
Pagi-pagi sekali Ajun sudah bersiap untuk menjemput Gadis, dia akan mengantarkan wanita pujaan hatinya untuk pergi ke kota B.
Tentu saja dia juga sudah menyiapkan sebuket bunga mawar untuk Gadis, dia berharap Gadis akan menyukai bunga tersebut.
Karena Ajun mendapatkannya dengan susah payah, pukul lima pagi Ajun sudah pergi ke rumah tetangganya yang mempunyai toko bunga di pusat kota.
Sayangnya Ci Lien yang merasa hari masih gelap tak mau mengambilkan sebuket bunga mawar untuk Ajun, karena dia juga masih mengantuk.
Namun Ajun memohon-mohon dan berkata, "tolonglah, Ci Lien, ini untuk calon istri saya."
Mendengar bujang tua itu menyebut calon istri, Ci Lien langsung pergi ke taman belakang rumahnya. Dia langsung memetik bunga pesanan Ajun dan membingkainya dengan cantik.
Saat Ajun hendak membayarnya, Ci Lien malah tak mau dibayar. Katanya, "Bayarnya cukup dengan membawa kabar baik tanggal pernikahan kamu aja."
Ah... Ajun merasa beruntung. Dia berharap semoga Gadis mau menerima lamarannya, karena dia merasa rendah hati setelah mengetahui siapa ayah kandung Gadis.
"Sudah pukul tujuh," ucap Ajun.
Tanpa sarapan terlebih dahulu, Ajun langsung mengambil kunci mobilnya. Namun, baru saja Ajun memasukan kunci mobilnya, sebuah panggilan masuk dari Gia.
Ajun terlihat sebal, karena di hari libur pun Gia masih saja mengganggu kegiatan dirinya. Namun tetap saja dia mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Ya, Tuan." Ajun terlihat menahan kesal.
"Belikan aku bubur Ayam, aku mau kamu belinya yang di dekat komplek rumah kamu," ucap Gia.
"Ya Tuhan, ini hari libur, Tuan. Lagi pula aku harus pergi ke--"
"Hanya sebentar, kalau kamu membantah aku pasti--"
"Iya," jawab Ajun kesal.
Tanpa persetujuan dari Gia, Ajun langsung menutup panggilan telepon darinya. Lalu, Ajun pun melajukan mobilnya menuju kediaman Pranatdja.
Tentu saja sebelum dia pergi Ajun membeli bubur ayam pesanan Gia terlebih dahulu, seperti yang sudah-sudah dia membeli 3 porsi bubur ayam karena dia takut jika sampai di sana akan ada perdebatan.
Karena Gia memang suka sekali mengerjai asisten peribadinya itu, lelaki yang sudah dia anggap seperti abang kandungnya sendiri.
Sampai di kediaman Pranadtja, Gia sudah berdiri tepat di depan pintu utama. Ajun pun langsung turun dengan membawa 3 porsi bubur ayam tersebut.
"Kenapa lama?" tanya Gia.
Gia sudah terlihat bete menunggu Ajun di depan rumahnya, karena dia sudah sangat menginginkan bubur ayam tersebut.
"Tentu saja lama, karena di sana banyak yang beli. Aku pun harus ikut mengantri," jawab Ajun.
Tidak sabaran sekali pikirnya, padahal warung bubur ayam tersebut banyak pembelinya. Mana mungkin dia menyerobot minta duluan, bisa dia diamuk pembeli lainnya, ye kan?
"Alasan!" ucap Gia.
Ajun langsung memberikan bubur ayam pesanan Gia, dengan cepat GIa pun menyambar pesanan bubur ayam tersebut.
__ADS_1
Saat melihat Ajun yang membawa 3 porsi bubur ayam, Gia pun langsung tersenyum.
"Kamu memang selalu tahu dan pengertian Ajun," ucap Gia.
Wajah Gia yang tadinya terlihat cemberut pun kini berubah menjadi sangat senang.
"Tentu saja, saya paham. Kalau begitu saya permisi," ucap Ajun.
Ajun terlihat sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Gadis, karena menurutnya menemui Gadis lebih baik daripada terus berada di kediaman Pranadtja.
"Tunggu! Jangan pergi dulu," ucap Gia.
Gia masih saja berusaha menahan kepergian Ajun, karena masih ada yang ingin dia berikan kepada Ajun.
"Apa lagi?" tanya Ajun kesal.
Dia sudah tak tahan ingin segera pergi, namun Gia seolah menahannya agar bisa lebih lama lagi tinggal di sana.
"Tunggulah sebentar, aku ke dalam dulu," ucap Gia.
Ajun terlihat sangat kesal, apalagi semenjak Gia mengalami ngidam simpatik. Waktu Ajun terasa lebih tersita, karena Gia selalu saja meminta hal yang aneh-aneh padanya.
Sepuluh menit kemudian, Gia pun datang dengan membawa kotak kecil berwarna merah hati di tangannya.
Ajun mengernyit saat melihat Gia yang membawa benda mungil tersebut.
"Apa itu?" tanya Ajun saat Gia menyodorkan benda tersebut kepada Ajunn.
"Kamu itu curang sekali, kamu mendekati perempuan tapi kamu diam-diam saja," ucap Gia.
"Apa maksudmu, Tuan? Aku tidak mengerti," tanya Ajun bingung.
Perasaan dia tidak menyembunyikan apapun dari Gia, tapi kenapa dia seolah terlihat marah kepadanya.
"Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu hari ini kamu akan meminta restu kepada almarhumah Ibunya Gadis, kamu tega sekali tak memberitahu aku," ucap Gia kesal.
"Tuan tahu dari mana?" tanya Ajun heran.
Seingatnya dia sama sekali belum menceritakan kisah dirinya bersama dengan Gadis, namun Kenapa Gia bisa mengetahui hal tersebut, anehnya.
"Tentu saja aku tahu, apa kau lupa siapa aku?" tanya Gia dengan pongah.
Ajun pun tersadar dengan siapa dia bicara, tentu saja dia tahu jika Gia adalah orang yang berkuasa dan dengan sangat mudah dia bisa mencari tahu tentang informasi yang sangat ingin dia dapatkan.
"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu," ucap Ajun seraya menunduk.
"Tidak apa-apa, aku tunggu kabar baiknya," ucap Gia seraya menepuk pundak Ajun.
Sebenarnya dia ingin sekali ikut pergi ke kota B, dia juga ingin menjadi saksi kebahagiaan dari Ajun. Namun hari ini dia tidak bisa pergi ke sana, karena Gia harus menemani kedua putrinya untuk melakukan shooting pengambilan video klip.
"Tapi, Tuan. Hubungannya apa meminta restu dengan benda ini?" tanya Ajun.
"Bukalah," kata Gia.
__ADS_1
Ajun pun membuka benda mungil berwarna merah tersebut, ternyata isinya adalah cincin berlian yang sangat cantik.
"Tuan, untuk apa anda memberikan cincin berlian kepada saya?" tanya Ajun.
"Ternyata benar cinta bisa membuat orang menjadi bodoh," kata Gia. "Tentu saja itu bukan untukmu, tapi untuk Gadis, lamar lah wanita yang kau sukai Ajun dan tentu saja melamar itu membutuhkan cincin. Aku yakin kamu pasti belum membelikan cincin untuk Gadis," ucap dmGia.
Ajun pun langsung menepuk keningnya karena dia memang tidak menyiapkan cincinnya, dia hanya menyiapkan sebuket bunga saja.
"Terima kasih, Tuan." Ajun terlihat begitu bersemangat, dia langsung mencium pipi Gia dan pergi begitu saja dari kediaman Pranadtja.
Wajah Ajun yang tadinya terlihat kesal, kini menjadi terlihat sangat bahagia. Dia pun benar-benar merasa berterima kasih kepada Gia yang ternyata lebih perhatian.
"Sepertinya Ajun sudah gila," ucap Gia seraya mengusap pipinya yang basah.
Ajun tersenyum lebar sambil memperhatikan cincin berlian dari Gia, dia tak menyangka jika Gia ternyata mengawasi dirinya.
Setelah puas memandang cincin tersebut, dia memasukan benda tersebut pada saku kemejanya dan dengan cepat dia pun pergi menuju kediaman Gadis dan saat dia tiba Gadis sudah bersiap bersama dengan pak Galuh.
"Sudah siap?" tanya Ajun saat dia turun dari mobilnya.
"Sudah, Om. Pengen cepet sampe," jawab Gadis.
"Baiklah, kalau kalian sudah siap kita berangkat sekarang," ajak Ajun
"Iya, lebih cepat lebih baik. Aku juga ingin mengunjungi makam Meli," ucap Pak Galuh.
Gadis dan Pak Galuh menurut, Gadis dan pak Galuh langsung naik ke mobil Ajun dan duduk di bangku penumpang.
Ajun langsung menghampiri Gadis dan melayangkan protesnya. "Kenapa duduk di bangku belakang? Kamu duduk di bangku depan, di samping aku," ucap Ajun.
"Aku duduknya sama Bapak aja, Om. Soalnya kalau melakukan perjalanan jauh aku suka tidur di jalan," ucap Gadis beralasan.
"Nggak apa-apa kalau kamu mau tidur selama di jalan, sekarang pindah ke depan!" ucap Ajun.
Akhirnya dengan muka ditekuk, Gadis pun turun dari mobil Ajun dan masuk kembali untuk duduk tepat di samping Ajun.
"Bagus!" ucap Ajun.
Setelah bersiap, Ajun pun langsung melajukan mobilnya menuju kota B. Benar saja, selama perjalanan menunu kota B, Gadis terlihat tertidur dengan sangat pulas.
Sedangkan Pak Galuh terlihat begitu cemas, mungkin dia khawatir karena sebentar lagi Gadis akan meninggalkan dirinya, pikirnya.
Ajun yang memperhatikan wajah pak Galuh dari pantulan kaca pun, langsung bertanya padanya.
"Bapak kenapa gelisah seperti itu?" tanya Ajun membuka obrolan.
"Saya hanya takut, Nak Ajun. Saya takut kalau Gadis tidak mau lagi menganggap saya sebagai Bapaknya," ucap Pak Galuh.
"Jangan khawatir, saya tahu Gadis bukan perempuan seperti itu," ucap Ajun menenangkan.
"Ya, saya percaya bahwa Gadis sangat menyayangi saya. Namun saya yakin jika Tuan Alfonso pun ingin memberikan yang terbaik untuk Gadis dan pastinya Tuan Alfonso juga ingin Gadis tinggal di tempat yang layak, jika dia pergi bersama dengan Tuan Alfonso, sudah dapat dipastikan jika waktu Gadis bersama saya akan sangat sedikit," ucap Pak Galuh.
__ADS_1
"Jangan khawatir, nanti aku akan meminta Gadis untuk bersikap adil terhadap kedua Ayahnya," ucap Ajun.
"Terima kasih," ucap Pak Galuh.