Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Sabtu, pukul empat sore.


Sore yang sudah dinantikan oleh Dokter Irawan pun telah tiba, acara privat party yang di selenggarakan di ballroom hotel milik Gia yang ada di pulau Dewata terlihat begitu megah.


Dokter Irawan sengaja mengusung tema glamor, pikirnya acara itu hanya akan dilaksanakan sekali seumur hidup'nya. Maka dari itu, dia ingin membuat acara yang tak akan terlupakan dalam seumur hidupnya.


"Kamu cantik, Sayang." Dokter Irawan nampak mencuil dagu istrinya kala mereka naik keatas pelaminan.


Anita nampak tersipu malu, dia tak menyangka jika dokter Irawan bisa dengan cepat menerima dirinya sebagai istri yang sesungguhnya.


Padahal, dia menyangka jika masa pendekatannya dengan dokter Irawan akan berlangsung lama. Karena mereka sama sekali tak saling mengenal.


Namun ternyata, baik dokter Irawan ataupun dirinya bisa dengan mudah saling memahami dan saling mengenali karakter sifat masing-masing.


"Pak Dokter suamiku ini juga terlihat sangat tampan dan terlihat lebih muda," ucap Anita.


Dokter Irawan langsung tertawa mendengar perkataan dari istrinya.


"Ya ampun, aku jadi tidak sabar untuk menunjukkan kalau aku memang sangat gagah. Walaupun usiaku sudah tiga puluh empat tahun," kata Dokter Irawan.


Dia sudah membayangkan apa saja yang akan dia lakukan saat mereka sudah tiba di kamar nanti, dia juga sudah memilirkan gaya apa saja yang akan dia praktekan pada istrinya yang masih bersegel itu.


Dia tak ingin menyakiti istrinya, secara ini adalah yang pertama untuk Anita. Dia harus bisa mengontrol dirinya agar tak berbuat kasar. Pelan namun penuh penghayatan.


"Aku menunggunya," jawab Anita malu-malu.


Dokter Irawan sempat terdiam kala istrinya berkata seperti itu, namun dalam hatinya yang paling dalam dia sangat bahagia mendapatkan respon seperti itu.


"Bersiplah, aku pastikan kamu akan menjerit karena belalaiku tidak akan memberikan pengampunan," kata Dokter Irawan.


Anita nampak membulatkan matanya, satu cubitan pun dia layangkan di perut sixpack suaminya.


"Aduh!" keluh Dokter Irawan.


Dokter Irawan nampak mengusap-usap perutnya, dia tak menyangka jika cubitan istrinya terasa sakut juga.


"Makanya jangan macam-macam," kata Anita.


Dokter Irawan tersenyum, lalu dia kembali berkata.


"Aku tidak akan macam-macam, hanya akan membuat kamu tak tidur semalaman," kata Dokter Irawan.

__ADS_1


"Woow, aku takut!" kata Anita seraya terkekeh.


Melihat ekpresi wajah Anita, membuat dokter Irawan ingin menggendong dan menghempaskan tubuh istrinya itu ke atas ranjang.


Mengurung tubuh mungilnya dan membuatnya menjerit karena merasakan kenikmatan yang baru saja dia rasakan.


Sayangnya, dia masih harus menunggu waktu lagi. Karena acara resepsi ini, adalah acara yang begitu dia impikan.


Setelah dia dan Anita bsrdiri di atas pelaminan, keluarga inti mulai menghampiri mereka berdua dan langsung memberikan ucapan selamat.


Lalu mereka pun berfoto bersama, dari mulai gaya biasa sampai gaya bebas. Mereka nampak bahagia.


Selepas keluarga inti, para sahabat dan juga anak istrinya nampak memberikan selamat. Di susul teman-temannya sefropesinya yang juga turut hadir dan mengucapkan selamat.


Raut bahagia di wajah dokter Irawan tak pernah pudar, dia benar-benar merasa sangat bahagia karena akhirnya dia bisa melepas masa lajangnya. Walaupun pada kenyataannya dia memang sudah tidak perjaka lagi.


*/*


Jika dokter Irawan sedang merasakan kebahagiaan yang tiada tara, berbeda dengan Clarista yang kini sedang merasa sangat kesal.


Saat dia tiba di hotel milik Gia yang berada di pusat kota, dia merasa kaget. Karena ternyata di sana tidak ada acara pernikahan dokter Irawan.


Padahal dia sudah merencanakan sesuatu untuk menggagalkan acara pernikahan dari orang yang sangat dia cintai itu.


"Berani sekali kamu melakukan ini padaku, awas saja kamu Irawan!" kesal Clarista.


Clarista yang merasa kesal langsung pergi dari hotel tersebut, dia pun segera menemui orang kepercayaannya.


Dia meminta orang tersebut untuk melacak keberadaan dokter Irawan, hanya membutuhkan waktu setengah jam orang tersebut mampu mengetahui keberadaan dokter Irawan.


"Di mana mereka?" tanya Clarista.


Dia begitu tak sabar ingin segera mengetahui keberadaan dokter Irawan.


"Da Bali, di hotel milik keluarga Pranadtja," jawab pria itu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh orang kepercayaannya, Clarista nampak marah. Dia terlihat benar-benar sangat emosi, dia tak menyangka jika dokter Irawan akan bertindak sejauh ini.


"Kenapa dia bisa mengecoh aku?" tanya Clarista lirih.


Clarista terlihat bersiap untuk pergi, namun dengan cepat orang kepercayaannya tersebut pun mencekal tangan Clarista.

__ADS_1


"Mau kemana, kamu?" tanyanya.


"Aku akan menyusul Irawan, aku harus memberikan pelajaran kepadanya," ucap Clarista.


"Aku mohon jangan pergi malam ini, setidaknya pergilah esok hari," ucapnya lagi.


Mendengar ucapannya, Clarista nampak menimbang-nimbang. Lalu, dia pun mengganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku akan ke Bali esok pagi," ucapk Clarista.


Clarista nampak duduk kembali, dia terlihat menatap ke sembarang arah dengan pikiran yang tak menentu.


"Clarista!"


"Ya," jawab Clarista.


"Bolehkah aku berkata sesuatu kepadamu?" ucapnya.


"Ya, bicaralah!" kata Clarista.


"Aku hanya ingin berbicara kepadamu, sepertinya kamu bukan mencintai dokter Irawan, namun kamu hanya terobsesi. Berhentilah untuk mengejarnya seperti ini, lagi pula dokter Irawan sudah memutuskan untuk menikahi wanita lain. Masih banyak lelaki baik di luar sana yang pantas untuk kamu, jangan terobsesi seperti itu," katanya.


Mendengar ucapan orang kepercayaannya, Clarista nampak memelototkan matanya. Dia tidak suka dengan apa yang diucapkan oleh orang kepercayaannya tersebut.


"Jaga bicaramu Steven, aku mencintainya," ucap Clarista.


"Terserah apa katamu, yang pasti kamu sudah mulai tidak waras. Kalau kamu tak segera menghentikkan kegilaan kamu, aku yakin akan ada korban," kata Steven.


Steven yang merasa kesal terhadap Clarista pun langsung meninggalkannya, rasanya dia tidak ingin berbicara lagi dengan wanita yang selalu saja merepotkannya, namun tak pernah mau mendengarkan apa nasihatnya.


Sepeninggal Steven, Clarista hanya bisa mendengus kesal. Dia melemparkan tas miliknya ke sembarang arah, lalu dia pun merebahkan tubuhnya di sofa, dia sudah malas untuk pergi dari rumah Steven.


Tak lama kemudian, dia nampak tertidur. Rasa lelah dan kesal yang dia rasa membuat Clarista dengan mudah tertidur.


Karena saat kesal yang sudah tak tertahan lagi, dia akan segera mengkonsumsi obat penenang.


Setelah Clarista terlihat pulas dengan tidurnya, Steven nampak kembali lagi. Dia menggendong tubuh Clarista dan memindahkannya ke kamar tamu.


Dia merasa kasihan kepada Clarista, jika harus tidur di atas sofa.


Tiba di kamar tamu, Steven langsung merebahkan tubuh Clarista dengan sangat perlahan. Kemudian, dia pun duduk di tepian tempat tidur seraya memandang wajah Clarista.

__ADS_1


"Kenapa hanya Irawan yang selalu kamu kejar? Tidak bisakah kamu melihat ketulusan dari diriku?" tanya Steven lirih.


__ADS_2