
Elsa terlihat sangat resah, Elsa bingung. Elsa tidak tahu harus menjawab apa, kalau bilang 'iya' dia tak menyukai Gia.
Tapi, kalau bilang 'Ngga' dia takut, jika Gia tak akan memberikan kasih sayangnya lagi terhadap kedua putrinya.
Karena walau bagaimana pun, Aurora dan Aurelia baru saja mengetahui jika Gia adalah Ayah mereka. Aurora dan Aurelia baru saja merasakan kebahagiaan, karena masih mempunyai sosok Ayah yang belum pernah mereka rasakan kasih sayangnya.
"Sa, gimana?" tanya Gia gundah.
Gia begitu memelas, wajahnya terlihat pucat menunggu jawaban dari Elsa. Gia sudah terlihat tak sabar, ingin segera mendengar jawaban dari bibir Elsa.
"Aku... Aku tidak menyukai kamu." Elsa menjawab tanpa memandang wajah Gia.
Gia sangat kecewa, dia langsung duduk di atas pasir. Wajahnya lesu, Gia kini patah hati. Semua orang yang ada di sana terlihat sedih, mereka merasa kasihan pada Gia.
Sedangkan Tuan Dirja, hanya bisa menarik napas panjang. Dia tahu, jika Elsa pasti akan membenci Gia. Kelakuan Gia memang sulit untuk dimaafkan, apa lagi jika mengingat trauma yang akan Elsa rasakan.
Aurora dan Aurelia yang melihat kesedihan di wajah Ayahnya, merasa tak tega. Mereka pun langsung menghampiri dan memeluk Ayahnya.
Aurora dan Aurelia mengecupi pipi Ayahnya, mereka berusaha untuk menghibur Ayahnya yang sedang kecewa.
Aurora dan Aurelia lalu mendongakan kepalanya, mereka menatap Elsa dengan intens.
"Jika Bunda tak mencintai Ayah, setidaknya terimalah Ayah demi kami." Aurelia berucap dengan nada penuh permohonan.
Elsa menjadi tak tega melihat tatapan mata Aurelia.
"Jika Bunda menerima Ayah, Ayah Gia sudah pasti menyayangi kami, karena kami anak kandungnya." Aurora berucap sambil memeluk Gia.
"Tapi, jika Bunda menikah dengan pria lain. Mungkin pria itu, akan sangat mencintai Bunda. Bahkan, rela melakukan apapun demi Bunda. Tetapi, dia belum tentu menyayangi kami dengan ikhlas." Aurelia menimpali omongan Adiknya.
Tubuh Elsa seketika menjadi lemas, memang benar dengan apa yang di katakan oleh kedua putrinya. Dia pun, langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas pasir.
Dia menangis sambil menatap kedua putrinya dengan wajah yang begitu sendu, Aurora dan Aurelia pun langsung melepaskan pelukannya dari Gia.
Kemudian, mereka pun langsung memeluk Elsa dan menciumi wajah Elsa dengan penuh kasih sayang. Gia pun segera menghampiri Elsa dan ikut berpelukan.
Gia mencium kening Aurora, Aurelia dan Elsa secara bergantian.
"Jika kamu tak mencintaiku, setidaknya, izinkan aku menikahimu karena kedua putri kita." Gia menatap mata Elsa yang memerah.
__ADS_1
Tanpa Gia duga, Elsa langsung menganggukan kepalanya. Gia sangat senang, dan semua orang yang ada di sana pun langsung bersorak.
Dengan cepat, Gia mengambil cincinnya dan memasangkannya di jari manis Elsa. Karena senang, Aurora dan Aurelia langsung bangun dan berlari mendekat ke arah bibir pantai, sedangkan Gia langsung menggendong Elsa dan memutarkan tubuhnya.
Elsa begitu takut, jika dia akan jatuh. Elsa pun dengan cepat langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher Gia.
"Sudah, Gia! Aku takut!" ucap Elsa.
Gia pun langsung berhenti berputar, dia menatap wajah Elsa dengan lekat. Lalu, Gia pun menautkan bibirnya dengan bibir Elsa.
Elsa terperangah, dia bahkan sampai menarik-narik baju yang Gia pakai. Kedua putri Elsa, langsung menutup mata mereka. Sedangkan semua yang ada di sana, langsung berteriak kegirangan.
Mereka sangat senang, karena acara lamaran yang mereka persiapkan dari semalam, berjalan dengan lancar, walaupun terlihat ada sedikit drama.
Tuan Dirja langsung menghampiri Gia dan menepuk pundaknya cukup keras.
"Halalkan dulu, jangan main sosor aja. Nanti khilaf," ucap Tuan Dirja.
Gia langsung tertawa, sedangkan Elsa langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Gia. Dia malu, dengan apa yang terjadi padanya hari ini.
"Daddy benar, sepulang dari sini. Aku akan langsung menikahi Elsa," ucap Gia.
Elsa langsung turun dan memeluk lengan Gia, dia merasa takut melihat wajah Tuan Dirja yang tiba-tiba terlihat serius.
"Dad!" protes Gia.
"Selesaikan tournya dulu, Elsa pasti cape kalau pulang dari sini harus melakukan acara pernikahan. Karena Elsa, masih sibuk untuk mempersiapkan konser yang di Jakarta." Tuan Gia berucap dengan serius, membuat Gia menelan ludahnya dengan susah.
"Bisa sabar kan kamu? Hanya dua minggu lagi, jangan sampai kamu memperkosa Elsa untuk yang kedua kalinya." Tuan Dirja menatap Gia dengan tatapan penuh dengan keseriusan.
"I--iya, Dad. Aku bisa sabar," ucap Gia.
"Kalau begitu, sebelum besok pagi kita pulang, kita harus bersenang-senang." Tuan Dirja langsung menghampiri kedua cucunya dan langsung menggendong mereka.
*/*
Setelah seharian bermain air, Aurora dan Aurelia nampak tertidur dengan pulas. Sedangkan Gia, menghampiri Elsa yang baru saja selsai merapikan barang-barang kedua putrinya.
"Sa," panggil Gia.
__ADS_1
Gia langsung duduk di samping Elsa, Elsa pun nampak memandang Gia yang kini sudah tepat berada di sampingnya.
"Apa?" Elsa bertanya dengan wajah yang terlihat sangat lelah, karena seharian harus menuruti semua keinginan kedua putrinya.
Gia langsung menggenggam kedua tangan Elsa, dia menatap wajah Elsa dengan lekat.
"Aku janji, ngga bakal nyakitin kamu lagi. Kalaupun kita nikah nanti, aku akan berusaha untuk tidak memaksa kamu untuk mencintai aku dan aku tidak akan memaksa kamu untuk memberikan hak aku sebagai seorang suami." Gia berucap dengan tulus, Elsa pun bisa melihatnya.
"Jangan berjanji, takutnya ngga bisa nepati. Tapi, kamu harus berusaha untuk jadi Ayah dan suami yang baik buat kami," ucap Elsa.
Gia langsung menganggukan kepalanya, Elsa memang dewasa sekali, pikirnya. Dia begitu pengertian, Gia suka.
"Iya, aku akan berusaha untuk menjadi lelaki yang terbaik untuk kalian." Gia mengecup kedua punggung tangan Elsa secara bergantian.
Elsa hanya bisa tersenyum melihat ketulusan di mata Gia, Gia merasa sangat bersyukur karena Elsa mau memberikam kesempatan pada'nya.
Dan tanpa Elsa duga, Gia langsung mengecup bibir Elsa beberapa kali. Elsa langsung cemberut dan memukul dada Gia.
"Katanya ngga bakal maksa!" kesal Elsa.
"Aku ngga maksa, bibir kamunya aja yang seakan minta aku cium." Gia beralasan, agar tak mendapatkan amukan dari Elsa.
"Kamu nakal, ngga boleh kaya gitu lagi. Lagian kita belum nikah, ngga baik tau." Elsa mencebik kesal, karena Gia tetap saja selalu semaunya.
"Iya, ngga bakal cium lagi. Tapi, kalau udah nikah boleh kan?" tanya Gia.
"Boleh," jawab Elsa, Gia pun langsung sumringah." Tapi, kalau akunya lagi khilaf." Elsa langsung tertawa karena Gia langsung cemberut.
+
+
+
Jangan lupa tinggalkan jejak ya..
Boleh kasih koment atau kritik yang membangun, apa lagi kalau mau ngasih hadiah, boleh banget.
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓 Untuk Kaleyan semua.
__ADS_1