Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Setuju


__ADS_3

Setelah mendapat restu dari Mom Clara, wajah Anita terlihat begitu sumringah. Pulang menuju rumahnya pun terlihat begitu riang.


Sebenarnya ada permintaan mom Clara yang membuat Anita sedikit ragu untuk menyetujuinya, mom Clara meminta agar Anita dan juga Dokter Irawan untuk menikah terlebih dahulu di gereja.


Hal itu harus segera dilakukan agar tidak mendapatkan gangguan dari Clarista, karena yang Clarista tahu dokter Irawan dan juga Anita akan menikah minggu depan.


Menurut mom Clara, minggu depan tinggal mengadakan resepsi pernikahannya saja. Jika Clarista membuat onar pun, Anita dan Dokter Irawan sudah sah sebagai suami istri.


'Aku akan tanyakan terlebih dahulu pada Kakak dan juga Mamaku,' jawab Anita sebelum dia pulang dari rumah dokter Irawan.


"Bicaralah dengan mama dan juga kakakmu, jika mereka setuju kabari aku." Dokter Irawan mengelus lembut puncak kepala Anita.


"Iya, bawel!" kata Anita seraya tersenyum.


"Kalau kakak dan mamamu setuju, besok selepas membeli baju pengantin kita langsung ke greja saja," ajak Dokter Irawan.


"Iya, calon imamku," goda Anita.


"Jangan menggodaku, nanti aku perawanin baru tahu rasa kamu," kata Dokter Irawan.


"Uuuh, takut." Anita langsung tertawa.


Sebenarnya Anita pun takut jika dokter Irawan benar-benar akan mengambil paksa mahkotanya,namun dia percaya jika dokter Irawan tidak akan melakukan hal itu.


Dia percaya dengan janji yang diucapkan oleh dokter Irawan, jika dokter Irawan tidak akan pernah meminta haknya setelah menikah sebagai suami, sebelum Anita sendiri yang mengizinkannya.


"Aku turun dulu, kamu pulanglah dulu. Nanti aku kabari," pamit Anita sebelum turun dari mobil dokter Irawan.


"Ya," jawab Dokter Irawan.


Anita pun terlihat bersiap untuk turun, namun saat dia handak membuka pintu mobil, dokter Irawan terlihat mencekal lengan Anita.


"Tunggu sebentar," ucap Dokter Irawan.


Anita pun membalikan tubuhnya, dia menatap dokter Irawan dengan tatapan penuh tanya.


"Ada apa?" tanya Anita.


Tanpa Anita duga, dokter Irawan langsung mengecup kening Anita dengan sangat lembut.


"Hati-hati, kalau ada apa-apa langsung kabari aku. Apa lagi kalau Clarista yang gangguin kamu, jangan sungkan untuk bicara sama aku," ucap dokter Irawan.


Untuk sesaat Anita masih terdiam karena kaget dengan kecupan yang diberikan oleh dokter Irawan, namun beberapa detik kemudian dia terlihat tersenyum kaku lalu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Anita langsung turun dari mobil dokter Irawan, kemudian dia pun langsung berlari untuk masuk ke dalam rumahnya.


Anita terlihat malu jika harus menatap wajah dokter Irawan kembali, dia pun memutuskan untuk masuk kedalam rumah tanpa melihat lagi ke arah dokter Irawan.


Melihat tingkah Anita, dokter Irawan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ternyata seru juga pikirnya, berpacaran dengan anak ABG.


"Dasar bocah!" ucapnya.


Setelah mengatakan hal itu, dokter Irawan pun langsung pergi dari kediaman Anita. Tentu saja dia harus pulang menuju rumahnya, karena ada hal yang harus dipersiapkan oleh dirinya bersama dengan mom Clara.


Tiba di dalam rumahnya, ternyata mamanya sedang menonton TV di ruang keluarga. Di sana juga ada Melani dan juga Andrew yang sedang asik menikmati kebersamaan mereka di sore hari.


Mereka bertiga tampak akrab, saling bercanda dan membicarakan hal-hal tentang apa yang mereka tonton.


"Ehm, Ma, Kak. Boleh kita bicara sebentar?" kata Anita.


"Tentu, Sayang. Kemarilah!" Mama Andrew terlihat menepuk sofa kosong di sampingnya.


Anita pun langsung menghampiri mamanya dan memeluknya dengan erat, dia juga menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu.


"Ada apa?" tanya Andrew penasaran.


Dia bisa melihat jika adiknya tersebut sedang ingin mengungkapkan sesuatu hal, namun terlihat sungkan.


"Begini, Kak. Dokter Irawan mengajakku untuk menikah esok hari, karena dia takut jika Clarista akan menggagalkan rencana pernikahan kami. Jadi, minggu depan kita hanya akan mengadakan resepsi saja," jelas Anita.


Mendengar penuturan adiknya, Andrew terlihat menghela napas berat. Dia tidak menyangka jika adiknya akan secepat ini menikah.


Padahal kuliah saja belum lulus, dia jadi khawatir jika adiknya tidak akan fokus dalam menjalani kuliahnya jika sudah menikah nanti.


Karena Andrew sangat tahu, jika Anita mempunyai cita-cita menjadi wanita karir walaupun sudah menikah.


"Apa itu tidak terlalu cepat? Satu minggu lagi kamu menikah saja, itu sudah terlalu cepat buat Kakak. Lalu, bagaimana dengan besok?" tanya Andrew.


Mama Andrew terlihat menatap Andrew dengan lekat, kemudian dia pun ikut berbicara kepada nak sulungnya tersebut.


"Sepertinya maksud dari dokter Irawan merupakan hal yang baik, dia hanya tidak ingin Clarista mengacaukan acara pernikahan mereka berdua," ungkap Mama Andrew.


"Heh!" terdengar helaan napas berat dari Andrew.


Melihat wajah suaminya yang seperti tidak ikhlas adiknya ada yang meminang, Melani langsung mengelus lembut punggung suaminya.


Dia berusaha untuk meyakinkan Andrew, jika dokter Irawan adalah pria yang terbaik untuk adiknya.

__ADS_1


Karena Melani pun bisa melihat ketulusan dari mata dokter Irawan, walaupun dia pernah mendengar dari Ajun, jika dokter Irawan adalah mantan Playboy.


"Apa kamu sudah siap untuk menikah?" tanya Andrew.


"Siap tidak siap sih, tapi aku yakin padanya," jawab Anita pasti.


"Dasar! Memangnya kamu sudah siap menjalani kewajiban kamu sebagai istri?" tanya Andrew.


"Tidak tahu! Yang penting jalani aja dulu, gitu kata dokter irawan. Urusan cinta bisa datang belakangan," kata Anita.


Ucapan Anita membuat Andrew, Melani dan juga mamanya terlihat geleng-geleng kepala dengan apa yang diucapkan oleh Anita.


Mereka benar-benar sadar, jika Anita ternyata belum dewasa. Namun, mereka yakin jika dokter Irawan bisa membimbing Anita dan mengarahkan Anita menjadi istri yang baik.


"Baiklah, kamu boleh menikah besok. Lagi pula besok hari sabtu, kita semua bisa berkumpul untuk menyaksikan acara pernikahan kalian," kata Andrew.


"Yes!" jawab Anita.


Setelah mendengar jawaban 'Iya' dari Andrew, Anita pun langsung bangun dan berlari menuju kamarnya. Dia ingin segera menelpon dokter Irawan dan memberitahukan kabar baik ini kepadanya.


Sampai di dalam kamarnya, Anita langsung mengambil ponselnya lalu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Kemudian, dia pun langsung menekan tombol panggil setelah menemukan kontak nomor calon suaminya itu.


"Ya, halo. Bagaimna?" tanya Dokter Irawan to the point.


"Ish, dasar bujang tua! Sapa dulu kek, calon istrinya," keluh Anita.


Setelah mengucapkan hal itu, Anita mendengar dokter Irawan yang tertawa di seberang sana.


"Kenapa tertawa?" tanya Anita.


"Baiklah, baiklah. Maafkan aku, selamat sore calon istri. Bagaimana keputusannya?" tanya Dokter Irawan.


"Iya, besok kita menikah. Apa Pak Dokter senang?" tanya Anita.


"Ya tuhan! Memang wajahku setua itu? Panggil Ayang kek, Darling kek, Mas kek, atau Baby," protes Dokter Irawan.


"Ish, Pak Dokter ngga sadar diri. Usia Pak Dokter memang sudah tiga puluh empat tahun," ceplos Anita.


"Ya Tuhan, wanita macam apa yang akan aku nikahi? Kenapa dia tak bisa menghargai perasaanku," gumam Dokter Irawan.


"Ya, halo. Pak Dokter bilang apa?" tanya Anita.


"Tidak ada," jawab Dokter Irawan seraya memutuskan sambungan telponnya.

__ADS_1


Melihat sambungan teleponnya telah terputus, Anita langsung tertawa dengan terbahak-bahak. Bahkan dia sampai memegangi perutnya yang terasa sakit.


__ADS_2