
Tanpa menunggu jawaban dari Ibunya, Aldino langsung bangun dan pergi meninggalkan Ibunya sendirian.
Dia ingin segera menemui istrinya, dia ingin segera berbicara dari hati ke hati dengan istrinya tersebut.
Namun, baru saja dia membuka pintu rumahnya. Nyonya Mariene terlihat menunggu dirinya sambil berkacak pinggang.
"Mau kemana kamu, Al?" tanya Nyonya Mariene.
"Aku mau menemui istriku," jawab Aldino.
"Setelah kamu puas menikmati tubuhku, kamu ingin pergi begitu saja, hah?" tanya Nyonya Mariene.
"Hey! Kamu yang selalu memaksaku untuk memenuhi gairah hasrat kamu yang hyper itu, semuanya bukan kemauanku!" teriak Aldino.
Mendengar ucapan dari Aldino, Nyonya Mariene terlihat sangat tersinggung. Memang pada awalnya dia yang tergoda akan pesona dari Aldino.
Namun setelah menjalani hubungan lebih serius, dua-duanya merasa sangat bahagia dan merasa saling terpuaskan.
Nyonya Mariene bahkan dengan mudahnya memberikan uang dan fasilitas mewah untuk Aldino, semua itu dia lakukan karena dia benar-benar sudah menyukai lelaki brondong itu.
Lelaki bertubuh atletis dan berwajah oriental yang mampu membuatnya sangat puas dengan miliknya yang berukuran jumbo.
Ya, walaupun pada kenyataannya memang Nyonya Mariene lah yang seringnya lebih aktif bermain di atas tubuh Aldino.
Bahkan saat pertama kali mereka melakukannya, Nyonya Mariene memperlakukan Aldino seperti alat bantu sekss yang membuatnya bisa merasa sangat puas.
Karena pada saat pertama kali mereka melakukan penyatuan, Aldino terlihat enggan dan diam saja.
Hal itu, membuat Nyonya Mariene berinisiatif untuk memancing hasrat lelaki muda yang sudah mencuri perhatiannya.
"Tapi kamu menikmatinya, sialan! Bahkan kamu selalu pulang setelah kita melakukannya berkali-kali," ucap Nyonya Mariene.
"Aku terpaksa melayani hasratmu itu, anggaplah aku lelaki bayaran. Setelah kamu memakaiku kamu membayarku, kamu puas aku pun mendapatkan uang dari kamu," ucap Aldino.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Aldino terlihat bersiap untuk masuk kedalam mobilnya. Namun, dengan cepat Nyonya Mariene menahan tangan Aldino.
"Dasar sinting! Mudah sekali kamu berkata seperti itu, padahal kamu pasti tahu jika aku kini telah diceraikan oleh suamiku, Jhon." Nyonya Mariene menghempaskan tangan Aldino dengan kasar.
Mendengar ucapan Nyonya Mariene, Aldino terlihat tersenyum sinis. Dia lalu mencengkram pundak Nyonya Mariene dengan sangat kuat.
"Dengar wanita jalangg! Kamu sudah diceraikan oleh suami kamu, aku pun sudah dipecat karena kebodohanku. Jadi, kita impas!" Aldino mendorong pundak Nyonya Mariene dengan kuat, Nyonya Mariene sampai memundurkan langkahnya.
__ADS_1
"Bangsad! Lelaki sialan!" Nyonya Mariene terlihat memukul-mukul dada Aldino dengan sangat kencang.
Aldino yang merasa kesakitan pun, langsung menangkap tangan Nyonya Mariene dan menghempaskannya dengan kencang.
"Jangan menyentuhku lagi! Aku sudah tidak sudi disentuh olehmu. Satu hal lagi, jangan pernah temui aku lagi." Aldino langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari sana dengan secepatnya.
Nyonya Mariene terlihat mendengus sebal, dia menggerutu lalu masuk kedalam mobilnya dan berlalu dari sana.
Nyonya Mesti yang melihat kelakuan putranya langsung menangis, dia tidak menyangka jika kelakuan putranya benar-benar sangat bejat.
Nyonya Mesti hanya bisa menangis sambil memegangi gorden di dekat jendela, sungguh dia tak berani menghampiri putranya yang sedang bertengkar dengan selingkuhannya.
Nyonya Mesti benar-benar sangat malu dan juga kecewa, putra yang selama ini dia rawat dan dia jaga ternyata sama halnya dengan mantan suaminya.
Di lain tempat, Melani terlihat bisa bernapas dengan lega. Karena ternyata Andrew benar-benar bisa membantu dirinya.
Proses gugatan cerai yang diajukan oleh Melani bisa berjalan dengan lancar, entah apa yang dilakukan oleh Andrew, namun dia bisa duduk santai sambil menunggu sidang akan dilaksanakan.
"Terima kasih, karena sudah mau membantu." Melani terlihat mengucapkan kata itu dengan sangat tulus.
Andrew terlihat tersenyum hangat, lalu dia pun menganggukkan kepalanya.
"Oiya, An. Aku mau menjemput puteriku dulu," ucap Melani.
"Oke," jawab Andrew.
Melani langsung tersenyum mendengar ucapan Andrew, padahal mereka belum saling mengenal.
Namun herannya, Andrew sangat tahu tentang dirinya. Semua data diri dan apa yang menimpa padanya sudah dia ketahui.
Saat perjalanan menuju sekolah Merrisa, tiba-tiba saja Fajri terbangun. Dia terlihat mengucek matanya dan mengedarkan pandangannya.
"Buna, aku di mana?" tanya Fajri.
"Di mobil, Sayang." Melani terlihat mengusap puncak kepala putranya, lalu mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.
Tatapan mata Fajri lalu mengarah pada sosok Andrew yang sedang menyetir mobil, Fajri langsung tersenyum dan memegangi tangan Andrew.
"Ayah ngga kelja?" tanya Fajri.
Melani langsung melotot tak percaya saat mendengar putranya memanggil Andrew dengan sebutan Ayah, mungkin karena Fajri yang sangat jarang bertemu dengan ayahnya sehingga salah menyebut nama.
__ADS_1
Andrew juga sempat kaget saat dirinya dipanggil ayah, padahal dia masih muda. Andrew baru berusia dua puluh tiga tahun, Melani yang tak enak hati pun langsung meminta maaf kepada Andrew.
"Maaf, An. Maaf atas--"
"Tak apa, dia hanya anak kecil," jawab andrew seraya mengusap tengkuk lehernya yang terasa dingin.
"Ayah ngga jawab peltanyaan aku?" tanya Fajri lagi.
"Ya Tuhan, apakah wajahku terlihat tua, Mbak?" tanya Andrew.
Dia merasa tak habis pikir kala dirinya dipanggil ayah oleh seorang bocah berusia 2 tahun itu, padahal dia dan Fajri sama sekali tak pernah bertemu.
"Ayah jahad, Ayah ngga mau jawab peltanyaan aku!" Fajri terlihat menyilangkan kedua tangan didepan dada, dengan bibir yang terlihat mencebik.
Andrew dan Melani yang melihatnya langsung tertawa, menurut mereka wajah Fajri terlihat sangat menggemaskan.
Tak lama mobil pun berhenti tepat di depan sekolah Merissa, Andrew dan juga Melani langsung turun dengan Fajri yang berada di gendongannya.
Setelah mereka turun, Fajri pun tak mengerti ingin digendong oleh Andrew. Melani terlihat tak enak hati, namun melihat putranya yang terus merengek dia pun menjadi tak tega.
"Jangan sungkan, sini Om gendong," tawar Andrew.
Pria blasteran Jawa-Amerika itu pun langsung
merentangkan kedua tangannya, Fajri pun langsung tersenyum senang dan langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuh Andrew.
"Buna!"
Ternyata Merissa kini sudah berada tepat di samping Melani, saat dia datang Merissa pun baru saja keluar dari kelasnya.
"Buna jemput aku sama siapa?" tanya Merissa.
Melani tersenyum hangat kepada Merissa, lalu dia pun menunduk dan mengenalkan Merissa kepada Andrew.
"Ini Om Andrew, dia yang sudah membantu Buna dalam menyelesaikan masalah Buna sama Ayah," jawab Melani.
Mendengar ucapan Bundanya, Merissa terlihat tersenyum senang. Lalu, dia pun memeluk Melani dan langsung berkata.
"Jadi, Ayah akan baik lagi Bun, sama Buna dan juga sama Kakak dan juga Ade?" tanya Merissa antusias.
Mendengar pertanyaan dari putrinya, hati Melani langsung mencelos. Ternyata putrinya sudah tahu tentang keretakan rumah tangganya bersama dengan sang suami.
__ADS_1