
"Mbak, aku punya kado untuk kamu," kata Andrew.
"Mana?" tanya Melani.
Bukannya menjawab, Andrew malah pergi menuju meja yang tak jauh dari tempat Melani berdiri.
Andrew tiba-tiba saja mengambil sebuket bunga mawar dan satu kotak kecil berbentuk hati berwarna biru dongker.
Kemudian dia berjongkok tepat di hadapan Melani, dia menatap Melani dengan tatapan penuh cinta. Semua yang ada di sana nampak tersenyum sambil memperhatikan raut wajah kedua insan itu.
"A--apa yang kamu lakukan?" tanya Melani.
Melani terlihat bingung dan kaget dengan apa yang dilakukan oleh Andrew.
"Mbak, aku mencintai kamu. Aku tulus mengajak kamu untuk berumah tangga, apa Mbak mau nikah sama aku?" tanya Andrew.
Melani nampak menepuk jidatnya, brondong muda di hadapannya itu tetap saja tak bisa berkata romantis, pikirnya.
Namun, dia bingung harus menerimanya atau tidak. Dia baru saja bercerai, dia masih ingin menata hatinya. Dia masih ingin menikmati kesendiriannya, dia masih ingin menikmati kesehariannya bersama dengan kedua buah hatinya.
"Jawab dong, Mbak. Pegel nih jongkok mulu," ucap Andrew dengan cengir kudanya.
"Ya ampun! Lagi pula aku ngga nyuruh kamu buat jongkok," kata Melani ketus.
"Ya ampun! Calon jodoh kok judes banget, gimana Mbak, mau ngga nikah sama aku?" tanya Andrew lagi.
Melihat perdebatan antara Melani dan Andrew, semua orang yang ada di sana nampak mengatupkan mulutnya menahan tawa.
"Ish! Aku tuh belum kenal kamu, belum tahu kamu luar dalamnya kaya apa. Mana bisa langsung Iya-iya aja," kata Melani.
"Astaga! Mbak pengen tahu dalamnya aku kaya apa? Aku harus buka baju di sini juga?" tanya Andrew.
"Bukan kaya gitu juga!" Melani terlihat memukul pundak Andrew.
Andrew nampak meringis menahan sakit, sedangkan semua yang ada di sana nampak tertawa dengan terbahak-bahak.
"Ngga lucu, Andrew!" kata Melani.
"Aku ngga lagi ngelucu, aku lagi ngelamar kamu, Mbak. Di hari yang spesial ini, izinkan aku untuk masuk ke dalam kehidupan kamu. Jadikan aku lelakimu, jadikan aku tambatan hatimu. Jadikan aku pria yang selalu kamu rindu, jadikan aku lelaki yang bisa menjadi panutan dalam hidupmu. Mbak Melani, kalau kamu ngga mau aku nikahi, maka nikahilah aku. Aku sudah sangat siap untuk menjadi suami kamu, kita kenalannya setelah menikah saja. Aku janji ngga bakal nyentuh Mbak, kalau Mbak belum jatuh cinta sama aku."
Andrew nampak bangun dan menghampiri Melani, Melani nampak menatap Andrew dengan lekat.
Melani bisa melihat jika Andrew sangat serius mengngkapkan isi hatinya, Melani bisa melihat cinta yang begitu besar yang Andrew punya.
__ADS_1
"Tapi, aku hanya janda. Aku sudah tua, anak aku sudah dua. Kamu pantesnya dapet yang muda, yang masih bersegel," kata Melani.
"Aku ngga mau denger apa pun, Mbak. Yang mau aku dengar dari bibir Mbak hanya kata mau atau tidak," kata Andrew.
Merissa dan Fajri nampak menghampiri Melani, mereka memeluk Bundanya dengan erat.
"Aji mau Ayah," kata Fajri.
"Kakak setuju kalau Om Andrew nikah sama Buna, Om Andrew sangat perhatian sama Buna. Kakak suka, Buna juga harus bahagia. Kalau lihat Buna bahagia, Kakak juga bahagia." Merissa nampak mengeratkan pelukannya.
Mendengarkan ucapan kedua buah hatinya, hati melani nampak terenyuh. Dia membalas pelukan kedua buah hatinya dengan air mata yang nampak luruh begitu saja.
Nyonya Mesti menghampiri Melani, lalu mengelus lembut punggung Melani dengan lembut.
"Kamu pantas bahagia, Sayang. Jika kamu merasa ragu untuk menikah dengan Andrew karena hati kamu belum merasa siap, maka menikahlah karena kedua buah hatimu. Mamah sangat tahu jika kedua buah hatimu membutuhkan sosok ayah yang tidak pernah mereka dapatkan dari Aldino," kata Nyonya Mesti.
"Mah, aku--"
"Pikirkanlah kedua buah hatimu, Sayang." Nyonya Mesti terlihat menepuk pundak Melani.
"Jadi bagaimana, Mbak?" tanya Andrew.
"Kita kenalan dulu selama satu bulan, aku tidak mau membeli kucing dalam karung." Melani terlihat melerai pelukannya.
Semua yang ada di sana nampak tergelak, Reni menghampiri Melani dan memeluk sahabatnya tersebut.
"Gue yakin elu bakalan bahagia kalau nikah sama brondong itu, apa lagi dia lagi sedeng muda-mudanya. Uuuuh, pasti hentakkannya mantep," bisik Reni.
Melani langsung melotot tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Reni, dia nampak mencubit perut Reni dengan gemas. Reni pun nampak meringis kesakitan.
"Ayang, aku dianiaya!" adu Reni pada sang suami.
Andi, suami dari Reni langsung tersenyum. Dia menghampiri Reni dan mengajaknya untuk pergi.
"Sudahlah, Sayang. Jangan godain Mel mulu, mending kita masuk ke kamar," ajak Andi.
"Aku masih mau di sini, Yang. Memangnya mau apa buru-buru ke kamar?" tanya Reni.
"Mau nyelup," kata Andi seraya menuntun istrinya untuk pergi dari sana.
Melani nampak tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh Andi, dia jarang sekali bicara. Namun, jika sudah bicara membuat orang kaget dengan apa yang dia ucapkan.
Padahal di sana juga ada buah hati mereka, namun Andi seolah cuek saja.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 malam, Nyonya Mesti pun berpamitan untuk masuk ke dalam kamar tempat dia menginap.
Merissa dan juga Fajri nampak ikut berpamitan, karena ingin tidur bersama neneknya.
Mama Andrew dan juga Anita turut berpamitan, karena mereka sudah mengantuk. Semuanya terlihat lelah karena mempersiapkan pesta kejutan untuk Melani.
Kini, tinggallah Andrew dan juga Melani, mereka masih saling diam di pinggir pantai. Angin yang berhembus kencang membuat rambut Melani melambai-lambai seakan minta untuk dibelai.
"Mbak, aku jamin kalau Mbak nilah sama aku, kamu ga bakal nyesel. Karena aku akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk kamu, aku juga akan berusaha untuk menjadi Ayah yang baik untuk anak-anak kita." Andrew menatap wajah Melani lekat.
"Lalu, bagaimana dengan kedua buah hatiku?" tanya Melani.
"Mereka juga akan menjadi anak-anakku," kata Andrew yakin.
"Andrew, jujur aku takut. Suatu saat nanti kamu akan berpaling karena aku sudah tidak bisa memuaskan kamu di atas ranjang," kata Melani.
"Ya ampun, Mbak. Cinta itu bukan melulu masalah ranjang," kata Andrew.
"Lalu?" tanya Melani.
"Akan banyak kebahagiaan yang akan tercipta kalau kita saling mencinta dengan tulus, akan banyak hal yang membuat kita setia dengan pasangan selain masalah ranjang. Percaya deh sama aku," kata Andrew.
"Tapi kamu beneran cinta, kan, sama aku?" tanya Melani.
"Jangan ragu kalau masalah itu, aku sangat mencintai kamu. Jadi, maukah kamu memakai cincin yang sudah aku siapkan untuk kamu?" tanya Andrew.
Melihat ketulusan di mata Andrew, Melani pun langsung menganggukkan kepalanya. Andrew nampak tersenyum, lalu dia pun langsung memasangkan cincin yang sudah dia pesan di jari manis Melani.
"Terima kasih karena kamu sudah mau menerima aku, aku jamin kamu tidak akan menyesal sudah menerima aku. Walaupun aku belum berpengalaman dalam urusan ranjang," ucap Andrew seraya mengerling nakal.
"Astaga!" pekik Melani seraya mencubit gemas perut Andrew.
Andrew tertawa, lalu dia mencondongkan wajahnya dan langsung berbisik tepat di telinga Melani.
"Seharusnya Mbak bangga kalau menikah dengan aku, karena Mbak bisa tahu bagaimana rasanya mengambil keperjakaan seorang berondong muda kaya aku," bisik Andrew.
Wajah Melani terlihat memerah, dia langsung memukul dada Andrew.
"Jangan marah," kata Andrew.
"Jangan nakal makanya," kata Melani.
"Maaf, aku ngga akan nakal lagi." Andrew langsung mengecup bibir Melani beberapa kali.
__ADS_1
Melani langsung mendorong dada Andrew, antara kesal, suka dan marah yang Melani rasakan saat ini dengan perlakuan manis Andrew.