
Pagi telah menjelang, Anita terbangun dari tidurnya. Dia terlihat duduk sambil melamun, dia memikirkan dengan apa yang dia putuskan.
Apakah keputusan yang dia ambil sudah benar atau malah akan menjerumuskan dia kedalam kehidupan yang salah?
"Heh!"
Terdengar helaan napas berat dari bibir Anita, dia berusaha untuk bturun dari tempat tidurnya. Lalu berjalan menuju kamar mandi.
Mungkin dengan mengguyur tubuhnya dengan air hangat akan bisa mebuat dirinya lebih tenang dan lebih rileks.
Sepuluh menit kemudian, dia keluar dengan hanya menggunakan handuk kecil yang dililitkan sampai kedada.
Anita duduk di depan cermin, lalu mengeringkan rambutnya sambil menatap wajahnya dari pantulan cermin.
Seulas senyum terbit dari bibirnya, minggu depan dia akan menikah. Dia sudah sepakat akan tinggal di rumah dokter Irawan, entah harus apa dia nanti setelah menjadi seorang istri.
Tok! Tok! Tok!
Mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya, dia pun berpikir jika mamanya' lah yang ingin berbicara dengan dirinya.Anita pun langsung berseru. "Masuk saja, pintunya nggak dikunci."
Tak lama kemudian, pintu pun nampak terbuka. Benar sesuai dengan dugaannya, mamanya membuka pintu sambil tersenyum hangat kepada Anita, dia menutup pintunya kembali lalu menghampiri putrinya.
Dia usap bahu putrinya dengan lembut, lalu dia menatap wajah Anita dari pantulan cermin.
"Kamu sudah yakin mau nikah sama dokter Irawan?" tanya Mamah.
"Iya, Ma. Mungkin menikah dengan lelaki tua itu akan lebih baik," kata Anita.
"Ish! Kamu tuh, calon suami tampan begitu dikata tua. Yang penting dia mau berusaha untuk melindungi dan membuat kamu bahagia," kata Mama.
"Iya sih, Ma." Anita nyengir kuda.
"Pake bajunya cepet, abis itu sarapan. Inget hari ini kamu akan pergi ke rumah calon suami kamu, jaga sikap. Karena kamu juga akan bertemu dengan calon mertua kamu," nasehat Mama.
"Iya, Ma. Aku pake baju dulu," kata Anita.
"Iya, Mama tunggu di ruang makan. Sudah ada Andrew di sana," kata Mama."Ck! Ngapain dia pagi-pagi sudah kesini?" tanya Anita.
"Ngopi, katanya semalam dia abis begadang. Ngantuk, matanya kaya lengket ngga bisa melek katanya." Mama tertawa seraya keluar dari dalam kamar Anita.
__ADS_1
Mendengar ucapan mamanya, Anita tersenyum. Kemudian, dia pun segera bangun dan melangkahkan kakinya untuk mengambil baju yang ada di lemari pakaiannya.
Anita memang bukan tipe cewek feminim, dia hanya memakai kemeja berwarna peach dipadupadankan dengan celana jeans panjang berwarna hitam.
Setelah berpakaian lengkap, dia pun kembali duduk di depan meja rias. Dia mematut wajahnya dengan menggunakan polesan make up tipis dan memakai gincu berwarna merah muda.
Rambutnya dia kuncir kuda, karena memang itulah kebiasaannya. Dia lebih suka jika rambutnya dikuncir, karena lebih simpel dan dan tidak merepotkan, pikirnya.
"Selesai!" katanya.
Anita terlihat keluar dari dalam kamarnya, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Benar saja, di sana sudah ada Andrew yang sedang menikmati kopinya. Anita langsung menghampiri Andrew dan memeluk kakaknya tersebut.
"Makanya, Bang. Jangan begadang terus," ucap Anita.
Mendengar ucapan Anita, Andrew langsung tersenyum dan mengusap puncak kepala adiknya tersebut.
"Sekarang kamu boleh berkata seperti itu, nanti kalau sudah menikah, kamu juga pasti akan merasakannya. Kurang tidur hampir tiap malam," kata Andrew seraya terkekeh.
Anita terlihat mengurai pelukannya, kemudian dia menatap wajah Andrew dengan tatapan penuh protes.
"Mana ada aku yang seperti itu!" ucap Anita dengan bibir yang sudah mengerucut tajam.
"Ada apa sih, Mas?" tanya Melani yang baru saja datang dari dapur.
Dia membawa nasi goreng untuk mereka sarapan bersama, mama Andrew pun datang dengan membawa telor ceplok dan acar sebagai pelengkap sarapan pagi mereka.
Andrew tak menjawab, dia hanya menggedikkan kedua bahunya sambil menunjukk Anita dengan ekor matanya.
Melanie hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya tersebut, dia pasti habis menggoda adiknya, pikirnya.
Makanya Anita terlihat begitu marah terhadap Andrew, tapi menurutnya itu sangat wajar. Karena Andrew dan Anita memang memiliki jarak lahir yang sangat dekat.
Tidak seperti Merissa dan Fajri, Merissa lebih bisa mengayomi Fajri dan mengasuhnya karena perbedaan usia mereka yang jauh.
"Sudah-sudah, sekarang kita sarapan dulu." Mama Andrew langsung mengendok nasi goreng dan menuangnya kepiring.
"Tunggu dulu, mana kedua keponakan aku yang lucu-lucu?" tanya Anita.
__ADS_1
"Di rumah Ayahnya," jawab Melani.
"Oh," kata Anita.
Tadi malam Aldino datang ke rumah, katanya nyonya Mesti sakit. Aldino sengaja mengajak kedua buah hatinya untuk menginap, agar mamahnya cepat sembuh.
Beruntung kedua buah hatinya mau ikut, karena sikap Aldino yang kini sudah berubah menjadi lebih baik lagi.
Lagi pula ini hari sabtu, jadi wajar saja jika kedua buah hatinya menginap di rumah Ayahnya. Biar bisa lebih dekat.
Pukul delapan pagi, dokter Irawan nampak sudah tiba. Anita pun dengan cepat menyambut calon suaminya tersebut.
Walau memang pada kenyataannya belum ada rasa sama sekali di hatinya, namun dia harus bersikap sopan terhadap lelaki yang satu minggu lagi akan menjadi suaminya tersebut.
"Sudah siap ketemu calon mertua?" goda Dokter Irawan.
"Siap, dong!" jawab Anita semangat.
Dokter Irawan nampak tersenyum melihat Anita yang terlihat tak gugup sama sekali saat hendak bertemu dengan Mom'nya.
Mungkin karena pernikahan yang akan mereka laksanakan tak didasari rasa cinta, makanya Anita nampak biasa saja.
"Kalau begitu, aku pamit dulu sama Mama kamu." Dokter Irawan nampak menghampiri calon mertuanya.
Setelah berpamitan kepada calon mertuanya, Melani dan juga kepada Andrew, dokter Irawan langsung mengajak Anita menuju kediamannya.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman dokter Irawan, tak ada percakapan diantara mereka. Anita dan juga dokter Irawan terlihat sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
Tiba di kediamannya, dokter Irawan langsung memarkirkan mobilnya. Kemudian dengan cepat dia turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Anita.
"Silakan turun, Tuan Putri," goda Dokter Irawan.
Anita terlihat tersipu, lalu memukul pelan lengan dokter Irawan.
"Kamu, ih!" ucapnya tersipu malu.
Dokter Irawan langsung terkekeh saat melihat rona malu di wajah Anita, ternyata wanita tomboy itu bisa malu juga, pikirnya.
Setelah itu, dokter Irawan pun mengajak Anita untuk masuk kedalam rumahnya. Dia merangkul pundak Anita dengan mesara, sedangkan Anita hanya bisa menatap wajah dokter Irawan yang terlihat bersikap begitu manis kepada dirinya.
__ADS_1
Saat dokter Irawan dan Anita tiba di dalam ruang keluarga, mereka sangat kaget. Karena ternyata, Mommy Clara terlihat sedang mengobrol dengan Clarista.
'Ck! Mau apa lagi, wanita lucnut itu?' tanya Dokter Irawan dalam hati.