
Ajun merasa jika suara itu terdengar familiar di telinganya, karena penasaran dia pun semakin mendekatkan dirinya ke arah wanita tersebut.
"Gue emang bodoh, andai saja dulu tidak termakan rayuan elo, gue nggak bakalan mau jadi pacar elo. Gue nyesel, gue nyesel banget karena kenal sama cowok brengsek kau elo!" wanita itu terus saja mengumpat sambil terisak, sesekali dia terlihat menyusut air matanya.
Ajun yang penasaran, langsung menghampiri wanita tersebut. Dia sangat kaget saat melihat wajah wanita tersebut, karena dia adalah Gadis. Wanita bar-bar yang selalu saja memanggil dirinya dengan sebutan 'Om'.
Wajahnya terlihat menyedihkan, bahkan penampilannya pun sama halnya seperti saat mereka bertemu di kota B.
Dia terlihat kacau, bahkan di pipinya terlihat bekas tamparan. Sudut bibirnya bahkan terlihat berdarah, bajunya terlihat sangat kusut. Satu lagi, kakinya terlihat bengkak.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Ajun.
"Om!" teriak Gadis.
Gadis langsung berdiri dengan tertatih dan memeluk Ajun dengan erat, dia langsung menangis di dalam pelukan hangat lelaki dewasa itu.
Rasa iba langsung hadir, dia pun tanpa ragu membalas pelukan Gadis. Dia mengusap punggung Gadis dengan lembut dan penuh perhatian.
"Sebenarnya anak ini kenapa sih? Tiap ketemu keadaannya selalu kacau, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya penasaran Ajun dalam hatinya.
Gadis terlihat sangat nyaman menangis di dalam pelukan Ajun, karena pria dewasa itu mampu membuat Gadis merasa tenang.
Ajun sangat penasaran, karena Gadis bisa masuk dalam wilayah tersebut. Sedangkan tempat itu dijaga ketat oleh para keamanan yang sudah disewa keluarga Pranadtja, apakah penjaga di sana sudah mulai lalai, pikirnya.
"Gadis," panggil Ajun.
"Iya, Om." Gadis terlihat menyusut air matanya, lalu dia mendongakkan kepalanya.
"Kamu kenapa ada di sini?" tanya Ajun.
Gadis kembali menundukan wajahnya, dia langsung menelusupkan wajahnya di dada bidang milik Ajun. Terasa nyaman dan hangat pikirnya, rasa tenang pun kini begitu menguasai hatinya.
"Aku bertanya padamu Gadis!" banyak Ajun.
"Om, tolong biarkan aku berada di zona nyaman ini. Pelukan kamu begitu membuat aku tenang," ucap Gadis.
Ajun hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Gadis, sedangkan Gadis tanpa rasa bersalah langsung mengeratkan pelukannya.
Bahkan Gadis langsung mengusakan wajahnya di dada bidang milik Ajun, sebenarnya Ajun merasa tak nyaman dengan posisi tersebut.
Karena walau bagaimanapun dia Lelaki normal dan rasanya dengan keadaan seperti itu membuat Ajun menginginkan hal yang lebih, beruntung akal sehat Ajun masih berfungsi.
Apalagi menurutnya Gadis merupakan anak kecil, dia tidak bisa melihat sosok wanita di dalam diri Gadis.
__ADS_1
"ingat Ajun, dia cuma bocah jangan sampai kamu membuat dia menjadi takut kepadamu." Ajun berusaha mengingatkan dirinya.
Setelah merasa lebih tenang, Gadis pun melerai pelukannya. Kemudian, dia menatap wajah Ajun dengan lekat.
"Terima kasih ya, Om. Om sudah membuat Gadis merasa lebih baik," ucap Gadis tulu.
"Ya, sama-sama. Sekarang mau pulang atau bagaimana?" tanya Ajun.
"Aku nggak berani pulang, Om. Aku takut Bapak nanti akan sedih melihat keadaanku yang seperti ini," ucap Gadis.
"Terus maunya gimana?" tanya Ajun.
"Aku nginep di rumah Om, ya? Aku ikut Om pulang, boleh?" pinta Gadis dengan wajah memelas.
"Nggak mau ah, nanti apa kata tetangga kalau aku membawa kamu kembali kerumahku. Itu tidak baik," kata Ajun.
"Jangan tega dong Om, sama aku. Kamu nggak kasihan apa, aku sedang kesusahan ini," ucap Gadis.
"Baiklah, aku akan menolongmu. Tapi, dengan satu syarat," ucap Ajun.
"Apa?" tanya Gadis.
"Kalau kamu mau ikut pulang bersamaku dan menginap di rumahku, kamu harus menceritakan yang sebenarnya. Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu?" tanya Ajun.
"Tidak ada tapi-tapian, kalau kamu tidak mau menceritakannya... ya sudah, aku tinggal." Ajun pun langsung melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat tersebut.
Gadis dengan cepat menyusul Ajun dan memeluk Ajun dari belakang, "jangan tinggalin gadis Om, Gadis takut."
Gadis langsung mengeratkan pelukannya, sedangkan Ajun merasa makin gelisah. Karena Gadis memeluk erat pinggang Ajun dan Hal itu membuat Ajun merasa risih.
Ajun dengan cepat melepaskan pelukan tangan Gadis, lalu dia pun membalikkan badannya dan kini Mereka pun saling tatap.
"Baiklah, sekarang kita pulang kamu ikut bersamaku. Tapi ingat, kamu harus menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi,'' kata Ajun.
"Iya, Om. Ucap Gadis pasrah.
Akhirnya Ajun pun membawa Gadis pulang bersamanya, sepanjang perjalanan pulang Gadis terus saja memeluk lengan kekar Ajun.
Sebenarnya dia merasa risih, namun rasa iba di hatinya lebih menguasai dirinya. Akhirnya Ajun pun membiarkan Gadis bertingkah semaunya, yang penting dia merasa nyaman pikirnya.
Pukul 10.00 malam, Ajun pun telah tiba di depan rumahnya. Saat dia melihat kearah Gadis, ternyata dia tengah tertidur dengan sangat pulas.
Tangannya tetap memeluk tangan Ajun dan kepalanya dia sandarkan di pundak Ajun. Saat Ajun hendak menarik tangannya, Gadis malah makin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Hal itu membuat Ajun kaget, karena dia merasakan sesuatu yang begitu kenyal menempel di tangannya.
"Ya Tuhan! Bocah ini benar-benar menguji imanku," ucap Ajun lirih.
Dengan perlahan Ajun melepaskan pelukan tangan Gadis, lalu dia berusaha untuk membangunkan Gadis. Ajun menepuk pundak Gadis dengan lembut.
"Hey! Bangun," ucap Ajun.
Gadis pun langsung menggeliatkan tubuhnya, lalu dia mengucek matanya yang terasa begitu berat.
"Sudah sampai ya, Om?" tanya Gadis setelah melihat sekelilingnya.
"Sudah," ucap Ajun.
Ajun langsung turun dari mobil tersebut, begitupun dengan Gadis. Dia ikuti turun dan mengekori langkah Ajun dari belakang, Ajun langsung langsung masuk ke dalam rumahnya.
Tempat pertama yang dia tuju adalah dapur, karena dia ingin mengambil kotak P3K, sapu tangan dan juga es batu.
Gadis yang melihat apa yang sedang dilakukan oleh Ajun terlihat kebingungan, dia bingung harus melakukan apa.
Karena Tuan rumahnya belum mempersilahkan dirinya, Gadis pun hanya bisa mengikuti Ajun sambil melihat apa saja yang dilakukan oleh lelaki dewasa itu.
"Duduklah," ucap Ajun setelah mendapatkan apa yang dia cari.
Gadis pun langsung menarik salah satu kursi yang ada di ruang makan tersebut, lalu duduk dengan anteng.
Ajun dengan cepat mengambil es batu dan mengompreskannya pada luka Gadis. Gadis hanya diam saja melihat Ajun yang begitu telaten mengobati lukanya.
Setelah mengompres luka di wajah Gading, Ajun tiba-tiba saja berjongkok di hadapannya. Gadis pun. jadi salah tingkah dibuatnya.
"Om, mau apa?" tanya Gadis.
"Mau ngompres kaki kamu, ngga lihat kaki kamu bengkak kaya gitu?" tanya Ajun.
"Lihat, Om. Itu tadi Gadis jatuh dari motor," kata Gadis.
Setelah mengingat jika dia sempat terjatuh dari motor, mata Gadis pun langsung membulat sempurna. Lalu, dia pun menggoyang-goyangkan kedua bahu Ajun dengan sangat kencang.
"Apa sih?" tanya Ajun.
"Si kitty, Om." Gadis terlihat ingin menangis.
"Siapa si Kitty?" tanya Ajun.
__ADS_1
"Motor aku, Om. Masih di gudang, Kitty aku titipkan sama Mandor yang ada di sana." Mata Gadis terlihat berkaca-kaca mengingat motor kesayangannya.