Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Acara Pernikahan


__ADS_3

Ajun terlihat sangat tegang, berkali-kali dia mengusap wajahnya. Rasanya lebih baik dia berkelahi dengan sepuluh orang preman sekaligus dari pada menhadapi hal seperti ini.


Namun, hal ini juga adalah hal yang paling dia inginkan. Menikah dengan wanita pujaan hatinya, menyatukan cinta mereka dalam ikatan suci pernikahan.


"Ya Tuhan, tegang sekali. Astaga! Ini pasti karma karena dulu aku menghina Tuan Gia saat hendak menikah dengan Elsa," gumam Ajun.


Ajun melirik jam mewah yang melingkar di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang.


"Asial! Sebantar lagi aku harus ke hotel," ucap Ajun.


Ajun terlihat makin gelisah, dia melirik ponselnya yang terlihat berkedip di atas meja. Ajun pun langsung mengambilnya dengan cepat.


Satu buah pesan chat masuk ke dalam ponselnya, Ajun pun dengan cepat membuka aplikasi hijau di layar ponselnya.


"Buruan dateng, Om. Pihak butik sudah datang membawa banyak baju untuk Om coba," satu pesan datang dari Gadis.


Jantung Ajun makin berdetak tak karuan, dia makin gelisah saja dibuatnya.


"Aku deg-degan," ucap Ajun seraya mengelus dada bagian sebelah kiri.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah, Ajun langsung keluar dari kamarnya dan berlari menuju pintu utama.


Saat dia membuka pintu, ternyata yang datang adalah Tantenya Ajun bersama dengan Aldino dan juga istrinya, Melana. Tak lupa ada seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun di samping Aldino dan juga anak kecil yang sangat tampan dalam gendongannya Aldino.


Aldino dan Melina terlihat sangat serasi, mereka memakai baju couple. Hal itu membuat Ajun tersenyum, dia pun jadi ingin cepat merasakan punya anak juga.


"Tante," siapa Ajun sopan.


Ajun langsung memeluk tantenya tersebut, kemudian bergantian dengan memeluk Aldino. Untuk sesaat dia menatap istri Aldino, Melani.


Wanita yang dulu sempat dia cintai, seulas senyum diterbitkan dari bibirnya. Lalu, pandangannya beralih pada gadis kecil di depan matanya.


"hai, kamu cantik sekali. Siapa nama kamu?" tanya Ajun.


"Namaku Merisa, Om," jawabnya terdengar sangat menggemaskan.


Dalam hatinya Ajun merasa menyesal, kenapa baru sekarang iya terpikir untuk menikah? Melihat anak perempuan yang begitu menggemaskan di depannya, Ajun pun jadi ingin segera mempunyai anak.


Apalagi sekarang usianya sudah tidaklah muda, rasanya setelah menikah dia ingin segera membuat Gadis hamil dan segera melahirkan anak yang banyak.


"Nama yang cantik," ucap Ajun.


"Terima kasih, Om," ucap Merrisa.


Ajun mengacak pelan rambut Marissa karena merasa sangat gemas, lalu pandangannya beralih pada balita yang sedang Aldino gendong.


"Hai tampan," sapa Ajun seraya mencubit gemas pipi gembul balita itu.


Balita itu nampak mencebik kesal, dia langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Aji nda cuka di cubit cama, Om," bukannya marah mendengar ucapan balita itu, Ajun malah tergelak. Karena menurutnya dia sanagt lucu dan menggemaskan.


Satu hal yang Ajun ingat, Melani pun dulu selalu bersikap seperti itu. Jika dia kesal, pasti langsung cemberut dan menyilangkan tangannya di depan dada.


"Mirip Bunda'nya," ceplos Ajun.


Aldino langsung melirik ke arah Melani, Aldino sangat tahu jika Melani sempat dekat dengan Ajun. Hanya saja yang Aldino tahu Ajun tak pernah mengatakan apa pun tentang perasaannya kepada Melani.


Aldino baru mengetahui perasaan Ajun, setelah dia berpacaran dengan Melani dan Ajun terlihat tak suka padanya.


Melani terlihat salah tingkah, karena sebenarnya dia pun mau menerima Aldino sebagai pacarnya karena ingin dekat dengan Ajun.


Sayangnya bukan dekat, tapi Ajun malah menjauhinya. Karena dia sangat kecewa pada Melani, sudahlah... itu hanya masa lalu.


Tante Mesti seakan tahu harus berbuat apa, dia langsung berdehem dan membuka suaranya.


"Mau berangkat kapan?" tanya Tante Mesti.


"Sekarang saja, Tan. Soalnya aku juga sudah disuruh ke sana," ucap Ajun.


"Baiklah, ayo kita berangkat saja," ajak Tante Mesti.


Tante Ajun pun menurut, namun saat Ajun hendak masuk kedalam mobilnya, Aldino langsung memberhentikan langkah Kakak Sepupunya itu.


"Kamu ini calon pengantin, Bang. Tak baik menyetir sendiri, ikutlah bersama kami. Lagi pula bukannya nanti malam Abang akan menginap di hotel?" tanya Aldino.

__ADS_1


Ajun sempat melirik ke arah istri dari Aldino, dia merasa tak enak hati jika harus satu mobil bersama dengannya.


Namun yang dikatakan Aldino ada baiknya juga, akhirnya Ajun pun menurut.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu," ucap Ajun.


Akhirnya Ajun duduk di samping Aldina yang mengendarai mobilnya, sedangkan Melani duduk di bangku penumpang bersama Tante Mesti dan kedua buah hatinya.


Sepanjang perjalanan menuju hotel, Melani terlihat salah tingkah. Sesekali dia menatap Ajun lewat pantulan kaca.


Namun Ajun seolah tak tahu, dia terus saja mengajak Aldino untuk mengobrol. Membicarakan pekerjaan masing-masing selama tak bersama.


Tepat pukul 01.00 siang Ajun dan juga keluarganya tiba di hotel termegah yang ada di pusat kota tersebut, Aldino sempat berdecak senang kala mengetahui abang sepupunya akan menikah di ballroom hotel tersebut.


"Keren banget kau, Bang. Menikah di hotel semegah ini," ucap Aldino.


"Terima kasih," ucapan Ajun.


Hanya kata itu yang dia bisa ucapkan, karena sebenarnya dia merasa bingung dengan persembahan yang diberikan oleh Tuan Alfonso untuk pernikahannya itu.


Di satu sisi dia senang, tapi di sisi lain dia merasa tak enak hati karena semua biayanya yang ditanggung oleh Tuan Alfonso.


"Selamat siang semuanya," sapa Andrew.


Ajun dan juga keluarganya langsung menoleh ke arah suara, ternyata mereka langsung disambut oleh orang kepercayaan dari Tuan Alfonso.


"Ah, selamat siang, Tuan Andrew," sapa Ajun.


"Tuan Ajun dipersilahkan untuk mengikuti saya ke ruang ganti, untuk keluarganya silahkan. mengikuti pelayan untuk masuk ke dalam ruang tunggu," ucap Andrew.


"Oh, Baiklah." Ajun terlihat mengudap tangan Tante Mesti, "Ajun pergi dulu, bersenang-senanglah." Ajun langsung mengikuti langkah Andrew, sedangkan Tante Mesti dan juga anak menantu serta cucunya mengikuti pelayan yang akan mengantarkan mereka ke ruang tunggu.


Saat tiba di ruang ganti, Ajun pun sudah disambut oleh pemilik butik ternama yang ada di pusat kota tersebut.


"Silakan, Tuan Ajun. Pilihlah baju yang menurut anda sangat cocok untuk acara pernikahan anda dan juga acara resepsinya," ucapnya.


Ajun terlihat kebingungan kala dia disuruh untuk memilih salah satu baju yang ada di sana, karena menurutnya semua baju yang dia lihat terlihat sangat bagus.


Apalagi gaun-gaun pengantin yang berjajar rapi di ruangan ganti tersebut, membuat Ajun semakin bingung.


"Kenapa diam saja?" tanya Gadis yang ternyata sudah berada tepat di samping Ajun.


"Maaf," kata Gadis.


"Yang, semua bajunya bagus. Aku bingung untuk memilih yang mana," adu Ajun.


"Kalau yang milih Gadis, boleh ngga, Om?" tanya Gadis.


"Boleh, Sayang. Apa pun pilihan kamu, aku akan setuju," jawab Ajun.


Gadis langsung tersenyum senang, Gadis merasa benar-benar dihargai oleh Ajun. Berbeda ketika dia berhubungan dengan Danish, semuanya diatur olehnya.


Bahkan hidupnya pun terasa dikekang, ah... sudahlah. Lagi pula itu cuma masa lalu, pikirnya.


Gaun pernikahan dia jatuhkan pada gaun yang terlihat anggun berwarna putih tulang, tak terlalu banyak riasan. Nampak Elegan dan terlihat sangat cantik di mata Gadis.


Gadis juga menjatuhkan pilihan untuk Ajun pada tuxedo berwarna senada dengan gaun pengantin miliknya.


"Om, suka?" tanya Gadis.


"Sangat, Sayang." Ajun lalu menjawil dagu Gadis.


''Ehm, karena baju pengantinnya sudah ditentukan. Kita lanjutkan lagi acaranya," ucap sang desainer.


Ajun di bawa langsung oleh sang desainer ke kamar lain, agar Gadis bisa memakai gaunnya di sana dengan leluasa.


Setelah Gadis memakai gaunnya, dua orang wanita cantik yang berprofesi sebagai MUA langsung menghias wajah Gadis.


Mereka begitu lihai dalam mengaflikasikan riasan di wajah Gadis, sehingga wajah Gadis terlihat lebih cantik.


"Kamu cantik sekali, Sayang. Mirip sekali dengan wajah Intan, sangat mirirp." Tuan Alfonso langsung mengecup pipi Gadis.


Wajah Tuan Alfonso terlihat sendu, bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca. Dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, dia sangat takut untuk berpisah dengan putri yang baru saja dia temukan.


Menyadari kesedihan Tuan Alfonso, Gadis langsung bangun dan memeluk Tuan Alfonso dengan erat.


"Jangan menangis, Dad. Aku bukan mau pergi untuk meninggalkan kamu selamanya," ucap Gadis.

__ADS_1


"Ya Tuhan, Bapak ngga salah lihat kan, ya? Kamu teh cantik pisan kaya bidadari," celetuk Pak Galuh yang baru masuk ke ruang ganti tersebut.


Ya Tuhan, Bapak ngga salah lihat kan, ya? Kamu teh cantik pisan kaya bidadari," celetuk Pak Galuh yang baru masuk ke ruang ganti tersebut.


Gadis langsung melerai pelukan Tuan Alfonso, lalu dia tersenyum dengan sangat manis ke arah pak Galuh.


"Bapak bisa aja," ucap Gadis.


Bibir Gadis terlihat bergetar, dia seperti sedang menahan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya.


Entah apa yang dia rasakan saat ini, dia pun bingung. Tetapi ketika melihat kedua lelaki yang berada dihadapannya, rasanya dia ingin menangis dan memeluk kedua lelaki tersebut.


Namun, ini hari kebahagiaannya. Gadis berusaha sebisa mungkin untuk tidak menitikan air matanya, agar tak merusak memoment terpenting dalam hidupnya.


Namun sayangnya, itu terasa mustahil. Cairan bening itu berlomba keluar dari pelupuknya, sungguh memalukan untuk Gadis.


"Jangan menangis," ucap Tuan Alfonso.


"Nanti pengantin cowoknya kabur," ucap Pak Galuh menimpali.


Gadis terlihat cemberut mendengar ucapan dari Tuan Alfonso dan juga pak Galuh. Gadis lalu memeluk Tuan Alfonso dan juga pak Galuh secara bergantian.


"Aku sayang kalian,' ucap Gadis.


"Kami pun," jawab Keduanya.


"Ehm, maaf, Nona. Riasannya mohon dirapikan lagi, sepuluh menit lagi acaranya akan di mulai." Seorang MUA datang mengingatkan.


"Ah, iya." Gadis menurut, dia langsung duduk di depan meja rias.


Kemudian dua orang MUA pun langsung membenahi riasan Gadis, setelah terlihat sempurna Tuan Alfonso dan pak Galuh pun mengajak Gadis untuk keluar dari ruang ganti tersebut.


Karena Ajun sudah menunggunya di altar pernikahan, saat Gadis masuk ke ballroom hotel tersebut Ajun nampak memandang wajah Gadis tanpa berkedip.


Gadis terlihat sangat cantik dan imut juga menggemaskan di matanya, mungkin karena usianya yang memang masih muda.


Begitu pun dengan Gadis, dia melihat Ajun dengan tatapan penuh kekaguman. Tuan Alfonso sampai berdehem untuk mengingatkan putrinya.


"Ehm, sabar. Sebentar lagi sah," ucap Tuan Alfonso.


Gadis langsung menunduk malu mendengar ucapan Tuan Alfonso, sedangkan Tuan Alfonso langsung mengusap lembut punggung Gadis.


Dia benar-benar seperti melihat Intan di diri Gadis.


"Lihatlah, Sayang. Dia begitu mirip denganmu," ucap Tuan Alfonso dalam hati.


Tak lama kemudian, Gadis pun sampai di Altar pernikahan.


Para tamu undangan yang datang menatap. kagum ke arah pasangan yang sebentar lagi akan mengucapkan janji suci pernikahan tersebut.


Sebelum Gadis naik ke atas Altar pernikahan, Tuan Alfonso terlihat mengucapkan sesuatu pada Ajun.


"Aku percayakan putriku padamu, jaga dan sayangi dia. Jika kamu tak bisa menyayangi putriku dan tak bisa memperlakukan putriku dengan baik, kembalikan dia padaku. Aku masih sanggup untuk menyayanginya dengan sepenuh hati," ucap Tuan Alfonso.


"Aku berjanji akan berusaha untuk membahagiakan putri Daddy," jawab Ajun.


Tuan Alfonso namapak tersenyum, sedangkan pak Galuh terlihat tak bisa berbicara apa pun.


Dia merasa terharu, karena putrinya yang selama 21 tahun ini dia rawat kini akan menjadi milik orang lain.


Tak lama kemudian, janji suci pun diucapkan oleh kedua insan yang sedang dimabuk cinta tersebut.


Para tamu undangan nampak riuh, mereka ikut bersorak gembira kala janji suci telah diucapkan.


Bahkan semua orang yang hadir nampak berteriak sambil bertepuk tangan kala melihat Ajun yang mencium bibir Gadis dengan mesra.


Gia yang melihatnya pun sampai melongo tak percaya.


"Ya Tuhan, aku baru tahu kalau jomblo akut seperti Ajun bisa mencium istrinya dengan mesra!" seru Gia.


"Mas!" pekik Elsa.


"Sorry, Sayang." Gia langsung memiringkan wajahnya lalu mengecup bibir Elsa.


"Astaga!" ucap Aurora dan Aurelia secara bersamaan.


+

__ADS_1


+


Kalau ada tyfo tolong langsung koment ya, biar aku langsung edit 😁😁😁😁


__ADS_2