyonya ... saya laksanakan! hohoho." Zayn memasuki mobil Fatma lalu duduk di samping pak Harlan.


Setelah semuanya berada di dalam mobil, dan sudah mengenakan sabuk pengaman. Barulah pak Harlan melajukan mobil dengan kecepatan sedang ....


****


Bagaimana perjalanan Fatma dan Arya selanjutnya? simak terus dan jangan lupa tonton iklannya🙏

__ADS_1


__ADS_2