
Malam telah menjelang, Gia dan Elsa pun sedang tertidur dengan lelap. Baby Adelina pun sedang tidur di dalam box bayi miliknya.
Walaupun tak bisa melakukan hal yang sangat dia inginkan, Gia masih bisa tidur sambil memeluk istri tercintanya.
Saat sedang asik dalam buayan mimpinya, Gia terbangun karena mendengar Baby Adelina yang terdengar menangis.
"Ya ampun, anak Ayah nangis." Gia langsung bangun dengan perlahan agar tak mengganggu Elsa yang sedang tidur.
Gia menghampiri putrinya dan menggendongnya dengan perlahan.
"Ayah pasti bisa gendong kamu," ucap Gia.
Gia lalu menimang putri cantiknya, sesekali dia terlihat mengecupi pipi Baby Adelina yang terasa sangat lembut sekali.
Untuk sesaat, Baby Adelina nampak tenang dalam pelukan sang Ayah. Akan tetapi, beberapa menit kemudian Baby Adelina mengusakan wajahnya ke dada Gia.
Mulutnya terbuka lebar, dengan tangan yang bergerak-gerak seolah mencari sesuatu yang sangat dia inginkan.
"Sepertinya anak Ayah haus, kita bangunin. Bunda ya, Sayang?" ajak Gia.
Perlahan-lahan, Gia membawa putrinya untuk tidur di ranjang yang biasa dia tiduri bersama dengan istrinya.
Lalu, Gia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Elsa dan mengecup di setiap inci wajah istrinya. Terakhir dia pun melabuhkan ciuman hangat di bibir istrinya tersebut, tentu saja hal itu langsung membuat Elsa terbangun.
Elsa langsung memukul dada Gia hingga pagutan Gia pun terlepas, Elsa terlihat hendak melayangkan protesnya.
Namun, Gia pun dengan cepat menekan jari telunjuknya di bibir Elsa.
"Jangan marah, Mas cuma mau bangunin kamu aja. Bukan mau minta yang aneh-aneh, Baby Adelia minta enen, soalnya." Gia langsung menegakkan tubuhnya.
Elsa pun langsung melihat ke arah samping, benar saja di sana sudah ada Baby Adelina yang sedang menggoyang-goyangkan kaki dan tangannya.
Tentunya bibirnya sudah terlihat mengkrucut sempurna karena dia sudah sangat kehausan, sedari tadi tak menemukan sumber makanannya.
"Ya Tuhan, Sayang. Maafin Bunda, ya? Bunda ngga tahu kalau kamu bangun, mau enen ya?" tanya Elsa.
Elsa langsung bangun dan menggendong Baby Adelina, tentu saja Elsa dengan cepat membuka sumber makanan putrinya dengan cepat.
Gia hanya bisa melotot sambil menelan salivanya dengan susah, karena setiap melihat benda pavoritnya dihisap oleh putrinya, Gia pun merasa sangat ingin untuk segera menikmati benda kenyal tersebut.
"Ya Tuhan, berilah hamba kesabaran." Gia terlihat mengusap dadanya.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Elsa.
__ADS_1
"Ngga apa-apa, Yang. Mas tidur aja ya?" kata Gia.
"Iya, Mas. Tidur aja, paling sebentar lagi Baby Adelia sudah bobo," jawab Elsa.
Gia langsung merebahkan tubuhnya, lalu menutup tubuhnya dengan selimut sampai sebatas lehernya.
Dia pun berusaha untuk memejamkan matanya, agar terhindar dari godaan buah enak yang terlihat mengkal dan besar.
Elsa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya, dia sangat tahu jika suaminya sedang berusaha untuk menghindari dirinya.
Bukan tak cinta, justru karena tak ingin menyakiti dirinya. Tak ingin melakukan hal yang tidak pantas, terhadap dirinya.
*/*
Hari-hari yang Gia lalui terasa sangat berat, karena setiap hari dia selalu bisa mendekap erat tubuh istrinya.
Sayangnya tak bisa menuntaskan hasratnya, banyak orang berkata jika bermain dengan sabun pun sangat enak yang penting bisa melepaskan kecebong yang merasa tak sabar untuk ditumpahkan.
Sayangnya, tidak bagi Gia. Dia seolah merasa jijik jika harus mengusap-usap miliknya dengan sabun seperti apa yang dikatakan oleh temannya.
Bahkan, salah satu teman bisnisnya ada yang menawarkan permpuan cantik pemuas hasrat. Sayangnya, Gia tak busa seperti itu.
Karena Gia terlalu mencintai istrinya, baginya wanita lain tak akan mendapatkan tempat walaupun hanya sekilas.
*/*
Karena masa liburannya sudah habis, masa bulan madunya juga sudah habis.
Gia terlihat sedang sibuk dengan berkasnya, begitu pun dengan Ajun. Mereka terlihat sangat serius saat melakukan tugasnya, hingga sebuah ketukan pintu membuyarkan konsentrasi kedua manusia tampan itu.
"Masuk!" teriak Gia.
Pintu nampak terbuka, datanglah Gadis membawa kotak bekal di tangan kanannya. Senyum manis dia tampakkan pada suami tercintanya.
"Selamat siang Hubby," sapa Gadis.
Ajun langsung tersenyum senang saat melihat istrinya yang datang, sedangkan Gia terlihat mendengus sebal.
"Selamat siang, Sayangku." Ajun langsung menghampiri istrinya dan menuntunnya agar duduk di sofa.
"Hubby pasti belum makan, aku bawain makanan kesukaan Hubby." Gadis terlihat begitu cekatan mengeluarkan makanan dari kotak bekal yang dia bawa
"Kok kamu bisa datang ke sini sih, Yang? Bukannya hari ini kamu sudah mulai ke kantor Daddy?" tanya Ajun.
__ADS_1
"Hem, kata Daddy aku dibolehin buat makan bareng, Hubby." Gadis mengendokan nasi dan mulai menyuapi Ajun.
"Astaga, kenapa kalian tega sekali! Bermesraan tanpa mengindahkan keberadaan aku? Tega!" kata Gia.
Gadis dan Ajun saling pandang, lalu mereka berusaha untuk mengatupkan mulutnya. Mereka takut akan tertawa saat itu juga.
"Ehm, maaf, Tuan. Silahkan duduk, biar saya ambilkan makanannya untuk anda," tawar Gadis.
"Ngga usah, aku pulang aja biar kamu yang ngurus semuanya." Gia langsung mengambil kunci mobil lalu keluar dari dalam ruangannya.
Ajun dan Gadis tak berkata apa pun, mereka hanya diam sambil menatap kepergian Gia. Namun tak lama kemudian, Gia nampak kembali dengan wajah lesu. Dia langsung duduk tepat di samping Ajun.
" Kenapa kembali lagi?" tanya Ajun.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Ajun, Gia malah terlihat membalas pertanyaan Ajun dengan pertanyaan lagi.
"Memangnya kenapa kalau aku kembali lagi? Bukannya ini adalah perusahaanku? Terserah aku dong," jawab Gia.
Mendengar jawaban dari Gia, Ajun hanya menggedikkan kedua bahunya.
Sebenarnya Gia sangat ingin pulang, namun jika mengingat istrinya yang baru saja melahirkan, membuat dia tak bersemangat untuk pulang.
Dia akan sangat tersiksa melihat Elsa yang selalu terlihat seksi saat menyusui Baby Adelia, lebih baik dia tak pulang saja menurutnya.
Gia terlihat menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, kemudian dia terlihat menatap Gadis dan Ajun secara bergantian.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Gia.
"Tidak apa-apa, hanya mau menawarkan makan saja," jawab Gadis kikuk.
"Sebenarnya aku ingin memesan makanan di luar, namun karena kalian memaksa, aku akan makan bareng kalian." Gia langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauknya.
Gadis dan Ajun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Gia, sedangkan Gia seolah tidak perduli. Dia malah asik memakan makanan yang dibawa oleh Gadis.
+
+
+
Selamat sore kesayangan, maaf karena baru up. Semoga nanti bisa up 1 baru lagi ya, jangan lupa tinggalkan jejak.
Like, comment, vote dan juga hadiahnya ditunggu banget sama Othor.
__ADS_1