
Pagi ini Melani sudah terlihat rapih dan juga cantik, tentu saja karena pagi ini dia sudah mulai bekerja kembali.
Dia merasa tak enak hati kepada Reni, karena sudah satu minggu dia tidak datang ke Caffe. Sebenarnya Reni tidak mempermasalahkan jika Melani mau libur lama pun, karena memang Melani' lah yang mengeluarkan modal cukup besar di antara mereka berdua.
Bukan hanya karena itu juga, namun Reni juga memahami jika Melani memang harus mengurus kedua buah hatinya.
Tentu saja itu akan menyita waktu Melani cukup banyak, apa lagi Melani benar-benar mengurus rumah dan kedua buah hatinya sendiri tanpa meminta bantuan asisten rumah tangga.
Bukan tanpa alasan, itu semua karena nyonya Mesti yang tak mengizinkan. Karena dia'lah yang menyanggupi akan membantu mengurus kedua buah hatinya dalam setiap harinya.
Sebenarnya hal itu membuat Melanie tidak nyaman, karena dengan seringnya Nyonya Mesti datang ke rumahnya, hal itu juga mempermudah Aldino untuk datang kapan pun kerumahnya.
Tentu saja dia selalu berkata jika dia merindukan kedua buah hatinya, padahal itu hanya alasan saja. Karena pada kenyataannya, Aldino selalu saja berusaha untuk merayu Melanie agar Melanie mau rujuk kembali dengan dirinya.
Sebenarnya Melani merasa kasihan kepada Aldino, dia tahu jika usaha Aldino tulus adanya. Aldino terlihat sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan padanya.
Melani sebenarnya sudah benar-benar memaafkan kesalahan Aldino, walaupun masih ada rasa kecewa di dalam hatinya.
Akan tetapi jika untuk rujuk kembali, tentu saja Melani keberatan. Karena baginya sulit mempercayai orang yang bisa dengan mudahnya berselingkuh dengan wanita lain.
Dia merasa sulit melupakan apa yang pernah dilakukan oleh lelaki yang dengan mudahnya mengabaikan anak dan istrinya.
Dia beralasan, jika mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya tersebut. Padahal, dia malah asyik bersenang-senang dengan wanita selingkuhannya.
Setelah sarapan, Melani pun langsung mengantarkan Merrisa menuju sekolahnya. Seperti biasanya, dia akan mengecup kening Merissa dan mengucapkan kata perpisahan.
"Belajar yang rajin, Buna tinggal. Jangan nakal," kata Melani.
"Yes, Buna." Satu kecupan Merrisa berikan pada Melani, Melanie pun nampak tersenyum senang.
Saat dia hendak pulang menuju rumahnya, dia bertemu dengan dokter Irawan. Dia terlihat sedang membeli bubur ayam di pinggir jalan dekat klinik miliknya.
__ADS_1
Melani sempat tersenyum, lalu dia pun menganggukkan kepalanya saat berpapasan dengan dokter Irawan.
Begitu pun dengan dokter Irawan, dia terlihat tersenyum dengan hangat pada Melani. Melanie pun kemudian melanjutkan langkahnya dengan segera menuju rumahnya, karena dia meninggalkan rumah kala Fajri sedang tertidur dengan lelap.
Tiba di depan rumahnya, ternyata sudah ada Andrew yang terlihat menenangkan Fajri yang menangis di dalam gendongannya. Melanie pun dengan cepat menghampiri mereka.
"Anak Buna, nangis, ya? Maaf ya, tadi Buna tinggal. Habisan Aji tadi masih bobo," ucap Melani penuh sesal.
Fajri sepertinya sangat kesal, karena saat terbangun tak ada Bundanya di sampingnya. Bukannya luruh saat mendengarkan perkataan bundanya, Fajri malah mengencangkan pelukannya pada Andrew.
"Buna nakal, Aji mau gendong Ayah saja." Fajri menenggelamkan wajahnya di dada Andrew.
Mendengarkan penuturan putranya, Melani nampak memijat pelipisnya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing, apa lagi mendengar Fajri yang selalu saja memanggil Andrew dengan sebutan ayah.
Padahal Melani sudah menjelaskan berkali-kali, jika dia harus memanggil Om kepada Andrew. Namun, Fajri selalu menolak.
Dia tetap saja ingin memanggil Andrew dengan sebutan ayah, Melanie cuma bisa berharap semoga Andrew tidak mempermasalahkan hal itu.
"Tidak apa-apa, tadi hanya kebetulan aku mendengar Fajri yang menangis sendirian di dalam rumah. Maaf karena aku lancang sudah masuk ke dalam rumah kamu dan menggendong putramu," kata Andrew.
"Tidak apa-apa, justru aku sangat berterima kasih karena kamu mau membantuku menenangkan Fajri. Kalau tidak ada kamu, aku pasti akan takut kenapa-kenapa dengan Fajri," kata Melani.
Setelah itu, Melanie pun berusaha untuk mengambil Fajri dari gedongan Andrew. Namun anak itu tetap saja tak ingin lepas dari Andrew, Melani bahkan sampai bingung dibuatnya.
Karena baru kali ini Fajri terlihat begitu manja kepada seorang laki-laki yang bukan ayahnya, seorang lelaki yang dia anggap sebagai ayahnya sendiri.
Sedih sekali saat melihat hal itu, jika saja Aldino lebih pengertian dan perhatian terhadap kedua buah hatinya. Dia akan sangat senang sekali, walaupun perceraian tidak dapat dihindarkan.
Setidaknya, hubungan antara anak dan ayahnya tersebut terjalin dengan baik. Namun sayangnya, Aldino seakan tak ingin berniat untuk berdamai dengan kedua buah hatinya, Aldino masih tetap terlihat angkuh dengan pendiriannya.
"Ini sudah pukul tujuh, Mbak. Sarapan' lah terlebih dahulu, biar Fajri saya ajak ke rumah saya dulu. Lagi pula saya akan berangkat pukul 9 karena saya akan pergi ke luar kota," kata Andrew.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Andrew, Melani benar-benar merasa tak enak hati. Usia Andrew memang baru dua puluh dua tahun, namun dia terlihat sangat dewasa.
Bahkan dia dengan mudahnya bisa mengerti keadaan di sekitarnya, dia juga bisa dengan mudah menebak apa yang terjadi pada pada lawan bicaranya.
"Tapi, kalau kamu mau keluar kota bukannya justru kamu akan sibuk mempersiapkan semuanya?" tanya Melani.
"Biarkan saja Fajri bersama saya, nanti juga dia akan anteng," kata Mepani.
"Tidak apa-apa, Mbak. Biar dia bersama saya dulu," kata Andrew meyakinkan.
Melani pun terdiam, dia merasa ragu untuk mengiyakan. Namun, jika menolak pun Melani merasa tak bisa, karena Fajri terlihat begitu lengket kepada Andrew.
"Tdak usah khawatir seperti itu, nanti kalau ada Nyonya Mesti datang saya akan langsung memberikan Fajri kepadanya," ucap Andrew.
"Baiklah, maaf karena sudah merepotkan," kata Melani.
"Tidak apa-apa, saya mengerti. Lagi pula Fajri hanyalah anak kecil, kalau begitu saya permisi," ucap Andrew.
Setelah mengatakan hal itu, Andrew pun langsung membawa Fajri menuju rumahnya. Sedangkan Melani nampak masuk kedalam rumahnya untuk melakukan sarapan pagi.
Melanie berusaha untuk mempercayai Andrew, Melani berusaha untuk mempercayakan putranya dalam pengawasan Andrew.
Sebenarnya Melani pun tidak mengerti, kenapa Fajri bisa begitu dekat dengan Andrew? Karena pada dasarnya, dengan ayah kandungnya pun Fajri terlihat sangat sulit untuk dekat.
Apakah mungkin benar apa yang dikatakan oleh pepatah, jika anak kecil begitu peka perasaannya sehingga dia bisa tahu siapa yang tulus terhadap dirinya dan siapa yang hanya ingin mencari muka saja.
Melanie pun segera merampungkan sarapan paginya, setelah itu dia pun bersiap untuk pergi menuju Caffe. Tentu saja sebelum dia pergi, dia pun menghampiri Andrew dan juga Fajri.
"Buna berangkat dulu, kamu jangan nakal sama Om," ucap Melani
"Buna hati-hati di jalan," kata Fajri.
__ADS_1
Melani terlihat mengecup setiap inci wajah Fajri yang kini sedang berada di dalam gedongan Andrew, setelah itu Melanie pun nampak pergi dari sana.