
"Sedang apa kalian di sini?" tanya Gia.
"Kami sengaja turun, karena melihatmu sedang jajan di pinggir jalan. Apa yang sedang kamu beli Bang?" tanya VB.
"Aku sudah membeli cilok dan juga cimol, entah kenapa aku begitu menginginkannya. Padahal aku sama sekali belum pernah memakannya," kata Gia.
Dina dan VB langsung terkekeh, sepertinya anak yang di kandung Elsa kali ini dengan sengaja ingin mengerjai Ayahnya.
Bahkan Gia terlihat sangat tersiksa dalam masa kehamilan Elsa kali ini, Gia malah cenderung seperti ibu hamil pada umumnya. Namun, Elsa malah terlihat baik-baik saja.
Dina pun jadi berpikir, mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan untuk Gia. Karena perbuatan tidak senonohnya terhadap Elsa kala itu.
"Pesen berapa porsi, Bang?" tanya VB.
"Enam porsi, pedes, sedeng sama asin aja. Aku mau nyoba semua rasa," kata Gia.
Dina ingin sekali tertawa, apa lagi saat melihat Gia berucap. Dia sudah seperti bayi yang tumbuh gigi, mulutnya penuh dengan air liur yang siap meluncur kapan saja.
Namun dengan segera dia mengatupkan mulutnya menahan tawa, agar Gia tak tersinggung.
VB terlihat menggelengkan kepalanya, dia sungguh berdo'a dalam hati. Semoga saja jika istrinya hamil, dia tak akan kerepotan seperti Gia.
"Berapa, Bang?" tanya VB.
"Enam puluh ribu," jawab Kang cilok.
Gia langsung mengeluarkan uang seratus ribuan dan memberikannya pada Kang cilok, "kembaliannya ambil aja, Kang."
"Makasih, Pak." Kang cilok langsung tersenyum senang, Bahkan uang dari Gia sampai dia cium beberapa kali.
"Gue mau balik, mau makan di rumah aja." Gia langsung berjalan menuju mobil yang dia parkir tak jauh dari sana.
"Iya, Bang. Kita juga mau balik, salam buat Elsa ya, Bang." Kata VB seraya menepuk pundak Gia.
"Iya, entar gue sampein, " jawab Gia.
Gia pun langsung masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukan mobilnya menuju kediaman Pranadtja. Begitupun dengan VB dan Dina, mereka pun ingin pulang menuju kediaman Fahreza.
__ADS_1
Tiba di kediaman Pranadtja, Gia langsung turun dari mobilnya. Gia terlihat sangat bahagia, dia langsung berlari untuk mencari istrinya. Dia ingin mengajak istrinya untuk makan cilok dan cimol yang sudah dia beli.
"Sayang, Mas pulang." Gia menyusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumah tersebut, namun tak menemukan istrinya.
Gia hanya melihat Bu Anira yang sedang merajang sayuran di dapur, Gia pun langsung menghampiri mertuanya itu.
"Bu, Elsa mana?" tanya Gia.
Bu Anira menghentikan aktivitasnya, lalu dia pun memalingkan wajahnya. Dia pun menatap wajah menantunya itu dengan lekat.
"Elsa sedang mandi, Nak. Katanya pengen berendem pake air hangat," jelas Bu Anira.
"Kok tumben?" tanya Gia penasaran.
"Katanya kakinya, pegal." Bu Anira mengambil pisau dan siap merajang kembali sayuran yang akan dia masak.
"Oh, lalu... kemana kedua puti cantikku, Bu?" tanya Gia lagi.
"Mungkin sebentar lagi akan pulang, mereka sedang pergi dengan Kakeknya." Bu Anira kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah mendapatkan jawaban, Gia langsung menyimpan cimol dan cilok yang dia beli di atas meja makan. Kemudian, dia pun langsung berjalan menuju kamarnya.
"Yang..." panggil Gia saat dia membuka pintu kamarnya.
Hening, tak ada jawaban.
Gia pun langsung mengedarkan pandangannya, tak ada Elsa di dalam kamar tersebut. Gia pun memutuskan untuk ke kamar mandi, sesuai petunjuk dari mertuanya.
Benar saja, Elsa sedang berendam dengan air hangat. Badannya ditutupi oleh busa sabun, telinganya di sumbat headset.
Gia pun langsung tersenyum,, pantas saja Elsa tak mendengar panggilannya. Ternyata ia sedang berendam sambil mendengarkan musik, Elsa terlihat sangat cantik.
Wajahnya terlihat basah, rambutnya terlihat digelung. Tubuhnya dipenuhi busa sabun, seksi sekali pikirnya.
Gia seakan terhipnotis, dia langsung membuka semua kain yang menghalangi tubuhnya. Lalu, Gia pun langsung masuk ke dalam bathup dan langsung memeluk Elsa dari belakang.
"Mas!" Elsa memekik kaget, dia tak menyangka jika Gia akan datang secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Kaget?" tanya Gia.
Tangannya langsung memijat bagian dada istrinya yang terasa lembut dan basah. Bahkan setelah beberapa kali mendapatkan pijatan dari Gia, puncak dada istrinya terlihat mengeras.
Gia langsung mengangkat tubuh Elsa dan mendudukannya di atas pangkuannya, bak bayi besar, Gia langsung mengulum puncak dada istrinya. Tangannya pun tak tinggal diam, tangan nakal itu terus saja merambat di setiap lekuk tubuh istrinya.
Hal itu membuat Elsa kelimpungan, antara ingin, geli, nikmat, dan Enggan. Tapi, Elsa tak bisa menolak sentuhan kenikmatan yang Gia berikan.
Elsa langsung menjambak rambut Gia dengan sedikit kasar, dia sudah sangat menginginkan suaminya. Bahkan miliknya seakan berkedut, dia ingin segera dimasuki.
"Mas, aku ngga mau kalau harus melakukannya di dalam kamar mandi. Aku takut Babby kita kenapa-kenapa," kata Elsa.
Gia pun langsung tersadar, dia langsung menatap perut istrinya yang terlihat membuncit. Terlihat dengan sangat jelas tonjolan di perut Elsa, membuat Gia langsung mengelus dan mengecupi perut istrinya.
"Maafkan Ayah, Sayang." Gia kembali mengecupi perut basah istrinya.
Gia mengambil spon mandi lalu menggosok tubuh Elsa dengan lembut, Gia juga melepaskan headset yang berada di kuping Elsa.
Gia memandikan istrinya dengan lembut, Elsa pun menatap kagum ke arah Gia. Padahal Elsa melihat gairah yang sangat membara di mata Gia, namun Gia terlihat berusaha keras untuk menahannya.
Elsa tahu, jika Gia melakukan itu karena begitu sayang terhadap Babby yang ada di dalam kandungannya.
Setelah selesai mandi, Gia langsung menggendong istrinya. Gia terlihat sangat hati-hati saat mengangkat tubuh istrinya.
Di dudukannya Elsa di atas sofa dengan perlahan, dikeringkannya rambut Elsa dengan telaten. Bahkan memakai baju pun Elsa tak diperbolehkan, Gia yang memilih dan memakaikan baju untuk Elsa.
"Cantik, istri Mas, memang selalu cantik." Gia mengusap lembut pipi Elsa, lalu mengecup keningnya.
Elsa tersenyum senang, karena ternyata makin ke sini Gua makin perhatian dan makin menunjukan rasa kasih sayangnya.
"Kamu tunggu di sini, Mas pake baju dulu." Gia langsung masuk ke dalam ruang ganti dan memakai bajunya.
"Sudah, Mas?" tanya Elsa.
"Sudah," jawab Gia.
Gia mengajak istrinya untuk masuk ke dalam ruang makan, karena Gia ingin makan cilok dan cimol yang sudah dia beli.
__ADS_1
Saat tiba di ruang makan, wajah Gia langsung terlihat kesal. Pasalnya, cilok dan cimol yang dia beli sudah habis di makan oleh Aurora, Aurelia dan juga Tuan Dirja.
"Babby, itu cilok sama cimolnya punya Ayah!" kesal Gia pada Aurora dan Aurelia, sedangkan kedua putri Gia hanya tersenyum kikuk karena menghabiskan makanan Ayahnya tanpa permisi.