Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Terhalang


__ADS_3

Gia sudah terlihat sehat, bahkan dia sudah bisa beraktifitas kembali. Sayangnya, dia menjadi sosok yang menyebalkan untuk Elsa.


Karena lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu, sering berulah. Meminta makanan yang sulit untuk didapat, namun tak pernah dia makan.


Hanya cukup dengan mencium wanginya, lalu mencobanya satu gigitan. Hal itu membuat Elsa geram, karena sudah dapat dipastikan jika Elsa atau para pelayan rumah'lah yang harus menghabiskan makanan yang Gia pesan.


Sungguh benar-benar menyabalkan, pikir Elsa. Kalau Elsa tak menuruti, Gia akan merajuk layaknya anak kecil.


Oh Tuhan, rasanya Elsa ingin bersembunyi saja di dalam kapal hantu milik Playing Dutchman. Agar Gia tak dapat Menemukannya, dia merasa lelah dan juga bercampur marah.


"Sayang..." panggil Gia.


Gia masih asik memeluk Elsa, dia tak mau melepaskan istri cantiknya itu. Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


Seharusnya, Gia sudah berangkat ke kantor. Karena banyak berkas yang harus di tanda tangani oleh Gia.


Tuan Dirja pun sudah mulai aktif bekerja kembali di studio miliknya, karena ada penyanyi pendatang baru yang berbakat dan dia ingin mempromosikannya.


Karena saat Tuan Dirja mendengar secara langsung, suaranya terdengar klasik untuk usia lima belas tahun.


"Mas, jangan begini terus. Pegel akunya, lagian kamu harus ke kantor. Kak Ajun sudah menelpon, katanya banyak berkas yang menunggu." Elsa berusaha untuk melepaskan pelukan Gia.


"Suruh aja Ajun ke rumah, Sayang. Mas tidak mau kemana-mana hari ini. Mas mau melukin kamu aja sambil mencium tubuh kamu. Wangi, Yang. Kamu wangi banget," kata Gia.


Elsa langsung memutar bola matanya, dia merasa jengah dengan kelakuan Gia yang semakin hari benar-benar semakin menyebalkan.


Akan tetapi, Elsa pun tidak bisa membantah. Akhirnya Elsa pun mengambil ponselnya dan menelpon Ajun untuk datang ke kediaman Pranadtja.


Ajun sebenarnya merasa kurang suka, jika dia harus pergi ke rumah Gia hanya untuk meminta tanda tangannya.


Karena terus terang, perusahaan milik keluarga Pranadtja saat ini sedang ada di puncak popularitas.


Begitu banyak hal yang harus Ajun kerjakan, dia sangat sibuk dan Ajun sangat kerepotan menghandle semua masalah yang ada di kantor.


Akan tetapi, dia bisa berkata apa-apa, karena dia hanya bawahan. Tentu saja atasan yang berkuasa ,dia hanya bisa mengiyakan perkataan majikannya.


"Sayang," panggil Gia. Elsa hanya diam saja, "sudah lama, Yang. Aku ngga negokin Babby kita, boleh ya, Sayang?" tanya Gia.

__ADS_1


Hampir satu bulan Gia hanya bisa berbaring menikmati rasa mual, muntah dan pusing yang dideritanya.


Tentu saja, senajata laras panjangnya begitu merindu ingin menembakan pelurunya.


"Baru juga enakan, Mas. Nanti kalau lagi pas enak-enaknya, terus kamu pengen muntah gimana?" tanya Elsa.


Sebenarnya itu hanya alasan saja, karena Elsa merasa tidak ingin melakukannya bersama Gia. ini masih pagi, pikirnya. Kenapa pikiran Gia malah mengarah ke sana?


Lagi pula, dia meminta Ajun untuk datang ke rumah. Nanti kalau misalkan sedang pas enak-enaknya tiba-tiba Ajun datang kan nggak seru, pikiran Elsa.


"Ngga bakalan, Sayang. Mas udah sembuh, Mas pengen banget ini." Gia menyusupkan tangannya ke dalam baju Elsa, lalu dia meremat benda kenyal yang sangat dia ridukan.


"Kok, nakal sih, Mas?" tanya Elsa.


"Mas udah pengen banget, Yang. Kalau udah pengen banget kaya gini, pasti ngga bakal lama." Gia masih mencoba bernegosiasi dengan istrinya.


"Oke, awas kalau lama. Pokoknya aku nggak mau," kata Elsa.


Gia tersenyum penuh kemenangan, dia langsung bangun dan melepaskan semua kain yang menutupi tubuh istrinya. Begitupun dengan kain yang melekat di tubuhnya.


Gia terlihat begitu bersemangat, dia yang tak sabar langsung memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Elsa menggeliat dan meremang seketika.


Gia mengelus milik Elsa yang terlihat sudah sangat basah, Gia pun tersenyum lalu dia berbisik tepat di telinga Elsa.


"Kamu udah siap banget rupanya, Mas masukin ya?" tanya Gia.


Elsa langsung menganggukan kepalanya, dia memang sudah sangat siap menerima tembakan dari senajata laras panjang milik Gia.


Dia juga sudah siap untuk... ah, Elsa merasa dirinya sudah gila. Baru saja mengatakan dia tak ingin melakukannya, sekarang malah dia yang begitu bersemangat untuk dimasuki.


Gia tersenyum senang, lalu dia pun mengarahkan miliknya ke dalam liang kelembutan milik istrinya.


Namun, baru saja milik Gia mulai menerobos masuk, Gia harus rela menghentikannya. Karena pintu kamarnya ada yang mengetuk dari luar.


"Ck, siapa?" tanya Gia.


"Saya, Ajun." Jawab ajun.

__ADS_1


Wajah Gia terlihat sangat kesal, dia langsung turun dari tubuh istrinya. Kemudian dia pun mengambil kimono mandi dan segera membukakan pintunya.


Tentunya setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya.


"Ada apa?" tanya Gia setelah pintunya terbuka.


Bukannya menjawab, Ajun malah memindai penampilan Gia. Ajun tersenyum saat sadar Gia hanya memakai kimono mandi saja, dalam keadaan terbalik pula.


"Jangan senyum-senyum! Cepat katakan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Gia penuh penekanan.


"Ada lima berkas yang harus di tanda tangani sekarang juga, maaf mengganggu." Kata Ajun.


Gia mengambil berkas tangan Ajun, kemudian mengajak Ajun untuk duduk di kursi yang berada di depan kamar Gia.


"Ngga usah minta maaf, lagian pisangnya juga udah keburu layu." Gia memeriksa berkas tersebut dengan wajah ditekuk.


"Pisang?" Gumam Ajun dengan senyum tertahan.


"Bolpoinnya mana?" tanya Gia.


Ajun pun dengan cepat mengambil bolpoint dan menyerahkan'nya kepada Gia. Gia pun langsung menerimanya dan membunuhi tanda tangan di setiap berkas yang sudah dia periksa.


"Apa ada lagi?" tanya Gia.


"Tidak ada, sudah cukup. Namun, besok anda harus hadir. Karena ada investor dari negara A, penting dan tak bisa diwakilkan." Ajun merapihkan berkas yang sudah ditanda tangani oleh Gia.


Lalu, Ajun segera berdiri dan membungkuk hormat pada Gia.


"Terima kasih, atas waktunya." Ajun segera pergi dari kediaman Pranadtja, dia tahu jika Gia ingin bersenang-senang dengan istrinya.


Walaupun Ajun memang masih jomblo, tetapi dia tahu apa yang akan dilakukan oleh sepasang suami istri ketika sedang berduaan di dalam kamar.


Selepas kepergian Ajun, Gia langsung masuk kedalam kamarnya. Gia terlihat sangat kesal, lalu dia merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh Elsa dengan sangat erat.


Elsa merasa heran, padahal tadi suaminya begitu menggebu. Seakan ingin memakannya secara utuh, tetapi kini dia malah terlihat lesu.


Elsa langsung membalikkan badannya, kemudian menatap wajah suaminya dengan intens.

__ADS_1


"Mas, kenapa?" tanya Elsa dengan raut wajah penasaran.


"Mas kesel sama Ajun, gara-gara dia datang, milik Mas jadi tidur lagi." Gia terlihat menghembuskan napas berat.


__ADS_2