
"Bagaimana keadaan suami saya, Pak?" tanya Dina pada Pak Mantri yang berusia empat puluh tahun itu.
"Sepertinya dia kelelahan, dia juga sepertinya belum makan dari kemarin. Dia butuh istirahat dan juga butuh asupan makanan," kata Pak Mantri.
Dina terlihat menghela nafasnya, ternyata itu penyebab utamanya. Kemungkinan setelah dia pergi, VB pergi mencari dirinya tanpa mengkonsumsi makanan apa pun, pikirnya.
"Ya Tuhan!" pekik Dina.
"Saya sudah siapkan obat dan vitamin untuk suami anda, bantu kompres juga biar cepat turun panasnya. Jangan lupa suaminya dikasih makan dan istirahat yang cukup," pesan Pak Mantri.
"I--iya, Pak," jawab Dina.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa dirawat ya Mbak suaminya," pesan Pak Mantri.
"Iya, Pak mantri. Terima kasih," jawab Dina.
Setelah kepergian Pak Mantri, Dina pun langsung mengambil air hangat di dapur. Tak lupa dia juga mengambil handuk kecil untuk mengompres VB.
Dengan telaten dia mengompres dahi VB dan juga leher Bibi, tak lupa serta ketiak VB. Sedangkan Bibi Asih terlihat terburu-buru pergi dari sana, dia ingin membelikan bubur untuk VB.
Karena dia rasa masakan yang Dina masak tidak sesuai untuk makan VB pagi ini, Bibi Asih pun berniat untuk membeli bubur juga buah-buahan dan sayuran yang harus dimasak oleh Dina.
Tentunya itu bertujuan agar kondisi VB bisa lebih cepat pulih, sebelum pergi tak lupa Bibi Asih pun berpesan kepada Dina.
"Bibi pergi dulu, hati-hati kamu merawat suami kamu sendiri. Bibi tidak akan lama, hanya akan pergi ke pasar yang dekat dari kampung kita saja." Pesan Bibi Asih seraya melangkahkan kakinya.
"Iya, Bi," jawab Dina singkat.
Setelah kepergian Bibi Asih, Dina pun kembali merawat VB. Dielusnya puncak kepala suaminya, lalu dikecupnya kening lelaki yang kemarin saya sudah mengecewakan dirinya.
Namun tak dapat dipungkiri, jika Dina sangat mencintai lelaki berondong itu. Lelaki yang mampu meluluhkan hatinya, lelaki yang dengan ikhlas nya mempersunting Dina walaupun keadaan Dina yang tidak setara dengan keadaan VB.
Dia sadar jika dia hanya berasal dari kalangan bawah, sedangkan VB bahkan saat itu adalah aktor yang sangat terkenal.
Dina pun sudah bertekad dalam hati, dia ingin bertanya kenapa ada seorang wanita di ruangan VB? Siapa wanita yang berada di dekatnya kemarin siang?
__ADS_1
Walaupun hatinya terasa kesal, tetapi melihat pengorbanannya yang menyusulnya. Bahkan sampai pingsan di depan rumah, membuat hatinya terenyuh.
Mata Dina pun terasa memanas dan tak lama air matanya pun merembes begitu saja, Dina langsung mengucap kasar air matanya.
Lalu kembali dia mengompres suaminya, "cepat sembuh,Yang. Aku tidak ingin melihat kamu seperti ini, aku tahu kalau kamu sudah nyakitin hati aku. Tapi, aku juga butuh penjelasan kamu," ucap Dina.
Kembali Dina mengusap VB dengan sayang, lalu dia mengecup kening suaminya beberapa kali. Wajah yang tadinya terlihat pias, kini sudah berubah lebih segar.
Tak lama, VB pun terlihat menggeliatkan tubuhnya. Dia mengusap-usap matanya, lalu dia terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali.
Saat melihat wajah Dina berada tepat di hadapannya, tanpa ragu VB pun langsung memeluk Dina dengan erat.
Bibirnya bergetar dan air matanya langsung Luruh begitu saja, Dina tahu jika VB sedang menangis. Karena tubuhnya terasa bergetar dan bahunya pun terlihat terguncang.
"Yang, maafin Mas." Rengeknya manja.
Dina hanya diam saja, dia merasa tak ingin menyahuti omongan dari VB karena di dalam hatinya masih ada rasa kesal.
"Wanita yang kemarin itu petugas asuransi, Yang. Kamu tahu sendiri' kan kalau petugas asuransi suka begitu, maaf karena Mas tidak menjaga jarak, maaf karena Mas sudah menyakiti hati kamu. Mas minta maaf, jangan marah. Mas takut kalau kehilangan kamu, Kamu jangan pergi lagi dari Mas," ucap VB seraya terisak.
Bahkan perempuan itu pun menatap VB dengan tatapan matanya yang begitu nakal, namun yang Dina sayangkan, VB sama sekali tidak berusaha untuk menepis tangan nakal wanita itu.
"Jawab, Yang. Jangan bikin Mas panik, Mas tahu kamu marah. Tapi tolong, maafin Mas. Mas takut kehilangan kamu, jangan pernah ninggalin Mas lagi," rengek VB.
Dia semakin terisak, tangisan terdengar semakin lirih. Dina pun langsung mengambil napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan, ternyata suaminya itu benar-benar masih kekanak-kanakan, pikirannya.
Meminta maaf saja harus dengan acara isak tangis segala, benar-benar seperti anak kecil yang ketahuan bersalah dan meminta maaf kepada ibunya.
"Tapi, kemarin Mas terlihat keasikan berduaan dengan perempuan itu," ucap Dina pada akhirnya.
"Iya, maaf. Mas tahu Mas salah, tapi tolong maafin Mas. Jangan pernah tinggalin Mas lagi, jangan ngambek-ngambek lagi. Mas nggak bisa hidup tanpa kamu," kata VB.
Dina pun jadi berpikir tidak mengeluarkan unek-uneknya saja, VB bisa sampai bisa seperti itu. Apalagi kalau dia mengeluarkan unek-uneknya, benar-benar lelaki yang memiliki fisik lemah, pikir Dina.
Padahal tubuhnya sangat atletis, bahkan saat dicubit saja perutnya terlmasa sangat liat. Namun, Kenapa suaminya itu terlihat sangat lemah? Apa karena perasaannya yang lemah? Atau karena terlapu cinta pada Dina yang membuatnya melemah?
__ADS_1
"Ya sudah, aku maafkan," ucap Dina.
"Beneran, Yang?" tanya VB.
"Hem," jawab Dina.
Karena senang, VB pun lalu melerai pelukannya. Kemudian dia menangkup pipi Dina dengan kedua telapak tangannya.
Lalu, VB pun langsung melabuhkan ciuman mesra kepada istrinya. Rasa manis bercampur asin menjadi satu, karena VB masih saja terisak di sela tautan bibirnya.
"ehem-ehem..." suara deheman Bibi Asih langsung membuat VB dan Dina melepaskan pagutannya.
"Maaf jika mengganggu, Bibi hanya mau menyerahkan bubur ini dan juga buah-buahan dan sayur yang sudah dibeli untuk kamu masak nanti." Bibi Asih nampak menghampiri mereka berdua dan langsung memberikan apa yang sudah dia beli.
Dina pun masih terlihat malu-malu karena ketahuan sedang berciuman dengan suaminya, lalu dia pun menerima pemberian dari Bi Asih.
"Terima kasih ya, Bi," Kata Dina.
"Sama-sama," jawab Bibi Asih.
"Ini siapa, Yang?" tanya VB.
"Ini Bibi aku, namanya Bi Asih." Dina memperkenalkan Bibi Asih pada Suaminya VB.
VB berusaha untuk duduk, dia dengan cepat Dia membantu suaminya. VB terlihat duduk, lalu mengulurkan tangannya.
Bibi Asih pun langsung menerima uluran tangan VB, wajahnya nampak berbinar saat punggung tangannya dicium oleh VB.
"Saya merasa sangat senang, bisa bertemu dengan Bibi," kata VB.
"Astaga! Ternyata aslinya ganteng banget ya, Na?!" kata Bibi Asih Antusias.
Melihat wajah Bibi Asih yang terlihat begitu bahagia membuat Dina jadi malu sendiri, padahal saat Dia datang sendiri dan tahu dalam kondisi hamil Bibi Asih terlihat sangat kesal.
Namun, Setelah bertemu VB rasa kesalnya malah terlihat hilang seketika.
__ADS_1