
VB terus saja tersenyum sambil menatap wajah Baby ABC, sesekali dia terlihat mengelus lembut pipi yang masih berwarna kemerahan itu.
Rona bahagia begitu terlihat di wajahnya, dia benar-benar merasa sangat bersyukur karena mempunyai istri yang sangat cantik dan sekarang dia dikaruniai seorang putra yang sangat tampan.
Dia masih merasa belum percaya jika di usianya yang ke dua puluh tiga tahun, dia sudah dikaruniai seorang putra yang sangat tampan dan juga menggemaskan.
Hidupnya terasa semakin sempurna, karena didampingi oleh wanita yang begitu dia cintai. Dia tak pernah memedulikan berapa perbedaan usia antara dirinya dengan istrinya, satu hal yang pasti, dia sangat mencintai istrinya, Dina.
"Kamu ganteng banget, Boy. Ayah sayang banget sama kamu, jadilah anak yang bisa membanggakan orang tua. Jadilah anak yang selalu mengasihi sesama manusia," kata VB.
Tentu saja bukan hanya itu do'a yang dipanjatkan untuk putranya, namun banyak lagi doa-doa yang lainnya yang VB panjatkan di dalam hatinya khusus untuk putra kesayangannya tersebut.
"Ayah, Dede'nya ngga usah dipandangin terus. Biarkan dia tidur, Ayah juga tidur sini sama Bunda." Dina terlihat menepuk kasur yang masih kosong di sampingnya.
VB tersenyum, dia terlihat mengecup kening putranya. Lalu, VB menghampiri istrinya dan langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
"Terima kasih ya, Sayang. Karena kamu sudah melahirkan putra yang sangat tampan untukku, maaf karena saat kamu melahirkan, aku tidak bisa menemanimu." VB langsung menarik lembut Dina ke dalam pelukannya.
Sebenarnya, Dina memang sangat mengharapkan didampingi oleh suaminya saat dia melahirkan.
Namun, dia pun tidak bisa menyalahkan suaminya tersebut. Karena Dina tahu jika suaminya tidak menemaninya melahirkan, karena rasa traumanya yang belum sembuh.
"Sama-sama, Ayah. Bunda juga mau mengucapkan terima kasih karena Ayah sudah mencintai Bunda dengan tulus." Satu kecupan didaratkan di bibir tebal suaminya.
VB sangat suka saat Dina mengekspresikan perasaan sayangnya lewat sebuah ciuman, namun untuk saat ini VB sebaiknya lebih bisa menahan diri.
Karena dia tahu, jika istrinya baru saja melahirkan. Tentunya dia belum bisa menyentuh istrinya.
"Bunda Nakal, Ayah jadi pengen." Wajah VB terlihat begitu memelas.
Dina langsung melerai pelukannya, kemudian dia pun mengusap wajah suaminya dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Eits! Jangan macam-macam, Ayah. Bunda masih dalam masa nifas, Ayah tidak boleh menyentuh Bunda selama empat puluh hari, jadi Ayah harus berusaha menjadi orang yang sabar," ucap Dina.
Wajah VB terlihat sangat kaget, saat mendengar kata empat puluh hari dari mulut istrinya.
Dia kira dia hanya memerlukan waktu satu minggu untuk libur setelah istrinya melahirkan, sama halnya seperti masa haid tiba.
"Ya Tuhan! Lama sekali," keluh VB.
Wajah VB terlihat prustasi, berjauhan sebentar saja dari istrinya, dia sudah merasakan rindu. Bagaimana jadinya, jika dia harus berpuasa selama empat puluh hari?
Rasa-rasanya, dia ingin menyerah saja. Namun, dia juga tak tega jika harus memaksakan kehendaknya.
Karena istrinya sudah berjuang mempertaruhkan hidupnya hanya untuk melahirkan keturunan untuk dirinya, VB tak boleh egois.
Melihat wajah prustasi suaminya, Dina terlihat tersenyum. Dia merasa lucu dengan ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh suaminya tersebut.
"Jangan ngeluh, katanya kamu mau punya anak banyak. Nanti setelah Baby ABC berusia satu tahun, aku mau hamil lagi," kata Dina.
Jita mengingat akan hal itu, rasa-rasanya VB lebih baik mempunyai satu anak saja dari pada melihat istrinya nampak tersiksa.
"Kenapa Ayah diam? Bukankah Ayah sudah berkata sama Bunda, jika Ayah ingin mempunyai anak yang banyak? Ayah menyukai anak kecil dan Ayah ingin suasana rumah kita terasa lebih ramai," ucap Dina.
VB terlihat memilah bahasa yang baik untuk menjawab ucapan Dina, dia takut Dina tersinggung jika dia salah bicara.
"Tapi, Yang. Aku nggak tega kalau lihat kamu harus menderita lagi, saat kamu melahirkan kemarin saja, rasanya aku kesulitan untuk bernapas," kata VB.
Memang benar adanya, jika melahirkan itu terasa sangat sakit. Bahkan Dina seakan hendak melepaskan nyawanya saat itu juga, namun dia percaya akan kuasa Tuhan yang luar biasa.
"Jangan berkata seperti itu, Yang. Aku tahu saat melahirkan rasanya sangat sakit sekali, tapi saat melihat wajah tampan Baby ABC, rasanya rasa sakit itu hilang begitu saja."
Dina terlihat mengelus lembut pipi suaminya, lalu dia pun mendaratkan satu kecupan singkat di bibir suaminya tersebut.
__ADS_1
Dia merasa sangat bahagia, dia merasa menjadi istri yang sempurna. Dia merasa menjadi wanita yang sangat sempurna, karena bisa melahirkan seorang putra tampan dan menggemaskan.
"Ck! Kamu itu nakal, tahu kamu lagi masa nifas. Akunya juga nggak bisa nyelup, kamunya mancing-mancing terus!" keluh VB.
Dia akan berusaha sebisa mungkin untuk menahan hasratnya, yang terpenting Dina tak memancing-mancing lagi, pikirnya.
"Maaf, Sayang. Habisnya Ayah lucu, Bunda jadi ngga tahan buat kecup-kecup bibir Ayah." Dina langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa melihat wajah suram suami.
VB terlihat memutar bola matanya, istrinya sekarang lebih sering berbicara gombal. Tak seperti saat pertama mereka menikah, dia terkesan diam dan malu-malu.
"Sudah jangan ngomong mulu, sekarang kita bobo. Jangan mancing-mancing terus kalau ngga mau Ayah khilaf," kata VB.
Dina langsung tertawa mendengar ucapan suaminya, dia tahu jika suaminya tersebut tidak benar-benar akan melakukan hal itu.
VB memang terlihat kolokan dan terkadang terkesan sangat kekanak-kanakan, namun di balik sikapnya yang manja seperti itu, Dina sangat tahu jika suaminya adalah lelaki yang sangat pengertian.
Dina pun langsung memeluk suaminya dan langsung mengusakkan wajahnya di dada bidang suaminya, sesekali dia menghirup aroma tubuh suaminya yang terasa begitu menenangkan.
Entah sejak kapan aroma tubuh VB seakan begitu candu untuknya, bahkan suara tawanya saja seakan sudah seperti nyanyian indah yang mengiringi hari-harinya.
Dia merasa sangat bersyukur, karena kini rumah tangganya bersama dengan VB telah dilimpahi banyak kebahagiaan.
" Terima kasih Tuhan, karena engkau telah memberikan kebahagiaan yang begitu melimpah kepada hamba .Terima kasih, karena engkau telah mengirimkan suami yang begitu baik kepada hamba. Terima kasih, karena engkau telah memberikan buah hati yang sangat tampan kepada hamba." Kata Dina dalam hati.
+
+
Hai, Hai, Hai. Selamat malam minggu, semoga kalian bahagia selalu. Othor rindu banget sama koment dari kalian, jangan lupa tinggalkan jejak yes.
Karena koment kalian, bisa membuat aku bersemangat untuk menulis lagi. Apa lagi kalau kalian memberikan like, vote dan hadiahnya juga. 😁😁😁😁
__ADS_1