
Semua orang yang hadir terlihat ikut berbahagia dan juga bangga, karena diusia yang masih sangat muda yaitu sembilan belas tahun. Kedua putri Elsa dan juga Gia sudah menjadi sarjana dengan nilai terbaik.
Kiandra dan juga Cristian adalah dua pria tampan yang terlihat sangat bahagia, tentu saja karena mereka sudah boleh meminang wanita yang mereka cinta.
"Ehm, Om. Bolehkan, aku berbicara dengan Rara?" tanya Kiandra.
"Aku juga mau bicara sama Rere, Om." Cristian berbicara dengan cepat.
Gia yang sedang memeluk istri dan kedua putrinya langsung mengurai pelukannya, kemudian dia menatap wajah Kiandra dan Cristian dengan lekat.
"Mau apa memangnya?" tanya Gia.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Kiandra terlihat mengusap tengkuk lehernya yang terasa dingin. Sedangkan Cristian terlihat cengengesan.
Rasanya ditodong dengan pertanyaan seperti itu membuat keduanya susah untuk berbicara, apa lagi saat melihat tatapan mata dari Gia.
Elsa tersenyum, kemudian dia mengusap lengan suaminya dengan lembut.
"Mungkin dia ingin berbicara sebentar dengan Rara, masalah itu." Elsa mengedipkan matanya.
Gia tersenyum kecut kala mendengar ucapan dari istrinya, baru saja kedua putranya lulus kuliah dalam usia yang masih muda.
Namun kedua pria tampan di hadapannya begitu sudah tidak sabar untuk meminang putrinya, ya... dia sangat tahu apa yang diinginkan oleh Kiandra dan juga Cristian.
Apalagi kalau bukan ingin segera memperistri kedua putrinya, sungguh tidak sabar, pikirnya.
Karena selama tiga tahun ini baik Kiandra ataupun Cristian terlihat begitu gigih mendekati kedua putrinya, mereka sepertinya sangat takut jika kedua putrinya akan dilamar pria lain.
Bahkan mereka rela menjadi bodyguard untuk kedua putri Elsa, karena yang terpenting bagi keduanya adalah bisa bersama dengan wanita yang mereka cintai.
"Baiklah, aku paham. Sekarang kalian berbicaralah, jangan melakukan hal yang tidak-tidak. Inget! Kalian belum halal!" kata Gia tegas.
"Baik, Om," jawab keduanya.
Kiandra tersenyum lalu mengajak Aurora untuk mengobrol di ruang lain, begitupun dengan Kiandra yang mengajak Aurelia untuk berbicara.
"Ehm, duduklah di sini!" pinta Kiandra seraya menarik kursi kosong untuk Aurora.
Aurora merasa senang, karena Kiandra selalu saja memberikan perhatiannya kepada dirinya.
"Terima kasih, Kak.'' Aurora duduk sambil tersenyum hangat.
Kiandra membalas senyuman dari Aurora, lalu dia duduk tepat di hadapan Aurora.
Kiandra terlihat menarik lembut tangan kiri Aurora, lalu dia mengecupnya dengan lembut.
"Ra, kamu udah lulus kuliah. Selamat, ya." Kiandra elus punggung tangan Aurora dengan ibu jarinya.
"Terima kasih, Kak,'' ucap Aurora tulus.
"Seperti yang pernah kamu ucapkan dulu, kalau kita boleh berhubungan setelah kamu lulus kuliah. Jadi"--Kiandra mengambil kotak kecil berbentuk hati lalu memberikannya kepada Aurora--"ambillah."
Sebenarnya bukan hanya itu, Kiandra juga ingin menagih janji dari Aurelia. Yaitu boleh meminangnya setelah dia lulus kuliah.
"Apa ini?" tanya Aurora.
__ADS_1
"Bukalah!" kata Kiandra.
Dengan perlahan Aurora mengambil kotak kecil berbentuk hati itu dari tangan Kiandra, lalu dia membuka kotak itu.
Mata Aurora langsung berbinar, karena ternyata Kiandra memberikan cincin berlian yang sangat cantik untuk dirinya.
"Apa ini untukku, Kak?" tanya Aurora.
"Ya, untuk kamu." Kiandra mengambil cincinnya dan memakaikannya di tangan Aurora.
"Cantik, aku suka," kata Aurora.
Aurora terlihat memperhatikan jari manisnya yang kini sudah disematkan cincin berlian oleh Kiandra.
"Kamu lebih cantik," jawab Kiandra.
Mau semahal apa pun cincin berlian yang dia berikan untuk Aurora, tetap saja wajah Aurora terlihat lebih cantik dari apa pun. Bahkan wajah Aurora terlihat lebih berkilau di hatinya.
"Gombal!" kata Aurora seraya memukul pelan pundak Kiandra.
Kiandra tersenyum, lalu dia menarik lembut tangan Aurora dan kembali mengecup punggung tangannya.
"Jadi, kapan aku boleh menikahimu?" tanya Kiandra.
Mendengar pertanyaan dari Kiandra, wajah Aurora terlihat memerah.
"Kenapa Kakak tidak sabaran sekali?" tanya Aurora.
Kiandra terlihat berdecak ketika Aurora mengatakan hal seperti itu.
Kiandra terlihat menekuk wajahnya, Aurora langsung tertawa dibuatnya.
"Maaf," kata Aurora seraya memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Jadi?"
"Kamu minta aku baik-baik sama ayah, kamu tanya sendiri sama dia," jawab Aurora.
Aurora tidak mau mengambil keputusan secara sepihak, tentu saja yang lebih berhak menentukannya adalah ayah dan juga bundanya.
"Ck! Baiklah, aku akan memintamu secara langsung kepada ayahmu," kata Kiandra.
Kiandra mengajak Aurora untuk langsung menghampiri Gia, Aurora menurut.
"Ada apa?" tanya Gia.
"Anu, Om. Saya mau menikahi Aurelia, apakah sudah boleh?" tanya Kiandra to the point.
Gia langsung membelalakan matanya ketika mendengar permintaan dari Kiandra, berani sekali pikirannya seorang lelaki muda meminta anak gadisnya secara terang-terangan seperti itu.
Namun di dalam hatinya yang terdalam, Gia memuji tindakan Kiandra. Lelaki muda itu mampu menunggu putrinya selama tiga tahun, bahkan Kiandra selalu setia dan tidak pernah bermain dengan wanita manapun.
Terkadang dirinya merasa malu kala mengingat masa lalunya yang terasa sangat kelam.
"Kamu boleh menikahi putriku, kalau dia mau. Tapi, kamu harua ingat." Gia mendekati Kiandra, lalu dia berbisik tepat di telinga lelaki muda itu.
__ADS_1
Kiandra sempat memundurkan wajahnya, namun Gia kembali mendekatkan wajahnya.
"Putriku masih sangat kecil, jangan buat dia hamil terlebih dahulu. Pakailah pengaman kalau kalian berhubungan, aku tidak tega melihatnya hamil dalam usia yang masih sangat belia," bisik Gia.
"Ya ampun!" keluh Kiandra.
"Kenapa? Apa kamu keberatan?" tanya Gia tegas.
Dengan cepat Kiandra menggeleng-gelengkan kepalanya, tentu saja dia tidak keberatan, pikirnya. Yang penting dia bisa menikah terlebih dahulu dengan wanita pujaan hatinya.
"Tidak, tentu saja aku tidak keberatan," jawab Kiandra pasti.
'Kalau aku tidak lupa, tapi kalau lupa aku akan sangat senang karena segera memiliki momongan.' Sambung Kiandra dalam hati.
"Bagus!" kata Gia.
Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja Aurelia dan juga Cristian datang menghampiri. Wajah Aurelia terlihat ditekuk, sedangkan Cristian terlihat mengatupkan mulutnya menahan tawa.
Gia yang melihat akan hal itu langsung menegur putrinya tersebut.
"Ada apa, hem? Kenapa wajahnya ditekuk seperti itu?" tanya Gia.
Aurelia langsung memeluk Gia dengan erat, matanya bahkan terlihat berkaca-kaca.
"Ayah, masa aku di kasih kalung dari daun singkong. Kak Crish ngga modal banget, masa dia ngga bisa beliin aku kalung yang bagus," keluh Aurelia.
"Ya ampun, Crish!" seru Gia tidak terima.
"Sorry, Om." Cristian mengambil kalung berlian yang dia simpan dalam saku jasnya.
Aurelia nampak berbinar saat melihat kalung yang terlihat indah itu. Cristian terlihat berjongkok, lalu dia menggenggam tangan Aurelia dengan lembut.
"Aurelia Pradtja, aku sudah lama menaruh hati padamu. Aku ingin menjadikan kamu sebagai istriku, kalau kamu bersedia, tolong pakai kalung ini," kata Cristian.
Ada sorot kebahagiaan di dalam mata Aurelia, namun dia bergeming. Dia hanya menatap wajah Cristian dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.
Melihat akan hal itu, Cristian merasa was-was. Dia benar-benar takut jika Aurelia tidak mau diperistri oleh dirinya.
"Kenapa diam saja? Apa kamu tidak mau menjadi istri aku?" tanya Cristian dengan wajah sendunya.
"Bukan seperti itu, kamu itu lelaki. Bersikaplah lebih romantis, pakaikan kalungnya!" pinta Aurelia manja.
Wajah Cristian yang awalnya terlihat sendu, langsung berganti dengan binar bahagia. Dia langsung bangun dan memakaikan kalung berlian tersebut di leher Aurelia.
"Terima kasih, Rara Sayang." Cristian langsumg memeluk Aurelia dan mengecup keningnya.
Gia langsung memelototkan matanya, dia merasa tidak suka karena Cristian sudah terlalu berani.
"Crish!" seru Gia.
"Maaf, Om. Kelepasan," ucap Cristian seraya mengurai pelukannya.
*
__ADS_1
BERSAMBUNG