
Gia terlihat kesal, karena Ajun dan juga Gadis terlihat begitu mesra. Gadis dengan telaten menyuapi Ajun, begitu pun dengan Ajun, dia juga menyuapi Gadis dengan sangat telaten.
Mereka benar-benar sepasang pengantin baru yang terlihat sangat bahagia. Hal itu benar-benar membuat Gia iri hati, karena dia tidak bisa bermesraan dengan istrinya saat ini.
Selain karena tidak bisa berhubungan di atas ranjang, waktu Elsa juga habis untuk mengurus Baby Adelia dan juga kedua putri mereka yang sudah mulai besar dan banyak keperluannya.
Gia pun jadi berpikir jika dia harus mencari Babysitter secepatnya, agar waktu Elsa tak terlalu habis untuk mengurus ketiga putrinya.
Walaupun dia belum bisa mendapatkan haknya kembali sebagai seorang suami, namun setidaknya dia bisa lebih mempunyai banyak waktu bersama dengan istrinya tersebut.
Ajun sudah terlihat menyelesaikan makan siangnya, Gadis sudah merapikan bekas makan siang mereka bertiga.
Gia terlihat melamun sambil menatap kosong ke arah jendela, entah apa yang dia pikirkan, Ajun dan Gadis pun tak tahu.
Ajun dan Gadis saling pandang karena sedari tadi Gia hanya melamun saja, bahkan makanan yang dia makan pun hanya sedikit, dia seperti tak berselera untuk makan
Bahkan makin lama dia makin terlihat murung dan wajahnya terlihat sangat sedih, Ajun pun langsung menghampiri Gia dan menepuk pundaknya dengan pelan.
Gia pun seakan tersadar dari lamunannya, dia langsung menatap wajah Ajun dengan lekat.
"Ada apa? Kenapa mengagetkan aku?" tanya Gia.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, kenapa Tuan terlihat melamun sedari tadi? Kenapa wajah Tuan terlihat lesu dan tidak bergairah?" tanya Ajun.
Gia terlihat mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan, lalu dia pun membalas tatapan Ajun dengan lekat.
"Aku sedang bingung, sekarang anakku sudah 3. Waktu Elsa seakan habis untuk mengurus ketiga putri kami, sedangkan waktu untukku menjadi lebih sedikit," adu Gia pada Ajun.
Sebenarnya Ajun ingin sekali tertawa mendengar curhatan dari Gia, namun dia tak bisa membuat Gia kecewa.
Jadi, dia pun berusaha untuk memberikan bos sekaligus orang yang sudah dia anggap adik itu sebuah solusi.
"Kalau begitu Tuan carilah seorang pengasuh yang bisa membantu mengurus Baby Adelia, biar waktu Elsa tak tersita banyak," saran Ajun.
"Ya, itu juga yang sedang aku pikirkan. Namun Elsa menolak, dia berkata jika dia mampu mengurus Baby Adelia sendirian," jawab Gia lesu.
__ADS_1
Gia memang sangat ingin mencarikan seorang pengasuh untuk Baby Adelia, namun dia juga takut jika Elsa akan marah kepadanya. Dia takut jika Elsa merasa tak akan percaya lagi kepada dirinya, karena tak mengindahkan keinginannya.
"Tak apa, Tuan. Pergilah ke yayasan, carilah seorang pengasuh yang sudah berpengalaman. Kalau Elsa bertanya, bilang saja ini untuk memperingan pekerjaan Elsa. Agar Elsa tak terlalu capek dalam menjalani kesehariannya," ucap Ajun menjelaskan.
"Apa Elsa tidak akan marah jika aku melakukan hal itu?" tanya Gia.
"Tentu saja tidak, Tuan. Bilang saja jika itu adalah salah satu bentuk kasih sayang Tuan untuk Elsa, karena wanita juga membutuhkan waktu luang. Bahkan Elsa yang sudah mempunyai tiga anak pun mempunyai hak untuk memanjakan dirinya, semisal untuk pergi ke salon," kata Ajun.
"Apa benar dia tidak akan marah?" tanya Gia lagi.
"Tidak akan, Tuan. Justru Elsa akan merasa lebih diperhatikan jika Tuan mengatakan hal seperti itu, apalagi jika Tuhan memberikan Elsa waktu untuk memanjakan dirinya," ucap Ajun lagi.
Gadis yang mendengarkan penuturan suaminya langsung tersenyum penuh arti, dia merasa sangat bahagia karena mendapatkan pria matang seperti Ajun.
Ajun dirasa sangat perhatian dan juga pengertian, bahkan setelah hampir dua minggu mereka menikah, Ajun tak pernah membahas tentang di mana mereka akan tinggal.
di seakan memberikan Gadis waktu untuk tinggal di rumah Tuan Alfonso dan mendekatkan diri kepada Dady kandungnya dan juga pak Galuh, lelaki paruh baya yang sudah membesarkan Gadis dari semenjak hari pertama Gadis dilahirkan.
"Baiklah, akan kucoba. Lalu sekarang aku harus kemana?" tanya Gia.
Mendengar perkataan Ajun, dahi Gia terlihat mengernyit dalam. Dia merasa heran dengan kalimat larangan yang diucapkan oleh Ajun tersebut.
"Memangnya kenapa kalau pengasuh yang masih muda? Bukannya bagus karena dia akan terlihat lebih gesit dan juga catatan ya?" tanya Gia mengutarakan pendapatnya.
"Yang lebih muda belum tentu lebih gesit, justru biasanya yang lebih muda itu akan banyak tingkah dan berlaku semaunya. Bahkan sekarang sudah banyak kejadian pengasuh muda yang merayu bosnya sendiri," ucap Ajun menakuti.
"Wah, kalau begitu aku mau nyari yang lebih tua saja biar lebih aman," jawab Gia.
"Ya, Tuan benar. Jaman sekarang sudah banyak yang nekat dari Babu ingin menjadi Ratu, mereka mau menghalalkan segala cara agar bisa hidup layak dan bisa membanggakan diri di depan orang lain," ucap Ajun.
"Wah, aku baru tahu kalau ada yang seperti itu," jawab Gia.
'' Ya, dia dan Tuan harus lebih waspada," kata Ajun.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Oh ya, apakah kamu tahu di mana yayasan yang bagus?" tanya Gia.
__ADS_1
" Tentu saja aku tahu, tunggu sebentar," jawab Ajun.
Ajun pun segera bangun dan berjalan menuju meja kerjanya, di sana ada kartu nama yang dia butuhkan. Setelah itu, dia pun memberikan kartu nama tersebut kepada Gia.
Gia tersenyum senang dan lalu mengambilnya dari tangan Ajun, tidak sia-sia pikirnya Tuan Dirja dulu mempekerjakan Ajun, karena Ajun memang selalu bisa diandalkan.
"Terima kasih, aku pergi dulu. Aku menyerahkan semua tanggung jawabku kepadamu," ucap Gia sebelum dia pergi.
Mendengar ucapan Gia, Ajun hanya tersenyum mencibir kepada bosnya itu. Karena pada kenyataannya, dia memang sering tidak masuk kerja dan selalu melimpahkan kuasanya kepada Ajun.
"Ya, memang selalu seperti itu," jawab Ajun.
Gia tertawa, setelah itu dia pun langsung pergi dari ruangannya. Dia berjalan dengan tergesa lalu pergi menuju yayasan yang sudah diberitahukan oleh Ajun.
Sampai di sana dia pun langsung menemui kepala Yayasan tersebut dan meminta seorang pengasuh untuk Baby Adelia.
"Maaf mengganggu, Nyonya. Saya kesini ingin meminta pengasuh untuk putri saya yang baru berusia dua belas hari," ucap Gia.
"Tunggu sebentar," jawab kepala yayasan tersebut.
Kepala yayasan tersebut nampak masuk ke dalam suatu ruangan yang entah ruangan apa, Gia pun tak tahu.
Tak lama kemudian, pengurus yayasan tersebut datang bersama tiga orang wanita 3. Kepala yayasan tersebut memberikan pilihan kepada Gia, wanita yang pertama masih gadis berusia dua puluh tahun.
Pilihan kedua seorang wanita yang terlihat masih bersuami, dia berusia 27 tahun. Dia sengaja merantau meninggalkan anak dan juga suaminya di kampung, dia sengaja berangkat ke ibu kota untuk mencari nafkah.
Pilihan ketiga ada janda yang berusia 40 tahun, dia menjadi janda bukan karena bercerai dengan suaminya.
Namun dia ditinggalkan pergi oleh suaminya menghadap Sang Khalik, dia meninggalkan anak perempuan yang masih bersekolah SMK di kampungnya.
Dia sengaja merantau ke ibukota, dia ingin mencari pekerjaan untuk membiayai pendidikan anaknya yang dirasa sangat besar menurutnya.
Akhirnya setelah menimbang-nimbang dengan penuh perkiraan, akhirnya dia pun memutuskan untuk memilih janda yang berusia 40 tahun tersebut.
Karena menurutnya, dia terlihat lebih dewasa dan orangnya terlihat lebih kalem. Setelah mendapatkan kesepakatan, akhirnya Gia pun meninggalkan Yayasan tersebut. Dia membawa pengasuh berusia 40 tahun tersebut dari Yayasan itu.
__ADS_1