
VB terlihat sedang duduk dengan wajah yang lesu, pipinya terlihat basah dengan air mata. Dia merasa sangat sedih karena istrinya kini telah pergi jauh meninggalkan dirinya.
Dia tahu jika dirinya memanglah salah, namun tidak bisakah Dina bertanya terlebih dahulu tentang siapa perempuan yang sedang bersama dengan VB saat itu?
Tidak bisakah Dina menunggu VB untuk mendengarkan penjelasan dari VB? Namun kembali lagi, VB sangat sadar jika Istrinya sedang mengandung.
Elsa dan Gia yang terbangun karena permintaan VB, langsung menghampiri VB dan duduk tepat di depan VB. Saat menyadari kehadiran Elsa dan juga Gia, VB langsung menegakkan tubuhnya.
Dia menatap lekat wajah Elsa dan Gia yang terlihat sangat mengantuk, dia tahu jika dia sudah menganggu. Namun, dia benar-benar sangat membutuhkan bantuan dari Elsa.
"Maaf jika gue mengganggu, gue hanya ingin bertanya tentang dimana istri gue tinggal." Kata VB sambil meremat kedua tangannya secara bergantian.
"Memangnya kamu sudah tahu di mana keberadaan Dina?" tanya Elsa.
"Ya, Kata orang kepercayaan Daddy, Dina pergi ke kampung halamannya dan gue tidak tahu alamat yang pastinya. Jadi, gue ingin menanyakannya alamat rumah istri gue kepadamu, Elsa." VB berucap dengan nada penuh dengan permohonan.
"Syukurlah kalau Dina pulang ke kampung halaman kami, setidaknya dia akan aman di sana. Karena masih banyak sanak saudaranya di sana," kata Elsa.
"Tapi, Sa. Dina sedang hamil, gue sangat khawatir akan terjadi sesuatu pada calon buah hati kami." VB langsung menjambak rambutnya dengan kasar, dia benar-benar merasa sangat takut.
"Benarkah, itu? Jadi, Dina sedang mengandung?" tanya Gia antusias.
"Hem, gue memang bodoh. Tolong berikan alamat Dina saat ini juga, dan gue juga pinjam jetpri punya elu, Bang." VB langsung menghampiri Gia dan berjongkok tepat di hadapan Gia.
"Cih! Ada maunya, bangun! Jangan lebay seperti itu, cepat pergi sana. Gue akan menelpon pilotnya agar segera berangkat," kata Gia.
"Makasih, Bang. Elu emang the best," VB langsung memeluk Gia.
Gia terlihat risih saat mendapatkan pelukan dari VB, sedangkan Dina terlihat tertawa karena merasa lucu melihat Gia yang terlihat tak suka saat dipeluk oleh VB.
Gia pun dengan cepat mendorong dada VB, dia lelaki normal. Rasanya sangat aneh jika harus berpelukan dengan sesama laki-laki.
__ADS_1
"Jangan lebay! Sono berangkat, nanti bini elu keburu disamber orang," kata Gia.
"Jangan bicara seperti itu, Bang. Bini gue nggak mungkin berpaling begitu aja pada lelaki lain, apalagi suaminya tampan begini," kata VB percaya diri.
"Cih! Dalam keadaan seperti ini saja elu masih bisa memuji diri sendiri, sungguh terlalu," kata Gia tak suka.
"Sudah-sudah, sekarang mendingan kamu bersiap karena sebentar lagi kamu harus berangkat ke pulau K. Tapi tunggu sebentar," kata Elsa.
Elsa lalu menuliskan alamat rumah Dina, setelah itu dia pun memberikan secarik kertas kepada VB yang bertuliskan alamat Dina.
Dengan senang hati dia pun menerima tulisan tersebut, lalu dengan wajah sumringahnya dia keluar dari rumah Gia menuju tempat landasan pesawat pribadi milik keluarga Pranadtja.
VB merasa sangat bersyukur, karena mendapatkan kemudahan untuk pergi menyusul istrinya. Pukul 1 malam, VB pun berangkat untuk menyusul istrinya menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Pranatdja.
Setelah melakukan perjalanan selama satu setengah jam, VB pun sampai di Pulau K. Dengan terburu-buru dia pun mencari taxi untuk pergi menuju alamat istrinya, sayangnya karena hari sudah begitu larut ternyata tidak ada taxi sama sekali disana.
VB pun dengan sangat terpaksa mencari angkutan yang ada di sana, sayangnya tak menemukan angkutan umum sama sekali.
Dia terlihat frustasi karena dia benar-benar ingin segera bertemu dengan istrinya, dia ingin memastikan keadaan istrinya seperti apa.
Dengan cepat VB pun menghampirinya dan membangunkan tukang ojek yang tengah tidur diatas motornya tersebut.
"Maaf, Bang. Bisa bantu saya nggak?" tanya VB sambil menggoyang-goyangkan tangan tukang ojek tersebut.
Tukang ojek tersebut langsung menggeliatkan tubuhnya, lalu memandang VB dengan tatapan anehnya.
"Maaf, Bang. Kalau saya ganggu, saya cuman mau minta diantar ke alamat ini." Kata VB sembari menyodorkan secarik kertas yang diberikan oleh Elsa.
Saat melihat alamat yang ingin dituju oleh VB, tukang ojek itu pun langsung tersenyum dengan sangat lebar. VB pun menjadi curiga dibuatnya, dalam hati dia bertanya-tanya. Kenapa tukang ojek tersebut dari wajah tidak enak, kini berubah menjadi sangat bahagia?
VB pun langsung bertanya kepadanya, "kenapa, Bang? Kok muka Abang jadi terlihat bahagia seperti itu?" tanya VB.
__ADS_1
"Ini alamatnya di pelosok, Tuan. Jaraknya hampir 1 jam, kalau Tuan memakai jasa saya bayarnya mahal. Tuan berani bayar saya nggak?" tanya tukang ojek tersebut.
"Berapa?" tanya VB pada tukang ojek tersebut.
Seakan mendapatkan angin surga, tukang Okeh tersebut pun langsung menodong VB dengan harga selamanya.
"Rp300.000, Bang. Itu udah murah, soalnya ini sudah mau pukul 3 pagi. Gimana, mau nggak, Tuan?" tanya Kang Ojek.
Dalam hati VB tertawa, tukang ojek tersebut meminta duit Rp300.000 padanya. Jangankan 300.000, satu juta, dua juta, tiga juta pun dia kasih. Yang penting saat ini dia bisa bertemu dengan istri tercintanya.
"Tenang aja, Bang. Nanti saya lebihin, yang penting Abang nganterin saya ke alamat yang ingin saya tuju," kata VB.
"Oke, Tuan. Naik saja kalau gitu," kata tukang Ojeknya.
VB pun dengan senang hati langsung naik keatas motor tersebut, karena memang jalanan yang sepi tukang ojek tersebut pun melajukan kendaraannya dengan sangat cepat.
VB pun sampai beberapa kali menepuk pundak tukang ojek tersebutx agar tidak terlalu cepat dalam berkendara.
Karena itu tidak baik untuk keselamatan dirinya dan juga tukang ojek tersebut, tukang ojek tersebut pun menurut dan setelah 1 jam perjalanan akhirnya VB sanpai di sebuah rumah yang sangat sederhana.
Depan rumahnya terdapat taman kecil, di samping rumah tersebut juga terdapat banyak tumbuhan. Dari mulai cabe, tomat dan juga macam-macam pohon bumbu.
"Makasih, Bang." VB langsung mengambil dompetnya lalu memberikan uang Rp500.000 kepada tukang ojek tersebut.
Tukang ojek tersebut langsung terperanjat kaget, karena ternyata dia malah dibelikan uang yang lebih banyak dari tarif yang ia ucapkan.
"Ini kelebihan, Tuan," kata tukang ojek tersebut.
"Tak apa, ambillah. Mungkin itu rezeki Bapak melalui tangan saya," kata VB.
"Terima kasih," kata tukang ojek tersebut.
__ADS_1
Selepas kepergian tukang ojek tersebut, VB pun bingung. Ini sudah pukul 4 pagi, namun dia tidak mungkin mengganggu istrinya.
Akhirnya, VB pun memutuskan untuk duduk di depan pintu sambil menyandarkan tubuh lelahnya.