Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Lampu Merah


__ADS_3

Cristian tersenyum malu mendengar apa yang dikatakan oleh Gia, memang benar adanya, jika selama tiga tahun ini dia mendekati Aurelia, tak pernah sekalipun mereka bersentuhan.


Apalagi bermesraan selayaknya pasangan kekasih, mereka bersama selayaknya adik dan kakak namun saling mencinta.


"Iya, Yah. Maaf," kata Cristian.


"Ya, aku paham. Sekarang kembalilah ke kamar kalian," kata Gia.


"Ya, Ayah," jawab Aurelia dan Cristian bersamaan.


Aurelia dan Cristian langsung melangkahkan kaki mereka menuju kamar Aurelia, tiba di dalam kamar, Aurelia terlihat kikuk.


Dia tidak berani menatap wajah Cristian, Cristian tersenyum kemudian dia mengelus lembut kedua pundak istrinya tersebut.


"Jangan takut, aku adalah suamimu. Aku mencintaimu, aku tidak akan menyakitimu," kata Cristian.


Aurelia memberanikan diri untuk menatap wajah suaminya tersebut, dia pandang wajah suaminya dengan lakat, kemudian dia berkata.


"Maaf jika aku belum bisa menjadi istri yang baik, maaf jika aku belum bisa memenuhi hak kamu sebagai suami. Karena aku masih merasa sangat takut," kata Aurelia.


Walaupun dalam hatinya Cristian kecewa karena dia tidak bisa segera mendapatkan haknya, namun dia tetap berusaha menampilkan senyum terbaiknya di depan istrinya


"Tidak apa-apa, Sayang. Kita Lakukan semuanya dengan perlahan, jangan memaksakan. Kita lakukan semuanya seperti air yang mengalir," kata Cristian.


"Ya, baiklah. Terima kasih karena Kakak sudah mau mengerti, kalau begitu aku mau mandi dulu. Sudah gerah," kata Aurelia beralasan.


Padahal dia gerah karena berada dekat dengan Cristian, Cristian tersenyum kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Pergilah, nanti gantian. Aku tunggu kamu rapih," kata Cristian.


Sebenarnya dia ingin sekali mandi bersama dengan istrinya tersebut, tentunya seperti di dalam drama Korea yang sering dia tonton.

__ADS_1


Ya, walaupun lelaki, Cristian memang sangat mellow. Dia lebih suka menonton drama Korea di rumahnya, daripada keluyuran bersama dengan teman-temannya.


Terkadang, dia akan keluar hanya untuk bermain di Danau atau di taman saja. Itu merupakan hal terbaik baginya.


Satu jam kemudian.


Cristian dan juga Aurelia terlihat sedang merebahkan tubuh mereka di atas kasur yang sama, Aurelia terlihat tidur membelakangi Chmristian.


Dia benar-benar merasa deg-degan berada dekat dengan suaminya tersebut, Cristian merapatkan tubuhnya lalu melingkarkan tangannya di perut istrinya.


Perasaan Aurelia semakin campur aduk, namun dia berusaha untuk setenang mungkin.


Dia sangat sadar jika dirinya kini sudah menjadi seorang istri, jika dia berlari seperti tadi sore, pasti dia akan ditertawakan kembali, pikirnya.


"Terima kasih, Sayang. Karena kamu sudah mau menjadi istriku," kata Cristian.


"Iya, Kak." Aurelia gugup saat menjawab.


"Iya, Kak," jawab Aurelia.


Setelah mengatakan hal itu, Aurelia terlihat mencoba memejamkan matanya. Cristian terus saja mengelus lembut lengan istrinya.


Sesekali dia terlihat mengecup puncak kepala Aurelia, sebenarnya dia begitu menginginkan istrinya. Namun, dia takut jika istrinya akan kembali berlari.


Tak lama kemudian, dia mendengar napas Aurelia yang terdengar teratur. Cristian tersenyum, dia lebih merapatkan lagi tubuhnya lalu memeluk Aurelia dengan erat.


Di lain tempat.


Aurora terlihat sedang berdiri di atas balkon kamar, dia sedang menikmati semilir angin seraya menghirup wangi aroma pantai.


Sesekali dia menatap kearah langit dengan cahaya rembulan yang terlihat begitu indah, apalagi saat cahaya rembulan tersebut terlihat memantulkan cahayanya di pantai, Aurora terlihat tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Belum puas kamu berdiri di sini, hem?" tanya Kiandra seraya memeluk istrinya dari belakang.


Kiandra menunduk, lalu dia mengecup kening Aurelia dengan penuh kasih.


"Aku sangat suka tinggal di sini, suasananya terasa sangat nyaman." Aurora melerai pelukan Kiandra, lalu dia membalikkan tubuhnya.


"Terima kasih," kata Aurora seraya memeluk Kiandra dengan erat.


"Sama-sama, Sayang." Kiandra membalas pelukan Aurora, lalu dia mengangkat tubuh Aurora dan menggendongnya bak anak koala.


Aurora sempat memekik kaget, namun tidak lama kemudian dia memeluk leher Kiandra dengan erat, bahkan kedua kakinya dia lingkarkan di pinggang suaminya.


Kiandra mendongakkan kepalanya, lalu dia menarik tengkuk leher istrinya. Dia tautkan bibirnya dan dia sesap manisnya madu dari bibir istrinya.


Walaupun ini ciuman pertama untuk Aurora, namun dia berusaha untuk membalas ciuman dari suaminya.


Dia ingin menyenangkan hati suaminya, setidaknya dia tidak bisa memberikan mahkotanya malam ini, dia bisa menyenangkan suaminya dengan bersikap lebih manis.


Tiba di dalam kamar, Kiandra terlihat merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan di atas tempat tidur.


Dia mengungkung tubuh istrinya, lalu kembali dia menautkan bibirnya. Semakin lama bibirnya semakin turun ke bawah, dia kecup leher jenjang istrinya seraya membuka kancing piyama tidur milik istrinya.


Saat melihat dada istrinya yang begitu ranum, Kiandra terlihat menggigit ujung dada istrinya yang masih mengenakan pengaman.


Aurora terlihat melenguh, namun tak lama kemudian dia tersadar jika dirinya sedang datang bulan. Dia dorong wajah suaminya dengan perlahan, kemudian dia berkata.


"Kak, aku sedang datang bulan," kata Aurora mengingatkan.


Wajah Kiandra yang tadinya begitu bersemangat kini langsung terlihat sendu, dia langsung menghempaskan tubuhnya ke samping Aurora. Lalu, dia tarik tubuh istrinya dengan lembut ke dalam pelukannya.


"Tidurlah!" kata Kiandra pada akhirnya.

__ADS_1


Dia takut khilaf jika istrinya terus saja membuka matanya, menurutnya menyuruh istrinya untuk tidur adalah hal yang paling baik.


__ADS_2