
"Om," ucapnya memekik.
Tanpa Ajun duga, Gadis langsung memeluk Ajun dengan erat. Ajun hanya bisa mengangkat kedua tangannya tanpa berniat membalas pelukan Gadis.
Pria yang tadi terlibat adu argumen dengan Gadis, terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna.
Gadis lalu menjinjitkan kakinya, dia lalu berbisik tepat di telinga Ajun. Hal itu membuat pria tadi terlihat semakin panas, karena mereka terlihat begitu dekat dan terlihat begitu intim.
"Tolong Gadis, Om. Gadis janji bakalan lakuin apa pun yang Om mau, tapi tolong Gadis, ya?" deru nafas Gadis terasa begitu hangat membuat Ajun jadi bergidig.
Ajun langsung menatap wajah Gadis yang terlihat mengiba, dia juga merasa tak tega karena saat melihat Gadis berdebat dengan pria tadi, Gadis terlihat diperlakukan dengan kasar.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ajun.
Mendengar pertanyaan dari Ajun, Gadis langsung tersenyum senang.
"Bawa Gadis pergi, Om. Yang penting jangan deket-deket sama pria itu," tunjuk Gadis dengan ekor matanya.
"Hem, ya udah ayo. Tapi jangan peluk aku kaya gini, ngga enak dilihatnya. Kamu ngga ngerasa kalau kamu udah kaya sugar Babby aku?" tanya Ajun.
"Ah, iya, Om. Maaf," ucap Gadis seraya melepaskan pelukannya.
Gadis terlihat salah tingkah, tubuh Ajun terasa sangat hangat saat dia dekap.
"Ayo," ajak Ajun.
"Motor saya, Om." Gadis menunjuk motor yang ada di samping pria itu.
"Oh godd!" maki Ajun.
Tanpa banyak bicara Ajun langsung berjalan dan menghampiri motor Gadis yang teronggok di samping pria itu. Bahkan kunci motornya pun masih setia berada di sana.
Cepat-cepat Ajun menaiki motor matic tersebut, badan Ajun yang tinggi besar membuat Ajun terlihat lucu saat berada di atas motor matic milik Gadis.
"Naik!" ucap Ajun dengan nada perintah saat sampai di samping Gadis.
Gadis pun langsung naik sesuai dengan perintah Ajun, Ajun sempat memperhatikan kaki Gadis yang terlihat bengkak.
Baru saja Ajun akan melajukan motor milik Gadis, pria yang tadi beradu argumen dengan Gadis pun langsung menghampiri dan langsung berkata.
__ADS_1
"Ternyata elu lebih milih jadi sugar Babby, ketimbang balikan sama gue." Pria itu terlihat tersenyum sinis, lalu berlalu dari hadapan Gadis.
Gadis seolah tak perduli, luka yang ditorehkan lelaki itu teramat dalam bagi Gadis. Kalau boleh memilih, dia tak ingin bertemu lagi dengan pria itu. Apa lagi sampai bisa terjerat kembali dengan pesonanya.
"Jalan, Om." Gadis menepuk pundak Ajun, lalu melingkarkan kedua tangannya di perut Ajun.
Untuk sesaat Ajun tergugu kala melihat tangan Gadis yang melingkar indah di perutnya, ini adalah pertama kalinya dia sedekat ini dengan wanita.
Namun kemudian, dia tersadar dan segera melajukan motor Gadis ke Caffe yang berada di sebrang jalan.
"Kok ke sini, Om," tanya Gadis.
Tanpa banyak bicara, Ajun langsung memarkirkan motor Gadis.
"Hem, aku lagi ada meeting penting dengan klien." Ajun langsung menarik tangan Gadis agar ikut masuk, Gadis hanya bisa pasrah.
Tiba di dalam Caffe, dahi Gia dan juga Tuan Darren langsung mengernyit heran. Pasalnya mereka tak pernah sekalipun melihat Ajun menggandeng perempuan.
"Masih normal ternyata," ucap Tuan Darren kala Ajun mendaratkan bokongnya di kursi tepat di samping Gia.
Ajun sempat memicingkan matanya, namun dia seolah tak perduli. Dengan cepat dia memanggil pelayan yang ada di sana.
"Tolong kamu urus Nona ini, kakinya tolong di kompres sekalian kasih salep sama obat anti nyeri." Ajun langsung mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan uang beberapa lembar.
"Makasih, Om." Gadis tersenyum tulus sebelum berjalan mengikuti langkah pelayan tersebut.
Gia dan Tuan Darren langsung menggelengkan kepalanya, sedangkan Ajun terlihat acuh seperti biasanya.
Ajun tahu jika Gia dan tuan Darren pasti berpikir negatif, namun dia seolah tak perduli.
"Ini ciloknya," kata Ajun. "Apa Meetingny sudah bisa di mulai?" tanya Ajun.
"Bisa-bisa," ucap Tuan Darren seraya tersenyum kecut.
Sebenarnya Tuan Darren ingin bertanya, namun melihat raut wajah Ajun yang tidak bersahabat membuat dia mengurungkan niatnya.
Berbeda dengan Gia, dia tidak ingin bertanya. Namun kata 'Om' yang Gadis sebutkan pada Ajun membuatnya berpikiran jika Ajun sudah menjadi sugar Daddy.
Pantas saja tidak pernah mau menikah, pikirnya. Ternyata Ajun hanya ingin bermain-main dengan wanita, bahkan hanya menjadi sugar Daddy saja tapa berniat untuk menikah.
__ADS_1
Gia pun langsung menggelengkan kepalanya, mencoba untuk kembali berpikir positif tentang Ajun. Tak lama acara meeting pun dimulai, mereka bertiga terlihat begitu serius.
Sedangkan Gadis terlihat memeperhatikan Ajun dari tempat duduknya, dia begitu mengagumi ketampanan pria dewasa itu.
Gadis yang berusia dua puluh satu tahun itu merasa, jika dia kini mulai menyukai lelaki dewasa berusia tiga puluh tiga tahun itu.
"Dia tampan sekali, kalau saja dia mau, aku mau banget jadi kekasiihnya. Eh... istri deng, pasti bangga banget jadi istrinya si Om Ajun," Gumam Gadis dalam hati.
Gadis terlihat mesem-mesem sendiri kala melihat Ajun, sedangkan pelayan yang kini sedang mengompres kaki Gadis hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Dunia ini memang aneh pikirnya, padahal Gadis terlihat muda dan cantik. Namun malah memilih menjadi sugar Babby dari Om tampan yang memberinya uang yang banyak itu.
Satu jam kemudian....
"Terima kasih, Tuan Gia. Saya selalu senang bisa bekerja sama dengan anda," ucap Tuan Darren.
"Saya pun sama," ucap Gia.
Setelah menemui kesepakatan kerja, mereka pun nampak berjabat tangan. Tuan Darren nampak pergi dari Caffe tersebut, begitupun dengan Gia dan Ajun.
Mereka nampak bersiap untuk pergi, namun saat mereka sudah sampai di pintu keluar. Seorang pelayan menghampiri mereka berdua.
"Maaf, Tuan. Itu, Nona yang tadi mau ditinggal?" tanya pelayan tersebut.
Gia dan Ajun sontak melihat ke arah yang ditunjuk oleh pelayan tersebut, nampaklah Gadis yang sedang tertidur di atas sofa tunggu.
"Astaga?!" pekik Ajun.
"Sepertinya aku ke kantor sendiri saja, kamu bareng dia saja. Kasihan juga kakinya lagi sakit," ucap Gia.
"Heh, merepotkan." Ajun menghela nafas berat, dia tak menyangka bisa bertemu dengan Gadis ingusan yang begitu merepotkan harinya.
"Kunci," ucap Gia seraya mengulurkan tangannya.
Ajun pun langsung merogoh sakunya dan mengambil kunci mobilnya, Setelah itu dia pun menyerahkannya pada Gia.
"langsung ke kantor, jangan dibawa ke hotel." Gia tertawa setelah mengatakan hal itu.
Jika saja Gia bukan Bosnya, sudah dipastikan jika Gia tak akan bisa tertawa dalam waktu yang cukup lama.
__ADS_1
Setelah kepergian Gia, Ajun langsung menghampiri Gadis lalu menggoyangkan tangannya.
"Bangun!" ucap Ajun.