Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Tentang Keinginan


__ADS_3

Setelah berpamitan kepada Gia dan Elsa, Aurora dan Aurelia langsung berangkat ke kampus diantar pak sopir.


Aurora terlihat menggunakan kaos panjang berwarna hitam dipadupadankan dengan celana jeans berwarna senada dengan baju yang dia pakai.


Rambutnya dia ikat tinggi-tinggi, hal itu sengaja dia lakukan agar tidak merasa gerah katanya.


Berbeda dengan Aurelia yang terlihat berpenampilan feminim, dia memakai dres selutut berwarna kuning kunyit dengan rambut yang dibiarkan tergerai.


Begitupun dengan Al dan juga Adelia, mereka nampak pergi menuju sekolah dasar tempat mereka menimba ilmu.


Adelia kini sudah duduk di kelas empat, sedangkan Alex duduk di bangku kelas dua. Kedua adik kakak itu sangat akur dan selalu kompak.


Tiba di kampus, kedua putri Elsa itu menjadi bahan perbincangan. Karena wajah mereka terlihat sanagt cantik, muda dan juga menarik.


Banyak kaum Adam yang menatap mereka tanpa berkedip, namun Aurora dan Aurelia nampak biasa saja.


Masuk ke dalam kelas, banyak pria yang menghampiri mereka dan mengajak untuk berkenalan.


Banyak kaum hawa yang merasa iri akan hal itu, karena mereka merasa jika mereka pun tak kalah cantik dengan kedua putri kembar Elsa tersebut.


Saat seorang dosen masuk, barulah kaum adam yang sedang mengerumuni Aurora dan Aurelia nampak membubarkan diri.


Pukul sebelas siang Aurora dan Aurelia sudah keluar dari kampus, Aurelia langsung tancap gas menuju kantor Pranadtja. Sedangkan Aurora langsung pergi menuju sanggar seni lukis.


Tentu saja sebelumnya dia sudah janjian terlebih dahulu dengan Elsa agar bisa bertemu di sana.


"Bunda!" teriak Aurora saat melihat Elsa yang sedang duduk dan menunggu kedatangan dari putrinya itu.


Aurora terlihat menghampiri Elsa, lalu dia terlihat memeluk bundanya tersebut.


"Sudah sampai?" tanya Elsa seraya menyambut pelukan dari Aurora.


"Sudah, Bun." Aurora melerai pelukannya.


"Bunda sudah daftarin kamu, sekarang kamu tinggal masuk dan melihat-lihat dan memilih alat lukis mana yang mau kamu pakai," kata Elsa.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Elsa, Aurora tampak senang sekali. Bahkan dia langsung memeluk lengan kanan Elsa dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam galeri seni lukis tersebut.


"Waah, besar ya, Bun, ruangannya?" kata Aurora.


"Ya, pasti kamu akan nyaman belajar melukis di sini," kata Elsa.


Elsa terlihat menghampiri orang kepercayaan dari sang pemilik sanggar, Jefri. Mereka mengobrol dan juga berkeliling untuk melihat-lihat sanggar seni yang sangat luas itu.


"Gimana, Ra?" tanya Elsa.


"Aku mau mulai belajar dari sekarang," kata Aurora.

__ADS_1


Dia terlihat begitu bersemangat, karena memang dari dulu dia begitu menyukai seni lukis.


"Ya sudah, kalau begitu Bunda tinggal. Kalau sudah selesai kabarin Bunda, biar dijemput sama sopir," kata Elsa.


"Ya, Bunda," jawab Aurora.


Setelah berpamitan, Elsa nampak kembali ke kediamannya bersama dengan sang supir. Sedangkan Aurora mulai mengambil peralatan yang diperlukan sesuai dengan arahan dari Jefri.


*/*


Di perusahan Pranadtja.


Aurelia nampak duduk tepat di samping sang ayah, dia begitu serius mempelajari berkas yang kini sedang dia pegang.


Sesekali Aurelia akan bertanya pada Ajun yang ada di meja kerjanya, karena kalau bertanya pada sang ayah, dia takut akan mengganggu.


"Sayang!" panggil Gia.


"Ya, Ayah," jawab Aurelia.


"Dari tadi kamu duduk di samping Ayah, tapi jika kamu hendak bertanya pasti kamu bertanya kepada Ajun. Kenapa tidak duduk bersama dengan Ajun saja?!" ucap Gia penuh protesm


Sebenarnya dia merasa tersinggung, karena sedari tadi Aurelia seakan tidak membutuhkan dirinya. Namun, dia terlihat lebih membutuhkan Ajun, sang asisten kepercayaannya.


Mendengar perkataan dari Gia, Aurelia langsung memamerkan deretan gigi putihnya.


Mendengar jawaban dari putrinya, Gia nampak mencebik kesal.


"Tapi Ayah cemburu, Ayah seakan tidak dibutuhkan!" kata Gia jujur.


Aurelia menjadi salah tingkah saat mendengar apa yang dikatakan oleh Gia, dia langsung memeluk Gia dan menyandarkan kepalanya di pundak lelaki yang kini berusia tiga puluh sembilan tahun itu.


Di usianya yang kian matang, Gia terlihat semakin gagah dan lebih berwibawa. Sayangnya kelakuan manjanya tetap selalu dia tampilkan di depan anak dan juga istrinya.


"Maaf," kata Aurelia.


"Baiklah, Ayah akan memaafkan kamu. Tapi ada syaratnya," kata Gia.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Gia, Aurelia terlihat mendongakkan kepalanya. Dia menatap wajah ayahnya dengan lekat.


"Apa syaratnya, Yah?" tanya Aurelia.


Gia langsung tersenyum mendapatkan pertanyaan dari putri cantiknya tersebut, kemudian dia berkata.


"Temani Ayah meeting, pelajari berkasnya. Sebentar lagi kita akan meeting dengan perusahaan XC, satu jam lagi mereka akan datang." Gia terlihat memberikan berkas kepada Aurelia untuk dipelajari.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Gia, Aurelia terlihat sangat senang sekali. Karena dengan seperti itu dia bisa langsung terjun dan bisa dengan mudah memperdalam ilmunya.

__ADS_1


Bukan ilmu kebatinan ya guys, tapi ilmu dalam bisnis.


"Siap, Ayah." Aurelia terlihat mengeratkan pelukannya kepada Gia.


Aurelia terlihat senang sekali, begitupun dengan Gia. Dia merasa bangga kepada putrinya benar-benar berniat untuk menekuni dunia bisnis semenjak dini.


Gia terlihat mengecup kening putrinya, lalu mengelus lembut punggung putrinya tersebut.


Ajun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ayah dan anak tersebut.


Sebenarnya dalam hati Ajun merasa iri, karena Gia memiliki tiga orang putri yang cantik dan satu putra yang tampan.


Berbeda dengan dirinya yang hanya memiliki tiga putra, tidak ada anak perempuan yang Gadis lahirkan. Semuanya berjenis kelamin laki-laki.


Namun, kembali lagi. Itu semua sudah kehendak Tuhan, Ajun hanya bisa bersyukur dan berterima kasih atas nikmat yang selalu Tuhan limpahkan kepada dirinya.


Gia terlihat memperhatikan raut wajah Ajun, dia sangat paham jika asisten kesayangannya itu juga mendambakan kehadiran anak perempuan di dalam keluarganya.


Hanya saja, setelah tiga kali Gadis melahirkan. Semua anak mereka terlahir dengan jenis kelamin laki-laki.


Sebenarnya Gadis masih ingin melakukan program hamil kembali, karena dia masih merasa muda. Namun, Ajun melarangnya. Dia takut jika akan terjadi sesuatu terhadap istri cantiknya tersebut.


"Jangan iri," goda Gia.


"Tidak! Aku hanya--"


Ucapan Ajun tehenti kala Aurelia terlihat melerai pelukannya dengan sang ayah lalu menghampiri Ajun dan dia memeluk Ajun dengan erat.


"Aku juga putri Daddy, jangan pernah merasa tidak mempunyai seorang putri," kata Aurelia.


"Oh my!"


Mata Ajun terlihat berkaca-kaca, dia langsung membalas pelukan Aurelia dan mengecup kening putri dari sahabat sekaligus bosnya tersebut.


"Terima kasih," ucap Ajun.


"Sama-sama," kata Aurelia.


Melihat Ajun yang begitu bahagia mendapat perlakuan dari Aurelia, Gia langsung tersenyum. Kemudian, dia berusaha untuk menggoda Ajun.


"Hey, jangan berusaha untuk merebut kasih sayang putriku!" kata Gia seraya menghampiri Ajun.


"Pelit!" umpat Ajun seraya mengeratkan pelukannya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2