
VB dengan cepat berlari hendak membantu Gia mengangkat tubuh lemah Elsa, karena Gia sendiri terlihat mau pingsan. Mungkin dia sudah sangat lelah, karena semalam mendapatkan penyiksaan dari Elias dan anak buahnya.
Tolongin bini gue.... "
Brugh!
Gia ambruk dengan Elsa yang berada di dalam pelukannya.
VB dengan cepat mengangkat tubuh Elsa dan menidurkan tubuh Elsa di kursi belakang mobil VB, agar Dina bisa membantu menjaga tubuh Elsa yang terlihat sangat lemah.
Apa lagi darah segar tak hentinya mengalir dari perut Elsa, membuat Dina kalang kabut dibuatnya. Dina dengan setia memeluk Elsa sahabat sekaligus wanita yang sudah dia anggap adiknya sendiri.
"Sa, elu harus kuat. Gue sayang sama elu, gue ngga mau kehilangan elu. Ingat, Sa. Ada twins A yang butuh elu." Dina menangis sambil memeluk tubuh Elsa, bahkan tubuhnya sudah dipenuhi oleh darah dari perut Elsa.
Nyonya Miranda terlihat memeluk Tuan Alson, sambil mengelus lembut punggungnya.
Sedangkan Lucas dan Ajun langsung mengangkat tubuh Gia dan membawanya ke dalam mobil Tuan Dirja. Tuan Dirja langsung memeluk tubuh lemah Gia.
"Kamu kuat, Nak. Kamu pasti kuat," ucap Tuan Dirja sambil menangis.
Mobil yang mereka kendarai langsung melaju menuju Rumah Sakit yang ada di sana, hampir satu jam perjalanan yang mereka lalui. Saat tiba di Rumah Sakit Lucas dan Ajun langsung meminta bantuan pada petugas medis yang ada di sana.
Gia, Tuan Alson dan Elsa pun langsung mendapatkan pertolongan, mereka langsung di bawa ke ruang UGD.
Tak lama kemudian, Gia dan Tuan Alson langsung di bawa ke ruang perawatan, sedangkan Elsa langsung dibawa keruang operasi. Karena harus dilakukan operasi pengangkatan peluru.
Nyonya Miranda dengan setia menemani Tuan Alson, Tuan Dirja menemani Gia, yang masih tak sadarkan diri.
Sedangkan Dina dan VB menunggu di depan ruangan operasi, mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Elsa. Mereka benar-benar tak menyangka jika semua ini akan terjdi pada Elsa.
"Mas, Elsa gimana?" tanya Dina.
VB langsung menarik Dina ke dalam pelukannya, mengelus lembut punggungnya dan menciumi puncak kepala istrinya.
"Tenang, Sayang. Elsa wanita yang kuat, aku yakin Tuhan akan melindunginya." Gia berusaha untuk menenangkan Dina, dia tak ingin melihat istrinya bersedih lagi.
Meskipun kenyataannya dia pun merasa sangat khawatir, beruntung Tuan Alson hanya perlu perawatan karena darahnya yang naik karena kaget. Sedangkan lukanya, hanya beberapa bagian saja di bagian wajahnya.
__ADS_1
Tiga jam berlalu, ruang operasi belum juga terbuka membuat VB dan Dina merasa sangat khawatir. Mereka benar-benar sangat takut, jika sesuatu yang tak diinginkan akan terjadi terhadap Elsa.
Di ruang perawatan Gia, lelaki itu kini masih belum sadarkan diri. Tuan Dirja masih setia menunggu putranya itu, dia sangat sedih saat memperhatikan wajah putranya yang terlihat babak belur.
Hatinya memanas, dia jadi kesal pada Elias. Dia juga merasa penasaran dengan keberadaan Elias, dia pun segera keluar dari ruangan Gia, dia ingin menanyakan Elias pada Ajun.
Setelah kepergian Tuan Dirja, Gia membuka matanya. Dia terlihat sudah sadarkan diri, dia mengedarkan pandangannya dan ternyata di sana tidak ada siapapun.
Gia yang merasa khawatir terhadap Elsa, langsung bangun dan mencari suster. Dia ingin menanyakan keadaan istrinya, bahkan Gia langsung mencabut selang infus yang menancap di tangannya.
Saat bertemu dengan suster, dia pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dia langsung menghampiri suster tersebut dan bertanya padanya.
"Maaf, Sus. Saya mau tanya, pasien atas nama Elsa Anindita Pranadtja di rawat di ruangan mana ya?" tanya Gia.
Suster tersebut terlihat diam saja, karena bingung dan tak tahu dengan pasien yang ditanyakan oleh Gia. Lalu dia pun mengingat jika beberapa jam yang lalu, ada pasien yang di bawa dengan buru-buru karena luka tembak di perutnya.
"Pasien yang di bawa karena luka tembak di perutnya, ya? " tanya Suster, Gia langsung mengangguk.
Suster tersebut langsung tersenyum dan langsung mengajak Gia untuk menemui Elsa yang kini sedang berada di ruang operasi.
Suster itu pun langsung menunjukan ruang operasi tempat pengangkatan peluru di perut Elsa dilakukan, Gia berjalan dengan tertatih.
Badan Gia rasanya remuk semua, akan tetapi dia harus segera mengetahui keadaan istrinya.
Sampai di depan ruang operasi, dia melihat Dina dan VB yang terlihat sedang saling memeluk.
"Terima kasih, Sus." Ucap Gia.
"Sama-sama, " jawab Suster tersebut.
Menyadari kedatangan Gia, VB dan Dina pun melerai pelukannya. Kemudian VB bangun dan segera menuntun Gia untuk duduk di bangku tunggu.
Dia menepuk pundak Gia beberapa kali, sebagai tanda menenangkan. Gia tersenyum kepada VB lalu bertanya tentang keadaan istrinya.
"Bagaimana dengan keadaan Elsa?" tanya Gia.
"Bersabarlah, Bro. Sudah 3 jam lebih tetapi operasinya belum juga selesai. Mungkin sebentar lagi," jawab VB.
__ADS_1
Baru saja VB berkata demikian, pintu ruang operasi tiba-tiba saja terbuka dan muncullah seorang Dokter di sana. Dina, Gia dan juga VB langsung menghampiri Dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan Istri saya?" tanya Gia khawatir.
Dokter tersebut terlihat menghela napasnya.
"Keadaan Nyonya Elsa kritis, dia koma. Beruntung pelurunya hanya menembus perutnya, kalau sampai menembus rahimnya, sudah dipastikan janin yang dia kandung tidak akan selamat." Jelas Dokter tersebut.
Gia, Dina dan juga VB langsung melotot tak percaya. Apakah mereka salah dengar? Janin? Janin apa?
"Maksud Dokter?" tanya Gia tak sabar.
Dokter tersebut terlihat mengernyitkan dahinya, "Jangan bilang kalau anda tak tahu jika istri anda tengah mengandung?"
Gia menggeleng lemah, "tidak Dok."
"Istri anda sedang mengandung, usia kandungannya baru enam minggu. " Jelas Dokter tersebut.
Tubuh Gia langsung merosot ke lantai Rumah Sakit yang terasa dingin, ada rasa senang yang menyeruak di dadanya. Karena ternyata di dalam rahim Elsa ada buah cinta mereka yang kini sedang tumbuh.
Akan tetapi, dadanya terasa sangat sesak saat mendengar Elsa koma dan keadaannya kritis. VB langsung merengkuh tubuh Gia, dia harus menenangkan lelaki yang terlihat putus asa itu.
"Elu harus sabar, Bang. Gue yakin Elsa kuat," kata VB. " Iya kan, Dok?" tanya VB.
"Ya, berdo'alah. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk Nyonya Elsa," kata Dokter.
"Lalu, kapan aku bisa menemui istriku?" tanya Gia.
"Tunggu sampai kami memindahkannya ke ruang perawatan." Jelas Dokter, VB mengangguk.
Dokter langsung kembali ke dalam ruang operasi sedangkan VB menuntun Gia agar duduk di bangku tunggu, mereka harus sabar menanti Elsa dipindahkan agar bisa melihat wajah Elsa.
+
+
Selamat sore, semoga kalian tak bosan dengan cerita yang saya buat. Semoga kalian. bahagia selalu...
__ADS_1