
Setelah mendengar penuturan dari Dina, Tuan Alson pun langsung mencari keberadaan VB. Dia langsung menanyakan keberadaan VB kepada petugas hotel yang bertugas membersihkan ballroom hotel tempat acara resepsi pernikahan dilaksanakan.
Beruntung petugas hotel tersebut melihat saat VB dan ke enam temannya pergi ke sebuah Bar yang ada di hotel tersebut.
Tanpa banyak bicara, Tuan Alson pun langsung melangkahkan kakinya menuju Bar yang ada di hotel tersebut.
Saat masuk kedalam Bar keadaan masih sangat sepi karena memang hari masih sangat pagi. Tuan Alson langsung bertanya kepada salah satu pelayan yang berada di sana.
"Maaf, Dek. Apakah tadi malam ada anak saya datang kesini?" tanya Tuan Alson.
Bukannya menjawab, pelayan tersebut malah menatap Tuan Alson dengan tatapan penuh tanda tanya. Tuan Alson pun tersadar dengan pertanyaannya yang dirasa salah, dia pun segera membenarkan pertanyaannya.
"Maksud saya, apakah Vabriella Bian Fahreza datang kemari?" tanya Tuan Alson.
Menyadari nama Aktor ternama yang disebutkan oleh Tuan Alson, pelayan tersebut pun langsung menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Ada, Tuan. Beliau bersama teman-temannya mabuk berat. Sekarang mereka ada di ruang privat." Jawab pelayan tersebut.
"Bisa tunjukan dimana ruangannya?" tanya Tuan Alson.
"Bisa, Tuan." Jawab pelayan tersebut.
Pelayan tersebut, langsung melangkahkan kakinya ke sebuah ruang privat yang di sewa oleh VB dan ke enam sahabatnya tadi malam.
Tuan Alson pun langsung mengikuti langkah pelayan tersebut. Saat pelayan tersebut membukakan pintu ruangan privat yang dihuni oleh VB dan ke enam temannya, mata Tuan Alson langsung membulat sempurna.
Karena dia melihat putranya yang sedang tertidur di lantai sambil memeluk temannya seperti guling.
"Astaga, VB! kamu tuh bener-bener keterlaluan," ucap Tuan Alson.
Tuan Alson langsung menghampiri putranya, dia mencoba menarik tangan VB. Akan tetapi, VB begitu kuat memeluk temannya.
Akhirnya, dia pun meminta bantuan kepada pelayan yang mengantarkannya ke sana.
"Bisa bantu, saya?" tanya Tuan Alson.
"Bisa, Tuan. Tapi, sepertinya kita membutuhkan bantuan. Karena jika saya sendiri yang mengangkat mereka, saya tidak akan sanggup, Tuan." ucap pelayan tersebut memberi saran.
Tuan Alson pun langsung mengangguk setuju, menurutnya ucapan pelayan tersebut memang lah benar adanya.
__ADS_1
"Baiklah, kamu mintalah bantuan kepada teman-temanmu. Saya akan menunggu di sini, nanti akan saya kasih kamu uang." Kata Tuan Alson.
Mendengar kata uang, wajah pelayan tersebut pun langsung berbinar. Dengan segera, dia pun melangkahkan kakinya untuk memanggil teman-temannya agar bisa membantu VB dan ke-6 temannya.
Tak lama kemudian, pelayan tersebut datang dengan membawa semua pelayan yang ada di Bar tersebut.
"Apa yang harus kami lakukan sekarang, Tuan?" tanya pelayan yang tadi.
"Antarkan mereka dengan selamat sampai ke rumah masing-masing, kalian pasti tahu siapa mereka." Tuan Alson lalu mengeluarkan uang dan memberikannya pada para pelayan tersebut.
Mereka langsung berdecak senang, karena pagi-pagi sudah mendapatkan rezeky nomplok.
"Lalu, bagaimana dengan putra anda sendiri,Tuan?" tanya pelayan tersebut.
"Tolong antarkan dia ke kamar pengantinnya," titah Tuan Alson.
"Siap, Tuan." Jawab Pelayan tersebut.
Mereka pun melaksanakan apa yang sudah diperintahkan oleh Tuan Alson, dia orang membopong tubuh VB menuju kamar pengantinnya.
Begiti pula dengan ke enam teman VB, mereka langsung diantar oleh supir taxi menuju rumah masing-masing.
Sampai di kamar, VB langsung dituntun agar tidur di atas kasur. Dina yang melihat VB dengan kondisi berantakan langsung menghampirinya.
"Ya ampun, suamiku ini bener-bener, ya!" Dina berdecak kesal melihat VB yang terlihat sangat berantakan.
"Nona, tugas kami sudah selesai. Kami permisi," ucap dua pelayan yang mengantarkan VB.
"Iya, terima kasih." Kata Dina.
Setelah kepergian dua pelayan tersebut, Dina langsung melepaskan baju pengantin VB. Saat wajahnya berdekatan dengan Wajah VB, Dian langsung mual.
Untuk sejenak dia menjauh dan meminum air putih yang berada di atas nakas, kemudian dia menelpon mertuanya agar membawakan obat untuk VB.
Nyonya Miranda yang paham pun langsung mengiyakan, setelah menelpon mertuanya. Dina kembali mendekati VB, dia membuka baju VB dengan susah payah. Karena kondisi VB yang dalam keadaan mabuk berat.
Kini tubuh VB hanya terhalang kain berbentuk segitiga saja yang melindungi miliknya. Dina segera mengambil air hangat dan juga baju santai untuk VB.
Dina mengelap tubuh VB dengan air hangat, lalu memakaikan kaos oblong dan juga celana pendek.
__ADS_1
"Kamu itu ngeropotin, Yang." Dina langsung duduk sambil menyeka keringat di dahinya.
Dina langsung bangun, dia hendak minum karena haus setelah mengurusi suaminya yang sedang mabuk itu.
Saat Dina hendak minum, pintu kamar hotel tiba-tiba terbuka. Nampaklah Nyonya Miranda yang membawa satu mangkuk sup dan juga obat di atas nampan yang dia bawa.
"Mom," panggil Dina.
"Yes, Sayang. Mom, bawakan sup sama obat biar VB cepat sembuh." Nyonya Miranda langsung menghampiri Dina dan duduk di sampingnya.
Nyonya Miranda dan juga Dina berusaha untuk membangunkan VB dan mendudukannya. Dengan sangat susah payah, mereka berdua pun akhirnya berhasil mendudukan VB.
Mata VB terlihat masih terpejam, tapi saat Dina menyuapi sup ke mulut VB, dia masih bisa mengunyah dan menelannya.
Tanpa terasa satu mangkuk sup yang Nyonya Miranda bawa pun habis tak tersisa.
"Ck, anak itu. Mabuk, tapi masih bisa makan dengan baik!" bibir Nyonya Miranda langsung maju dua senti.
"Udah, Mom. Sekarang bantu Dina, biar VB minum obat." Dia langsung mengambil obat dan langsung memasukannya ke dalam mulut VB, sedangkan Nyonya Miranda memegangi bibir VB.
Secara perlahan, Dina menuangkan sedikit demi sedikit air putih kedalam mulut VB. Hingga akhirnya, obatnya pun bisa VB telan dengan mudah.
"Awas aja entar, kalau sudah sadar pasti Mom, bakal jewer tuh kupingnya." Nyonya Miranda terlihat memelintir tangannya sendiri.
Tanpa banyak bicara, Dina langsung merebahkan kembali tubuh VB.
Walaupun terlihat kesusahan, dia tetap melakukannya. Karena walau bagaimanapun, VB kini sudah Sah menjadi suaminya.
Nyonya Miranda terlihat menyunggingkan senyumannya, dia merasa senang karena mempunyai menantu seperti Dina.
Dina dengan telaten mengurusi VB, kalau istrinya bukanlah Dina, belum tentu mau mengurusi VB yang mabuk berat seperti itu.
Bahkan tadi malam yang seharusnya menjadi malam yang sangat membahagiakan untuk pasangan pengantin baru itu, malah menjadi malam yang mengesalkan untuk Dina.
Kalau saja Nyonya Miranda yang dicuekin, sudah pasti dia akan nyamuk malam itu juga. Bukan masalah tidak mendapatkan hak sebagai seorang istri, tapi karena merasa diabaikan.
Tak ada kabar, tak ada kejelasan dan seperti tak bernilai di mata pria yang baru saja mengucapkan janji suci dengannya.
"Terima kasih, Sayang. VB memang tak salah, memilih kamu sebagai istri." Nyonya Miranda mengusap lembut tangan Dina.
__ADS_1