
Dina menatap wajah VB dengan lekat. Sebenarnya dia masih kesal dengan kelakuan VB. Akan tetapi, saat melihat wajahnya yang terlihat begitu memelas Dina pun merasa kasihan.
Dalam hatinya, dia ingin mengenyampingkan egonya. Tidak baik juga bukan, bila memulai sebuah hubungan dengan hal yang seperti ini.
Penjaga penginapan yang melihat adegan mereka berdua pun langsung berdehem dengan keras.
"Ehm, Maaf Tuan, Nyonya. Kalau ada masalah pribadi, silakan diselesaikan secara baik-baik. Enggak enak kalau di lihat sama yang lain, lagian Tuan sama Nyonya suami istri kan ya?" tanya penjaga penginapan tersebut.
VB dan Dina langsung menganggukkan kepala mereka.
"Iya, Kang. Kita pengantin baru," jawab VB.
"Euleuh-euleuh, enaknya nyelsain di atas ranjang atuh kalau gitu mah." Si Akang langsung tersenyum malu sambil menutup wajahnya.
"Ya ampun, gue yang pengantin baru, napa dia yang malu begitu?" tanya VB lirih.
"Saya jadi kangen istri atuh, Jang. Kalau ngga lagi jaga malam, saya udah ngerondain istri saya." Katanya.
"Ya ampun... ayo, Yang." VB langsung merangkul pundak istrinya dan mengajaknya untuk pergi ke kamar yang sudah di sewa oleh Dina.
Dina pun menurut, karena tak enak hati kalau harus berdebat lagi. VB terlihat sangat senang, karena Dina sudah terlihat tak marah lagi.
Sampai di kamar dengan luas tiga kali empat tersebut, VB menuntun Dina untuk duduk di tepian tempat tidur. Kasurnya terlihat tipis, selimutnya juga terlihat kurang tebal.
Padahal, angin pantai berembus dengan kencang. Membuat hawanya menjadi dingin, ditambah lagi di luar sedang hujan. Membuat kamar yang mereka tempati terasa sangat dingin.
Padahal, di sana tak menggunakan AC ataupun kipas angun. Akan tetapi, rasa dingin terasa menusuk sampai ke tulang.
"Ayang, dingin." Rengek manja dari bibir VB.
Dina terlihat memutar bola matanya. Akan tetapi, saat
melihat wajah VB yang terlihat pucat, Dina pun jadi khawatir.
"Kamu udah makan?" tanya Dina.
VB menggelengkan kepalanya," boro-boro inget makan. Aku ingatnya kamu terus, nyari kamu seharian aku tuh." Adanya pada Dina.
"Lagian, salah siapa coba?" tanya Dina.
"Maaf, Yang. Ngga lagi-lagi, janji." VB mengangkat tangan kanannya, lalu jarinya membentuk huruf V.
"Awas kalau bohong!" kata Dina.
__ADS_1
"Ngga, Sayang. Ngga bakal bohong," ucap VB dengan cepat.
Dina yang kebetulan habis membeli sebungkus nasi dan juga beberapa camilan, langsung mengambilnya dan memberikannya pada VB.
Lelaki yang tengah bahagia itu pun langsung makan dengan lahap, bagaimana tidak bahagia kalau melihat istrinya yang mulai perhatian kembali.
Setengah bungkus nasi bungkus sudah berpindah ke perut VB, dia baru tersadar. Jika Dia membeli nasi pasti karena belum makan.
VB pun menyodorkan satu suapan pada Dina, dengan senang hati Dina pun menerima suapan dari VB. Padahal hanya nasi campur telor dadar dan tumis sawi ditambah sedikit sambal. Akan tetapi, rasanya begitu enak.
"Enak, yang. Aku baru tahu, mau seperti apa pun makanannya, kalau makannya bareng kamu jadi terasa nikmat." Kata VB.
Dina tak menjawab, dia hanya tersenyum malas pada suaminya itu. VB meng
"Sayang," VB langsung memluk Dina dengan erat.
Tangan nakalnya sudah mulai mencari benda yang selama ini membuatnya penasaran, VB sangat sering melihat benda padat nan bulat itu.
Apa lagi saat adanya perhelatan akbar yang di adakan di stasiun tv, para artis wanita akan memakai baju yang sangat seksi.
Tak jarang, benda padat milik mereka sering menyembul dari tempatnya. Tak jarang, VB pun merasa penasaran dibuatnya.
Ingin menyentuhnya dan merasakan seperti apa sensasi kelembutannya.
Dina merasakan ada sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya, saat VB mulai mengusap dan meremat buah dadanya.
Apa lagi saat VB mengusap secara memutar ujung dadanya, membuat Dina menggelinjang.
VB langsung tersenyum, melihat perubahan wajah Dina. Apa lagi, saat melihat wajah Dina yang terlihat memerah seperti sedang menahan hasratnya yang sudah mulai bergejolak.
VB seolah ngaja, dia terus saja mempermainkan area sensitif milik istrinya. Hal itu membuat Dina menginginkan hal lebih, usia matang membuat Dina terlihat sangat siap untuk di ajak untuk menyatukan dua negara yang berbeda.
"Sayang," panggil VB dengan suara paraunya.
"A--apa?" tanya Dina tergagap.
"Aku mau sekarang, boleh ya?" tanya VB.
Dina yang sudah dikuasai oleh hasrat pun langsung menganggukkan kepalanya, dia seakan mendapatkan hal yang lebih.
Bahkan, miliknya saja sudah terasa berdenyut. Dia ingin merasakan yang namanya penyatuan, walau Elsa berkata akan terasa sakit jika untuk pertama kalinya.
Tetap saja, Dina merasa sangat penasaran dan ingin segera merasakannya. Apa lagi, saat merasakan milik VB yang mengeras di belakang tubuhnya.
__ADS_1
VB begitu senang melihat tanda persetujuan dari Dina, VB yang memang sudah tidak tahan apa lagi cuacanya juga begiti mendukung langsung bangun dan melucuti pakaiannya.
Tubuh polos VB pun langsung terekspos, Dina sampai melongo tak percaya dibuatnya. Apa lagi saat melihat belalai milik VB yang terlihat besar dan panjang.
Membuat Dina langsung bergidig, dia merasa takut jika milik VB akan merobek kelembutan miliknya.
"Sayang, itu ngga salah?" tinjunya pada milik VB.
VB terlihat bingung dengan pertanyaan istrinya, akan tetapi saat dia melihat kemana arah tangan istrinya menunjuk, seketika VB langsung tergelak.
"Ini namanya pusaka keramat milik pria, Yang. Kamu ngga usah kaget kaya gitu lihatnya, nanti kalau udah masuk, aku jamin kamu pasti minta lagi." VB langsung mendekati Dina, lalu mulai membuka kain penutup di tubuh istrinya.
"Sakit ngga, Yang?" tanya Dina.
"Ngga akan sakit, yang ada cuma kata enak." Jelas VB.
"Masa sih, Yang? Kata temen aku, kalau baru pertama sakit tahu!" kesal Dina.
"Bentar doang, Yang. Sakitnya ngga bakal lama," VB meloloskan penutup terakhir di tubuh istrinya.
Secara perlahan, VB langsung merebahkan tubuh indah Dina. Untuk sesaat, VB memindai tubuh polos istrinya.
Hal itu, membuat Dina menutupi buah dadanya dengan cepat. Dia seakan malu, bahkan Dina pun dengan cepat mengambil selimut yang ada di dekatnya.
Akan tetapi, tangan kekar VB dengan cepat menarik selimutnya dan memberikan sentuhan-sentuhan manja di tubuh istrinya.
Bukan hanya itu saja, VB juga mengecupi setiap inci tubuh Dina. Hal itu membuat tubuh Dina meremang, apa lagi saat VB mulai memainkan dan mengulum puncak dada Dina.
Membuat Dina tak sabar menanti belalai VB yang akan bertamu, menantikan kata 'enak'yang VB janjikan padanya.
VB terlihat puas saat melihat Dina yang terlihat kelabakan karena ulahnya, Bibir VB pun sudah mulai turun.
Dia dengan perlahan mengecupi perut istrinya, hingga pada akhirnya VB pun sampai pada area inti milik istrinya. Dia kecup dan dia nikmati seperti makanan enak yang baru saja dia temukan, Dina langsung melenguh, dia menikmati sensasi kenikmatan yang baru ia rasakan.
Dina mende.sah beberapa kali, menikmati setiap sensasi kenikmatan yang VB berikan padanya.
"Aaah... Mas!" Dina setengah berteriak saat VB menggigit kecil area terkecil dalam tubuh istrinya.
Brak!!
"Gandeng Anying! Aing teu bisa sare!"
Dina dan VB langsung terlonjak kaget, saat penghuni kamar sebelah menggebrak triplek tipis yang menjadi sekat dari setiap kamar.
__ADS_1