Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Kebodohan Gia


__ADS_3

Acara meeting pun telah usai, Tuan Abidzar sangat puas dengan hasil meeting mereka kali ini. Setelah mendapatkan kesepakatan kerja, Tuan Abidzar pun memutuskan untuk segera pergi ke perusahaannya, karena masih ada yang harus dia kerjakan.


"Ehm, Tuan. Aku masih ada urusan dengan Gia, boleh' kah aku izin? Lagi pula ini sudah pukul tiga, boleh ya?" pinta Melinda mengiba.


Tuan Abidzar terlihat menatap Gia dan Melinda secara bergantian, lalu tuan Abidzar pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, saya pergi dulu. Titip asisten cantik saya, jangan diapa-apain," kata Tuan Abidzar.


Gia dan Ajun hanya saling pandang, kemudian mereka pun menganggukkan kepalanya. Gia merasa tak habis pikir karena Melinda masih saja mencari waktu untuk bisa mengobrol dengan dirinya.


Padahal jelas-jelas dua kali Melinda mengecewakan dirinya, yang pertama kalinya Melinda ketahuan berselingkuh dengan teman Gia sendiri.


Bahkan mereka sampai melakukan hubungan badan, dan sialnya Gia memergoki mereka saat tengah melakukan hubungan terlarang itu.


Kedua kalinya Melinda meninggalkan dia saat berada di Rumah Sakit, padahal Melinda berkata ingin kembali padanya.


Namun Melinda malah meninggalkan dirinya saat kaki Gia mengalami kelumpuhan sementara, sungguh aneh pikirnya.


Setelah kepergian Tuan Abidzar, Melinda nampak bangun dan menghampiri Gia. dia mencondongkan tubuhnya lalu berbisik tepat di telinga Gia.


"Tunggu sebentar, ya? Aku mau ke toilet dulu," ucap Melinda dengan nada sensual.


Sebenarnya Gia ingin sekali meninggalkan Melinda di sana, namun dia takut akan menjadi sumber masalah nantinya.


Jadi, Gia dan Ajun pun memutuskan untuk menunggu perempuan tersebut, 10 menit kemudian Melinda datang dengan membawa nampan berisi 3 gelas kopi.


Dia sengaja memesankan kopi untuk dirinya, Gia dan juga Ajun.


"Minumlah, bukannya kamu begitu menyukai kopi," kata Melinda seraya menyodorkan kopi ke arah Ajun dan juga Gia.


"Terima kasih untuk kopinya, tetapi aku tidak bisa meminumnya. Karena aku harus segera pergi," ucap Ajun.


"Pergilah! Lagi pula kehadiranmu tidak diharapkan," ucap Melinda sinis.


Ajun terlihat menatap Melinda dengan tatapan tajamnya, lalu kemudian dia pun menepuk pundak Gia dan dia pun berbisik tepat di telinga Gia.


"Berhati-hatilah dengan wanita ular itu," ucap Ajun.


"Pasti, lalu kamu pergi ke kantor naik apa?" tanya Gia.


"Naik taksi," jawab Ajun.


Setelah mengatakan hal itu, Ajun pun langsung pergi meninggalkan Gia bersama dengan Melinda.


"Katakanlah, Melinda. Apa yang kamu inginkan?" tanya Gia dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Ish! kenapa terburu-buru seperti itu minumlah dulu kopinya, lagi pula aku hanya ingin berostalgia." Melinda terlihat menutup mulutnya dengan telapak tangannya seraya tertawa.


Melihat akan hal itu, Gia langsung memutar bola matanya. Gia seakan jengah melihat kelakuan Melinda.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" tanya Gia.


"Hanya ingin ngobrol sembari minum kopi," jawab Melinda.


"Ck! Aku tidak mempunyai banyak waktu, masih ada hal yang harus aku kerjakan. Sekarang bicaralah, jangan menunda-nunda waktu," kata Gia.


"Kamu apa kabar?" tanya Melinda.


"Aku baik, seperti yang kamu lihat." Gia memperlihatkan tubuhnya yang terlihat sehat bugar.


"Oh, minumlah kopinya," kata Melinda.


"Baiklah, aku akan meminum kopinya. Tapi, setelah ini aku akan langsung pulang." Gia terlihat mengambil cangkir kopi tersebut, lalu meneguk isinya dengan cepat.


Melihat Gia meminum kopi pesanan Melinda dengan cepat, membuat dia langsung tersenyum senang. Setelah itu, Melinda pun langsung duduk tepat di samping Gia.


"Enak kan, Sayang, kopinya?" tanya Melinda.


"Enak," kata Gia.


Tak lama setelah mengucapkan hal itu, pandangan Gia seakan mengabur. Badannya terasa panas dan gerah, Gia merasakan ada sesuatu yang salah yang terjadi kepada dirinya.


"Apa yang kamu masukan ke dalam kopi tadi?" tanya Gia.


Mendengar pertanyaan dari Gia, Melinda langsung berbisik tepat di samping telinga lelaki yang pernah menjadi kekasihnya tersebut.


"Obat perangsang dicampur setetes obat tidur," kata Melinda.


"Dasar perempuan gila!" umpat Gia.


Pandangan Gia makin mengabur, badannya terlihat melemas. Melinda pun langsung tersenyum jahat.


"Sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku kembali, Sayang." Melinda terlihat memapah tubuh besar Gia dengan susah payah.


Gia terlihat meracau disela langkahnya yang terlihat sempoyongan, Melinda hanya tersenyum melihat tingkah Gia.


Dia sudah terlihat tak sabar ingin membawa Gia untuk pergi dari sana, dia ingin segera memiliki Gia kembali seperti dahulu kala.


Tiba di depan mobilnya, Melinda terlihat mengambil kunci mobilnya. Lalu membuka pintu mobilnya tersebut, baru saja dia hendak memasukkan tubuh Gia ke dalam mobilnya.


Tiba-tiba saja ada yang menarik tubuh Gia, melinda hampir saja berteriak. Namun, tiba-tiba saja bibirnya terasa ada yang membekap.

__ADS_1


Ternyata Ajun'lah yang menarik tubuh Gia dan langsung membawanya untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


Satu orang Bodyguard telah membekap bibir Melinda, mata Melinda terlihat melotot tak percaya dengan kedatangan Ajun di sana.


Karena setahunya Ajun sudah pergi sejak tadi, lalu... kenapa Ajun bisa kembali lagi, pikirnya.


"Dengar wanita ular, jangan sampai aku menjebloskan kamu ke dalam penjara. Pergilah yang jauh, sebelum aku berubah pikiran." Ajun terlihat menyuruh Bodyguard tersebut untuk melepaskan Melinda.


"Dasar kacung sialan! Berani sekali kamu memperlakukanku seperti ini, awas aja kamu! Suatu saat akan aku balas kamu," ucap Melinda.


Setelah Melinda mengucapkan hal itu, dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan sangat kencang.


Kalau saja Melinda bukan perempuan, Ajun pasti sudah mengajak Melinda untuk berduel.


Gia terlihat menggeliatkan tubuhnya, bahkan dia langsung memeluk Ajun dan mengusakkan kepalanya di ceruk leher Ajun.


Ajun langsung bergiding dibuatnya, dengan cepat Ajun membuka pintu mobil Gia dan mendorong tubuh besar Gia untuk masuk dan duduk di bangku penumpang.


Lalu, Ajun masuk dan duduk di balik kemudi. Ajun langsung melajukan mobilnya. Sayangnya dia tak bisa berkendara dengan cepat, karena saat sore hari jalanan ibu kota terlihat sangat padat.


Sesekali Ajun memperhatikan tingkah Gia dari kaca spion, dia terlihat beli meliuk-liukan badannya dengan mata terpejam.


Bahkan Gia pun kini sudah membuka jasnya dan melemparkannya ke sembarang arah, Ajun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Padahal Ajun sudah mengingatkan untuk berhati-hati pada Gia, namun dia malah meminum kopi yang telah dipesan oleh Melinda.


"Panas, panas banget." Gia terlihat membuka dasinya dan melemparkannya kesembarang arah.


Gia bahkan langsung menarik kemejanya dengan paksa, sehingga kancing kemejanya nampak berhamburan.


Ajun hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia hanya berharap semoga kemacetan ini cepat berlalu, agar dia bisa cepat mengantarkan Gia menuju kediaman Pranadtja.


Karena sungguh Ajun tidak tega melihat Gia yang terlihat seperti cacing kepanasan, Gia bahkan kini sudah terlihat mengusap-usap dadanya dengan gaya sensual.


"Ya Tuhan! Dasar bodoh, sudah diperingati masih saja lupa. Ck! Menyusahkan saja," kata Ajun.


Gia terlihat menghampiri Ajun dan memeluk leher Ajun dari belakang, Gia bahkan. mengusakkan kepalanya ke ceruk leher Ajun. dan langsung mengecupi pipi Ajun.


"Astaga! Dia sangat keterlaluan," kata Ajun.


Ajun langsung menepikan mobilnya, lalu dia mengambil dasi milik Gia dan mengikat tangan Gia dengan dasi tersebut.


Kemudian, Ajun juga mengambil kemeja yang dilempar oleh Gia. Lalu Ajun mengikat kaki Gia dengan kemeja tersebut.


"Aman!" ucap Ajun.

__ADS_1


Gia terlihat ingin memberontak, namun tak bisa. Sebenarnya Ajun sangat kasihan terhadap Gia, namun itu semua terjadi karena kebodohan Gia sendiri.


Ajun pun hanya bisa menertawakan tingkah Gia, setelah itu dia pun langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Pranadtja.


__ADS_2