
Satu jam kemudian, Gia, Ajun dan juga Aurelia nampak masuk ke dalam ruang meeting. Saat mereka masuk, ternyata di sana sudah ada dua pria tampan berbeda generasi yang sudah menunggu.
Ada Kiandra Aditama sebagai pemilik dari perusahaan XC, pria muda berusia dua puluh dua tahun itu kini harus meneruskan perusahaan milik keluarga Aditama setelah sang ayah meninggal.
Padahal, dari dulu dia tidak menyukai yang namanya bergelut dengan berkas. Karena menurutnya hal itu hanya memusingkan saja.
Kiandra lebih suka menorehkan imajinasinya lewat sebuah lukisan, namun kini tak ada pilihan. Dia harus meneruskan perusahaan milik keluarga Aditama tersebut.
Namun, jika dia tidak sibuk, dia akan tetap pergi menuju sanggar seni miliknya. Karena di sanalah dia merasa senang dan juga tenang. Setelah seharian sibuk bekerja, dia akan pergi ke sana untuk melepas rasa penatnya.
Di sampingnya ada tuan Kenan, sang asisten kepercayaan sang ayah. Beliau sudah berusia empat puluh lima tahun, dia sudah mengabdi selama dua puluh empat tahun di perusahaan Aditama.
"Selamat siang Tuan Gia, selamat siang Tuan Ajun." Tuan Kenan langsung mengulurkan tangannya.
Mendapatkan sapaan dari tuan Kenan, dia langsung tersenyum. Kemudian dia menyambut uluran tangan dari tuan Kenan.
"Selamat siang," jawab Ajun dan Gia.
Gia, Ajun dan juga tuan Kenan terlihat saling berjabat tangan, berbeda dengan Kiandra, dia nampak terdiam sambil memperhatikan wajah Aurelia dengan lekat.
'Ya Tuhan, kenapa dia bisa jadi cantik seperti ini? Padahal dulu dia hanya anak tomboy yang selalu bertindak ceroboh, bahkan penampilannya--'
"Tuan Kiandra!" satu tepukan mendarat di pundak Kiandra.
"Eh, maaf!" kata Kiandra seraya mengulurkan tangannya kepada Ajun dan Gia.
Tuan Kenan terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dari Kiandra, tidak seperti biasanya dia melamun seperti itu. Bahkan tuan Kenan bisa melihat jika Kiandra begitu memperhatikan wajah Aurelia dengan intens.
"Oh iya, perkenalkan, ini putri saya, Aurelia." Gia langsung merangkul pundak Aurelia.
Aurelia nampak mendongakkan kepalanya menatap sang ayah, kemudian dia mengulurkan tangannya kepada Kiandra dan juga tuan Kenan.
"Selamat siang," sapa Aurelia ramah.
Tuan Kenan dan juga Kiandra langsung membalas uluran tangan dari Aurelia seraya tersenyum hangat.
"Silakan duduk!" kata Gia.
"Terima kasih," jawab Kiandra dan Tuan Kenan bersamaan.
Setelah berbasa-basi, akhirnya meeting pun dilaksanakan. Hampir satu jam meeting berlangsung dan selama itu pula Kiandra terus memperhatikan wajah dari Aurelia.
Karena Aurelia yang bertugas untuk mempresentasikan program kerja sama yang akan mereka kerjakan.
__ADS_1
'Dia cantik, feminim. Namun, aku merasa dia jadi aneh kalau seperti ini. Aku lebih suka dia yang berpenampilan tomboy,' kata Kiandra dalam hati.
"Ehm! Jadi, bagaimana? Apakah anda setuju dengan apa yang dipersentasikan oleh putri saya?" tanya Gia.
Mendengar pertanyaan dari Gia, Kiandra terlihat kelabakan. Karena sedari tadi dia sama sekali tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Aurelia dan semua yang ada di sana. Kiandra hanya terfokus memperhatikan wajah dari Aurelia saja.
"Eh? Bagaimana apanya?" tanya Kiandra.
Ajun, Tuan Kenan dan Gia langsung tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, mereka sangat paham jika sedari tadi Kiandra tidak fokus pada apa yang mereka bahas.
Entah apa yang membuat seorang Kiandra tidak bisa fokus pada pekerjaannya, namun satu hal yang mereka tahu, Kiandra terlihat fokus memperhatikan wajah Aurelia saja.
Tuan Kenan merasa sedikit malu dengan apa yang diucapkan oleh Kiandra, dia langsung mencondongkan tubuhnya. Lalu, dia berbisik tepat di telinga Kiandra.
"Ah, iya. Saya setuju," jawab Kiandra.
Akhirnya setelah mendapatkan kesepakatan, tuan Kenan dan juga Kiandra memutuskan untuk pergi dari perusahaan Pranadtja.
Selama perjalanan pulang Kiandra nampak terdiam, namun tak lama kemudian dia terlihat menepuk pundak tuan Kenan.
Tuan Kenan yang sedang fokus nenyetir sampai kaget dibuatnya, dia bahkan sampai mengelus dadanya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Tuan Kenan.
Tuan Kenan sampai menggelengkan kepalanya, karena dia mengira jika Kiandra akan mengatakan hal yang sangat penting. Namun, ternyata dia hanya ingin pergi ke sanggar seni miliknya.
"Boleh, Tuan. Karena memang kita sudah tidak ada acara lagi, nanti untuk sisa pekerjaan di kantor biar saya yang mengerjakan," kata Tuan Kenan.
"Terima kasih, Paman," kata Kiandra.
Sesuai dengan permintaan Kiandra, tuan Kenan langsung melajukan mobilnya menuju sanggar seni memiliki Kiandra.
Tiba di depan sanggar seni, Kiandra langsung turun dan mengucapkan terima kasih kepada tuan Kenan.
"Sama-sama," jawab Tuan Kenan.
Setelah mengatakan hal itu, tuan Kenan langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan Aditama, sedangkan Kiandra nampak masuk ke dalam sanggar seni miliknya.
"Lelah sekali, sepertinya aku harus istirahat terlebih dahulu." Kiandra langsung berjalan menuju ruang peribadinya.
Tiba di sana, dia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Rasa lelahnya terasa berkurang saat dia memandang sekeliling ruang peribadinya.
Dis seluruh bagian dinding ruangan tersebut terdapat lukisan hasil karyanya, dari sejak kecil sapai dia berumur dua puluh dua tahun.
__ADS_1
Setelah rasa lelahnya berkurang, Kiandra langsung duduk. Dia membuka kancing jasnya dan melemparkannya secara sembarang.
Kiandra juga membuka kancing lengan kemejanya, lalu menggulungnya sebatas siku. Dia membuka dasinya dan melemparkannya ke atas meja.
"Sebaiknya aku keluar dulu, aku ingin melihat orang-orang yang sedang belajar melukis." Kiandra langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruang pribadinya.
Kiandra terlihat menyisir sanggar seni miliknya, tak lama kemudian tatapannya terpaku pada gadis yang sedang duduk sambil belajar melukis.
Gadis itu terlihat didampingi oleh Jefri, orang kepercayaannya yang selalu bersedia mengurus sanggar seni lukis miliknya.
Dia perhatikan dengan seksama gadis cantik yang nampak serius dengan apa yang dia lakukan itu, bahkan di pipi dan keningnya terlihat ada cat warna yang menempel.
Namun, dia terlihat memakai baju casual. Tak seperti saat bertemu dengan dirinya di perusahan milik keluarga Pranadtja.
"Cepat sekali dia ganti bajunya, sejak kapan dia di sini?" tanya Kiandra lirih.
Kiandra yang merasa penasaran langsung menghampiri Jefri dan Aurora.
"Ehm!"
Kiandra sengaja berdehem agar Aurora dan juga Jefri menyadari kedatangannya. Sesuai dugaannya, Aurora dan juga Jefri langsung menatap Kiandra.
"Eh, Tuan. Sejak kapan anda di sini?" tanya Jefri.
"Baru saja," kata Kiandra dengan tatapan mata menelisik ke arah Aurora.
Aurora terlihat membalas tatapan mata Kiandra, tak lama kemudian seulas senyum nampak tersungging di bibirnya.
'Ini bukannya pria dingin itu, ya? Kenapa sekarang dia terlihat tampan sekali?' tanya Aurora dalam hati.
Melihat Aurora yang menatap dirinya dengan senyuman, membuat Kiandra membuka suaranya.
"Sejak kapan Nona Aurelia berada di sini?" tanya Kiandra.
"Aku? Anda bertanya padaku?" tanya Aurora seraya menunjuk wajahnya.
"Ya," jawab Kiandra.
*
*
BERSAMBUNG
__ADS_1