Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Mencari Bukti


__ADS_3

Melani nampak turun dari mobil yang dia tumpangi, kemudian dia pun segera melangkahkan kakinya menuju hotel berbintang tersebut.


Ajun dan Gadis sempat saling lirik, kemudian mereka pun terlihat sedih. Menurut mereka Aldino terlalu tega, padahal yang Ajun tahu Aldino anak yang sangat baik bahkan saat dulu Ajun tinggal bersama Aldino pun dia merupakan mahasiswa yang sangat berprestasi.


Dia juga sering ikut banyak kegiatan kampus dan juga kejuaraan tingkat internasional, sungguh miris pikirnya jika Aldino bisa berubah menjadi seperti ini.


Saat Melani hendak masuk ke dalam hotel berbintang tersebut, seorang security langsung menghampiri Melani.


"Maaf, Nona. Kartu undangannya mana?" tanya security tersebut.


Melani pun terlihat tergagap, dia bingung mau menjawab seperti apa. Karena pada kenyataannya dia pun memang tidak memiliki kartu undangan tersebut.


Melani terlihat dilema, jika dia tak masuk masih ingin melihat apa yang dilakukan oleh suaminya bersama dengan nyonya Mariene.


Namun untuk masuk pun dia yak punya tiket. Dengan cepat Melanie memutar otaknya, lalu sebuah ide pun terbersit begitu saja.


"Maaf, Pak. Saya tidak mempunyai undangannya, namun saya kesini karena ditelepon oleh asistennya Nyonya Mariane. Katanya beliau sakit perut dan sekarang saya disuruh untuk mengantarkan obat sakit perut tersebut," ucap Melani beralasan.


Mendengar ucapan Melanie, security tersebut tak langsung percaya. Dia pun meminta buktinya kepada Melani, dia menanyakan obat magh tersebut.


Beruntung Melanie memang mempunyai riwayat magh, jadi dia selalu membawa kemana pun obat magh tersebut.


"Ini, Pak. Obatnya," ucap Melani.


Security tersebut nampak memperhatikan obat tersebut dengan seksama, Kemudian. dia pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kamu boleh masuk. Tapi ingat, jangan melakukan keributan," ucap tegas Security tersebut.


"Iya, Pak. Siap, kalau boleh saya tahu di ruangan mana ya Nyonya Mariene berada?" tanya Melani sopan.


"Di ballroom hotel," ucap security tersebut.


"Terima kasih banyak ya pak," ucap Melani.


"Sama-sama, Neng," jawab security tersebut.


Melanie terlihat mengelus dadanya, kemudian dia pun langsung melangkahkan kakinya menuju ballroom hotel tersebut.

__ADS_1


Melani berjalan dengan perlahan, matanya sesekali melirik kesana-kemari. Takutnya Aldino dan juga Nyonya Mariane menyadari kehadirannya.


Tiba di ballroom hotel, Melani nampak mengedarkan pandangannya. Keberuntungan seolah berpihak padanya.


Melani melihat Aldino dan Nyonya Mariane yang terlihat memisahkan diri dari tamu lainnya, mereka terlihat berada di pojok ruangan tersebut


Melani pun segera mendekati mereka, namun tetap menjaga jarak aman. Tak lama kemudian, pasangan selingkuh itu pun pergi dari sana menuju taman Hotel.


Melanie pun berjalan dengan perlahan dan selalu mengikuti kemanapun langkah sepasang selingkuhan itu.


Saat tiba di taman, Nyonya Mariane terlihat mengedarkan pandangannya. Tak lama kemudian, Nyonya Mariane terlihat mengajak Aldino untuk duduk di sebuah bangku taman.


Di sana terlihat gelap, namun keberadaan mereka masih bisa terlihat karena adanya remang cahaya dari lampu taman tersebut.


Melanie pun mendekatkan diri ke arah pasangan selingkuh itu. Lalu, dia memasang kupingnya baik-baik karena samar-samar dia mendengarkan Nyonya Mariane dan Aldino yang sedang berbicara.


"Jadi, kapan kamu menceraikan istri kamu, Al?" tanya Nyonya Mariane.


"Bersabarlah, Sayangku. Walau bagaimanapun juga, Melanie adalah ibu dari kedua anakku dan dia juga begitu dekat dengan Mamah. Tak mungkin aku menceraikannya begitu saja," ucap Aldino.


"Tapi aku sudah bosan dengan si tua bangka, John. Dia tak pernah bisa memuaskan diriku seperti kamu, aku ingin segera menikah dengan kamu. Lagi pula semua aset milik John sudah aku balik nama menjadi milikku," ucap Nyonya Mariene.


Lelaki yang merupakan suaminya, lelaki yang bukan pasangan halalnya. Melani pun jadi bertanya-tanya, sudah sejauh mana hubungan mereka berdua.


"Kamu itu jangan gegabah untuk bercerai dengan Tuan John, kan kamu tahu, Sayang. Dia adalah tambang harta kamu, lagi pula yang terpenting kita masih bisa terus bersama walaupun kita terikat pernikahan," ucap Aldino seraya mencuil dagu Nyonya Mariene.


Hati Melanie terasa diiris sembilu mendengar ucapan dari Aldino, sebenarnya apa arti dirinya di mata Aldino? Kenapa dia begitu tega berselingkuh dengan wanita yang lebih tua darinya tersebut?


Apakah murni karena harta? Atau karena Aldino memang sangat menyukai wanita tersebut?


"Tapi aku bosan, aku ingin memilikimu seutuhnya. Aku capek terus bersembunyi seperti ini, main kucing-kucingan tak jelas," ucap protes Nyonya Mariane.


"Bersabarlah, Sayang. Nanti kita akan mencari jalan keluarnya," ucap Aldino.


Nyonya Mariane terlihat bangun dan duduk di atas pangkuan Aldino, dia terlihat begitu nakal. Memeluk Aldino dengan erat lalu menarik wajah Aldino dan menyandarkan kepala Aldino di dadanya.


Malam ini Nyonya Mariene terlihat memakai gaun pendek di atas lutut dengan belahan dada yang sangat rendah, sehingga buah kenyal milik Nyonya Mariane terlihat hampir menyembul dari pengamannya.

__ADS_1


Kepala Aldino menyandar di dada Nyonya Mariane, dia terlihat sangat nyaman. Aldino bahkan terlihat memainkan dada Nyonya Mariane.


Dia juga terlihat menggigit puncak dada Nyonya Mariene yang hampir terlihat karena baju yang begitu seksi itu kini ditarik paksa oleh Aldino dengan tangannya.


Nyonya Mariene terlihat begitu menikmatinya, bahkan dia terus saja bergoyang di atas pangkuannya Aldino walaupun masih berbusana lengkap.


"Dasar wanita penggoda, sepertinya dia Hyper. Makanya di mana saja kalau mau langsung jadi, ngga tahu tempat. Kamu pun sama, Mas. Apakah kamu tak pernah mengingat kedua anak kamu saat melakukan hal itu?" Melani benar-benar merutuki tindakan kedua orang dihadapkannya itu.


Melani terlihat limbung melihat kelakuan dua manusia tersebut, karena semakin lama Nyonya Mariene terlihat tak terkendali.


Bahkan dia terlihat membuka resleting bagian bawah milik Aldino hingga miliknya terlihat berdiri dengan tegak, lalu wanita itu menyingkap bagian bawahnya dan tak lama dia menyatukan tubuhnya.


Mata mereka terlihat terpejam, mulut mereka terlihat terbuka. Tangan Aldino terlihat mencengkram bokong Nyonya Mariene, sedangkan kedua tangan wanita itu mencengkram erat pundak Aldino.


Melani langsung menutup mulutnya rapat-rapat, dia berusaha untuk tidak bersuara. Namun tubuhnya benar-benar limbung, hingga tanpa sadar tubuhnya menabrak meja taman.


Kedua orang yang ada di hadapannya terlihat berhenti, mereka terlihat kaget. Dengan cepat Melani berjongkok agar tidak ketahuan, dia bersembunyi di bangku taman.


"Apa itu, Yang?" tanya Aldino, suaranya menggambarkan rasa keterkejutan.


"Paling juga kucing," ucap Nyonya Mariene, lalu wanita itu melanjutkan goyangannya yang terlihat begitu heboh.


Melani lalu menggunakan kesempatan itu untuk kabur, tentu saja dia tak ingin suaminya itu tahu jika dirinya telah memergoki kelakuan suaminya itu.


Sampai di luar hotel berbintang tersebut, Melani yang tak bisa menahan air matanya langsung berjongkok sambil menangis di pinggir jalan.


"Tega kamu, Mas. Jika kamu tega seperti ini padaku dan juga anak-anak, aku minta maaf karena aku tak bisa bertahan lagi. Cukup sudah aku mempertahankan rumah tangga ini, padahal aku sangat mencintai kamu." Gumam Melani.


Melani lalu melihat ponselnya yang sedari tadi masih dalam mode video, dia segera mematikannya. Sesekali dia terlihat menyeka air matanya dengan punggung tangannya, hingga sebuah tangan tiba-tiba saja terulur sambil memberikan sebuah sapu tangan padanya.


"Pakailah sapu tangan ini," ucapnya.


Melani langsung mendongakkan kepalanya, lalu dia menerima sapu tangan tersebut.


"Terima kasih," kata Melani.


"Sama-sama, segeralah untuk pulang. Tak baik seorang wanita cantik menangis di pinggir jalan," ucapnya seraya pergi begitu saja.

__ADS_1


Melani pun langsung bangun dan segera pergi untuk mencegat taksi.


__ADS_2