Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Rasa Iri Aurelia


__ADS_3

Kiandra terlihat sangat senang sekali, karena bisa menghabiskan waktu bersama dengan Aurora. Karena selain membantu Aurora belajar melukis, dia juga bisa menggoda gadis cantik pujaan hatinya itu.


Pukul empat sore Kiandra mengajak Aurora untuk pulang, tentu saja Aurora mau. Karena waktu memang sudah sore.


"Ehm, bagaimana dengan tawaranku tadi?" tanya Kiandra.


Mendengar pertanyaan dari Kiandra, Aurora nampak memalingkan wajahnya ke arah Kiandra yang sedang fokus dalam menyetir.


"Yang mana?" tanya Aurora.


"Jadi pacar aku," jawab Kiandra.


Aurora nampak mencebikkan bibirnya kala mendengar jawaban dari Kiandra, dia sudah berkali-kali berkata jika dia tidak akan menyetujui jika dirinya berpacaran.


Karena menurut Gia, Aurora harus menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. Baru setelah itu Aurora boleh menentukan laki-laki yang dia sukai dan langsung menikah. Tidak ada acara pacar-pacaran.


Tentu saja hal itu dia lakukan karena Gia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap putrinya, dia takut jika putrinya bertemu dengan lelaki yang tidak tepat dan hanya akan melecehkan putrinya.


Dia sangat takut, jika Tuhan akan memberikan karma buruk terhadap putra-putrinya atas perbuatan bejat yang pernah dilakukan kepada Elsa dahulu.


"Ngga mau, kalau Kakak serius mau memperistri aku. Kakak langsung lamar aku ke rumah, ka---"


Belum juga Aurora menyelesaikan ucapannya, namun Kiandra terlihat sangat senang langsung menepikan mobilnya.


Kemudian, dia melepas sabuk pengamannya dan langsung memeluk Aurora dengan erat. Aurora yang merasa risih langsung memberontak, dia berusaha untuk melepaskan diri dari Kiandra.


Bahkan, dia terlihat mendorong dada Kiandra Sayangnya tenaga lelaki muda itu sangat kuat.


"Jangan seperti ini, aku sesak napas!" keluh Aurora.


"Maaf," ucap Kiandra seraya melepaskan pelukannya.


"Kamu kaya orang ngga waras main peluk-peluk aja," keluh Aurora.

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Aku hanya terlalu bahagia karena kamu mau dilamar oleh aku, kalau begitu besok aku akan datang ke rumahmu untuk melamar," kata Kiandra.


"Eh, eh, eh! Tunggu dulu, enak aja asal main lamar-lamar aja. Dengerin dulu, aku tadi belum selesai berbicara. Kamu boleh melamar aku, tapi kalau aku sudah lulus kuliah," ucap Aurora.


Wajah Kiandra terlihat lesu kala mendengar apa yang diucapkan oleh Aurora.


"Ya ampun, lama sekali. Jadi aku harus nunggu 3 tahun lagi," kata Kiandra.


"He'em," jawab Aurora seraya menganggukan kepalanya.


Mendengar ucapan dari Aurora, Kiandra nampak lemas sekali. Padahal dia sudah berharap bisa menikah secepatnya dengan Aurora, walaupun belum boleh menyentuhnya.


"Ck! Lama!" keluh Kiandra


"Harus sabar, kalau kamu memang serius sama aku," kata Aurora.


"Baiklah," jawab Kiandra.


Aurora tersenyum, kemudian dia mengusap lengan Kiandra dengan lembut.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Aurora, Kiandra nampak terdiam. Dia hampir saja lupa jika syarat usia untuk menikah adalah sembilan belas tahun.


"Kamu benar, jadi aku masih harus menunggu. Tapi, selama kamu belum genap berusia sembilan belas tahun, aku boleh bertemu dan mengantar jemput kamu, kan?" tanya Kiandra.


"Tentu saja, yang penting kamu tidak boleh macam-macam." Aurora terlihat memicingkan matanya.


"Ya, aku akan menahannya," jawab Kiandra.


Setelah terjadi obrolan di antara mereka, akhirnya Kiandra memasang kembali sabuk pengamannya. Kemudian, dia melajukan mobilnya menuju kediaman Pranadtja.


Saat mobil Kiandra hendak memasuki halaman rumah, ternyata bertepatan dengan Gia yang baru saja pulang dari kantor bersama dengan Aurelia.


Kiandra nampak memberhentikan mobilnya, dia turun dengan tergesa dan segera membukakan pintu untuk Aurora.

__ADS_1


Aurora tersenyum, lalu dia berkata.


"Terima kasih, Kak," kata Aurora.


"Sama-sama," jawab Kiandra.


Aurelia yang masih berada di dalam mobil bersama dengan ayahnya, terlihat memperhatikan interaksi antara keduanya.


Ada rasa iri di dalam hatinya, karena sedari kecil Aurora selalu saja mendapatkan perhatian dari banyak orang.


Bahkan, setiap lelaki yang bertemu dengannya seolah-olah terhipnotis oleh wajah dan kepintaran dari Aurora.


Padahal, Aurelia pun memiliki wajah yang sama dengan Aurora. Namun, entah kenapa pesona Aurora selalu saja bisa lebih terlihat memesona dibandingkan dirinya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Gia yang melihat putrinya tak segera turun namun malah memeperhatikan Kakak kembarnya.


"Ah, tidak apa-apa Ayah," jawab Aurelia seraya membukakan pintu dan turun dari mobil tersebut.


Tanpa banyak bicara, dia langsung masuk ke dalam rumah. Gia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari Aurelia, mungkin putri keduanya itu sangat lelah pikirnya.


Gia terlihat tersenyum, lalu dia menghampiri Kiandra dan juga Aurora.


"Kalian sudah pulang?" tanya Gia.


"Sudah, Tuan Gia. Maaf saya sedikit telat mengantarkan putri Cantik Anda, tapi saya jamin tidak ada ya g lecet sedikit pun," kata Kiandra.


Gia nampak tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, tentu saja Kiandra harus membawa Aurora dalam keadaan baik-baik saja.


Karena, jika Gia melihat sedikit saja ada luka di bagian tubuh putrinya. Jangan harap Kiandra akan selamat dan bisa bernapas dengan enak.


"Ya, saya bisa melihatnya. Ayo, Sayang. Kita masuk," ajak Gia.


"Sebentar, Ayah." Aurora nampak berpamitan kepada Kiandra, setelah itu dia pun masuk ke dalam rumahnya bersama dengan sang ayah tercinta.

__ADS_1


Setelah Aurora tidak terlihat lagi, Kiandra nampak pergi meninggalkan kediaman Pranadtja.


BERSAMBUNG....


__ADS_2