
Fatma berbaring di tempat tidurnya yang ukuran king size itu. Meraih laptop dan membukanya dan mulai berkutat di sana.
"Istirahat aja dulu, Fatma ... sibuk nya nanti saja kalau kamu sudah sembuh." Bu Wati mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur Fatma.
"Banyak yang harus aku selesaikan, Bu ... malahan seharusnya aku ngantor hari ini. Tapi kayanya besok aja, biar hari ini dari kantor saja yang datang. Kepalaku juga pusing banget, tadi Rania malah ngeyel pengen nunggu Arya di taman, kan panas," keluh Fatma seraya memijit keningnya yang masih di perban.
"Anak itu, kalau ada maunya ya?" Bu Wati menggeleng. "Apa butuh sesuatu? Ibu ambilkan."
"Em, suruh Ina saja." Melirik sebentar lalu kembali melihat ke layar laptop.
"Jangan capek dulu, urusan kantor nanti saja kalau sudah sembuh." Suara pak Wijaya yang baru saja muncul di kamar itu.
"Cuma duduk kok, Yah. Rania mana?" sahut Fatma yang akhirnya mangajukan pertanyaan.
"Dia, sedang bermain dengan om ganteng. Anak itu dekat banget dengan Arya dan tidak pernah menanyakan ayahnya," sambung pak Wijaya sembari menghela napas panjang.
Sebentar Fatma terdiam dan melirik sang ayah. "Entahlah, Yah tadi juga aku dibuat pusing. Seharusnya sudah sampai kesini. Eeh ... mogok di taman pengen tunggu Arya, padahal aku gak tau kalau Arya akan datang atau tidak. Di telepon pun gak diangkat, untung saja datang, kalau nggak! Fatma gak tau sampai kapan harus nunggu di sana."
"Ya, sudah Ibu turun dulu ya? sebentar." Bu Wati beranjak dari tempat duduknya. Mengusap bahu Fatma lalu keluar dari kamar tersebut.
Pandangan pak Wijaya menatap punggung sang istri. Kemudian mengalihkan tatapannya pada Fatma, mendudukkan dirinya di sofa.
"Ayah gimana? sudah sehat? apa masih--" Fatma menggantungkan ucapannya.
"Masih terasa terutama di pinggang euh ... nyeri." Akunya pak Wijaya meringis.
"Maaf ya, Ayah ... ini semua gara-gara Fatma. Sehingga Ayah mengalami seperti ini?" tatapan rasa bersalah dari Fatma membuat hati pak Wijaya terenyuh.
"Nggak, Fatma ini bukan salah mu. Mungkin memang nasib yang kurang baik sehingga justru kamu yang menderita. Maaf! Ayah tak bisa menjaga atau mencarikan jodoh yang lebih tepat untuk mu." Pak Wijaya menunduk dalam. Sesungguh nya hati seorang ayah hancur ketika melihat putri yang ia jaga sedari kecil mendapat siksaan dari sosok orang yang seharusnya mengayomi, menjaga dan memberikan perhatian yang penuh buat sang istri. Bukan kebalikannya.
Fatma membuang napasnya melalui hidung. menengadahkan wajahnya ke langit-langir berharap air mata tak lantas jatuh, kemudian menoleh pada sang ayah sesaat. "Sudah, Yah ... jangan bahas itu lagi."
terdengar suara derap langkah kaki mendekati pintu kamar Fatma. Rupanya Bu Wati dan bi Ina yang datang.
__ADS_1
"Ibu bawakan teh hangat sama biskuit nih, kesukaan Ayah dan Fatma." Bu Wati menunjuk isi nampan yang bi Ina bawa.
"Hem ..." gumamnya pak Wijaya memandangi teh hangat.
"Bi! tolong bersihkan kamar bekas Aldian jangan sampai ada yang tersisa tempat tidur bekasnya buang, ingat buang! atau bakar lebih baik. Jangan ada yang ambil, pokonya bersihkan. Gorden ganti! gorden yang bekas juga bakar." Tegas Fatma.
Bibi Ina bengong. "Buang, Nyonya muda?"
"Iya, buang. Bakar saja deh pokoknya bersihkan, kalau barang-barang dia ... di kemas masukan koper besar. Nanti aku kirim sebuah alamat agar semuanya diantar ke alamat tersebut," sambung Fatma dengan jelas.
Ina pun mengundur diri dengan pikiran yang terus bermonolog. Kenapa harus di buang? masih bagus-bagus juga.
"Tunggu, kamarnya disemprot ya? bila perlu pake indespektan biar bersih," lanjut Fatma dengan nada jijik.
Bibi Ina termangu di dekat pintu. Menunggu kali aja ada tambahan lagi.
"Sudah. Kerjakan!" suara Fatma menjadi alarm buat bibi Ina sebagai kepala asisten di sana dengan cepat berjalan meninggalkan peraduan sang majikan.
Pun Arya cukup happy dan melupakan sejenak beban pikirannya. Dengan hanya menggunakan celana pendek, ia berenang sambil bermain dengan Rania.
Mia sesekali memperhatikan ke arah Arya. Hatinya mengakui kalau pria itu menyimpan sejuta pesona, mata Mia sampai tak berkedip melihat tubuh Arya yang atletis bahkan perutnya bukan sekedar rata saja melainkan menunjukan bentuk roti sobek yang membuat melongo setiap yang memandang.
"Ya ampun ... perutnya ... roti sobek," gumam Mia jadi mengagumi pria itu, dengan refleks memegangi perutnya sendiri.
"Om, tangkap bolanya Om." Pekik Rania pada Arya.
"Siap ... yang kenceng ya!"
Mendengar ribut di bawah, Fatma menutup laptopnya dan turun dari tempat tidur mendekati jendela, terlihat di kolam renang Rania sedang berenang dan berebut bola.
"Dengan siapa Rania di kolam?" gumam Fatma, mendekati dan membuka pintu balkon, membawa langkahnya untuk memastikan Rania berenang sama siapa?
Netra mata Fatma tertuju pada pria yang memiliki tubuh atletis dan roti sobek itu.
__ADS_1
Degh!
Jantung Fatma berdetak dengan kencang. Ternyata dia Arya yang menemani Rania berenang, terlihat anak itu begitu happy tertawa lepas, pandangan Fatma tak lepas dari sosok pria tersebut.
Arya yang merasa diperhatikan, menengok kanan dan kiri. Kalau Mia sih sudah Arya tahu sedari tadi, kalau dia memandanginya terus. Seketika wajah Arya mendongak ke atas balkon dan di sana berdiri seorang wanita yang kepalanya masih diperban.
Sejenak keduanya saling tatap dengan tatapan yang sulit diartikan dan hanya menimbulkan rasa yang tak menentu dalam dada.
Fatma segera mengalihkan pandangan ke lain arah, ia tak kuat bila harus terlalu lama bertemu sorot matanya yang tajam.
Begitupun Arya segera mengalihkan pandang matanya pada Rania yang menghampirinya lantas minta di gendong sambil berenang. Di tepi kolam Mia tertawa lepas, merasa lucu melihat Rania yang nemplok di punggung Arya persis anak kodok dan bapaknya yang berenang-renang.
Di atas balkon pun Fatma mengulum senyumnya lucu melihat sang putri yang nempel di punggung Arya.
"Hah ... tak pernah ku lihat Rania begitu happy semacam ini sebelumnya." Gumamnya Fatma seraya menghela napas panjang.
"Sudah belum berenang nya?" tanya Arya sambil menyiram-nyiram air ke arah Rania.
"Udah, Rania kedinginan nih." Balas anak itu.
"Om juga capek, belum sempat istirahat dari semalam." Arya berjalan ke tepi kolam, tangannya menuntun lengan mungil si gadis kecil tersebut.
Sekilas melihat ke atas namun Fatma sudah tidak ada di sana.
Arya menaikan Rania. "Sana mandi sama aunty."
"Mau aku pinjamkan handuk Bang?" tawar Mia pada Arya.
Arya terdiam sejenak lalu mengangguk dengan seiring senyuman di bibirnya, namun sebelum Mia datang. Ada sebuah tangan yang menyodorkan handuk ....
****
Mana nih dukungannya?
__ADS_1