Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Berondong Gila


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun Melani tak juga bisa memejamkan matanya.


Dia masih saja memikirkan perlakuan Andrew terhadap dirinya, bahkan dia juga masih memikirkan semua perkataan yang terlontar dari bibir Andrew.


Dia bahkan masih bisa merasakan cecapan bibir Andrew dan juga rabaan tangan Andrew, rasanya Melani hampir gila kala memikirkan berondong tampan itu.


Melani pun jadi merasa menyesal, kenapa dulu dia berkata akan menikahi Andrew?


Ah... sepertinya yang sinting bukan Andrew, tapi dirinya. Apa lagi saat mengingat perlakuan Andrew sebelum dia pulang, rasanya Melani ingin menenggelamkan dirinya saja ke dalam lautan yang paling dalam.


"Ya Tuhan, tega sekali Mbak bilang aku sinting," kata Andrew dengan wajah sendunya.


"Eh? Bukan begitu, hanya saja aku sudah tua. Kamu cari saja wanita muda dan masih gadis, aku bahkan sudah beranak dua." Melani mencoba mencari Alasan.


"Mending aku nikah sama Mbak, yang ketahuan janda bernak dua. Di luar sana banyak loh Mbak, yang setatusnya masih perawan tapi sudah bolong duluan," kata Andrew.


Melani terlihat memutarkan bola matanya, ternyata meyakinkan Andrew itu sangatlah sulit, pikirnya.


"Andrew, please... kamu cari wanita lain saja, lagian aku takut kedua anak aku ngga mau lihat aku nikah lagi," kata Melani mencari alasan.


"Ck! Bilang saja Mbak malu kalau nikah sama pria biasa kayak aku," kata Andrew terlihat sedih.


"Tidak seperti itu juga, aku yang malu. Masa janda dua anak dapetin bujang, aku takut nanti kamu diomongin orang," ucap Melani lagi.


Andrew nampak menatap mata Melani dengan lekat, lalu dia mengusap kedua bahu Melani dengan kembut sekali.


"Intinya Mbak mau ngga nikah sama aku? Kalau ngga mau, bilang saja. Ngga usah berbelit-belit," kata Andrew dengan tatapan kecewa.


Mendengar ucapan Andrew, Melani pun jadi merasa kasihan.


"Tapi kita belum saling mengenal, aku tidak mungkin menikah begitu saja dengan kamu," kata Melani.


"Aku sudah mengenal Mbak, tapi Mbaknya belum. Karena aku baik hati, aku kasih Mbak waktu untuk mengenal aku sebelum kita menikah, mau berapa lama waktu perkenalannya?" tanya Andrew.


"Oh Tuhan!" pekik Melani seraya menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Mbak aneh aku kasih waktu buat berkenalan kayak orang kecewa gitu, kita pacaran aja, mau? Biar tambah deket dan saling mengetahui luar dalamnya kaya apa," kata Andrew seraya memandang wajah Melani dengan lekat.


Mendengar ucapan Andrew, sontak Melani langsung menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya.


Andrew langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa, mau tertawa kencang takut Fajri terbangun.


"Maksud aku kita saling berusaha untuk mengenal sifat satu sama lain, bukan berarti aku mau melihat tubuh polos Mbak." Andrew terlihat menurunkan kedua tangan Melani.


Melani terlihat menatap wajah Andrew yang terlihat begitu serius ingin menikahinya, namun untuk saat ini dia belum berkeinginan untuk menikah lagi.


Rasa kecewanya terhadap Aldino begitu kuat, bahkan jika ada lelaki kaya yang mapan dan tampan datang untuk melamar pun Melanie belum tentu ingin menerimanya.


Dia ingin menikmati masa sendirinya terlebih dahulu, dia ingin menikmati kebersamaannya dengan kedua buah hatinya. Belum ada kepikiran sama sekali untuk mencari sosok pengganti Aldino.


"Mbak malah diam, ya udah kalau gitu. Mulai hari ini kita pacaran ya, Mbak. Kita berusaha untuk saling mengenal, aku janji... kalau misalkan Mbak ngerasa nggak cocok sama aku, aku akan mundur," kata Andrew.


Melani hanya bisa mengerjakan matanya tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Andrew, berani sekali pikirnya memutuskan suatu hal yang belum tentu dia sepakati.


"Ehm, Mbak diem terus. Berarti setuju ya, sebagai tanda kalau hari ini kita sudah jadian, aku mau kasih kiss sama pacar aku sebelum aku pulang," kata Andrew lagi.


Belum juga lukanya sembuh karena kegagalan rumah tangganya bersama dengan Aldino, kini telah datang seorang berondong gila berparas tampan yang masuk ke dalam kehidupannya.


Bahkan dengan seenak hatinya berondong itu memaksa dirinya untuk menikahinya, bahkan dengan mudahnya berondong tampan itu menawarkan kebahagiaan untuk dirinya dan juga kedua buah hatinya.


Melani benar-benar tak habis pikir dengan kejadian yang menimpanya saat ini, saat asyik dengan pertanyaannya yang berputar-putar di dalam otaknya, tiba-tiba saja dia merasakan benda kenyal milik Andrew kini sudah menempel kembali di bibirnya.


Andrew memagut bibirnya dengan sangat lembut sekali, bahkan tangan kanannya terasa mengusap tengkuk leher Melani dengan sangat lembut, sedangkan tangan kirinya mengusap paha Melani.


Hal yang Andrew lakukan membuat tubuh Melani meremang seketika, seakan ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya.


Rasanya sudah lama sekali Melani tak mendapatkan perlakuan seperti ini, entah kapan terakhir kalinya Aldino memberikan ciuman selembut ini kepada dirinya.


"Enghh!"


Sebuah lenguhan terdengar begitu indah di bibir Andrew, dia tersenyum lalu melepaskan tautan bibirnya.

__ADS_1


"Mbak suka?" tanya Andrew.


Sejujurnya walaupun Melani tak membalas tautan bibir dari Andrew, dia benar-benar menikmati suguhan kelembutan yang diberikan oleh bibir Andrew.


Namun, dia tak mungkin mengakuinya. Melani langsung memundurkan tubuhnya, dia merapikan baju yang dia pakai walaupun tak terlihat kusut.


"Mbak salah tingkah, berarti Mbak menyukai aku," sambung Andrew.


Melani hampir merasa gila dengan kata-kata yang keluar dari bibir Andrew, tapi tak bisa dia pungkiri kalau berondong gila itu mampu menggetarkan hatinya.


"Sekarang pulanglah! Ini sudah malam," kata Melani tanpa melihat ke arah Andrew.


"Baiklah, aku pulang dulu. Selamat malam calon istri," kata Andrew.


Entah kenapa ucapan Andrew terdengar sangat menyebalkan di telinganya, Melani pun langsung memalingkan wajahnya.


Dia berniat ingin memaki Andrew, namun sayangnya saat dia memalingkan wajahnya. Bibirnya malah bersentuhan kembali dengan bibir Andrew, karena ternyata wajahnya begitu dekat dengan wajahnya.


Melanie langsung memundurkan wajahnya, lalu dia pun berbicara dengan pelan namun penuh dengan penekanan kepada Andrew.


"Dasar brondong gila! Pulang sana!" kesalnya pada Andrew.


"Baiklah, aku pulang dulu," pamit Andrew.


Andrew langsung bangun dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Melani, sebelum Andrew benar-benar keluar dari kamarnya, Melani bahkan sempat melemparkan bantal sofa ke arah Andrew.


Mendapat lemparan bantal dari Melani, Andrew hanya terkekeh. Dia sempat membalikan tubuhnya, lalu mengerling nakal sebelum kembali berjalan meninggalkan Melani.


"Arrgh, dasar brondong gila! Aku jadi ngga bisa tidur gara-gara dia," umpat Melani dalam hati.


Malam itu akhirnya Melani pun bisa memejamkan matanya untuk mengarungi alam mimpinya.


Itu pun setelah waktu menunjukkan pukul 1 malam, Andrew benar-benar membuat dirinya gelisah.


Bahkan dia pun menjadi malas jika esok hari harus bertemu dengan Andrew, rasanya dia belum siap untuk bertemu dengan Andrew setelah berciuman dua kali dengannya.

__ADS_1


__ADS_2