
"Dok, keadaan pasien lebih penting. Tolong ditangani dulu, saya juga harus menolong ibunya." Suster itu memandang abu Anira yang tergeletak di lantai.
Dokter itu pun sempat memandang Elsa yang terlihat bernapas dengan susah, dengan cepat dia memberikan tindakan dibantu seorang suster.
Sedangkan dua suster lainnya langsung membangunkan Bu Anira dan menidurkannya di atas sofa tunggu.
Di taman Aurora dan Aurelia merasa tak tenang karena telah meninggalkan Bunda mereka, Aurora dan Aurelia pun mengajak Gia untuk kembali ke ruang perawatan Elsa. Mereka lebih baik berdiam diri sambil menatap wajah Bundanya, dari pada harus berlama-lama di taman.
Awalnya Gia tak menuruti keinginan kedua putrinya, bukan karena apa, Gia hanya takut masa istirahat Elsa akan terganggu.
Akan tetapi, Gia merasa tak tahan dengan rengekan kedua putrinya itu.
Gia pun menurut, dia paham jika kedua putrinya memang sangat merindukan Elsa. Karena memang mereka sudah satu bulan lebih tidak bertemu dengan Elsa, saat tiba di depan ruangan Elsa, Gia sangat kaget karena tiba-tiba saja dari dalam ruangan Elsa ada seseorang yang berlari dan langsung menabrak tubuh Gia.
Gia pun langsung terjungkal, begitupun dengan lelaki tersebut. Lelaki tersebut langsung terpental dan jatuh terduduk, Gia sempat memperhatikan lelaki tersebut dan saat menyadari jika itu adalah pamannya Elias Gia pun dengan cepat meneriaki Bodyguard yang berjaga tak jauh dari ruangan Elsa.
Ke-4 Bodyguard yang sedang berjaga di sana pun langsung menghampiri Elias dan membekuknya, Elias berteriak-teriak karena tak suka dirinya tiba-tiba saja dibekuk oleh anak buah dari Gia.
Aurora dan Aurelia langsung masuk ke dalam ruangan Elsa, mereka merasa sangat takut saat melihat Elias yang terus saja berteriak.
"Anjin* lepasin gue, gue bukan penjahat! Dia lah orang jahat yang sudah membuat putri gue mati!" Elias berteriak dengan tatapan sinis ke arah Gia.
Dia merasa tak suka dengan ucapan Gia yang memerintahkan para Bodyguardnya untuk membekuk dirinya.
Dia berteriak-teriak seperti orang yang sedang kesetanan, dia tidak menerima kelakuan dari Gia. Bahkan Elias mengucapkan sumpah serapahnya kepada Gia, akan tetapi dia seolah tak peduli karena kelakuan dari pamannya tersebut.
Elsa sampai 1 bulan lebih tidak bisa sadarkan diri itu akibat dari perbuatan Elias, paman kandung yang benar-benar sangat kejam.
"Setan! Lepasin tangan gue, sakit. Gue sumpahin hidup elu bakal menderita, gue sumpahin hidup elu bakal sengsara!" Elias kembali berteriak, membuat Gia geram dibuatnya.
Gia dengan tak sabar langsung berteriak pada ke empat Bodyguardnya untuk segera membereskan pamannya.
"Bawa dia ke kantor polisi. Ingat! Jangan sampai dia kabur lagi!" teriak Gia pada ke empat Bodyguardnya.
Mereka langsung mengangguk patuh, mereka tak mau mengecewakan Bosnya lagi.
"Siap, Tuan Muda." Jawab mereka bersamaan.
__ADS_1
Mereka langsung menggiring Elias, sesuai dengan permintaan Tuan mudanya untuk memasukannya ke dalam penjara.
Akan tetapi, mereka terlihat kesusahan karena Elias terus saja berontak. Bahkan Elias terus saja. mengumpat kata-kata kasar, membuat salah satu Bodyguardnya Gia kesal.
"Kalian semua sinting! Gue udah bilang, kalau gue bukan penjahat. Bos kalian tuh yang jahat! Tangkap dia, bukan gue!" teriak Elias.
Karena geram dengan kelakuan Elias, akhirnya salah satu Bodyguardnya Gia pun langsung memukul tengkuk leher belakang Elias. Seketika Elias pun langsung tak sadarkan diri, dengan begitu mereka pun dapat dengan mudah membawa Elias.
Setelah kepergian Elias, Gia langsung berlari ke dalam ruang perawatan Elsa. Gia sangat kaget saat melihat Elsa yang sedang duduk sambil memeluk kedua putrinya.
Gia begitu tak sabar, dia langsung berlari dan memeluk Elsa. Sesekali Dia terlihat melabuhkan kecupan hangat di bibir Elsa.
"Bibir kamu kering, Yang. Mau minum?" tawar Gia.
Dokter dan suster yang ada di sana pun langsung tertawa renyah mendengar candaan Gia.
"Selamat ya, Tuan Gia. Keadaan istri anda benar-benar sudah stabil, Babby dalam kandungannya pun sangat sehat." Jelas Dokter tersebut.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih telah memberikan keselamatan pada istriku dan kandungannya." Tubuh Gia langsung merosot ke lantai, dia langsung mengucap syukur sambil bersujud.
"Mas," ucap Elsa pelan.
"Apa, Sayang?" tanya Gia.
Gia dengan cepat bangun dan menghampiri istrinya," mau apa?"
Elsa terlihat mengusap perutnya, lalu dia tersenyum dengan sangat manis kepada Gia.
"Aku hamil, Mas?" tanya Elsa, Gia langsung menganggukan kepalanya. " Usianya berapa minggu? Kenapa sudah terasa keras?" tanya Elsa.
Gia terkekeh mendengar pertanyaan dari istrinya, tentu saja sudah keras pikirnya. Elsa saja koma selama lima minggu.
"Sudah sebelas minggu, Sayang." Gia ikut mengelus lembut perut istrinya yang memang sudah terlihat sedikit menonjol.
Apa lagi Elsa sekarang terlihat kurus, membuat perut Elsa terlihat membuncit.
"Sebelas minggu?" tanya Elsa tak percaya, Gia langsung menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu koma selama lima minggu, Sayang. Saat kamu tertembak, usia kandungan kamu sudah enam minggu. Beruntung Tuhan begitu baik, pelurunya tak sampai menembus rahim kamu, Sayang." Jelas Gia.
"Syukurlah," ucap Elsa seraya mengelus lembut perutnya kembali.
Aurora dan Aurelia terlihat sangat senang, bukan saja karena Bundanya sudah sadar. Tapi mereka juga senang karena mereka akan mempunyai adik bayi.
"Mom, Rara kangen." Aurora langsung memeluk Bundanya. "Rara juga seneng karena mau punya Ade," timpalnya lagi.
"Rere juga," ucap Aurelia tak mau kalah.
Aurelia langsung memeluk Bundanya dengan erat, rasanya sangat bahagia bisa kembali memeluk Bundanya.
"Bunda, juga." ucap Elsa seraya memeluk kedua putrinya.
"Ah, Tuan. Keadaan Nyonya Elsa sudah sangat baik, kalau ada apa-apa bisa langsung hubungi saya." Kata Dokter.
"Siap, Dok." Jawab Gia cepat.
"Kalau begitu kami permisi," kata Dokter. "Oiya, Bu Anira masih dalam pengaruh bius, mungkin sebentar lagi sadar." Kata Dokter lagi.
Gia lalu memandang Ibu mertuanya yang nampak tak sadarkan diri, Bu Anira terlihat tertidur di atas sofa tunggu yang lumayan besar.
"Iya, Dok. Terima kasih, sudah mau merawat istri dan mertua saya." Ucap Gia.
"Jangan sungkan, itu memang kewajiban saya." Jelas Dokter.
Dokter dan ketiga suster pun. berlalu dari ruangan Elsa, sedangkan Gia langsung duduk di samping Elsa. Mereka seakan mencurahkan rasa rindu mereka lewat tatapan mata.
Sebenarnya, Gia ingin melakukan hal yang lebih. Akan tetapi, di sana ada Aurora dan Aurelia. Tak mungkin bukan jika Gia memberikan ciuman rindu untuk istri tercintanya.
+
+
+
Hai Hai Hai, jangan lupa mampir ke karya baru Othor. Semoga kalian mau. mapir dan baca, jangan lupa tinggalkan jejak. Seperti like dan koment'nya ya...
__ADS_1
I Love You full untuk Kaleyan semua, 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓