Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Permohonan Maaf Aldino


__ADS_3

Setelah menjemput Merrisa, kini giliran Melani yang mengemudikan mobilnya. Itu semua terjadi karena Fajri yang tak mau lepas dari Andrew.


Sebenarnya Melani merasa tak enak hati terhadap Andrew, namun dia juga tak bisa berbuat apa-apa karena Fajri terus saja merengek meminta digendong oleh Andrew.


Beruntung Andrew tak keberatan sama sekali, walaupun pada awalnya dia merasa tersinggung, karena Fajri terus saja memanggilnya ayah.


Padahal usianya masih sangat muda menurut dirinya, dia pun menjadi bingung dibuatnya.


Merissa sempat memperhatikan interaksi antara bundanya, Fajri dan juga Andrew. Dia terlihat resah, ada gurat kekhawatiran di wajahnya.


Melanie bisa merasakan akan hal itu, namun Melani berusaha untuk tetap tenang. Dia tidak mau membuat Merissa merasa kecewa, Melani harus benar-benar mencari kalimat yang tepat untuk berbicara dengan putrinya tersebut.


Mungkin Merissa baru berusia 8 tahun, tapi pikirannya sudah bisa menangkap dengan baik apa yang terjadi di lingkungannya.


Tiba di depan perusahaan Tuan Alfonso, Melani pun langsung memberhentikan mobilnya.


"Sudah sampai, An," kata Melani.


Andrew sempat melirik ke arah Melani sebentar, lalu dia menatap Fajri yang terlihat begitu anteng duduk di pangkuannya.


"Om turun dulu, ya? Kapan-kapan kita ketemu lagi," kata Andrew.


"Janji ya, Ayah?" kata Fajri.


"Ya, Om usahakan." Andrew terlihat mengacak pelan puncak kepala Fajri.


Sebelum turun, Andrew pun mendudukan Fajri di pangkuan Merrisa. Setelah itu, dia pun turun dari mobil Melani.


Melani sempat menurunkan kaca mobilnya, lalu dia pun mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Andrew.


"Terima kasih karena sudah mau mengantarku dan juga membantuku," ucap Melani.


"Sama-sama, Mbak. Nanti kalau ada apa-apa, Mbak bisa langsung telepon saya," ucap Andrew.


Melani nampak tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dia pun langsung melajukan mobilnya menuju Caffe.


Saat perjalanan menuju Caffe, Merissa melirik kearah Bundanya. Lalu, dia pun langsung berkata.


"Nanti tolong Buna jelaskan sama Mer, siapa Om yang tadi," kata Mer.

__ADS_1


Melani sempat tertegun mendengar ucapan dari putrinya, lalu beberapa detik kemudian dia pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Ya, nanti Buna cerita," kata Melani.


Setelah mengatakan hal itu, tak ada lagi obrolan di antara mereka. Tak lama kemudian mobil yang Melani kendarai pun berhenti tepat di depan Caffe.


Melani langsung turun sambil menggendong Fajri, sedangkan Merissa nampak berjalan tepat di samping Bundanya.


Saat Melani dan kedua buah hatinya masuk ke dalam Caffe, ternyata di sana sudah ada Aldino yang menunggunya.


Melihat kedatangan Melani dan kedua buah hatinya, Aldino langsung bangun. Dia langsung mengecup kening Melani dengan lembut.


Kemudian, dia pun mengusap puncak kepala Merissa dan juga Fajri secara bergantian.


"Kakak baru pulang sekolah, ya? Sekarang ganti baju dulu, nanti kita makan siang bareng. Ayah sudah bawakan makan siang untuk kita," ucap Aldino pada putri pertamanya.


"Iya, Ayah." Merissa terlihat mengecup pipi Aldino, lalu segera naik ke atas.


"Fajri sini, Nak. Biar Ayah yang gendong," kata Aldino.


Fajri sempat mengernyit kala melihat Aldino, namun beberapa detik kemudian Fajri langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bundanya.


Aldino nampak kecewa, karena memang selama ini dia sangatlah jarang meluangkan waktunya untuk kedua buah hatinya.


Bahkan dia selalu pulang malam, karena terlalu sibuk melalui harinya dengan Nyonya Mariene.


Mungkin Merissa sudah besar, dia bisa memaklumi akan hal itu. Ayahnya sibuk bekerja karena untuk mencari nafkah, tapi tidak dengan Fajri.


Dia hanyalah balita yang tidak tahu apa-apa, dia hanya balita yang membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya secara utuh.


Melanie hanya bisa tersenyum kecut saat melihat kekecewaan di wajah lelaki, yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut.


"Duduk, Mas." Melani segera duduk, Aldino pun menyusul.


"Mas udah bawain makanan kesukaan kamu sama Merissa, Mas taro di dapur," kata Aldino.


Mendengar ucapan dari Aldino, Melani hanya bisa tertawa dalam hatinya. Di saat dia ingin bercerai dengan suaminya, Aldino malah menampakan perhatiannya kepada dirinya.


Kemana saja dia selama ini? Bahkan selama 3 tahun ini Aldino selalu saja bersikap dingin kepadanya.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Melani datar.


Aldino nampak tersenyum, lalu dia mengusap tangan Melanie dengan lembut. Melani sempat menatap tangan Aldino, lalu senyum getir dia sunggingkan.


"Mas minta maaf," kata Aldino.


"Aku maafkan," kata Melani.


"Kita mulai lagi dari awal ya? Aku ngga akan kerja di tempat Nyonya Mariene lagi, aku akan buat tempat usaha aku sendiri. Aku ingin kita terus bersama sampai akhir hayat memisahkan," ucap Aldino.


Hati Melani merasa terenyuh kala Aldino mengucapkan hal itu, namun ketika Melani menatap mata Aldino dengan lekat, hatinya merasa tidak yakin jika apa yang diucapkan Aldino benar-benar dari dasar hatinya.


Lama hidup bersama dengan Aldino, dia pun bisa merasakan mana yang tulus dan mana yang tidak.


Akan tetapi, Melani tak menemukan ketulusan di dalam mata Aldino. Atau mungkin, dia yang sudah merasa tidak cocok lagi dengan pemikiran suaminya. Entahlah, dia pun tak tahu.


"Buna, aku sudah lapar," kata Merissa.


Melani tersenyum, lalu dia pun mengajak Merissa dan Aldino untuk ke dapur. Tiba di dapur, Melani langsung menyiapkan makanan yang sudah Aldino bawa.


Mereka makan dalam diam, tak ada yang berbicara sepatah kata pun. Hanya saja Melani bisa melihat, jika putrinya sedang memperhatikan sosok ayahnya tersebut.


Sepertinya Merrisa pun bisa merasakan jika ayahnya tak lagi perhatian seperti dulu, perhatiannya terlihat tidak tulus.


Hanya terlihat seperti orang yang takut akan kehilangan miliknya yang selama ini dia punya.


Reni, sang sahabat hanya bisa memperhatikan kebersamaan mereka dari kejauhan. Kebersamaan yang Reni rasa tidak tulus, terlihat palsu.


Selesai makan siang bersama, Aldino meminta Merissa untuk mengajak Fajri masuk ke dalam kamar.


Merissa pun menurut, kemudian Aldino pun mengajak Melani untuk berbicara. Tentu saja Melani mengiyakan, karena memang ada hal yang harus dia katakan.


"Sayang, kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu mau kan kalau kita memulainya dari awal?" tanya Aldino.


"Maaf, Mas. Aku sudah pernah katakan sama kamu, aku menyerah. Aku sudah tak sanggup lagi menjadi istri kamu," jawab Melani lembut sekali.


Raut wajah Aldino langsung berubah sendu, dia benar-benar tak habis pikir jika istrinya benar-benar sudah tak mau lagi berumah tangga dengannya.


"Tapi, Yang. Mas janji, Mas akan menjadi suami yang baik setelah ini." Aldino terlihat menggenggam erat tangan Melani.

__ADS_1


Dengan perlahan, Melani pun melepas genggaman tangan lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut.


"Maaf, Mas. Aku tidak bisa, aku sudah tak sanggup lagi menjadi istri kamu. Tapi karena diantara kita ada dua buah hati yang membutuhkan kasih sayang kita secara utuh, aku tidak akan melarangmu untuk menemui kedua anak kita," kata Melani.


__ADS_2