
Setelah kejadian malam itu, Andrew lebih sering datang kerumah Melani. Tentunya untuk mendekatkan dirinya kepada kedua buat hati dari Melani.
Tentu yang paling pasti untuk meluluhkan hati Melani, karena sesungguhnya kedua buah hati Melani sudah sangat cocok dengan Andrew.
Andrew yang masih berusia dua puluh dua tahun, bisa dengan mudah akrab dengan kedua buah hati Melani.
Justru yang dia rasa sulit adalah menaklukkan hati Melani sendiri, Andrew sampai harus bersusah payah untuk melakukannya.
Karena Andrew tidak mau jika waktu satu bulan itu terbuang sia-sia, dia ingin menaklukan hati wanitanya.
Dia ingin membuat Melani jatuh cinta padanya, dia ingin membuat Melani merasa membutuhkan dirinya.
Selama satu minggu ini Andrew datang pagi-pagi sekali ke rumah Melani, dia akan ikut sarapan bersama dengan kedua buah hati Melani.
Bahkan Andrew rela belajar memasak agar dia bisa menyiapkan sarapan untuk Melani dan kedua buah hatinya.
Jika sore hari tiba, dia akan meminta izin kepada Gadis agar dia bisa menjemput Melani untuk pulang ke rumahnya.
Tentu saja itu tidak gratis, karena setelah mengantarkan Melani, Andrew akan bekerja lembur di perusahaan Tuan Alfonso tersebut.
Dia rela melakukan hal tersebut, yang terpenting pukul 07.00 malam dia kan tiba di rumah Melani dan akan makan malam bersama dengan wanita yang dia cintai dan juga ke dua buah hati dari wanita yang kini menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
*/*
Tiga minggu telah berlalu, selalu saja hal rutin itu yang Andrew lakukan, Melani bahkan sampai terlihat bosan melihat kedatangan Andrew di setiap harinya.
Andrew kadang merasa jika dia telah gagal memdekati Melani, karena Melani tak pernah satu kali pun menunjukkan jika dia suka saat berdekatan dengan Andrew.
Andrew bahkan sempat berpikir, jika sepertinya dia harus melepaskan wanita yang bernama Melani itu.
Karena sepertinya Melani lebih bahagia jika tidak bersama dengan dirinya, dan entah kenapa hari ini rasanya Andrew merasa lelah untuk mengejar cinta Melani.
Karena sudahl tiga minggu dia berusaha untuk semakin mendekati Melani, namun yang ada Melani malah terlihat jengah saat melihat dirinya.
Hal itu membuat Andrew tidak fokus dalam bekerja, bahkan dia malah sering melamun dari pada mengerjakan tugas yang seharusnya dia kerjakan.
"Ehm, Andrew. Bisa fokus saat bekerja?" tanya Gadis.
"Maaf, Nona muda. Maaf atas keteledoran saya," ucap Andrew.
"Saya tahu jika kamu sedang pusing dalam menghadapi urusan peribadi kamu, tapi saya harap kamu bisa fokus dalam bekerja!" kata Gadis.
"Maaf!" kata Andrew.
__ADS_1
"Saya mau minta tolong sama kamu bisa?" tanya Gadis.
"Katakan saja, Nona Muda. Kalau bisa pasti akan saya langsung laksanakan," kata Andrew dengan sigap.
"Begini Andrew, kantor cabang yang berada di pulau B akan mengadakan perluasan wilayah. Di sana juga akan dilakukan pembangunan hotel di tempat wisata, aku harap kamu mau langsung memantaunya ke sana," kata Gadis.
"Aku?" tanya Andrew seraya menuju wajahnya.
"Ya, kamu bisa, kan?" tanya Gadis.
Mendengar ucapan dari Nona Mudanya, Andrew terlihat bingung. Di satu sisi dia tidak enak terhadap Gadis, tapi di satu sisi dia juga tidak ingin pergi.
Apa lagi dia harus berjauhan dengan Melani, rasanya sangat berat sekali.
"Hanya tiga hari, Andrew. Please, ini demi kemajuan perusahaan kita. Aku hanya percaya kepadamu," ucap Gadis.
Andrew terlihat menghela napas berat, lalu dia pun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Nona Muda," ucap Andrew pada akhirnya.
"Bagus! Kalau begitu sekarang bersiaplah," kata Gadis."Sekarang?" tanya Andrew kaget.
"Ya, Andrew. Karena tiga jam lagi kamu harus meeting di perusahaan yang ada di pulau B," kata Gadis.
"Jadi, saya tidak boleh pulang dulu, Nona?" tanya Andrew.
"Tidak bisa, tidak ada waktu lagi. Pesawat milik Daddy sudah menunggu dan kamu harus segera berangkat," ucap Gadis tegas.
"Ya Tuhan!" pekik Andrew.
Walaupun berkata seperti itu, tapi dia tetap menjalankan tugasnya. Dia segera menuruti titah Gadis.
Andrew pun langsung pergi ke pulau B tanpa berpamitan kepada Melani dan kedua buah hatinya, dia hanya sempat mengirimkan pesan chat kepada ibu dan juga adik perempuannya sebelum dia mematikan ponselnya.
*/*
Pukul setengah empat sore Melani terlihat melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, sudah beberapa kali dia menengok ke arah luar Caffe namun Andrew tak juga kunjung datang.
Padahal biasanya pukul tiga sore Andrew pasti akan menjemputnya, entah kenapa Melanie tiba-tiba saja merasa gelisah.
Dia merasa takut jika Andrew sudah mulai bosan karena tidak mendapatkan respon yang baik dari dirinya, jujur saja dia bukan tidak tertarik kepada kepada Andrew.
Dia sangat tertarik terhadap lelaki muda itu, apa lagi Andrew terlihat sangat tampan dan juga bentuk badannya pun terlihat bagus juga terbentuk dengan sempurna.
__ADS_1
Justru dia tidak percaya diri dengan dirinya sendiri, dia merasa tua, merasa kurang pantas jika harus bersanding dengan pria muda seperti Andrew.
Namun, tak bisa dipungkiri jika tingkah lucu Andrew selalu bisa membuatnya rindu. Hanya saja dia enggan untuk mengakuinya.
"Dia kemana sih? Kenapa belum datang?" tanya Melani pada dirinya sendiri.
Karena merasa penasaran, Melani pun mengambil ponselnya. Lalu, dia pun mulai mencoba menelpon nomor Andrew.
Sayangnya sudah beberapa kali mencoba, namun nomor ponsel Andrew tak kunjung aktif. Melani pun makin gelisah dibuatnya, pikiran-pikiran negatif pun mulai terbersit di dalam otaknya.
"Ya Tuhan, apakah aku sudah keterlaluan terhadap dirinya? Apakah dia sudah tak mau lagi bertemu denganku?" tanya Melani pada dirinya sendiri.
Melani terlihat benar-benar gelisah, dia mondar-mandir tak karuan di dalam Caffe. Reni yang melihat tingkah aneh sahabatnya langsung menghampirinya dan menepuk pundak Melani.
"Woi! Elu kenapa sih? Dari tadi mondar-mandir mulu, bikin gue pusing tau ngga!" kata Reni.
"Elu ngagetin gue, gue lagi nungguin Andrew. Tapi sampai sekarang dia belum datang juga," ucap Melani.
Reni terlihat melirik jam yang ada di ruangan tersebut, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Kayaknya dia udah bosen deh sama elu, soalnya dia elu cuekin mulu. Makanya dia marah, terus ngga mau nemuin elu lagi deh," ucap Reni menakuti.
"Elu jangan sembarangan ngomong deh," ucap Melani kesal.
Melani langsung mengambil tasnya dan pergi dari Caffe tersebut, dia nampak mencegat taksi dan langsung pulang ke rumahnya.
Sampai di rumahnya, Melani terlihat
uring-uringan. Dia benar-benar merasa resah dan gelisah, karena Andrew tak kunjung menghubungi dirinya.
Bahkan saat Melani mencoba menelpon ponselnya kembali, masih tetap saja no ponsel Andrew tidak aktif.
Melani terlihat semakin resah, dia bahkan terlihat mondar-mandir tak jelas sambil menggigit ujung kuku jempolnya.
Untuk mengobati rasa penasarannya, melanie bahkan sempat berpura-pura berbelanja di toko swalayan yang ada di dekat rumah Andrew.
Dia sengaja ingin memperhatikan kediaman Andrew tersebut, apakah di sana ada Andrew atau tidak?
Sayangnya, sudah beberapa lama dia memperhatikan rumah tersebut, tetapi Andrew tak kunjung terlihat.
Bahkan mobilnya pun tak ada di sana, Melani makin gelisah.
"Apakah dia benar-benar menghindariku sekarang? Apakah dia benar-benar tak ingin memperjuangkan aku lagi?" tanya Melani lirih.
__ADS_1