Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Nego


__ADS_3

Andrew terlihat menggendong Gadis dengan tergesa-gesa, dia takut Gadis akan melahirkan saat itu juga di sana.


Melani dengan setia mengekori langkah Andrew, saat tiba di dekat mobil milik Andrew, Melani langsung membukakan pintu mobilnya.


Namun baru saja Andrew hendak mendudukan Gadis di bangku penumpang, tiba-tiba saja Ajun terlihat berlari ke arah mereka.


"Mau dibawa kemana istri saya?" tanya Ajun dengan napas tersenggal.


"Anu, Tuan. Non Gadis kayaknya mau melahirkan, saya dan istri mau membawanya ke Rumah Sakit," ucap Andrew dengan tangan bergetar karena melihat raut wajah tak suka di mata Ajun.


"Biar saya yang mengantarnya ke Rumah Sakit, saya bisa sendiri," ucap Ajun.


Setelah berkata seperti itu, Ajun langsung mengambil alih Gadis dari gendongan Andrew. Setelah itu, dia pun langsung membawa Gadis pergi dari sana.


Melani dan Andrew nampak saling pandang, kemudian mereka tersenyum dan langsung kembali duduk kepelaminan.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Melani.


"Seneng," jawab Andrew.


"Senang kenapa?" tanya Melani penasaran.


"Kamu tahu ngga, Yang? Aku pikir aku akan menghabiskan malam pertama kita dengan menemani Nona muda di Rumah Sakit, tahunya ngga." Andrew langsung mengusap paha istrinya yang masih terbalut gaun pengantin.


"Memangnya kenapa kalau nemenin Gadis di Rumah Sakit?" kata Melani.


"Issh! Kamu tuh beneran ngga paham apa pura-pura, sih?" tanya Andrew kesal.


"Aku nanya baik-baik loh, kok kamu ngegas?" tanya Melani.


Andrew terlihat tersenyum, lalu dia memiringkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Melani.


"Kalau aku nemenin Non Gadis, di Rumah Sakit untuk melahirkan, malam ini kamu ngga bisa dapetin perjakanya aku," bisik Andrew dengan nada sensual.


Mendengar ucapan Andrew, Melani langsung tersipu. Pipinya terlihat memerah karena malu, rasanya dia tidak bisa membayangkan malam pertama mereka akan seperti apa.


Apa lagi Andrew masih sangat muda, sedangkan dia sudah berumur. Entahlah, tak terpikirkan sedikit pun dan tak terbayangkan dalam benaknya seperti apa nanti Andrew akan memperlakukan dirinya di malam pertama mereka.


"Ish, malu-malu." Andrew terlihat menoel dagu Melani.


"Apa sih?" tanya Melani seraya memalingkan wajahnya.

__ADS_1


*/*


Malam telah menjelang, waktu pun sudah menunjukkan pukul 09.00. Acara pun sudah berakhir, Andrew dan Melani memutuskan untuk pulang ke rumah Melani. Sedangkan kedua buah hati Melani sudah tertidur dengan pulas di kamar Andrew.


Saat mereka tiba di kamar Melani, Andrew dengan tak sabar langsung menggendong wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya tersebut.


Lalu, dia merebahkan tubuh Melani di tempat tidur dengan perlahan. Andrew terlihat mengusap wajah Melani dengan lembut, lalu dia mengecup kening istrinya.


"Andrew, aku mau mandi." Melani berucap seraya mendorong dada suaminya.


"Nanti saja mandinya, aku sudah ngga sabar." Andrew terlihat mengecup bibir Melani.


"Ck! Katanya kamu tidak akan menyentuhku kalau aku belum siap," ucap Melani penuh protes.


Mendengar ucapan Melani, Andrew langsung terkekeh.


"Maaf, aku hanya takut kalau kamu sudah ngga sabar pengen itu sama aku. Kali aja pengen buru-buru ngerasain itu sama brondong perjaka kaya aku," kata Andrew.


"Hilih! Bilang saja kalau kamu sudah ngga sabar, mau itu sama aku," kata Melani seraya memukul pundak suaminya.


Andrew terlihat tertawa.


"Ya, aku udah ngga sabar buat itu. Kata orang nikah sama janda itu enak, ngga bakal ada drama malam pertama. Jalannya udah enak kayak jalan tol, lurus. Boleh sekarang ngga?" tanya Andrew.


"Ya ampun, aku tuh aneh sama kamu. Kamu masih muda, tapi ngga pernah romantis," keluh Melani.


Andrew terlihat menggaruk tengkuk lehernya yang terasa tidak gatal, dia memang tidak berpengalaman dalam hal berpacaran.


Dia juga mengakui jika dia tidak bisa bersikap romantis, namun dia menjamin jika dia adalah lelaki yang setia terhadap satu perempuan.


"Ngga apa-apa, ngga romantis. Yang penting goyangannya," kata Andrew seraya terkekeh.


Melani ikut terkekeh mendengar ucapan Andrew, dia benar-benar merasa lucu mempunyai suami seperti Andrew.


"Emang bisa?" tanya Melani.


"Kita coba, kalau Mbak merasa kurang puas. Berarti kita harus melakukannya kembali," kata Andrew.


"Itu sih maunya kamu, satu kali aja belum sudah ngurusin dua kali," kata Melani.


"Makanya Mbak jangan ngomong mulu, aku kapan masuknya?" kelu Andrew.

__ADS_1


"Tapi, aku masih pake sanggul. Aksesori di kepala aku juga masih utuh, belum dibuka," kata Melani.


"Bagian kepala ngga penting, udah mending Mbak diem aja. Biarkan aku yang amatiran ini mulai beraksi," kata Andrew.


"Ya ampun, sebenarnya kita mau malam pertama apa mau nego beli sendal obralan?" tanya Melani.


Andrew tak menjawab pertanyaan dari Melani, dia langsung mengungkung tubuh istrinya tersebut.


Lalu, dia mulai membuka gaun pengantin yang melekat di tubuh Melani. Melani hanya terdiam sambil memperhatikan wajah Andrew yang terlihat serius.


Kadang Andrew juga terlihat berdecak kesal saat dia kesusahan membuka gaun pengantin milik istrinya tersebut.


Setelah dia berhasil membuka seluruh kain yang menutupi tubuh Melani, dia nampak diam saja. Melani sampai bingung dibuatnya, dia pun langsung duduk dan mengusap lembut wajah suaminya.


"Kok diem saja? Katanya mau itu," kata Melani.


"Ya ampun, Mbak. Badan Mbak mulus banget, seksi. Aku pengen ngerasain semuanya, tapi bingung harus mulai dari mana!" kata Andrew.


"Astaga!" kata Melani seraya menepuk jidatnya.


*/*


Di ruang bersalin gadis nampak sedang berusaha untuk melahirkan buah hatinya dengan Ajun, Gadis terlihat sangat tenang sekali.


Sesekali dia terlihat mengatur napasnya dan mulai mengejan sesuai dengan instruksi dari dokter, Ajun terlihat setia menemani Gadis.


Dia terus saja mengecupi wajah istrinya, sekali dia pun membisikkan kata-kata cinta di telinga istrinya tersebut.


Ajun benar-benar dibuat takut, gelisah, bahagia dan juga merasa sangat kagum kepada istrinya tersebut. Di dalam kesehariannya, Gadis selalu cerewet, bersikap sangat barbar dan terkadang menyebalkan.


Namun, disaat akan melahirkan buah hati mereka, dia terlihat tenang sekali. Bahkan dia bisa menenangkan hati Ajun di kala dirinya sedang berjuang menahan rasa sakitnya.


"Semangat, Sayang. Kamu pasti bisa!" ucap Ajun menyemangati.


Gadis tersenyum dan mulai mengejan kembali, hingga lima menit kemudian.


Oeee... Oeee....


Seorang putra yang sangat tampan terlahir kedua yang fana ini, Ajun dan Gadis terlihat bahagia sekali. Ajun bahkan tanpa ragu langsung memberikan ciuman mesra di bibir istrinya.


"Terima kasih, dia Sayang. Kamu luar biasa, terima kasih karena kamu sudah mau melahirkan seorang putra untuk aku," ucap Ajun dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Gadis terlihat menganggukkan kepalanya, lalu dia pun mengecup bibir Ajun dengan lembut. Dia sangat bahagia karena bisa memberikan keturunan kepada suaminya tersebut.


__ADS_2