Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Bermain di Pantai


__ADS_3

Aurora dan juga Aurelia terlihat begitu senang karena diperbolehkan bermain di pantai, mereka berdua langsung berlari seraya bercanda.


Melihat tingkah kedua putri kembarnya, Gia hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Tujuan utamanya adalah membahagiakan anak dan istrinya, tidak salah bukan jika ia mengizinkan kedua putrinya tersebut untuk bermain air. Yang terpenting untuknya, mereka bahagia.


Tiba di tepi pantai, Aurora terlihat bermain air. Sedangkan Aurelia langsung duduk dan bermain pasir.


"Kak, tolong ambilkan peralatan untuk membuat istana pasir," pinta Aurelia.


Aurora yang sedang asyik bermain air langsung menghentikan kegiatannya, kemudian dia memalingkan wajahnya ke arah adiknya.


"Ada apa, Dek?" tanya Aurora.


Mendengar pertanyaan dari kakaknya, Aurelia segera memasang wajah memelas. Karena dengan seperti itu, Aurora tidak akan tega terhadap dirinya.


"Rere pengen main pasir, tapi ngga ada peralatannya," ucap Aurelia seraya nyengir kuda.


Aurora tampak menghampiri adiknya, kemudian dia melipat kedua tangannya di depan dada.


"Bilang saja kalau kamu males, terus nyuruh kakak buat ngambilin. Karena kamu memang sudah pw dudukan sambil main pasir," kata Aurora.


Mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya, Aurelia nampak tersenyum.


"Kakak benar," kata Aurelia.


Kakaknya memang selalu bisa menebak apa yang diinginkan oleh Aurelia, namun herannya Aurora tidak pernah menolak apa pun yang diinginkan oleh adiknya tersebut.


"Dasar!" kata Aurora seraya melangkahkan kakinya menuju ke Villa.


Walau bagaimanapun juga, Aurora begitu menyayangi adiknya tersebut. sehingga dia pun menuruti apa keinginan dari sang adik.


Tiba di Villa, dia langsung meminta penjaga Villa untuk mencarikan alat-alat untuk membuat istana pasir.


Penjaga Villa pun langsung memberikan ember kecil dan beberapa benda yang dibutuhkan oleh Aurora.


"Terima kasih, Paman," ucap Aurora.


"Sama-sama, Neng," jawab menjaga Villa.


Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Aurora tampak kembali melangkahkan kakinya menuju pantai.


"Ini, Dek." Aurora memberikan peralatan yang dibutuhkan oleh Aurelia.


Wajah Aurelia terlihat berbinar kala melihat benda-benda yang dibawa oleh kakaknya tersebut.


"Terima kasih Kakak cantik," ucap Aurelia.


"Ya, sama-sama. Giliran ada maunya aja bilangnya Kakak cantik," ucap Aurora dengan bibir mencebik.

__ADS_1


"Hehehe, ayo ke sini. Duduk bareng aku, kita bikin istana pasir yang bagus," ajak Aurelia.


"Enggak ah, Kakak mau main air aja. Dadah adikku sayang," ucap Aurora seraya berlari menuju bibir pantai.


Aurelia terlihat berlari sambil tertawa, dia begitu senang karena bisa menikmati udara pantai yang sangat dia ingin rasakan sejak lama.


Sesekali dia bahkan terlihat memutarkan tubuhnya, lalu mengyunkan kakinya dan menendang air pantai yang menyembur ke arah kakinya.


Berbeda dengan Aurelia, sepeninggal kakaknya dia terlihat begitu asyik membuat istana pasir.


Sesekali Aurelia terlihat memalingkan wajahnya kearah Aurora yang semakin jauh dari pandangannya, namun dia tidak merasa khawatir karena Aurora pasti tahu jalan pulang, pikirnya.


"Ya ampun, ternyata bermain air di bibir pantai sangat menyenangkan," kata Aurora.


Aurora terlihat bermain air dengan begitu riangnya, sesekali dia memperhatikan kearah sekelilingnya.


Tak jauh dari dirinya dia melihat beberapa anak kecil yang sedang berkumpul, mereka terlihat bernyanyi sambil tertawa riang.


Aurora yang merasa penasaran pun langsung melangkahkan kakinya menuju kumpulan anak-anak tersebut.


Aurora terus saja memperhatikan sekumpulan anak-anak yang terlihat begitu riang tersebut, tak lama kemudian tatapannya terpaku pada seorang pria remaja yang dikerumuni oleh anak-anak tersebut.


Dahi Aurora mengernyit kala melihat pria remaja tersebut.


"Bukankah dia lelaki yang beberapa kali pernah bertemu denganku?" tanya Aurora lirih.


Aurora mengingat beberapa kali dia bertemu dengan lelaki yang selalu dingin tersebut, namun kali ini dia melihat lelaki itu sedang tertawa dengan riang bersama sekumpulan anak tersebut.


Cukup lama dia melihat interaksi antara pria remaja tersebut dengan sekumpulan anak-anak yang ada di sana, dia bahkan terlihat membagikan makanan kepada anak-anak tersebut.


Aurora tersenyum melihat akan hal itu, karena ternyata lelaki dingin itu mempunyai sisi yang lain di balik wajah dinginnya.


Cukup lama Aurora memperhatikan pria remaja tersebut, hingga sebuah tepukan di pundaknya mengagetkan dirinya.


Aurora langsung memalingkan wajahnya ke arah belakang tubuhnya, ternyata di sana sudah ada Aurelia yang memandangnya dengan tatapan kesal.


"Kakak kenapa lama sekali bermain airnya? Aku kesepian, tidak ada teman bermain pasir," ucap Aurelia.


"Ah, kamu ini ngagetin Kakak saja, ayo Kakak temenin," ucap Aurora.


Mendengar apa yang diucapkan oleh kakaknya, Aurelia terlihat sangat senang sekali. Karena akhirnya dia bisa bermain pasir dengan kakaknya tersebut.


"Asik!" sorak Aurelia.


Aurora langsung tersenyum, lalu dia merangkul pundak adiknya dan pergi dari sana.


sebelum itu dia sempat memalingkan wajahnya dan melihat pria dingin yang kini berubah menjadi sangat manis menurutnya.


"Kakak lihat apa, sih?" 7tanya Aurelia.

__ADS_1


"Tidak ada, ayo kita main pasir." Aurora terlihat menarik lembut tangan adiknya, lalu berlalri.


Malam Harinya.


Selepas makan malam semua pria terlihat berkumpul di depan Villa, mereka menikmati suasana malam sambil ngopi.


Para ibu berkumpul di ruang keluarga sambil bercengkerama dan membahas masa tumbuh kembang buah hati mereka. Hanya Elsa yang duduk sambil menggendong baby Al, karena usianya yang memang baru dua bulan.


Lalu, bagaimana dengan buah hati mereka?


Anak-anak nampak berkumpul sambil bermain di atas karpet berbulu yang sengaja para orang tua siapkan. Baby Adelia terlihat anteng bermain dengan putrinya dokter Irawan.


Axelle dan Kenzie memilih untuk bermain dengan Aurora dan juga Aurelia.


Mereka terlihat sangat bahagia, namun ada satu anak yang terlihat sangat bete. Aurora orangnya, dia sangat kesal karena anak dari VB dan juga anak dari Ajun terus saja berdebat.


Balita berusia tiga tahun itu terus saja mengaku jika Aurora adalah pacar dari Ken dan juga ABC (Axelle Barraq Chairil)


"Kakak Cantik itu pacal aku!" seru Kenzie putra Ajun.


"No, Kakak Cantik calon istli aku!" seru Axelle putra VB.


"Ya ampun, kalian ini kenapa sih? Dari tadi ributin aku terus, lagian ya, kalian ini baru berusia tiga tahun. Belum pantes suka-sukaan," kata Aurora.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aurora, Axelle langsung menghampiri Aurora dan berkata.


"Tapi, nanti kalau sudah besal Kakak mau kan, jadi istli aku?" Axelle.


Mendengar pertanyaan dari Axelle, Aurora langsung menepuk jidatnya. Dia tidak menyangka jika balita berusia tiga tahun itu bisa menanyakan hal seperti itu kepada dirinya.


"Ck! Kamu ajakin nikah Kak Rere aja sonoh!" kata Aurora.


"No, no, no!" kata Axelle seraya menggoyang-goyangkan jari terlunjuknya.


"Ya ampun, kamu masih balita. Mana mungkin sudah kepikiran untuk menikah!" seru Aurora seraya menoyor kepala Axelle.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Aurora, Axelle langsung mengelus jidatnya. Sedangkan Kenzie langsung menertawakan Axelle yang mendapatkan penolakan dari Aurora.


Berbeda dengan Aurelia, dia langsung berlari dan melaporkan apa yang terjadi kepada Aurora kepada bundanya, Gadis dan juga kepada Dina.


"Yang benar, sayang?" tanya Dina.


"Benar!" jawab Aurelia.


"Masa sih Ken seperti itu?" tanya Gadis.


"Serius, kalau kalian tidak percaya. Ayo ikut aku," kata Aurelia.


Dina, Elsa dan juga Gadis langsung mengikuti langkah Aurelia, mereka penasaran dengan apa yang diceritakan oleh adik kembar dari Aurora tersebut.

__ADS_1


Benar saja apa yang dikatakan oleh Aurelia, karena saat mereka tiba, Kenzie dan juga Axelle terlihat sedang beradu mulut memperebutkan Aurora.


__ADS_2