Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Tak Bisa Bersentuhan


__ADS_3

Pagi ini Ajun terlihat menekuk wajahnya, tangannya memegang berkas. Namun tatapan matanya terlihat kosong, entah apa yang dia pikirkan.


Gia yang baru saja datang terlihat kaget melihat pemandangan yang tak biasa itu, dia langsung duduk tepat di hadapan Ajun.


Gia terlihat mengibas-ngibaskan tangannya, tepat di depan wajah Ajun. Namun, pria itu tak berkedip sama sekali.


Gia langsung menggelengkan kepalanya seraya berdecak, dia benar-benar merasa bingung melihat pemandangan langka ini.


"Ck! Kesurupan setan apa dia? Kenapa bengong seperti itu? Apa harus aku telepon istrinya?" tanya Gia lirih.


"Hehh! Menyebalkan sekali, masa sentuh aja ngga boleh." Terdengar gerutuan dari bibir Ajun.


Gia pun langsung mencondongkan wajahnya, dia menatap wajah Ajun yang terlihat begitu menyedihkan.


"Hey! Sebenarnya kamu itu kenapa?" tanya Gia seraya menepuk pundak Ajun.


"Astaga!" Ajun terlihat sangat kaget mendapatkan tepukan di bahunya.


"Aku hanya bertanya, kenapa kamu sekaget itu?" tanya Gia.


"Karena memang aku sangat kaget," jawab Ajun.


"Kamu sangat aneh!" ucap Gia.


"Aku lagi pusing, Gadis positif hamil." Ajun makin terlihat menekuk wajahnya.


"Astaga!" Istri hamil bukannya bersyukur, malah cemberut seperti itu!" Gia terlihat menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja aku pusing, karena dia tak mau aku sentuh. Padahal aku pengen banget, tapi dia bilang aku bau. Padahal sudah mandi, tetap saja dikata bau," keluh Ajun.


Mendengar ucapan Ajun, Gia langsung tertawa dengan terbahak-bahak. Suaranya terdengar begitu nyaring, bahkan sampai menggema di ruangan kerja mereka berdua.


Sudut mata Gia bahkan sampai basah, perutnya pun terasa sangat sakit karena terlalu banyak tertawa.


Akhirnya Ajun pun bisa merasakan apa yang dia rasakan saat Elsa hamil, pikirnya. Hanya saja keadaannya terbalik, saat Elsa hamil Gia sangat ingin menyentuh Elsa, namun dirinya merasa sangat lemas dan tak berdaya.


Berbeda dengan Ajun yang dirinya begitu Ingin menyentuh Gadis, namun sayangnya Gadis terlihat begitu enggan untuk disentuh oleh Ajun.


Gadis terus saja beralasan jika Ajun bau, bahkan saat Ajun sudah mandi berkali-kali.


"Jangan tertawa! Ini semua karena sumpah serapah yang kamu utarakan kemarin padaku," keluh Ajun.

__ADS_1


"Mana ada yang seperti itu? Mungkin saja Baby yang dikandung oleh istrimu itu sangat sensitif terhadap dirimu," kata Gia.


"Mana ada yang seperti itu, calon bayi kami masih di dalam perut. Mana bisa dia mengerti hal itu," sangkal Ajun.


"Terserah kalau tak percaya," kata Gia.


Ajun terlihat menghela napas berat, lalu dia pun menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi miliknya.


Dia terlihat sangat lesu dibuatnya, Gia pun jadi merasa kasihan pada asisten kesayangannya itu. Lalu, terbersit lah sebuah ide di dalam otaknya.


"Aha! Aku tahu bagaimana caranya agar kamu bisa tetap bisa menyentuh istrimu," kata Gia.


Ajun langsung menegakkan tubuhnya, lalu dia pun menatap Gia dengan senyum di wajahnya.


"Bagaimana caranya? Cepat katakan!" ucap Ajun tak sabar.


"Kamu itu kenapa tak sabar sekali, sabarlah sebentar. Nanti akan aku ceritakan bagaimana caranya," kata Gia.


Ajun terlihat kesal mendengar ucapan dari Gia, dia merasa seolah sedang dipermainkan. Padahal dia benar-benar mengharapkan ada yang memberinya ide, agar dia bisa tetap bersentuhan dengan istri kecilnya.


Rasanya tak ada kebahagiaan di dalam hatinya, karena memang hanya itulah yang bisa membuat dirinya sangat bahagia.


"Cepatlah katakan!" titah Ajun.


Ajun terlihat memutarkan bola matanya, dia benar-benar sudah berharap banyak kepada Gia. Namun, Gia seolah-olah mempermainkan dirinya.


''Ya sudah kalau tak mau mengatakannya, aku mau pergi saja keluar. Mau cari makanan yang enak," kata Ajun.


"Enak saja, ini jam kerja. Kamu tak boleh kelayapan," kata Gia.


"Baiklah, aku tidak akan pergi. Jadi cepat katakan, bagaimana caranya agar aku bisa tetap bersentuhan dengan istriku!" ucap Ajun ketus.


"Suruh istrimu pakai masker saja, biar dia tidak mencium bau tubuhmu. Kalau tidak, kamu suruh istrimu untuk membelakangi dirimu," usul Gia.


Ajun benar-benar terlihat menyimak perkataan Gia, namun dia merasa aneh saat dia mengatakan harus menyuruh istrinya untuk membelakangi dirinya.


"Memangnya kenapa harus membelakangiku?" tanya Gia.


"Supaya milikmu itu bisa masuk tanpa hambatan," ucap Gia seraya terkikik geli.


"Astaga!" ucap Ajun seraya menepuk jidatnya.

__ADS_1


Ajun merasa jika usulan Gia terdengar sangat konyol bagi dirinya, namun Ajun pun berpikir tak ada salahnya pikirnya untuk mencoba.


Siapa tahu hal itu ampuh dan dia pun bisa berdekatan dengan Gadis lagi, bahkan bisa melakukan ritual kesukaanya.


"Terserah padamu saja, mau mencobanya atau tidak. Aku hanya memberikan saran," ucap Gia.


Gia lalu bangun dan melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya, dia langsung duduk dan bergulat dengan berkas yang sedari tadi dianggurin karena harus mengobrol dengan asisten pribadinya tersebut.


Berbeda dengan Ajun yang terlihat sedang berpikir keras, dia pun jadi memutuskan jika pulang kerja nanti dia akan membeli masker sesuai dengan saran dari Gia.


Saran yang terdengar konyol, namun mungkin saja itu akan ampuh, pikirnya.


Ajun merasa jika hari yang dia jalani terasa sangat lambat, itu semua karena dia terlalu memikirkan masalahnya dengan Gadis.


Dia sangat bahagia karena akhirnya dia akan memiliki keturunan, namun dia juga merasa sedih karena dalam kehamilan Gadis, dia merasa jika dirinya benar-benar sangat diuji.


Namun, Ajun sudah bertekad dalam hatinya jika dia akan berusaha bersabar untuk menghadapi istri kecilnya.


Pukul empat sore Ajun langsung bergegas untuk pulang, saat di pertengahan jalan dia pun menepikan mobilnya untuk membeli masker sesuai dengan instruksi dari Gia.


Saat dia hendak keluar dari toko tersebut, tiba-tiba saja hujan begitu deras mengguyur. Ajun pun berlari menuju mobilnya agar dia tidak kehujanan.


Hujan turun begitu lebat, bahkan petir terdengar menyambar dengan hebat. Dia melajukan mobilnya dengan perlahan, karena jarak pandang menjadi sulit terlihat.


Ditambah lagi macetnya ibu kota di saat sore hari, membuat mobil sulit bergerak. Saat Ajun baru saja melajukan mobilnya menuju pulang ke kediaman Tuan Alfonso, dia melihat seorang wanita yang sedang kehujanan di pinggir jalan.


Saat dia perhatikan, ternyata wanita itu adalah istri dari Aliando sepupunya. Wanita yang sempat menjadi pujaan hatinya, walaupun dia tak sempat menyatakan perasaannya.


Dia merasa sangat kasihan karena Melani terlihat kedinginan, bahkan tubuhnya terlihat menggigil.


Ajun pun kembali menepikan mobilnya dan mengajak Melanie untuk masuk ke dalam mobilnya, tanpa pikir panjang Melani pun langsung masuk ke dalam mobil milik Ajun.


Untuk sesaat, Ajun melihat kondisi Melani yang terlihat menggigil kedinginan dan merasa kasihan.


Ajun lalu membuka jasnya dan menyuruh Melani untuk memakainya.


"Pakailah, jasnya. Setidaknya ini bisa menghangatkan tubuhmu," ucap Ajun.


Melani mengangguk, lalu dia mengambil jas tersebut dari tangan Ajun.


"Terima kasih," ucapnya tulus.

__ADS_1


Ajun menganggukkan kepalanya, lalu dia pun mulai melajukan mobilnya.


__ADS_2