Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Bersiap


__ADS_3

Melanie baru saja sampai di rumah mertuanya. Seperti biasanya, ibu mertuanya sudah menunggu di depan teras rumah.


Dia selalu terlihat khawatir jika Melani pulang malam hari, dia sangat tahu jika Melani bekerja untuk membantu biaya rumah tangga yang semakin hari semakin membesar.


Bahkan tiap bulannya Melani selalu memberikan uang kepada dirinya, dia selalu menyempatkan waktu untuk mengajak jalan-jalan dirinya bersama dengan kedua cucunya.


Walaupun Aldino memang jarang sekali mempunyai waktu untuk dirinya, Aldino jarang sekali mempunyai waktu luang untuk keluarga mereka.


"Kenapa baru pulang? Ini sudah pukul sepuluh, Mamah sudah sering bilang untuk jangan pulang terlalu larut." Nyonya Mesti terlihat menuntun menantunya untuk segera masuk.


"Maaf, Mah. Tadi tamunya banyak, Reni tak mau aku tinggal," kata Melani beralasan.


"Jangan terlalu cape, Sayang. Ada Aldino yang seharusnya menjadi kepala rumah tangga, kamu cukup membantu. Tapi, jangan terlalu lelah," kata Nyonya Mesti.


"Iya, Mah. Apa anak-anak sudah tidur?" tanya Melani.


"Ya, Sayang. Mereka sudah tidur, beristirahatlah," kata Nyonya Mesti.


"Ya, Mah." Melani terlihat mengecup kening Nyonya Mesti.


Lalu, dia pun segera pergi kedalam kamar yang biasa dia tiduri bersama dengan Aldino. Setelah dia masuk kedalam kamarnya, dia langsung mengunci pintunya.


Kemudian, dia pun segera berjalan menuju ke lemari pakaiannya. Melani nampak mengambil semua berkas penting yang ada di lemari tersebut.


Dia mengambil rekening tabungannya, dia juga mengumpulkan semua perhiasan yang selalu dia beli pada setiap bulannya. Lalu, dia masukan kedalam tas ransel miliknya.


Ya, Melani memang sangat rajin menabung setiap bulannya. Baik menabung uangnya di bank, atau pun membelikan uangnya pada perhiasan yang dia sebenarnya tidak inginkan.


Karena menurutnya berinvestasi itu sangat penting, menurutnya berinvestasi emas merupakan hal yang baik.


Ketika dia dan Reni membagi hasil pendapatan di Caffe yang mereka dirikan, Melani selalu mengelola uang tersebut dengan sangat baik.


Dia selalu menyempatkan waktu untuk membelikan perhiasan, walaupun perhiasan tersebut hanya dia simpan.


Dia juga menabung uangnya, lalu dia akan menyisakan uang untuk diberikan kepada mertuanya dan untuk biaya sehari-hari dirinya bersama dengan kedua buah hatinya.


Aldino memang selalu memberikan uang kepada Melani, namun Melani tak pernah memakainya.

__ADS_1


Semua uang yang Aldino berikan disimpan baik-baik di dalam rekening tabungannya, hal itu dia lakukan dengan sengaja.


Dia melakukan hal itu semenjak perubahan pada diri Aldino terhadap dirinya, dia pun mulai berjaga-jaga jikalau suatu saat Aldino akan menceraikan dirinya.


Dia tidak mau nasibnya seperti di sinetron-sinetron yang pernah dia tonton, jika setelah diceraikan oleh suaminya, seorang istri akan terluntang-lantung di jalan.


Tanpa arah dan tanpa tujuan, hanya air mata yang mampu mengiringi langkah kakinya.


Jika dulu dia berpikir akan di cereaikan oleh Aldino, kini dia berpikir jika dirinyalah yang harus menggugat cerai Aldino.


Dia pun akan mengumpulkan semua bukti-bukti untuk diajukan ke persidangan nanti, dia juga sudah bertekad untuk mengumpulkan semua berkas yang akan diajukan ke pengadilan nanti.


"Beres, semua berkas sudah aku masukan kedalam tas ransel. Sekarang tinggal mandi terus tidur," ucap Melani.


Melani menyembunyikan tas ranselnya di bawah tempat tidur, kemudian dia segera masuk kedalam kamar mandi.


Tak perlu waktu lama, sepululuh menit kemudian melani sudah keluar dari dalam kamar mandinya.


Dia hanya mengenakan kimono mandinya saja, Melani lalu duduk di depan meja rias. Dia pun mengeringkan rambutnya, lalu dia memakai skincare di wajahnya.


"Aku belum terlalu tua, wajahku juga masih terlihat cantik. Umur aku juga baru 31 tahun, tenaga aku masih kuat untuk bekerja. Jika aku berpisah dengan Mas Aldino, aku masih kuat untuk bekerja dan membiayai kedua buah hatiku," ucap Melani.


Baru saja dia hendak memakai piyama tidurnya, tiba-tiba saja pintu kamarnya ada yang mengetuk.


Melani sempat melihat ke arah jam dinding, ternyata waktu menunjukkan pukul 11.00 malam.


Melanie berpikir jika itu pasti Aldino, dengan cepat Melani pun langsung membukakan pintu kamarnya.


Nampaklah Aldino yang masih memakai baju saat dia lihat di hotel berbintang bersama dengan Nyonya Mariene, Melani tersenyum kecut.


Melihat penampilan Melani yang hanya menggunakan kimono mandi saja, membuat hasrat Aldino naik dalam seketika.


Apa lagi saat melihat dada Melani yang memang tanpa menggunakan dalamman, terlihat sangat seksi dan menggoda di mata Aldino.


Aldino dengan cepat mengunci pintu kamarnya dan mendorong tubuh Melani hingga terpental sampai ke tempat tidur, Melani sempat kaget kala mendapatkan perlakuan seperti itu dari Aldino.


Dia sempat berusaha untuk bangun dan mendorong tubuh Aldino yang kini telah mengungkung tubuhnya.

__ADS_1


"Mas mau apa?" tanya Melani.


"Tentu saja aku menginginkan dirimu, kita sudah lama tidak melakukannya," ucap Aldino.


Melani tersenyum sinis kala mendengarkan ucapan dari Aldino, dia merasa jika suaminya itu sangat tidak tahu diri.


"Tentu saja kita sudah lama tak melakukannya, Mas. Karena kamu begitu fokus dengan kisah asmara kamu dengan Nyonya Mariene." Ucap suara hati Melani.


"Tapi, Mas. Aku sedang tidak menginginkannya, aku lelah. Lagi pula ini sudah malam," ucap Melani.


Aldino terlihat tersenyum mendengar ucapan Mepani, lalu... tanpa Melani duga, Aldino langsung membuka kimono mandi yang dipakai oleh Melani dan memberikan sentuhan di area sensitif Melani.


Hal itu membuat melani langsung menggeliat dan menggelinjang, dia merasakan geli dan nikmat dalam waktu bersamaan.


Dia yang sudah sangat lama tak tersentuh pun langsung merespon setiap sentuhan suaminya, hal itu membuat Aldino tersenyum senang.


"Ja--jangan, Mas. Jangan lakukan sekarang, aku--aku tak menginginkannya," ucap Melani.


Melani dengan sekuat tenaga berusaha menahan hasratnya, namun bukannya berhenti Aldino malah terus mempermainkan titik lemah istrinya.


Bahkan bibir Aldino pun langsung bermain di dada istrinya, mengecup dan menggigit kecil puncak dada istrinya.


"Aku tahu kamu menginginkannya, Sayang. Kamu juga sudah lama bukan tidak melakukannya? Jadi, lebih baik kamu diam dan nikmati apa yang yang aku lakukan kepada kamu." Aldino kembali menggerayangi tubuh istrinya.


Batin Melani langsung menjerit mendengar apa yang diucapkan oleh Aldino, dia memang jarang dibelai. Dia jarang disentuh, tentu saja dia sangat menginginkannya.


Menginginkan hal yang seharusnya dia dapatkan dari suami sahnya, nafkah batin.


Namun, saat mengingat Aldino yang melakukan hubungan terlarangnya dengan Nyonya Mariane. Hal itu membuat dirinya jijik dan mual.


"Jangan, Mas! Aku sedang tidak ingin," ucap Melani seraya menggigit bibir bawahnya.


Aldino tersenyum melihat wajah istrinya yang terlihat sudah sangat menginginkan dirinya, namun dia bersikeras berkata tak menginginkannya.


*


*

__ADS_1


Selamat sore semuanya, maaf upnya telat. Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, vote dan juga hadiahnya Othor tunggu banget.


Masih ada bab selanjutnya, jangan lupa untuk like dulu ya....


__ADS_2